CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 173



"Aku tidak bertanya!" jawab Yuna.


"Aku memberitahumu, agar kau tidak menyebutku dengan kata menyebalkan lagi." potongnya.


"Apa yang kau mau? Bukankah kita sudah tidak punya urusan lagi." Yuna semakin kesal dengan kehadirannya.


"Teman! Aku mau kau menjadi temanku." jawabnya cepat.


"Kau salah orang! Aku sudah punya suami, jadi aku nggak berniat berteman dengan pria manapun." Yuna menatap tajam ke arahnya.


"Jadi, kau sudah menikah? Apa kalau sudah menikah, maka kau tidak lagi bisa berinteraksi dengan orang lain? Apa suamimu se-posesif itu?" Ayuna tahu Bumi sedang meledeknya.


"Bukan urusanmu. Ayo, Na! Lebih baik kita pergi dari sini." Ayuna meraih tasnya. Gina mengikutinya, mereka berdiri.


"Lalu, bagaimana dengan si Cassanova? Bukankah dia juga pria lain? Apa dia suamimu?" Ayuna terpaku.


"Siapa yang kau maksud?" Yuna bingung.


"Andreas Casanno! Aku melihatmu berbicara dengannya di lobby rumah sakit. Apa dia suamimu? Atau kekasihmu?" Bumi terkesan mengintrogasinya.


"Apa kau mengenalnya?" Yuna balik bertanya.


"Iya. Tidak begitu baik." dia berkata jujur.


"Kalau begitu kau tahu bahwa dia seorang dokter, bukan?" Yuna balik bertanya.


"Jadi, hubungan kalian hanya sebatas dokter dan pasien?" Bumi masih mencoba mencari tahu.


"Maaf, Tuan Bumi. Tapi menurutku, kau sudah terlalu lancang mengusik kehidupan pribadi orang lain." Yuna terlihat emosi. "Kau nggak perlu tahu hubunganku dengannya." Yuna meninggalkan meja itu, begitupun dengan Gina.


"Aku nggak akan tinggal diam, jika kau memiliki hubungan terlarang dengan si casannova." Bumi memasang kembali kacamatanya dan meninggalkan D'Amor.


"Siapa, Na? Lo kenal dia?" Gina sangat penasaran terhadap pria bernama Bumi tadi.


"Dia itu orang paling nyebelin." jawabnya.


"Bukannya yang paling menyebalkan itu tuan Al ya?" melihat Ayuna menatap tajam ke arahnya, Gina segera menutup mulutnya. "Tapi, dia sepertinya begitu tertarik ke lo. Apa dia nggak tahu kalau lo udah nikah?" Gina sangat yakin dengan intuisinya.


"Aku'kan udah bilang kalau aku sudah punya suami." jawab Yuna.


"Tapi, asal lo tahu. Zaman sekarang wanita yang sudah menikah itu jauh lebih menggoda. Makanya banyak pelakor dan pebinor dimana-mana." Ayuna terdiam.


"Bapak kenapa senyum-senyum?" tanya Yuna saat melihat Galuh tersenyum.


"Apa yang dikatakan teman nyonya itu benar. Apalagi, nyonya cantik begini, sudah pasti banyak kaum adam yang naksir." Gina mengiyakan ucapan pria paruh baya itu.


"Pak, jangan cerita ke Al ya. Aku nggak mau dia nantinya salah sangka. Padahal kenal juga nggak sama tu orang." pinta Yuna.


"Baik, Nyonya." jawabnya.


"Tapi, Na, tadi dia bilang namanya Bumi ya?" sela Gina.


"Iya. Bumi Arkana!" Yuna masih ingat namanya.


"Kok kebetulan banget ya?" Gina terlihat mencurugai sesuatu.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Bukankah Tuan Al saat ini sedang menjalin kerjasama dengan Earth Corp?" tanyanya.


"Lalu apa hubungannya? Setahu aku CEO Earth Corp itu tuan Smith. Udahlah, ngapain juga kita ngebahas orang nggak penting begitu." Yuna terlihat malas membahas tentang Bumi lagi. Gina masih sibuk dengan pemikirannya. Mereka sampai di Ivander Group.


"Makasih ya! Aku masuk dulu." ucapnya sebelum keluar dari mobil putih itu.


"Iya." jawab Yuna. Begitu Gina masuk ke lobby, Galuh segera keluar dari sana.


🍀🍀🍀


"Bi, hari ini nggak perlu masak banyak." ucap Yuna begitu dia sampai di rumah.


"Baik, Nyonya." jawabnya. Ayuna bergegas menuju kamarnya.


Kamar itu terlihat kosong, dia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ayuna meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Al lagi.


"Kok nggak aktif sih?" Yuna kembali terlihat kesal. "Apa dia nggak bisa kasih kabar?" gerutunya.


Sementara itu, tepatnya di daerah Labuan Bajo. Al sedang mengumpulkan seluruh karyawan yang bertugas menghandle pembangunan resort milik Earth Corp. Wajah Al memerah, matanya membara. Para karyawan yang berdiri di hadapannya tidak ada satupun yang berani menatapnya.


"Jo, bawa dia ke pihak berwajib." perintahnya dengan suara lantang.


"Tuan, maafkan saya!" pria yang berdiri tepat dihadapan Al berulang kali meminta maaf. Alvaro meninggalkan mereka.


"Kalian bawa dia!" perintah Jo pada beberapa anak buahnya. Mereka membawa pria tadi menaiki mobil hitam yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Al kembali ke kamar yang telah disiapkan untuknya. Dia mengambil ponsel dari kantong jasnya.


"Astaga, ponselku mati! Aku lupa membawa charger." Dia terlihat panik, karena dia sama sekali belum menghubungi Yuna. Al, berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari hotel.


"BRUK!!" karena terburu-buru, Al menabrak seseorang.


"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Al, dia membantu mengambilkan barang-barang wanita yang dia tabrak tadi.


"Tidak apa-apa." jawabnya.


"Ini." Al menyerahkan kembali barang-barang itu.


"Terima kasih." wanita berambut coklat itu tersenyum padanya. Alvaro tidak begitu menanggapinya, dia memilih untuk segera pergi dari sana.


Alvaro kembali ke hotel dengan membawa charger ponsel yang baru dia beli. Dia segera mengisi daya ponselnya. Jo datang dan segera melapor mengenai orang-orang yang telah dia serahkan pada polisi.


"Gimana dengan Vendor yang baru?" tanya Jo.


"Mereka sudah tiba disini, Tuan." lapornya.


"Tuan Smith?" Al memeriksa ponselnya, tapi masih belum selesai.


"Saya hanya melihat tuan Kai." Jo sebelumnya melihat Kai datang sendiri.


"Besok, pukul 10.00 wit, Tuan." Al mengangguk, dia segera mengambil ponselnya.


"Apa yuna menghubungimu?" Jhosua mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Ayuna sebanyak 3 kali.


"Ada, Tuan." jawabnya.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Alvaro terlihat kesal, dia menekan tombol on pada ponselnya. Begitu layarnya menyala, Al segera mencari kontak Yuna.


"Kemana dia? Apa dia marah?" Al terlihat khawatir karena Yuna belum juga menjawab panggilannya.


"Hallo!" terdengar suara Yuna saat Al akan memutus panggilan itu.


"Sayang, kenapa lama sekali angkat teleponnya?" tanya Al, dia lega karena Yuna baik-baik saja.


"Aku baru dari kamar mandi." jawabnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku baru sadarkalau seharian ponselku mati. Dan, aku lupa bawa chargernya." Al langsung menjelaskan apa yang terjadi.


"Apa sudah selesai meetingnya? Kamu pulang malam inikan?" Al terkejut, karena Yuna tahu.


"Kamu tahu aku di Lombok?" tanya Al.


"Iya. Tadi aku ke kantormu, dan Refa yang bilang." jelasnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku nggak bisa pulang malam ini. Besok pagi aku masih harus meeting dengan vendor baru dan juga Kai." Ayuna kecewa mendengarnya. Dia berharap Al ada bersamanya. "Sayang ....?" panggil Al karena tidak mendapat jawaban darinya.


"Baiklah." jawab Yuna lemah.


"Kamu sudah makan?" Al tahu Yuna pasti kesal.


"Sudah." jawabnya.


"Terus, kemana saja seharian ini?" Al terus memancing agar Yuna bisa kembali ceria. Salahnya, karena pergi tanpa pemberitahuan. Melihat tuannya asyik berbicara dengan sang istri, Jhosua memilih untuk keluar dari kamar itu.


🍀🍀🍀


"Sarapannya, Nyonya?" tanya Dea saat melihat Yuna belum menyentuh sarapannya, dia hanya meneguk segelas jus.


"Aku masih kenyang." Yuns berjalan menuju taman belakang.


Dia terlihat lesu. Di rumah sebesar ini Ayuna merasa begitu hampa. Hanya ada dia. Rasanya Yuna ingin kembali ke apartemen.


"Al, sedang apa ya?" Yuna mengambil ponselnya dan mulai melakukan panggilan video. Entah mengapa, dia begitu merindukannya.


"Maaf, saya terlambat!" ucap Al saat dirinya masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk meeting mereka pagi ini.


"Tidak apa-apa, Tuan." jawab Kai.


"Tuan, ini nona Valerie. Perusahaan beliau yang mengantikan vendor sebelumnya." ucaP


"Valerie." wanita berambut coklat itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Al.


"Alvaro." dia meneriman uluran tangannya.


"Saya nggak nyangka, kalau anda adalah CEO Ivander Group." ucap wanita itu, Alvaro hanya tersenyum tipis. Sementara Kai mengirim pesan pada Bumi.


"Bisa kita mulai?" Al bersikap dingin, Valerie sedikit kecewa. Kai menganggukan kepalanya.


Mereka memulai meeting itu. Meeting itu berjalan cukup alot. Mereka harus bersabar sampai adanya kesepakatan. Dan, tentu saja semuanya berada di tangan Bumi.


"Kalau begitu saya permisi." Kai keluar terlebih dahulu. Disusul dengan Al dan Jo. Saat menuju lift, Al melihat ada panggilan video dari Yuna. Dengan cepat Al segera menjawabnya.


"Ada ala , Sayang?" tanya Al begitu melihat wajah Yuna.


"Apa meetingmu sudah selesai?" tanya Yuna, Al.mengangguk. "Bagus! Kalau begitu cepatlah pulang." ucapnya.


"Kenapa? Apa kamu begitu merindukan ...." ponsel Al terjatuh saat Valerie menabraknya.


"Maaf, aku nggak sengaja." Valerie mengambil ponsel yang jatuh itu dan memberikannya pada Al.


"Tidak apa-apa." jawab Al sambil memegang ponselnya.


"Hmm, tuan, gimana kalau kita makan siang bareng?" ajaknya.


"Maafkan saya! Tapi, saya harus segera kembali ke Jakarta." tolaknya.


"Benarkah?" terlihat kekecewaan lagi di wajah ayu itu.


"Mungkin lain kali." ujar Al.


"Baiklah! Saat kita bertemu lagi, maka kamu harus menemaniku." Valerie tersenyum manis. Setelah pintu lift terbuka, Al dan Jhosua segera masuk ke lift Sementara wanita itu masih berdiri di luar.


"Kamu nggak masuk?" tanya Al.


"Kalian bisa duluan, aku masih ada urusan." pintu segera tertutup setelah Al mendengar perkataannya.


"Ya ampun! Dia benar-benar cakep." puji Valerie. Wajahnya terlihat ceria.


"Tuan?" panggil Jo saat mereka masih berada di dalam lift.


"Ada apa?" Al menoleh padanya.


"Ponsel anda sejak tadi masih menyala." Al memeriksa ponsel yang sedang dia


pegang. Entah sejak kapan ponsel itu menghadap ke depan. Alvaro mengarahkan ponsel itu padanya.


"Sayang, aku bisa jelas ...."


"TUT TUT TUT!!" Alvaro terkejut saat mendapati Ayuna memutus panggilan video itu.


"Matilah aku!" Alvaro panik.


~tbc