
klik like dulu oke sebelum lanjut membaca😊
"Silahkan dusuk dok, dokter mau minum apa biar saya buatkan" ucap Veronica mempersilahkan dokter Agam duduk.
Dokter Agam mendudukkan bokongnya dikursi usan yang masih dikatakan layak untuk diduduki.
"Tak usah repot repot, aku mampir hanya ingin tahu seperti apa kehidupan calon istriku" jawab dokter Agam.
"Saya bukan dari keluarga berada dok, saya hanya memiliki ibu saya seorang yang sedang koma dirumah sakit karena penyakit jantungnya, seperti inilah kehidupan saya wanita yang ingin dinikahi oleh dokter, apakah dokter menyesal dengan keputusan dokter untuk menjadikan saya wanita dokter?" ucap Veronica.
"Saya tidak menyesali ataupun ingin membatalkan niat saya, saya hanya akan katakan padamu setelah kita menikah kamu akan pindah ke apartemen yang sudah saya siapkan untukmu" jelas dokter Agam.
"Tapi dok, apa itu tidak berlebihan, saya hanya seorang simpanan saja, apa pantas dokter menyiapkan apartemen buat saya"
"Diluar sana banyak sekali wanita liar yang menginginkan hidup enak dengan cara menjual diri atau menjadi simpanan para pria hidung belang tanpa dinikahi baik secara sah atau secara siri, namun kamu aku menginginkanmu untuk dijadikan wanitaku serta kunikahi secara siri dan kuberi kau tempat tinggal tapi kau malah bertanya apa pantas, aku tak suka dibantah, keputusanku sudah bulat, setelah menikah denganku kau pindah ke apartemen" ucap dokter Agam.
"Baiklah dok" jawab Veronica pasrah.
"Ya sudah, hari sudah malam, aku pulang dulu, ingat setiap ada panggilan dari ku kau harus langsung jawab"
"Baik dok"
Dokter Agam berpamitan dan pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah dokter Agam langsung membersihkan dirinya kemudian rebahan diatas kasur.
Mengapa aku tertarik untuk mengikatku disampingnya, padahalkan bisa saja aku hanya membantunya sekali dan setelah itu membiarkannya, tapi mengapa aku ingin terus membantunya dan membuatnya berada disisiku, padahal aku tak kenal dengannya dan aku hanya melihatnya beberapa kali dirumah sakit dan dipesta pernikahan Bram, gumam dokter Agam.
(Kenapa hayo kenapa🤭)
Pagi menjelang setelah membereskan rumah dan bersiap untuk berangkat kerumah sakit terlebih dahulu kemudian berangkat ke cafe menjadi rutinitas rutin Veronica selama beberapa bulan terakhir.
Saat ia sedang mengunci pitunya tiba tiba terdengar sura klakson mobil yang mengejutkan dirinya.
Veronica menoleh kearah bunyi klakson tersebut ternyata dokter Agam sudah ada didepan rumah kontrakannya, Veronica menghampiri mobil dokter Agam.
"Kenapa dokter bisa ada disini? sedang apa dokter disini?" tanya Veronica yang seakan membuat dokter Agam ingin meneput jidatnya.
"Aku ingin menjemputmu sekalian aku ingin sedikit labih mengenalmu, masuklah aku akan mengantarmu ke cafe tempatmu bekerja" dokter Agam membukakan pintu dari dalam mobil.
"Tapi dokter, ini masih pagi, cafe buka jam sepuluh saya biasa berangkat kecafe jam sembilan" jelas Veronica.
"Lalu kemana kau pagi pagi seperti ini sudah rapih akan pergi?" tanya dokter Agam bingung.
"Saya biasa pagi pagi kerumah sakit dahulu untuk sekedar menyeka ibu saya sebelum saya berangkat kerja dokter" jelas Veronica.
"Oh seperti itu, ya sudah ayo kita menuju rumah sakit" ajaknya.
Akhirnya Veronica masuk kedalam mobil dokter Agam, ini sudah kali kedua ia masuk kedalam mobil seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suami sirinya.
"Oh iya, siapa namamu? aku bahkan belum mengetahui namamu" tanya dokter Agam seraya matanya masih fokus kedepan.
"Veronica dokter"
"Nama yang cantik"
"Kau sudah sarapan?" tanya dokter Agam dan veronica hanya menggelengkan kepalanya.
"Temani aku sarapan sebentar yah"
"Baiklah dok"
Sesampainya ditempat makan tersebut dokter Agam langsung memilih menu makanan yang akan mereka santap pagi ini.
Tak lama pesanan mereka datang dan mereka menyantapnya dengan tenang sambil sesekali membicarakan sesuatu.
Setelah selesai sarapan dokter Agam dan Veronica kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit dimana dokter Agam bertugas dan ibunya Veronica dirawat.
Sampai diparkiran mobil Veronica hendak turun namun dokter Agam memegang tangannya sehingga ia tak bisa melanjutkan langkahnya untuk turun dari mobil.
"Ada apa dokter?" tanya Veronica bingung.
"Masuk bareng aku" jawab dokter Agam.
"Tapi dok, saya tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain" ucap Veronica merasa tak enak hati jika berjalan dengan dokter tampan idola para perawat dan dokter wanita bahkan para pasien juga.
"Siapa yang berani membicarakanku" ucap dokter Agam.
"Memang tak ada yang akan membicarakan dokter, namun mereka akan membicarakan saya dok" jelas Veronica.
"Apa yang akan mereka bicarakan? biar saja mereka dengan fikiran mereka sendiri, kau calon istriku"
"Ia tapi siri dokter" ucap Veronica dengan suara lirih.
"Ya sudah jika itu maumù, nanti jika ingin berangkat kecafe telfon aku, biar ku antar" dokter Agam melepas tangan Veronica dan Veronica pun pergi tanpa menjawab apapun.
Perasaan apa ini, dia memang tampan tapi dia mungkin bukan orang selevel aku yang rendahan, aku tak boleh memiliki perasaan apapun padanya, aku dan dia bukan dari kalangan yang sama, dia seorang dokter sedangkan aku, aku hanya seorang pelayan cafe, aku dengannya hanya untuk pengobatan ibu, karena tak ada jalan lain, gumam Veronica seraya berjalan menuju ruangan ibunya.
"Pagi bu, bagaimana kabar ibu, Ve kangen sama ibu, kapan ibu bangun dari tidur panjang ibu?" ucap Veronica saat baru sampai diruang rawat ibunya.
"Bu, apa ibu tahu, Ve akan menikah bu, walaupun hanya sebagai wanita simpanan namun Ve tidak keberatan bu, semua ini Ve lakuin demi ibu jadi Ve mohon ibu cepat sadar dan sembuh yah" Veronica terus berbicara seraya mengelap tubuh sang ibu.
Di tempat administrasi dokter Agam sedang meminta dokumen tentang ibu dari Veronica.
"Tolong seluruh tagihan atas nama ibu Nila masukkan atas namaku" ucap dokter Agam pada penjaga administrasi.
"Baik dok"
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Veronica bersiap untuk pergi bekerja, ia melihat ponselnya berfikir apakah ia berhak untuk menghubungi dokter Agam dan memintanya mengantar kecafe.
Ah lebih baik tak usah saja, aku bukan siapa siapanya meski dalam waktu dekan kami akan menikah namun itu tak mengubah siapa diriku dan dirinya, gumam Veronica memasukkan kembali ponselnya kedalam tas usang miliknya.
Veronica berjalan keluar ruang rawat ibunya dan menuju loby rumah sakit, ia keluar dari rumah sakit tanpa memberi kabar pada dokter Agam, ia berjalan menuju halte bus terdekat.
Tak lama ia menunggu kemudian bus yang ditunggunya pun datang, ia langsung menaiki bus tersebut dan menuju cafe tempat ia bekerja.
Didalam ruangan dokter Agam selesai memeriksa pasien ia melihat ponselnya, jam diponselnya menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit namun kabar yang ia tunggu belum juga masuk keponselnya.
Apakah ia tak bekerja, mengapa jam segini ia belum mengabari ku, atau jangan jangan...., gumam dokter Agam tak melanjutkan perkataannya.
*****
Hai kakak salam hangat dari aku yah🤗
Kita masih diceritanya dokter Agam sama Veronica dulu yah, maaf kalo ceritanya mungkin kurang gereget karena kan baru bermula
untuk cerita Aberlie dan Bram sebenarnya sudah tamat namun diperpanjang sama author, jadi di novel ini author akan menceritakan tiga kisah cinta yah, yang dua kan sudah pada tahu kisah siapa saja dan sekarang tinggal ceritanya dokter Agam yah,
tapi nanti author bakal kembali lagi pada kisahnya Aberlie kok karena kan memang dia pemeran utama dalam novel ini.
Selamat membaca yah kak jangan lupa tinggalin jejak kalian biar author semangat menghalunya🙏😊🤗❤