
Setelah urusan percintaan Haris selesai sekarang giliran Bram yang akan mengutarakan niatnya datang kerumah utama.
"Nek, lusa aku akan bawa Aberlie berbulan madu , namun Aberlie memilih untuk berbulan madu didesa x tempat kelahiran ibunya, aku datang kesini ingin berpamitan pada kalian semua, doain aku dan Aberlie semoga saat pulang dari desa x kami berdua membawa kabar baik" ucap Bram seraya merangkul pundak Aberlie mesra didepan keluarganya.
"Itu ide yang sangat bagus Bram, pemandangan disana sangatlah indah, nenek pun rindu ingin berkunjung kesana, nenek rindu makan diwarung soto yang pernah nenek kunjungi bersama dengan Ratih, nenek rindu soto babat dan sate ayam diwarung itu, nenek juga rindu dengan..... nenek rindu dengan....." Fqtma tak mampu melanjutkan ucapannya.
Air matanya sudah mengalir deras mengingat masa lalu yang indah yang pernah ia lalui bersama dengan Ratih ibu kandung dari Aberlie.
Hatinya begitu sakit tatkala mengetahui bahwa Ratih telah meninggal dunia saat mereka berkunjung kembali kedesa tersebut.
Fatma menyesal karena tak bisa sering sering berkunjung kerumah Ratih sewaktu Ratih masih hidup.
Yang lebih membuat sakit hatinya lagi ternyata anak yang dilahirkan oleh Ratih diabaikan seperti itu saja oleh suami Ratih yaitu Richard, ia hanya membiarkan Aberlie diurus oleh sang pengasuh tanpa sedikitpun memberikannya kasih sayang pada Aberlie kecil.
Yang membuat terkejutnya lagi ternyata harta peninggalan Ratih yang ditinggalkan oleh mendiang ayahnya Ratih yang tak lain kakek dari Aberlie diberikan pada Riska sebagai mas kawinnya oleh Richard.
Harun meraih tubuh Fatma kedalam pelukannya, tangis Fatma meledak dipelukan Harun, ia tak bisa menahan rasa sedih kehilangan Ratih yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri dan sangat menyayanginya.
"Kalian pergilah sayang, kunjungi ibu dan kakek nenek mu disana, sampaikan salam nenek pada mereka, katakan padanya lain kali nenek akan datang berkunjung kemakam ya" ucap Fatma setelah ia rasa cukup tenang.
"Nenek terima kasih karena nenek telah menyayangi ibuku seperti putrinya sendiri, dan terima kasih karena nenek sudah mengirim bu Sumi untuk merawatku, terima kasih pula untuk cinta yang begitu besar yang nenek berikan padaku sedari aku kecil, aku sayang sayang saaayaaaaaang sekali sama nenek" ucap Aberlie memeluk Fatma dan menangis dipelukannya.
Bram mengusap punggung Aberlie lembut, ia tahu betul bagaimana perasaan sang istri saat ini,ia pun merasakan sakit atas apa yang keluarga Wijaya lakukan pada Aberlie.
Bram bertekad untuk membayar rasa sakit yang pernah mereka berikan pada istrinya tersebut.
Malam semakin larut merekapun berpamitan untuk pulang kekediaman masing masing.
Haris memilih untuk pulang keapartemennya mulai dari saat Bram menikah dengan Aberlie, ia tak ingin suatu saat mendengar suara yang membuat bulu romanya berdiri.
Aberlie dan Bram sudah sampai dimansionnya, mereka memutuskan untuk segera beristirahat karena besok ia akan berkemas barang apa saja yang akan ia bawa.
Pagi hari menjelang Aberlie sedang sibuk seperti biasa didapur untuk membuat sarapan pagi untuknya dan Bram dibantu oleh Mirna sang asisten rumah tangga paruh baya tersebut.
Tak ketinggalan Bram juga memenaminya walau hanya duduk dikursi meja makan seraya mengerjakan pekerjaannya melalui laptopnya.
Padahal dia bisa bekerja diruang kerjanya mengapa dia harus sibuk sambil menemaniku didapur, lalu apa gunanya ruang kerjanya, dasar bucin akut, gumam Aberlie seraya menggelengkan kepalanya melihat sang suami yang tak ingin jauh jauh darinya.
Sarapan selasai dibuat, seperti biasa mereka akan makan dengan romantis tanpa memperdulikan yang lainnya.
Seusai sarapan Aberlie mulai mengemas barang apa saja yang akan ia bawa untuk berangkat kedesa x esok hari dengan dibantu oleh Bram.
"Dear, apa kita perlu berbelanja makanan juga untuk persediaan disana, takut takut supermarket jauh dari tempat kita tinggal" ucap Aberlie.
Setelah selesai berkemas mereka pun memutuskan untuk berbelanja kebutuhan untuk mereka, seperti kebutuhan kamar mandi dan dapur.
Didalam supermarket Aberlie tengah sibuk memilih apa saja yang ingin ia beli, sedangkan Bram hanya membuntuti saja seraya mendorong troly.
"By, jangan lupa kopi aku yah, makanan ringan juga, terus buah buahan kita bisa letakan dikulkas" ucap Bram mengingatkan.
Saat mereka tengah asik memilah dan memilih apa saja yang ingin mereka beli tiba tiba mereka berpapasan dengan Aron dan Aliva.
Aron mendengus kesal melihat Aberlie yang begitu mesra dengan Bram, begitu juga Aliva, ia sangat panas hatinya melihat Bram digandeng oleh Aberlie.
"Aberlie, bisakah kau kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu, aku benar benar sangat mencintaimu Aberlie, aku menyesal tak mengenalimu lebih awal, please, kumohon kasih aku kesempatan hm" Aron menarik Aberlie jauh dari sisi Bram dan memegang kedua tangan Aberlie membuat Bram tersulut emosi.
Saat Bram ingin menghampiri mereka tiba tiba Aliva menahan Bram dengan memeluk tangan Bram.
"Kak Bram, biarkan mereka bersama hm, aku juga sangat mencintaimu kak, bisakah kau berpaling padaku, aku tak kalah cantiknya dari Aberlie kak, aku lebih bisa memuaskanmu diatas ranjang kak, berpalinglah padaku kak, aku janji tak akan mengecewakanmu" ucap Aliva seraya membelai dada bidang Bram.
Bram menghempaskan Aliva kelantai, ia tak perduli jika Aliva kesakitan atas perlakuannya.
"Kau harus ingat *** ***, tak akan ada yang bisa membuatku jatuh cinta selain Aberlie, dari ku kecil hingga saat ini Aberlie adalah duniaku, jadi jangan kau ganggu Aberlie jika kau ingin hidupmu nyaman dan tenang, atau aku akan membuatmu menyesal bahkan aku akan memusnahkanmu dari muka bumi ini, camkan itu wanita hi na" bentak Bram pada Aliva seketika membuat seluruh pengunjung menoleh pada mereka.
Bram langsung menghampiri Aberlie yang tengah meronta karena ditarik paksa oleh Aron untuk ikut dengannya.
"Lepaskan......lepaskan aku breng sek, apa kau lupa bagaimana kau memukulku hah, apa kau lupa seperti apa reaksimu saat memukulku, jangan pernah bermimpi jika aku akan berlari kepelukanmu dan meninggalkan Bram, lepaskan aku breng sek" Aberlie terus memukuli Aron namun Aron tak perduli, ia terus menarik tangan Aberlie agar Aberlie ikut dengannya.
Aron sudah kehilangan akal sehatnya karena melihat Aberlie berada dalam pelukan Bram.
Bram berlari mengejar mereka, ia menarik rambut Aron dan menghempaskannya kelantai.
Saat Bram akan memukul Aron Aberlie mencegahnya karena sudah banyak mata yang berkerumun melihat kejadian tersebut.
"Dear lebih baik kita pergi atau nama baikmu akan tercoreng karena mengotori tanganmu untuk orang gila seperti dia" ucap Aberlie seraya memeluknya dari belakan untuk menenangkan Bram.
"Aku gak apa apa oke, kita pergi sekarang, kita bayar ini yerlebih dahulu lalu kita pergi" lanjut Aberlie masih memeluk Bram.
"Baiklah by" akhirnya Bram tenang.
*****
Selamat membaca yah semua jangan lupa tinggalin jejak kalian agar author semangat berhalu rianya😊
Salam hangat dari aku untuk kalian semua🙏😊🤗❤