
"M-maafkan saya, Tuan." ucap Jo sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Cari istriku sampai ketemu! Jika terjadi sesuatu padanya ataupun anakku. Aku tidak akan pernah mengampunimu!" ancam Al. Jhosua mengangguk, dia segera meninggalkan apartemen Andreas.
Sepeninggal Jo, Al terduduk lemah. Dia benar-benar terkejut. Tidak pernah terpikir sama sekali olehnya kalau saat ini Ayuna sedang hamil. Al memegang kepalanya, sesekali dia menarik-narik rambutnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau semarah itu sehingga mengusir Ayuna?" tanya Andreas.
"Aku tidak pernah mengusirnya." bantahnya.
"Tapi caramu sudah bisa bisa diartikan seperti itu." jawab Andreas.
"Aku hanya marah! Aku cemburu melihatnya tertawa bersama pria lain." jawabnya pelan. Ardreas bisa melihat mata Al memerah, Andreas tahu saat ini sahabatnya itu sangat menyesal.
"Sejak kapan?" tanyanya.
"Mungkin saat ini usia kehamilannya sudah hampir masuk 12 minggu." jawabnya.
"Kenapa dia merahasiaknnya dariku?" Al kembali terlihat kesal.
"Aku rasa kau yang tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan hal ini." Al mengingat kembali apa yang telah terjadi. Akhirnya dia sadar, sudah berapa kali Yuna berusaha memberitahunya. Tapi, karena amarahnya dia malah menyuruh Yuna untuk tutup mulut. Al mengusap kasar wajahnya.
"Kau yakin tidak tahu dimana dia?" tanya Andreas, Alvaro menggeleng. "Apa mungkin dia pulang ke Malang?" Alvaro kembali menggeleng.
"Jika dia pulang, maka saat ini oma pasti sudah memarahiku." jawabnya.
"Kalau begitu, dimana Ayuna? Kau sudah bertanya pada sahabatnya?" Al mengangguk.
"Aku bahkan sudah mendatangi apartemen pria itu." Andreas terbelalak.
"Al ...., Al ...., Apa yang kau lakukan? Apa kau seyakin itu Ayuna berselingkuh?" Andreas geleng-geleng mendengar pengakuannya.
"Lalu, aku harus apa? Aku begitu frustasi hingga melakukan itu." Al berusaha membela diri.
"Kau benar-benar keterlaluan. Jika Ayuna tahu kau melakukan ini, bisa ku pastika dia akan meminta cerai darimu."
"BRUK." sebuah bantal melayang tepat di wajahnya Andreas.
"Sekali lagi kau mengatakan itu, maka bisa kupastikan kau tidak akan bisa bekerja lagi." ancamnya. Bukannya takut, Andreas malah terbahak.
"Harusnya kau berterima kasih padaku. Jika bukan karena aku, mungkin sampai saat ini kau tidak akan pernah tahu mengenai kehamilannya." Al tidak mengatakan apapun. Dia kembali mengkhawatirkan Ayuna dan calon anaknya. "Kau tenang saja, aku yakin mereka baik-baik saja." Andreas kembali menguatkannya.
🍀🍀🍀
"Aku harus mencari kemana lagi?" sudah satu jam Jhosua berkeliaran di jalanan ibukota.
"Aku sudah berusaha menghubungi nomornya, tapi nggak aktif." timpal Gina.
"Menurutmu, beliau pergi kemana?" Jhosua terlihat frustasi. "Aku harus segera menemukannya. Apalagi saat ini beliau sedang hamil."
"Apa?? Ayuna hamil??" Gina tak kalah terkejutnya.
"Iya." jawabnya.
"Dari mana kamu tau?" tanya Gina.
"Dokter Andreas." Gina kembali terdiam. Dia kaget sekaligus khawatir.
"Apa kamu sudah ke apartemen lamanya? Kali aja dia ada disana." ucap Gins.
"Ah, kenapa aku bisa melupakan itu." Jhosua segera berdiri dan meraih kunci mobil berserta ponselnya yang terletak di atas meja.
"Kamu mau kemana?" tanya Gina.
"Apartemen nona Ayuna." jawabnya. "Maaf ya, kamu pulang sendiri dulu." ucap Jo.
"Aku ikut!" Gina bergegas mengambil tasnya.
"Tapi, kamu ....?"
"Ayuna sahabatku. Aku tidak mau terjadi apapun padanya." Jhosua mengangguk, mereka berjalan bersama menuju parkiran.
"Semoga saja Ayuna ada disini." ucap Gina, saat mereka tiba di apartemen Yuna yang lama. Butuh waktu 30 menit untuk sampai kesana. Tapi, begitu tiba di unit Yuna, hanya ada kekecewaan di wajah mereka.
"Sepertinya dia sudah lama tidak kesini." ucap Gina saat melihat beberapa brosur terletak di depan pintu.
"Kamu benar!" jawab Jo. "Ayo, kita pergi!" ajak Jo. Mereka meninggalkan apartemen itu dengan langkah lemah.
"Kita harus mencarinya kemana?" ujar Gina.
"Sepertinya aku harus lapor polisi." jawab Jo.
🍀🍀🍀
"Na, kamu mau makan apa?" tanya Cleo saat melihat Yuna yang baru keluar dari kamarnya.
"Kita delivery aja." ucapnya. Yuna mengangguk, dan duduk di sebelah Cleo. Sementara Cleo sibuk memesan makanan untul mereka.
"Non, di depan ada tuan muda." lapor bi Ita.
"Apa??" karena kaget, Cleo langsung berdiri. Ayuna sampai kaget.
"Ada apa?" tanya Yuna.
"Na, kamu harus sembunyi." Cleo menarik tangan Yuna.
"Tapi, kenapa?" tanya Yuna bingung.
"Aku nggak mau dia lihat kamu disini." Cleo terlihat panik. Sementara, Yuna mengikuti Cleo yang membawanya kembali ke kamar.
"Siapa?" Yuna benar-benar penasaran.
"Andreas."
"Hah? Andreas? Tapi, kenapa dia bisa ada disini?" Yuna mencari-cari keberadaannya.
"Sudah, kamu sembunyi dulu. Nanti aku jelasin." Cleo mendorong Yuna masuk, kemudian menutup pintu.
"Apa yang kau lakukan?" Cleo kaget, karena Andreas sudah berdiri tak jauh darinya.
"T-tidak! Kenapa?" tanya Cleo dengan terbata.
"Sedang apa kau disini?" Andreas mendekat dan menoleh pada kamar yang ditempati Yuna.
"Aku baru saja mengambil barangku yang tertinggal." bohongnya. Andreas melihat tangan Cleo.
"Mana?" tanyanya.
"Mati aku!" Cleo tidak menyadari kalau dia tidak memegang apapun. "Mau apa kau kesini?" Cleo berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Menjemputmu! Mau berapa lama kau disini? Apa kau tidak peduli pada suamimu?" tanyanya. Usaha Cleo berhasil, Andreas tidak lagi mempertanyakan mengenai kamar itu.
"Buat apa aku peduli? Kau saja tidak pernah bersikap baik padaku." jawabnya.
"Hey, bocah tengil! Kalau aku tidak peduli, aku tidak akan menjemputmu." jawabnya.
"Kau melakukan ini pasti agar mama tidak tahu." Cleo cemberut.
"Tentu saja! Jika bukan karena mama, aku juga malas menjemputmu. Apa kau pikir aku melakukan ini untukku?" Andreas menatap tajam padanya.
"Sudah ku duga. Aku juga tidak mengharapkan itu." Cleo bergegas menjauh dari kamar Yuna.
"Hey! Aku nggak mau menunggu lama. Dalam 5 menit kau sudah harus turun." Andreas sedikit berteriak.
"Kalau begitu, kau boleh pergi sendiri." jawab Cleo dari anak tangga.
"Kenapa Andreas ada disini? Apa hubungan mereka?" setelah mereka pergi, Yuna mengintip dari balik pintu. Suara tadi begitu falimiar untuknya. Dan benar saja, dia melihat Andreas dan Cleo sedang beradu argumen.
"Bi, kenapa dokter Andreas bisa ada disini?" tanya Yuna setelah mereka pergi.
"Nona kenal dengan tuan muda?" tanya Bi Ita. Dia meletakkan jus yang dia bawa, kemudian berdiri di sebelah Yuna.
"Tuan muda?" tanya Yuna.
"Iya, beliau adalah suami nona Cleo!"
"Hah? Suami?" Yuna terkejut, hampir saja gelas yang dia pegang terjatuh.
"Nona baik-baik saja?" Bi Ita dengan cepat mengambil gelas itu dan meletakkannya di meja. Kemudian memberikan tisu untuk menyeka tangan Yuna yang ketumpahan jus.
"Makasih, Bi!" ucapnya. "Sejak kapan mereka menikah? Andreas bahkan tidak mengundangku." tanya Yuna, Bi Ita melihat ke arahnya.
"Sekitar 6 bulan yang lalu, Nyonya." jawabnya. "Pernikahan mereka tertutup, hanya dihadiri keluarga." bi Ita terlihat sedih.
"Apa semuanya baik-baik saja, Bi?" tanyanya. Bi Ita mengangguk lemah.
"Kalau begitu, saya ke belakang dulu, Non." Ayuna mengangguk.
Tak lama bi Ita ke belakang, terdengar suara bel dari luar. Ayuna menoleh ke belakang tapi bi Ita belum terlihat. Ayuna berdiri dan berjalan menuju pintu utama. Ayuna membuka pintu, tampak seorang pria menggunakan jas berwarna abu-abu berdiri membelakanginya.
"Mau cari siapa?" mendengar ada suara di belakangnya pria itu berbalik.
"Ayuna ....!?"
"Kau ....!?" mereka berdua sama-sama terkejut.
~tbc