
"Kapan kamu ke rumah?" tanya Gina pada Jo, saat mereka tak sengaja bertemu di dalam lift.
"Aku masih sibuk. Nanti aku cari waktu yang tepat." jawabnya. Gina terlihat kesal, karena Jo seperti mengabaikan hubungan mereka.
"TING." lift berhenti di lantai 15, tanpa banyak berkata Gina segera keluar dari sana. Jo hanya mampu terdiam menatap kepergiannya. Setelah itu pintu lift kembali tertutup, Jhosua melanjutkan perjalanannya.
"Selalu saja seperti itu." gerutu Gina.
"Siapa?" dia menoleh ke belakang Karin tampak berdiri di belakangnya.
"Bukan siapa-siapa." jawabnya.
"Apa tuan Jo?" Gina menghentikan langkahnya dan menoleh pada Karin.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Yah, tadi aku nggak sengaja lihat ada tuan Jo di dalam lift." Gina terdiam.
"Kebetulan aja gue dan dia satu lift. Kan kantornya di lantai atas." Gina kembali berkilah. Sebelum Karin bertanya lebih lanjut, Gina buru-buru kembali ke mejanya.
"Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya dariku?" Karin menyusulnya.
"Tuan, ada sedikit masalah dengan bahan yang di kirim ke resort kemarin." lapor Jo pada Al. Alvaro menoleh padanya, kemudian memeriksa laporan yang dia berikan.
"Kenapa bisa begini?" Al terlihat kesal. Jhosua menjelaskan permasalahan yang terjadi disana.
"Kamu selidiki dulu. Aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Jika ada yang berani berbuat curang dibelakangku, maka mereka akan tahu akibatnya." Alvaro menduga ada salah satu staffnya yang mencari keuntungan dalam pembangunan resort milik Earth Corp tersebut.
"Apa tuan Smith sudah tahu?" Jhosua menggeleng.
"Kita harus segera menyelesaikan semua masalah ini. Jangan sampai dia mengetahuinya. Mereka hanya memberi kita waktu 2 bulan." Jo mengiyakan perintahnya.
"Ada masalah apa, Tuan?" tanya Refa begitu melihat Jo keluar.
"Kamu hubungi tuan Kevin. Minta dia segera menemui tuan Al." perintah Jo.
"Baik, Tuan." Refa segera menghubungi kantor Ivander Contraktor. Sementara Jo berjalan ke ruangannya.
"Lembur lagi, nih!" gerutu Refa saat melihat arlojinya yang sudah di angka 5.
🍀🍀🍀
"Sayang, Al belum pulang?" tanya Soraya.
"Belum, Tan." jawab Yuna sambil duduk di ruang makan.
"Apa dia lembur?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu. Tadi aku coba hubungi ponselnya tapi nggak dijawab." jelasnya.
"Ya sudah, kita makan duluan aja." Yuna mengangguk.
"Oh, iya, besok tante harus berangkat ke Sydney." ucap Soraya di sela makan malam mereka.
"Sydney? Ada apa, Tan?" tanya Yuna.
"Tante ada sedikit urusan disana. Lagipula, tante harus memeriksa beberapa usaha milik Mahen." ucapnya.
"Berapa lama, Tan?"
"Sekitar 1 minggu. Tapi, jika ada kendala mungikin tante bisa lebih lama disana. Kamu nggak apa-apakan tante tinggal?" Soraya menatap ke arahnya.
"Nggak apa-apa, Tan." jawabnya.
"Syukurlah!" mereka kembali melanjutkan makan.
Setelah makan malam, Soraya terlebih dahulu masuk ke kamar. Karena dia harus menyiapkan semua keperluan untuk besok. Ayuna masih duduk di ruang keluarga, menunggu kepulangan Al.
"Al kemana ya? Dari tadi aku hubungi nggak dijawab. Jo juga nggak bisa dihubungi." dia terlihat khawatir.
"Hallo?" terdengar suara Refa di ponsel Yuna.
"Hallo, Fa, kamu udah pulang?" tanyanya.
"Belum, Na. Tuan Al masih ada meeting, jadi kita pada lembur." lapornya.
"Meeting? Sama siapa?" tanya Yuna.
"Ciiee!! Ada yang curigaan!" ledek Refa.
"Diam kamu! Katakan dengan siapa?" paksanya.
"Tuan Kevin dan timnya. Sepertinya, ada sedikit masalah dengan pembangunan resort milik Earth Corp." Refa kembali menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Ada masalah apa?" tanya Yuna.
"Entahlah! Aku juga belum tahu." Refa memang belum tahu pasti apa yang terjadi.
"Ya udah, makasih ya!" Yuna memutus sambungan telepon itu. Ayuna memutuskan untuk menunggu Al di kamarnya.
🍀🍀🍀
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Al sambil terus membelai lembut pipi Yuna.
"Kapan kamu pulang?" Yuna melihat sudah pukul 22.15 wib. Ternyata dia ketiduran saat asyik berselancar di media sosial.
"Setengah jam yang lalu." jawabnya.
"Kamu udah makan?" Ayuna bangun dan bersandar di tempat tidur.
"Sudah." jawab Al. Alvaro duduk di sebelahnya dan menarik Yuna ke dlaam pelukannya.
"Apa ada masalah?" tanya Yuna saat mendengar Al menarik napas dengan berat.
"Ada masalah dengan pembangunan Resort milik tuan Smith." ucapnya.
"Kenapa?"
"Sepertinya, ada yang sengaja bermain denganku. Beberapa barang yang aku kirim ke Lombok tidak sesuai." jelasnya.
"Tunggu! Siapa tuan Smith?" Ayuna baru mendengar nama itu.
"Oh iya, kamu belum tahu! Jadi, Earth Corp itu milik tuan Smith." ucapnya.
"Lalu, siapa Angela? Apa dia putrinya?" Yuna terlihat penasaran. Dia melepaskan pelukannya Al.
"Angela itu hanya orang kepercayaannya. Setahuku, tuan Smith belum menikah." Ayuna manggut-manggut.
"Terus, apa kamu sudah tahu siapa yang berbuat curang?" Ayuna kembali ke pelukannya.
"Belum. Aku masih menyelidikinya." jawab Al. "Sudah, lupakan itu! Aku sangat merindukanmu." Al mencium puncak kepala Yuna.
"Aku juga merindukanmu. Aku bingung tidak tahu harus apa." Ayuna terlihat cemberut.
"Kalau begitu, ayo kita melepas semua rasa rindu itu." Al beranjak dan membuat tubuhnya berada diatas Yuna. Ayuna tersenyum dan mengangguk. Alvaro terlihat bahagia, karena ternyata Yuna juga menginginkan dirinya.
🍀🍀🍀
"Dimana, tante?" Al tidak melihat keberadaan Soraya di ruang makan.
"Saat kamu mandi tadi, tante udah jalan ke Bandara." jawabnya sambil meletakkan sepotong roti yang sudah diolesi selai coklat di piring Al.
"Bandara?" Al terlihat bingung.
"Iya, semalam tante bilang mau ke Sidney untuk memantau bisnis Mahen." Al tidak mengatakan apapun lagi.
"Apa kamu mau ikut ke kantor?" tanya Al. Dia yakin Yuna pasti akan merasa kesepian.
"Aku mau belanja. Stok di kulkas udah pada abis." tolaknya.
"Kamu'kan bisa suruh pelayan. Itu sudah tugas mereka." Al meminum jus yang ada di gelasnya.
"Nggak apa-apa. Nanti, sepulang dari Mall aku mampir ke kantor." jawabnya.
"Kalau gitu aku berangkat ya! Ingat perginya diantar sopir. Dan, minta pelayan untuk menemanimu. Biar kamu nggak kecapekan." pesannya sebelum pergi.
"Iya." Ayuna mengantar Al hingga ke mobil. Al mengecup dahi Yuna, kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Kamu di rumah saja. Anterin istri saya belanja." ucap Al pada sopir pribadinya.
"Baik, Tuan." jawabnya. Al melambai pada Yuna dan segera masuk ke mobil.
"Sebentar ya, Pak! Saya ambil tas dulu." Sopir itu mengangguk, Ayuna kembali ke dalam.
"Ayo, Pak!" ajaknya setelah mendapatkan apa yang harus dia bawa.
Begitu sampai di Mall, Yuna segera mendorong troli sendiri. Sebelumnya, Al menyuruhnya untuk membawa asisten, tapi Yuna tidak mengindahkannya. Ayuna lebih suka berbelanja sendiri, dari pada harus merepotkan orang lain.
"Apa lagi ya?" Yuna sudah selesai memilih keperluan dapur. Troli yang dia dorong sudah hampir penuh. Ayuna mendorong kembali trolinya menuju ke tempat bahan makanan. Tangannya mencoba meraih botol saos yang terletak dibagian paling atas dari rak. Ayuna kesulitan karena rak itu cukup tinggi. Dengan susah payah, Yuna berhasil menarik satu botol. Tapi, tiba-tiba botol itu terlepas dari tangannya.
"Aaghh!!" Ayuna menutup matanya saat melihat botol saos itu jatuh mengarah padanya. Tiba-tiba tubuhnya seperti ada yang mendorong hingga dia sedikit terhuyung ke belakang.
"Aaww!!" terdengar teriakan seseorang. Yuna membuka matanya dan melihat seorang pria berdiri di depannya. Dia adalah pria menyebalka yang Yuna temui kemarin.
"Kamu nggak apa-apa?" Yuna mendekati pria itu. Tampak botol saos yang tadi dia pegang berserakan di lantai.
"Aku nggak apa-apa." jawabnya sambil menurunkan tangan dari kepalanya.
"Astaga, kamu berdarah!" Yuna sedikit berteriak saat melihat ada darah yang melekat di telapak tangan pria itu.
"Mana?" pria itu melihat ke tangannya dan seketika wajahnya langsung pucat. Melihat pria itu terhuyung ke belakang, Ayuna segera menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Hah? Hey!! Bangun!!" dia tidak sadarkan diri, Yuna dan berusaha untuk membangunkannya.
~tbc