
"Tenanglah!!" suara Hans membuat ruangan hening seketika. "Alvaro sudah berada disini, apa yang ingin kalian ketahui?" tanya Hans.
"Apa berita itu benar? Apa selama ini kamu mempunyai penyakit seperti itu?" tanya salah satu dari pemegang saham. Al menatap pada Yuna yang saat ini duduk disebelahnya. Atas permintaan Al, Jhosua menyediakan satu kursi khusus untuk Yuna. Ayuna terlihat begitu khawatir, tapi Al tersenyum dan mengangguk padanya.
"Penyakit apa?" tanya Al.
"Apa benar kamu bisa kehilangan nyawa jika bersentuhan dengan orang lain?" tanyanya lagi.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Al tertawa.
"Kami meminta penjelasanmu! Jika kamu tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. bagaimana kamu bisa duduk di kursi itu?" Mahen tersenyum tipis, begitupun dengan Candra. Mereka adalah dalang dibalik semua ini.
"Kalian tidak bisa menuduhnya tanpa bukti." Hans membela cucunya.
"Tuan, berita ini sudah menyebar ke seluruh negeri. Jadi kami harus memastikannya. Kami tidak mungkin menyerahkan perusahaan ini ditangan orang yang tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana dia akan menjalankan perusahaan ini?" bantah lelaki tua itu. Dia adalah salah satu kaki tangan Candra.
"Apa selama ini Alvaro tidak berhasil memajukan perusahaan ini?" Hans bertanya balik.
"Bukan seperti itu, Tuan. Kami hanya tidak ingin gara-gara masalah ini saham perusahaan kita menjadi anjlok." sela yang lain. Mulai terdengar keriuhan di ruangan itu.
"Tenang! Mohon semua tenang!" Candra menengahi mereka. "Begini saja, untuk membuktikan tuduhan kalian, bagaimana jika salah satu dari kalian menyentuh Al? Candra memberikan ide pada mereka. "Bagaimana Al?" tanyanya.
"Untuk apa dia membuktikan semua itu?" Hans yang sangat tahu dengan kondisi Al, menolak tegas idenya.
"Bagaimana jika tuduhan kalian tidak terbukti?" tanya Al. "Apa kalian bersedia memberikan setengah dari saham yang kalian pegang padaku?" semua terdiam. "Kalian boleh membuktikannya, tapi jika tidak terjadi apapun, maka siapa saja yang meragukanku harus memberikan setengah dari saham mereka." Mereka terkejut dengan persyaratan dari Al.
"Bagaimana ini?" mereka kembali membuat keributan. Alvaro tersenyum puas.
"Lakukan! Aku akan mengantinya dengan saham diperusahaanku." Candra mengirim pesan pada salah satu kaki tangannya. Candra sangat yakin rencananya kali ini akan berhasil, karena dia adalah bagian dari Ivander, jadi dia tahu rahasia yang mereka sembunyikan selama ini.
"Bagaimana?" Al menatap pada semua orang yang ada diruangan itu. Pandangannya terhenti pada Mahen yang duduk tak jauh darinya. Al kemudian menoleh pada Yuna yang sejak tadi terlihat begitu pucat. "Kamu tidak apa-apa?" Alvaro mengenggam tangannya erat.
"Aku mengkhawatirkanmu!" jujurnya.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apapun padaku." Al sangat yakin.
"Tapi, bagaimana jika ..."
"Aku yang akan membuktikannya." ucapan Yuna terhenti saat ada yang mengajukan diri untuk membuktikan kecurigaan mereka.
"Baiklah! Anda boleh mencobanya." Al menjulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih mengenggam erat Yuna. Lelaki tua itu kemudian mendekat dan memegang tangan Al. Semua orang tidak ada yang bersuara, semuanya fokus pada mereka. Hans sangat khawatir, dia takut hal ini akan membahayakan cucunya.
"Inilah akhirmu!" batin Candra.
5 menit sudah berlalu, tapi belum terjadi apapun pada Al. "Bagaimana?" tanya Al.
"Apa aku boleh mengulangnya?" tanya lelaki itu lagi.
"Silahkan! Lakukan selama yang anda mau." ucap Al. Lelaki itu kembali memegang tangan Al, tapi tetap saja tidak terjadi apapun padanya.
"Aku rasa itu sudah cukup menjawab kecurigaan kalian pada cucuku." ucap Hans. Mereka terdiam, lelaki itu kembali ke kursinya, matanya terhenti pada Candra.
"Lihat, aku baik-baik saja!" Al tersenyum padanya. Ayuna bernapas lega.
"Lalu, apa kalian masih meragukanku?" tanya Al, mereka menunduk.
"Jika masih ada yang ingin kalian katakan, maka aku akan menunggu. Jika tidak, maka aku anggap semua ini telah selesai." ucapnya.
"Maafkan kami, tuan!" ucap mereka.
"Baiklah, aku rasa semuanya cukup sampai disini." Hans mengakhiri pertemuan mereka.
Dan satu persatu mereka berjalan keluar dari ruangan itu, begitupun dengan Candra. Mahen menghentikan langkahnya saat berada di dekat Al dan Yuna. Dia menatap mereka berdua dengan sorot mata yang tajam. Al tersenyum sinis padanya, sementara Yuna tidak mengatakan apapun. Setelah itu dia berjalan mengikuti sang ayah keluar dari sana.
"Syukurlah, tidak terjadi apapun padamu." Hans memeluk Al. "Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku?" ucapnya.
"Apa yang kakek khawatirkan? Aku baik-baik saja." jawabnya.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Hans bingung saat melihat tidak terjadi apapun padanya.
"Aku sudah menemukan obatku." jawabnya.
"Obat? Tapi setahuku tidak ada obat untuk itu." jawab Hans.
"Ini." Al mengangkat tangan Yuna.
"Maksudmu?" Hans semakin bingung.
"Terima kasih telah hadir dalam hidup cucuku." ucapnya.
"Kakek tidak perlu sungkan, aku tidak melakukan apapun." mereka saling melempar senyum.
🍀🍀🍀
"Apa yang terjadi?" tanya Candra saat mereka berada di ruangan Mahen. "Apa kamu yakin dia belum sembuh?"
"Aku sangat yakin. Selama aku bekerja disini dia tidak pernah bersentuhan dengan siapapun kecuali ..." Mahen tidak melanjutkan ucapannya.
"Kecuali siapa?" tanya Candra.
"Ayuna." jawabnya.
"Ayuna? Tunangannya?"
"Iya, wanita yang bersama dengannya adalah Ayuna." Mahen memberitahu Candra.
"Jadi, wanita itu adalah tunangannya?" Candra terlalu sibuk sehingga dia belum sempat melihat foto yang diberikan Leo padanya.
"Iya, dia Ayuna, wanita yang aku cintai." Mahen terlihat sedih.
"Kamu tenang saja. Papa yakin akan ada cara untuk mendapatkannya." Candra mencoba menenangkannya.
"Apa, Pa? Tiga minggu lagi mereka akan menikah. Aku bisa gila jika itu terjadi." Candra terkejut, dia belum tahu tentang ini.
"Menikah?"
"Semalam mereka datang ke rumah untuk meminta izin kakek." jawabnya.
"Dasar tua bangka! Kenapa dia masih tidak menganggapku ada." batinnya.
"Kamu tenang saja, papa pasti akan membantumu untuk mendapatkannya."
"Tuan, awak media masih berada di bawah." ucap Jo.
"Kamu selesaikan semuanya. Jangan biarkan ada yang berani meragukanmu lagi." setelah berkata seperti itu, Hans pergi bersama sekretaris Ken.
"Kamu masih mau menemaniku'kan?" tanya Al pada Yuna.
"Tentu saja!" Ayuna mengenggam tangan Al. Mereka berjalan bergandengan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 1 tempat para awak media berkumpul.
"TING." lift terbuka di lantai 15, Candra dan Leo ikut bergabung bersama mereka.
"Al, maaf untuk yang terjadi tadi." ucap Candra.
"Tidak apa-apa." jawab Al.
"Tapi, bagaimana kamu bisa sembuh?" tanyanya.
"Yang aku alami bukanlah penyakit, itu hanya cara berpikirku saja yang mengakibatkan semua gejala itu muncul. Jika aku mengubah pola pikirku, maka aku bisa sembuh dengan sendirinya." ucap Al.
"Benarkah?" Candra menoleh pada Yuna yang berdiri di sebelah Al. Al yang menyadari tatapannya, segera menarik Yuna ke belakangnya.
"Silahkan, Tuan!" ucap Leo saat pintu lift terbuka. Candra keluar, begitupun dengan Al, Yuna, dan Jhosua. Candra berjalan di belakang Al. Matanya terus saja mengawasi Yuna yang berada disisi Al.
Tibalah mereka di pintu masuk, Ayuna bisa melihat banyaknya awak media yang berada disana.
"Itu, Tuan Alvaro!" sebagian dari mereka yang sedang duduk segera berlari menuju ke arah Al berdiri. "Tuan, benarkah berita itu? Apa benar anda mempunyai penyakit langka? Apa benar anda akan terluka jika ada yang menyentuh anda?" Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh CEO Ivander Group.
"Itu semua tidak benar." tegas Al.
"Tapi, kami mendapat bukti bagaimana marahnya anda saat ada yang tidak sengaja menyentuh anda." jawab salah satu dari mereka.
"Saya tidak suka jika ada yang memanfaatkan keadaan dengan sengaja menyentuh saya. Jika kalian ingin bukti, maka salah satu dari kalian bisa menyentuh tangan saya." Al kembali menjulurkan tangannya, sementara Yuna tetap berdiri di sebelah Al. Salah satu dari mereka memberanikan diri menyentuh tangan Al. Dan, benar saja, tidak terjadi apapun pada Al.
"Kalian lihatkan? Saya baik-baik saja." akhirnya para awak media mempercayai apa yang mereka lihat.
"Itu hanya trik murahan yang dilakukan seseorang untuk menjatuhkan saya." Al mengucapkan itu sambil menatap ke arah Candra yang sedang berdiri di samping mobilnya.
"Silahkan, Tuan!" Leo membukakan pintu mobil untuknya. Ayuna kembali melihat tato yang ada dilengan Leo. Setelah Candra masuk, Leo menutup kembali pintu mobil dan berjalan ke pintu disisi yang lain.
"Aku yakin pernah melihat tato itu. Tapi, dimana?" Yuna mencoba mengingat kembali dimana dia pernah melihat tato naga yang ada dipergelangan Leo.
~tbc