
"Kamu istirahat saja." ucap Al begitu mereka sampai di apartemen. Yuna berjalan menuju kamarnya. Sementara Al segera menuju dapur. Tangan cekatannya mulai mengolah bahan makanan yang ada di kulkas.
"Kenapa mobil itu mengincarku?" Yuna yang telah bertukar pakaian segera duduk dan bersandar di tempat tidur. Dia memikirkan kejadian yang baru saja dia alami. "Aku tidak punya musuh ataupun masalah disini." Yuna mengingat-ingat apa saja yang telah terjadi selama beberapa hari belakangan ini.
"TOK TOK TOK." setelah mengetuk pintu kamar Yuna, Al segera masuk dengan membawa nampan yang berisi makan siang untuk Yuna.
"Kamu pasti belum makan siangkan?" tanyanya begitu sampai di dekat Yuna.
"Kenapa harus dibawa kesini?" tanya Yuna.
"Biar kamu gak repot bolak-balik, kamu kan lagi sakit." jawabnya. "Mau aku suapi?" tanya Al.
"Aku bisa sendiri." Yuna mengambil nampan yang ada ditangan Al, dan mulai menyuap makanan itu ke mulutnya.
"Yah, padahal aku ingin melakukan seperti pasangan lain lakukan." Al berpura-pura kecewa.
"Kamu gak perlu meniru orang lain, cukup menjadi dirimu sendiri. Karena itu yang aku sukai darimu." Al tersenyum mendengar perkataannya. "Al, apa menurutmu ini memang perbuatan tuan James?" Ayuna bisa melihat perubahan pada wajah Al.
"Aku belum tahu! Aku sudah menyuruh Jo untuk menyelidikinya." jawabnya. "Kamu tidak perlu khawatir, aku akan minta Jhosua untuk mencarikan bodyguard untukmu." lanjutnya.
"Apakah mencintaimu membutuhkan perjuangan seperti ini?" Al menoleh padanya.
"Kenapa berkata seperti itu?" tanya Al.
"Aku baru sadar kalau ternyata hidupmu begitu berat. Banyak sekali orang-orang yang ingin menjatuhkanmu." Al terdiam memandangi Yuna. "Ternyata benar kata orang, semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin yang menerpanya." lanjutnya.
"Maafkan aku, karenaku kamu menjaadi seperti ini." Ayuna bisa melihat kesedihan dia wajah lelaki yang begitu dia cintai.
"Ini bukan salahmu. Aku yang salah karena tidak berhati-hati." Yuna tidak ingin Al menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi padanya.
"Ini, minum dulu obatmu." Al menyerahkan obat yang telah dia buka pada Yuna. Ayuna meletakkan nampannya diatas nakas dan mengambil obat itu darinya.
"Istirahatlah!" ucap Al begitu dia selesai meminum obatnya. Yuna mengangguk, dia mulai berbaring dan Al menarik selimutnya hingga menutupi sebagian tubuhnya. Setelah Ayuna tidur, Alvaro keluar dari sana. Al menuju ruang tamu. Tak lama kemudian ponselnya berdering, Jhosua menghubunginya.
"Gimana?" tanyanya.
"Saya sudah menyerahkan hasil rekaman cctvnya ke polisi, Tuan." jawab Jo.
"Terus?" Al masih menunggu penjelasannya.
"Ternyata mobil yang mereka gunakan adalah mobil rental. Dan polisi sedang menyelidiki kasus ini lebih jauh." lapornya.
"Dan James?" tanya Al.
"Sejak putrinya di penjara, kegiatannya hanya di seputar kantor dan rumah. Selebihnya dia selalu menyempatkan diri mengunjungi putrinya di lapas. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan, Tuan." Dengan kemampuan yang dia miliki tidak sulit untuk Jo mendapatkan semua itu.
"Jika bukan James lalu siapa?" Al berpikir keras, mencoba menebak siapa pelakunya kali ini. Dia sangat tahu Ayuna tidak mempunyai musuh. "Apa ini perbuatan saingan bisnisku?
"Maaf ya, kamu jadi kebawa-bawa." Jhosua menatap sekilas pada Gina yang duduk disebelahnya.
"Tidak apa-apa, santai saja!" jawabnya.
"Apakah menurutmu tuan James pelakunya?" Gina ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku rasa tidak! Menurutku, memang ada yang tidak menyukai kehadiran Yuna disisi tuan Al." jawab Jo.
"Kasihan banget Yuna, sudah dua kali dia mengalami kecelakaan karena tuan Al. Ternyata hidup tuan Al tidak seindah yang orang-orang bayangkan." Jo menatapnya.
"Itulah yang selama ini dialami tuan Al. Orang berpikir karena dia pengusaha sukses, hidupnya enak karena punya segalanya, tapi mereka tidak pernah tahu betapa kesepiannya dia. Dia harus selalu waspada, tidak bisa mempercayai orang lain begitu saja termasuk keluarganya sendiri." Jhosua menjelaskan seperti apa tuannya. "Kenapa?" tanya Jo saat melihat Gina yang terus menatapnya.
"Sejak kapan kamu mulai banyak bicara begini?" tanyanya, Jo mengangkat sebelah alisnya.
"Nanti juga kamu akan tahu seperti apa diriku." Gina terlihat bingung. Mereka sampai di Ivander Group. Jo mengembalikan kunci mobilnya pada Gina.
"Jangan kemana-mana! Istirahat dirumah saja." Al memperingati Yuna untuk tidak keluar.
"Iya." jawab Yuna. Setelah itu Al segera berangkat bekerja. Ayuna berjalan ruang tamu, tapi baru saja dia ingin menghidupkan tv terdengar bunyi bel.
"Kenapa dia balik lagi? Apa ada yang tertinggal?" Yuna kembali berjalan menuju pintu, dan segera membukanya. Betapa terkejutnya dia karena yang datang bukan Al melainkan Monika.
"Al sudah berangkat ke kantor." ucap Yuna sebelum Monika bertanya. Monika tidak menjawab dia mendorong Ayuna dan masuk begitu saja. "Anda mau apa?" tanya Yuna saat melihat Monika yang sudah duduk.
"Pergilah dari hidup putraku! Kalian tidak akan bisa bersama." ucapnya.
"Kenapa anda masih belum bisa menerima hubungan kami?" Yuna ikut duduk di sofa yang ada di depannya. Monika menatap tajam padanya.
"Apa Al belum mengatakannya padamu?" tanyanya.
"Apa?" tanyanya.
"Bukankah kau pernah terlibat penculikan yang mengakibatkan kedua orangtuamu meninggal?" Ayuna kaget mendengar perkataannya.
"Dari mana anda itu?"
"Tentu saja aku tahu, karena anak lelaki yang bersama denganmu itu adalah putraku." Ayuna bagai tersambar petir.
"Itu tidak mungkin!" Yuna tidak mempercayainya.
"Apa Al tidak pernah mengatakan padamu kalau dia pernah diculik?" Ayuna ingat kalau Al pernah mengatakan itu.
"Anda jangan bohong!" teriaknya.
"Untuk apa aku berbohong. Kalian pernah diculik saat di Night Paradise, bukan? Aku juga baru tahu bahwa kau adalah bocah perempuan itu." Yuna tidak dapat berkata apa-apa. "Jika kau tidak mempercayaiku, maka kau bisa bertanya langsung pada Al." Monika berdiri. "Atau kau bisa cari sendiri barangmu yang ada padanya, aku yakin Al pasti menyimpannya disini." Monika tersenyum sinis dan meninggalkan Yuna yang masih terpaku di sofa.
"Dia pasti bohong! Tidak mungkin Al, anak laki-laki itu." Ayuna teringat dengan perkataan Cantika tentang kotak perhiasan yang berada di nakas di kamar Al. Ayuna segera berlari menuju kamar Al, dia membuka nakas yang ada di samping tempat tidur Al. Dan benar saja, dia menemukan kotak itu masih disana. Kotak itu jatuh begitu saja setelah dia membukanya.
"Aaakkhh!!" Yuna berteriak dan menangis, dia terduduk dilantai sambil memegang gelang pemberian Kia. "Mamaaa!!" teriaknya.
Dengan langkah gontai Yuna berjalan menuju kamarnya, matanya sembab dan hidungnya memerah. Ayuna mengambil travel bag miliknya dan memasukkan semua barangnya. Dering ponselnya terdengar saat tangannya memegang gagang pintu. Tertera nama Al di layar ponselnya.
"Hallo!" terdengar suara Al begitu dia menjawab panggilannya. "Kamu kemana saja? Kenapa baru mengangkat teleponku? Hallo? Yuna??" suara Al terdengar khawatir.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Yuna.
"Apa maksudmu?" Al tidak mengerti.
"Aku sudah tahu semuanya, jangan berpura-pura lagi." Al bisa mendengar kalau saat ini Yuna menangis. "Aku membencimu Al, kau penyebab aku kehilangan kedua orangtuaku."
"Tunggu aku! Akan aku jelaskan!" Alvaro paham apa yang sedang terjadi. Ayuna segera menutup teleponnya. Dia berjalan keluar dari apartemen Al. Airmatanya tidak henti mengalir, dia menyesali kenapa bisa mencintai Al. Ayuna menyeret travel bagnya menuju jalan raya.
"CIIIIITTT." tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya, Ayuna yang sedang melamun tidak menyadari kalau dia menyebrang tanpa melihat kanan kiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pengemudi mobil.
"Andreas?" ucap Yuna dengan mata berair.
"Ayuna ...?"
"Yuna, kamu dimana?" Al yang baru sampai di Apartemen segera mencari keberadaan Yuna. Al berjalan menuju kamarnya dan melihat kotak perhiasannya sudah tergeletak di lantai. Al mencari Yuna di kamarnya tapi tidak ada. Alvaro menghubungi ponsel Yuna, tapi sudah tidak aktif.
"Aagghhhh!!!!" Al melempar ponselnya ke lantai.
~tbc