CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 174



"Kamu sudah dapat tiketnya?" sejak tadi Al terlihat mondar-mandir di kamar hotelnya.


"Hanya ada penerbangan sore, Tuan." ucap Jo.


"Aku harus segera sampai di rumah. Sejak tadi Yuna tidak mau mengangkat teleponku." Al terlihat khawatir. Dia harus secepatnya tiba disana. Ayuna pasti marah dan berpikiran negatif tentang dia dan Valerie.


"Kita langsung ke Bandara saja." Dia nggak mau menunggu lebih lama lagi.


"Tuan, apa nggak sebaiknya kita disini, hingga jam keberangkatan?" saran Jo. Jhosua segera diam saat Al menatap tajam ke arahnya.


"Apa yang akan kulakukan menunggu hingga 4 jam disana?" Jhosua, bergegas mengikuti Al yang sudah terlebih dahulu masuk ke mobil.


"Nyonya, sejak tadi handphone-nya bunyi terus." Dea datang ke taman belakang membawakan ponsel Yuna yang ada di atas meja ruang tamu.


"Siapa yang telepon?" Yuna membuka sarung tangan berkebunnya. Dea menggeleng, dia tidak berani melihat ponsel Yuna.


"Al!" Yuna kembali meletakkan ponsel itu dia atas meja taman, saat tahu siapa yang menghubunginya. Dia melanjutkan kembali menganti tanah yang ada di pot bunga.


"Kenapa dia tidak menjawab teleponnya?" sudah setengah jam Al mondar-mandir di ruang tunggu VVIP bandara. "Apa masih lama?" tanyanya tanpa melihat Jo, dia masih berusaha menghubungi Ayuna.


"Berapa lama lagi aku harus melihat drama ini?" batin Jo.


"Maaf, Tuan, says mau jawab telepon dulu." Alvaro hanys mengangkat tangannya. Begitu berada di luar, Jhosua menghirup napas dalam-dalam.


"Lama-lama aku bisa gila melihat kelakuan tuan Al. Semenjak menikah bucinnya semakin parah." Jhosua berjalan menuju cafetaria yang ada di Bandara.


"Tuan, Jo! Apa yang anda lakuan disini?" tanya Valerie.


"Saya membeli kopi." Jo mengangkat cup kopi miliknya.


"Dimana tuan Al?" Valerie mencari keberadaan Al.


"Kenapa? Apa anda ada urusan dengan beliau?" tanyanya.


"Hmm, tidak! Aku hanya ingin berbincang-bincang dengannya." Valerie tersenyum. Jo bisa melihat ketertarikan di wajahnya untuk Al.


"Maafkan saya, nona Valerie. Tapi, tuan Al tidak akan bertemu dengan anda jika tidak mengenai pekerjaan." Jhosua menekankan kata-katanya.


"Oh, Ayolah! Anda tidak perlu terlalu kaku. Apa salahnya jika hanya berbincang. Anda belum bertanya pada tuan Al. Bagaimana bisa anda mengatakan itu?" ternyata Valerie cukup gigih.


"Saya lebih tahu seperti apa tuan Alvaro." Jhosua mulai terlihat kesal.


"Kalau begitu, apakah tuan Al ikut penerbangan siang ini?" tanya Valerie.


"Maafkan saya, Nona. Tapi, saya tidak bisa memberitahukan informasi mengenai bos saya kepada anda." Jo membuang cup kopi miliknya dan berjalan keluar dari kafetaria itu.


"Sombong banget sih? Aku hanya bertanya, tapi sikapnya sangat menyebalkan." Valerie sangat kesal.


"Siapa yang anda maksud?" tanya Kai yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"Tuan Kai? Sejak kapan anda disini?" tanyanya.


"Kenapa anda terlihat begitu kesal?" tanya Kai.


"Bukan apa-apa. Oh iya, kapan saya bisa bertemu dengan tuan Smith?" tanyanya.


"Kenapa anda ingin bertemu beliau?" Kai menatap tajam ke arahnya.


"Bukankah kita akan bekerjasama? Jadi, sudah seharusnya saya bertemu dengan pemilik proyek ini, Bukan?" dia mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Sepertinya anda sudah salah paham, Nona. Tuan Smith bukanlah orang yang bisa anda temui semudah itu." tatapan Kai begitu dingin. Entah bagaimana pria itu bisa segera merubah gestur wajahnya.


"Oh, tuhan! Kenapa dengan kalian? Aku ini rekan kerja kaliam. Apa aku salah jika ingin bertemu langsung dengan para CEO-nya?" Valerie mulai kesal.


"Disini kami membayar anda. Jadi, jangan besar kepala dengan berharap CEO kami akan menemui anda. Lakukan saja tugas anda sebaik mungkin." Kai meninggalkannya begitu saja.


"Ada apa dengan kedua asisten itu? Sifat mereka sama saja. Apa aku harus bekerja sama dengan para makhluk dari kutub itu?" Valerie pergi dari sana dalam keadaan marah.


"Dasar pengoda!" ucap Kai begitu dia berada di ruang tunggu.


"DRTT, DRRTT!!"


"Hallo, Tuan!" Kai menjawab ponselnya yang bergetar.


"Bagaimana?" tanya Bumi.


"Semua sudah teratasi, Tuan." jawabnya.


"Bagus! Suruh orangmu untuk memantau kerja mereka. Aku ingin resort itu selesai tepat waktu." pesannya sebelum menutup telepon.


🍀🍀🍀


"Bi, aku keluar dulu!" setelah mengatakan itu pada pelayan yang dia temui, Yuna berjalan menuju mobil. "Biar saya saja, Pak!" Yuna menolak untuk diantar Galuh.


"Tapi, Nyonya ....!" Galuh terlihat bingung. Kalau Al tahu, dia bisa dapat amukannya.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya pengem nyetir sendiri." Yuna membuka pintu mobil. Galuh belum beranjak dari tempatanya.


"Tapi, Nyonya kalau tuan muda tahu, beliau bisa marah." Ayuna menoleh padanya.


"Bapak tenang saja! Dia tidak akan melakukan apapun ke bapak." Yuna segera tancap gas.


"Kamu dimana?" Yuna berbicara melalui earphone.


"Aku jemput ya!" ucapnya.


"Gue bawa mobil, Na! Lo langsung aja ke Amor Cafe, gue nyusul." jawab Gina.


"Ok." Ayuna segera mengarahkan mobilnya menuju D'Amor.


Begitu sampai dia segera memberikan kunci pada petugas valley yang ada disana. Ayuna memilih kursi yang menghadap ke taman belakang. Setiap kali menginjakkan kaki disana, Ayuna kembali teringat dengan keberadaan Mahen. Yah, pria yang dengan tulus selalu mencintainya dalam diam.


"Sorry, Na! Lo lama ya nungguin gue?" Gina segera menghempaskan tubuhnya di sofa itu.


"Nggak juga! Kamu udah pesan?" tanya Yuna.


"Udah, ntar lagi juga diantar." sebelum menemui Yuna, Gina sudah terlebih dulu memesan minuman. Karena dia sempat melihat ke arah meja Yuna yang sudah ada gelas minuman disana.


"Lo, kenapa?" Ayuna terlihat lemas.


"Aku lagi kesal sama Al." jawabnya.


"Kenapa lagi? Masih karena dia pergi Lombok tanpa lo?" tanyanya.


"Bukan itu aja ...." Ayuna menceritakan mengenai apa yang dia dengar di telepin pagi tadi pada Gina.


"Serius?" tanya Gina. Ayuna mengangguk.


"Tapi, itu nggal mungkin. Menurut gue, lo hanya overthinking aja." jawabnya.


"Overthinking gimana maksudmu?"


"Na, lo'kan tahu sendiri, selama ini tuan Al hanya nungguin lo. Jadi, gue rasa nggak mungkinlah tuan Al bermain api sama wanita lain." Gina menyomot kentang goreng yang ada di depannya.


"Justru itu yang membuatku khawatir." jawabnya.


"Maksud lo?" Gina bingung.


"Justru karena dia hanya mengenal aku dalam hidupnya, bukan nggak mungkinkan dia bakal tergoda dengan wanita lain." Yuna teringat ajakan wanita tadi pada Al.


"Lo nggak percaya pada tuan Al?" Gina bertanya dan menatap tajam padanya. Baru kali ini dia melihat Ayuna begitu gelisah.


"Aku ...." Yuna terlihat bingung.


"Bisa saja yang lo dengar itu cuma kebetulan. Mereka memang rekan kerja. Jadi, wajar kalau mereka makan siang bareng." Gina mencoba membuatnya mengerti.


"Entahlah! Mendengar wanita itu berkata begitu, membuat hatiku panas." jawabnya.


"Lo, cemburu?" Gina tersenyum saat melihat wajah Ayuna yang saat ini dipenuhi kecemburuan.


"Gimana aku nggak cemburu? Dia pergi ke sana tanpa memberitahuku. Lalu, tiba-tiba aku mendengarnya berbicara dengan wanita lain mengenai makan bareng. Coba kamu, kalau Jhosua yang seperti itu. Apa yang akan kamu lakukan?" ditodong pertanyaan seperti itu, gantian Gina yang terlihat gelisah. "Nggak bisa jawabkan?" lanjutnya.


"Sekarang di kamunya. Sabar aja, gue dengar dari Jo mereka akan pulang sore ini. Dan, lagian Jhosua ada disana. Jadi lo nggak perlu khawatir berlebihan begitu." ucapnya.


"Tetap aja, aku nggak bisa tenang." Gina menghembuskan napas berat. Baru kali ini dia melihat Yuna begini.


🍀🍀🍀


"Dimana istriku?" Alvaro yang baru tiba di rumah segera mencari keberadaan Yuna.


"Nyonya belum pulang, Tuan." jawab Dea.


"Belum pulang? Memangnya dia kemana?" tanyanya.


"Sore tadi nyonya keluar, Tuan." lapornya. Al mengambil ponselnya dan menghubungi Yuna, tapi lagi-lagi Ayuna mengabaikan panggilan itu begitu saja.


"Apa dia pergi dengan Galuh?" tanya Al.


"Tidak, Tuan. Nyonya pergi sendiri!" mata Al membesar.


"Panggil Galuh kesini!" perintahnya. Dea bergegas mencari keberadaan Galuh. Dia segera berlari menuju pavilliun belakang, karena biasanya mereka berada di sana. Dea datang bersama dengan Galuh.


"A-ada apa, Tuan?" tanya Galuh dengan terbata.


"Dimana istriku?" tanya Al.


"S-saya t-tidak tahu, Tuan." Galuh tidak berani menatap wajah Al.


"Kenapa kau bisa tidak tahu? Aku sudah bilang, kau harus menemani istriku kalau dia pergi." wajah Al memerah.


"S-saya sudah memaksa untuk mengantar Nyonya, tapi beliau menolak, Tuan." jawabnya.


"Jadi, kau menyalahkan istriku? Harusnya kau bisa lebih tegas. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan mengampunimu." ancamnya.


"Tuan ...., N-nyonya ...." Dea bersuara.


"Apa? Kenapa dengan istriku?" tanyanya balik.


"Nyonya baru saja ke atas, Tuan." Dea menunjuk ke arah kamar mereka.


"Apa kau bermain denganku?"


"BRAAKK!!" Al segera menoleh ke arah kamarnya. Tanpa berkata apapun lagi, dia segera berlari mengejar Yuna. Salahnya, karena terlalu marah, dia sampai tidak menyadari kalau Yuna sudah pulang dan mendengar semua keributan yang dia sebabkan.


~tbc