CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 69



Bram langsung berlari menuju keruangan UGD tanpa menjawab Rean.


"Kalian ikut saya kedalam dan jangan pulang dulu, saya mau menanyakan sesuatu sama kalian" ucap Haris dengan gaya kakunya.


"Baik asisten Haris" ucap Rean mengikuti Haris masuk.


Didepan ruangan UGD Bram tak henti hentinya berjalan kesana kemari, ia tak bisa tenang sedikitpun, perasaannya takut dan marah bercampur menjadi satu.


"Haris kau harus mencari orang yang menabrak istriku, aku akan memberinya pelajaran yang tak pernah bisa ia lupakan, aku akan menyiksanya sampai ia memnginginkan kematiannya sendiri" ucap Bram masih dengan berjalan kesana dan kemari.


Haris hanya diam tak menjawab apapun, ia tahu Bram sedang sangat marah dan sedih.


Tak lama dokter Agam keluar dari dalam ruangan UGD, sekilas dokter Agam menoleh kearah Veronica namun ia kembali berfokus pada Bram.


"Bram Aberlie harus segera dioperasi, terjadi pendarahan dikepalanya dan ternyata Aberlie sedang mengandung Bram usia kandungannya baru dua minggu namun janinnya tak dapat diselamatkan, jadi aku menyarankan kau untuk segera menandatangani prosedur pengangkatan janin dan oprasi pada kepala Aberlie, segera Bram" ucap dokter Agam memberi kabar yang membuat hati Bram hancur berkeping keping.


"Haariiiiiiis, cari sekarang juga orang yang menabrak istriku, dia harus menerima akibatnya sudah membuat Aberlie seperti ini dan sekarang ia harus kehilangan buah hatinya, sekarang Haris" teriak Bram memenuhi tempat tersebut.


Haris pun pergi diikuti ketiga karyawan Aberlie tersebut.


"Sabar Bram, saat ini kau harus segera menandatangani surat pernyataan Bram agar Aberlie lekas ditangani" dokter Agam merengkuh Bram yang terduduk lemah dilantai.


"Baiklah Gam"


"Ayo aku antar Bram" dokter Agam menemani Bram untuk menandatangani persetujuan pengangkatan janin dan oprasi.


Sementara itu didalam mobil Haris tengah melihat kearah ketiga karyawan Aberlie.


"Adakah dari kalian yang melihat siapa yang menabrak Aberlie?" tanya Haris.


"Tidak asisten Haris" jawab Rean.


"Kalian yakin, aku bisa tahu kalau kalian menutupi sesuatu, jadi jamgan sampai aku mengetahuinya" Haris melihat kearah mereka satu persatu.


Ashana terlihat gemetar saat Haris melihat kearahnya, ia bingung harus mengatakan apa.


"Baik jika kalian terus tutup mulut, saya akan mencari tahunya sendiri, tapi jika saya mengetahui kalau dari kalian tahu siapa yang menabrak Aberlie dan tak ingin memberitahunya padaku kalian akan tahu apa akibatnya"


"Sa....saya.... saya me.....melihat si....siapa....siapa yang menabrak mba Berl tuan" Ashana akhirnya bersuara.


"Siapa?"


Ashana tak langsung menjawab, ia takut jika nanti dirinya ikut terbawa.


"Tenang saja, jika kau mengatakannya tuan muda tak akan menyelamatkanmu dan kau akan diberi hadiah karena membantunya meringankan pencariannya" ucap Haris.


"Di....dia....dia adalah a... adik tiri mba Berl tuan" ucap Ashana.


"Aliva?" tanya Haris memastikan.


Ashana hanya menganggukan kepalanya takut.


"Kau yakin?"


"Yakin tuan" ucap Ashana pasti.


"Jelaskan"


"Saya melihat Aliva saat ia pergi sewaktu kami mendekati suara tabarak mobil tersebut dan saat yang lainnya sudah mendekat saya melihat pengemudi mobil tersebut adalah Aliva adik tiri mba Berl" jelas Ashana.


"Baiklah, terimakasih kamu sudah berani memberitahu saya, kamu tenang saja tak akan ada yang menyakitimu karena kamu memberitahu saya kebenarannya, kalian boleh pulang, karyawan yang masih dicafe suruh pulang saja hari ini cafenya ditutup dulu sampai besok, lusa baru boleh dibuka lagi" ucap Haris dan mereka bertigapun turun dari mobil Haris dan menuju mobil Rean kemudian pulang.


Haris menginjak pedal gasnya menuju kediaman Wijaya untuk mencari Aliva, sesampainya dikediaman Wijaya Haris menanyakan Aliva pada asisten rumah tangga keluarga Wijaya.


"Asisten Haris mencari siapa, bisa saya bantu?" tanya Ina asisten rumah tangga paruh baya kediaman Wijaya.


"Aliva"


"Non Aliva ada dikamarnya, saya akan panggilkan sebentar" ucap Ina langsung bergegas menuju kamar Aliva.


Tok tok tok....


"Non, ada asisten Haris mencari" Ina mengetuk pintu kamar Aliva dan tak lama pintu dibuka.


"Siapa bi?" tanya Aliva terkejut.


Kenapa tiba tiba asisten Haris mencariku, tak mungkin kan kalau ia tahu jika aku yang menabrak siburuk rupa itu, gumam Aliva terkejut.


"Baiklah bi aku akan turun" ucap Aliva.


Diruang keluarga Aliva menghampiri Haris yang tengah menunggunya.


"Asisten Haris ada apa mencariku?" ucap Aliva saat sudah berada diruang keluarga.


"Tuan muda Bram ingin bertemu denganmu" ucap Haris.


"Apa!"


"Iya, tuan muda Bram Hanoraga ingin bertemu denganmu" ucapnya kembali.


"Kalau begitu aku ganti pakaian dulu yah sebentar" ucap Aliva dengan wajah yang berseri.


"Tak usah nona kedua, tuan muda Bram tak punya banyak waktu" ucap Haris.


"Baiklah"


Aliva mengikuti Haris menaiki mobilnya, ia tak tahu kemana ia akan dibawa, yang ia tahu ia akan bertemu pujaan hatinya.


"Pakailah penùtup mata ini" ucap Haris menyerahkan tali penutup mata pada Aliva.


"Mengapa harus menutup mata segala"


"Kau ingin bertemu dengan tuan muda atau tidak?"


"Ingin ingin"


"Ya sudah pakai"


" Baik, baiklah aku akan pakai"


Aliva menutup matanya dengan tali penutup mata yang diberikan oleh Haris.


Haris turun dan membukakan pintu untuk Aliva, ia menarik Aliva keluar dan mengikat tangannya kebelakang.


"Ko pake diiket gini sih" ucap Aliva memberontak.


Haris kemudian menutup bibir Aliva dengan lakban agar ia tak berisik, Haris menyeret Aliva untuk masuk dengannya kedalam ruangan yang penerangannya remang remang.


Haris mendudukan Aliva dikursi kayu, ia mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya dan menghubungi Bram.


"Halo, orangnya udah ditempat biasa" ucap Haris dan tak lama ia memutuskan panggilannya.


***


Dirumah sakit Bram telah menandatangani surat persetujuan untuk Aberlie dan Aberlie sudah dibawa kedalam ruangan oprasi, tak lama Haris menghubunginya mengatakan jika ia sudah menemukan siapa orangnya dan telah membawanya ketempat biasa.


Bram mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Fatma untuk menjaga Aberlie.


"Halo nek, Aberlie kecelakaan, sekarang sedang berada diruang oprasi, nenek datang lah kesini, ada sesuath yang harus ku urus, nanti kujelaskan semuanya jika aku sudah membereskan orangnya" ucap Bram tak lama ia memutuskan panggilannya.


Tak berapa lama Fatma dan Harun datang, mereka menghampiri Bram yang sedang duduk dikursi tunggu didepan ruang operasi.


"Bram, apa yang terjadi sayang?" tanya Fatma seraya duduk disampingnya.


"Aberlie ditabrak oleh seseorang mah, dan ternyata Aberlie sedang mengandung, usia kandungannya baru menginjak dua minggu, namun janinnya tak selamat, terjadi pendarahan dikepalanya, saat ini ia tengah menjalani operasi pengangkatan janin dan operasi dikepala belakannya nek" ucap Bram seraya terisak dipelukan Fatma.


"Astaga, siapa yang telah melakukan ini pada Aberlie Bram?"


"Aliva nek, Haris sudah menangkapnya dan membawanya kemarkas, aku akan kesana sekarang, dia harus diberi pelajaran, sudah berkali kali dia membuat Aberlie celaka namun aku membiarkannya tapi dia malah membuat Aberlie seperti ini, aku tak bisa memaafkannya, ucapkan permintaan maafku pada tuan Wijaya karena aku akan membuat putrinya cacat kek, dia harus membayar perbuatannya" ucap Bram dengan geram.


"Kau pergilah sayang, biar Aberlie nenek dan kakek yang menjaganya dan untuk urusan dengan keluarga Wijaya serahkan pada kakek" ucap Fatma mengusap punggung Bram.


"Baiklah nek, kek aku pergi sekarang" ucap Bram seraya beranjak pergi meninggalkan Fatma dan Harun.


*****


Hai kakak selamat membaca yah jangan lupa tinggalin like buat othor yah🙏😊


Salam hangat dariku untuk kalian🙏😊🤗🥰