CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 136



"Ini buat kamu." Yuna memberikan makan sianh untuk Refa.


"Buat aku?" tanyanya tak percaya.


"Iya." jawabnya. "Ini, tolong kamu kasih Jo dan para OB ya, aku ke dalam dulu." Yuna juga memesankan untuk Jhosua dan yang lain.


"Ok. Makasih ya!" Ayuna membawa makan siang untuknya dan Al.


"Kamu dari mana saja?" tanya Al saat melihat Yuna baru saja masuk.


"Aku ke bawah buat ambil ini." dia mengangkat paperbag yang berisi makanan. "Ayo, kita makan!" ajaknya, Al meninggalkan mejanya dan bergabung bersama Yuna.


"Al, tadi aku bertemu dengan Mahen." Yuna memberitahunya.


"Dimana?"


"Di lift, saat aku akan naik." jelasnya.


"Lalu?" mereka ngobrol sambil meyantap makan siang.


"Dia membahas tentang kecelakaan kedua orangtuaku." Alvaro meletakkan sendok yang dia pegang.


"Apa yang dia katakan?" tanya Al.


"Dia mempertanyakan kenapa aku masih bersamamu, sementara aku tahu kalau kamu adalah penyebab meninggalnya kedua orangtuaku." Al kembali terpancing emosi.


"Dia ..."


"Al, tidak perlu diperpanjang. Sama sepertiku, dia hanya salah paham padamu. Jika pelakunya berhasil ditangkap, aku yakin semua kesalahpahaman ini akan hilang dengan sendirinya." Ayuna menenangkannya. "Tapi, kira-kira siapa yang ingin mencelakaimu?" Ayuna masih bertanya-tanya.


"Aku tidak punya bukti, jadi aku menariknya kehadapan hukum." jawab Al.


"Apa yang kamu maksud papanya Mahen?" Alvaro mengangguk. "Kamu tidak bisa gegabah Al, ini bisa merusak hubunganmu dengan yang lain." timpalnya.


"Ya, kamu benar! Jika saja aku punya bukti." Al terlihat berpikir.


"Kalau aku boleh tau, apa yang membuatmu berpikiran kalau papanya adalah dalang di balik penculikkan itu?" Ayuna begitu penasaran, kenapa Al berpikiran seperti itu.


"Dia tidak pernah menyukaiku. Baginya, aku hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa." ucap Al. "Setelah papaku meninggal, aku mendengar dia berdebat dengan kakek. Dia berkata, kalau aku terlalu kecil untul menjadi penerus Ivander. Tapi, kakek tetap pada pendiriannya. Aku tahu sudah berapa kali dia mencoba untuk menghentikan kakek, tapi kamu tahu sendiri kakek itu sangat keras. Beliau tetap menjadikanku penerus dari Ivander Group." Al menceritakan apa yang dia alami sewaktu kecil, Ayuna fokus mendengarkannya.


"Tapi, dengan itu saja kamu tidak bisa menuduhnya." ucap Yuna.


"Aku tahu." Ayuna memegang tangannya, Al menoleh pada Yuna.


"Aku yakin, suatu saat nanti kejahatan mereka pasti akan terkuak." Al mengangguk.


🍀🍀🍀


"Kamu dimana?" Mahen menerima telepon dari Soraya.


"Aku di kantor." jawabnya.


"Papamu sudah pulang! Kalau kamu tidak sibuk, pulanglah sebentar." ucapnya.


"Papa pulang? Kapan?"


"Baru saja, saat ini beliau sedang beristirahat." jawabnya.


"Tumben? Kenapa papa pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu?" tanyanya.


"Mama sudah mencoba menghubungimu, tapi kamu gak angkat." ucapnya.


"Baiklah, nanti aku pulang!" Soraya begitu lega mendengar jawaban Mahen. "Kalau begitu aku lanjut kerja dulu." Mahen mengakhiri sambungan telepon dengan sang ibu.


"Gina, ke ruangan saya sekarang!" Mahen kemudian meminta Gina untuk menemuinya.


"Mau kemana?" tanya Karin saat melihat Gina beranjak dari kursinya.


"Ada panggilan dari Direktur." jawabnya.


"Hati-hati, Lo!" bisik Gandhi.


"Ok."


"Ada apa, Tuan?" tanyanya begitu sampai di ruangan Mahen.


"Tolong, kamu antar ini ke Al." Mahen memberikan beberapa dokumen padanya.


"Baik, Tuan." Gina membawa serta dokumen itu bersama dengannya.


"Kamu mau kemana?" saat menunggu lift, Gina dikagetkan oleh suara Jo.


"Kamu." jawabnya setelah menoleh. "Mau ke ruangan tuan Al."


"Ada apa?" Jhosua berdiri di sampingnya.


"Tuan Mahen memintaku untuk mengantarkan ini." Dia menunjukkan dokumem yang ada di tangannya.


"TING." Gina masuk, begitupun dengan Jo.


"Kamu kenapa disini?" tanyanya.


"Memang kenapa? Aku juga mau ke lantai yang sama denganmu." jawabnya.


"Biasanya kamu naik lift di sebelah." tunjuknya.


"Kamu disini, kenapa aku harus disana?" Gina tersipu, hanya ada mereka berdua disana.


"Jangan mulai deh!" jawab Gina.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh dekat-dekat denganmu?" Jhosua berjalan mendekatinya, Gina beringsut ke belakang.


"Jo ..." ucapnya pelan.


"Apa?" tanya Jo yang sedang mempermainkan ujung rambutnya.


"TING." Gina buru-buru mendorong tubuhp Jhosua.


"Selamat siang, Tuan." sapa karyawan yang bergabung bersama mereka. Jhosua tidak mengatakan apapun. Gina sibuk mengatur detak jantungnya. Sebelum sampai di lantai 20, karyawan yang bersama mereka keluar terlebih dahulu. Jhosua dan Gina saling tatap, kemudian mereka tertawa bersama.


"Ayo!" ajak Jo begitu pintu lift terbuka.


"Aku ke ruangan tuan Al dulu." ucap Gina.


"Ciiee, yang lagi kasmaran." goda Yuna saat Gina berada di depannya.


"Apaan sih, lo!" Gina tersenyum malu.


"Udah, jadikan?" tebaknya.


"Tuan Al ada didalam?" Gina mengalihkan pembicaraan.


"Udahkan?" bukannya menjawab pertanyaan Gina, Ayuna malah terus saja mengodanya.


"Apa tuan Al ada didalam?" Gina bertanya pada Refa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar obrolan mereka.


"Ada." jawabnya.


"Kalau gitu gue masuk ya!" Gina berusaha menghindar dari Ayuna.


"Eits, kamu mau apa ke dalam?" cegah Yuna.


"Gue diminta buat nyerahin ini." Gina mengangkat dokumen yang sejak tadi dia pegang.


"Siapa yang suruh?" tanyanya.


"Siapa lagi kalau bukan fans beratmu." Gina meninggalkan mereka.


"Memangnya siapa yang ngefans sama kamu selain tuan Al?" Refa yang sejak tadi kepo mulai ikut bersuara.


"Bukan siapa-siapa. Itu kamu lanjutin lagi." Yuna menunjuk komputer yang ada di depan rekannya itu.


"Tapi, siapa dia?" Refa masih penasaran.


"Gina, anak Divisi Keuangan." jawabnya.


"Dilihat dari cara dia berbicara padamu, sepertinya kalian sangat dekat ya?"


"Dia itu sahabatku." Refa mangut-mangut.


"Sudah?" tanya Yuma saat melihat Gina sudah keluar dari ruangan Al.


"Sudah." jawabnya.


"Amankan?" tanyanya.


"Tentu saja."


"Hmm ..." tiba-tiba Yuna mulai lagi saat Jhosua berada diantara mereka. Gina mulai salah tingkah.


"Ada apa, Jo?" Yuna bertanya sambil senyum-senyum.


"Saya ingin memberikan ini pada tuan Al." ucapnya.


"Ya sudah sana! Tuan Al pasti sedang menunggumu."


"Baik, Nona." Jo menuju ruangan Al. Gina hanya bisa mengikutinya melalui sudut matanya.


"Udah gak usah dilihatin. Nanti kamu makin gak bisa lepas dari pesona Jo." ledeknya lagi.


"Apaan sih, Lo!" Gina malu. "Gue ke bawah dulu!" Gina berlari kecil meninggalkan mereka.


"Kenapa dengannya?" tanya Refa.


"Biasalah, lagi malu jika berada di dekat orang yang disukai." jawab Yuna.


"Memangnya siapa yang dia sukai?"


"Itu." Yuna menunjuk Jhosua yang baru saja keluar dari ruangan Al. Jhosua segera kembali ke ruangannya.


"Jadi maksud kamu dia menyukai asisten Jo?" Refa ingin memastikan apa yang dia dengar.


"Iya."


"Kalau begitu aku yakin pasti sulit." jawabnya.


"Kenapa?" tanya Yuna.


"Asisten Jo itu memang cakep, tapi terlalu dingin. Aku rasa teman kamu akan sulit untuk menaklukkannya." ujarnya.


"Tidak ada yang mustahil. Sedingin apapun sikapnya, jika sudah tersentuh dengan yang namanya cinta pasti akan terasa hangat." Refa kembali melonggo.


"Kalau seperti itu, aku rasa semua yang cakep disini sudah ada pemiliknya." jawabnya.


"Tuan Al sudah menjadi milikmu, Asisten Jo kemungkinan besar milik sahabatmu." Refa manyun. "Hanya tersisa tuan Mahen." ucapnya pelan.


"Memangnya kenapa dengan mereka?" Yuna bingung.


"Kesempatan untuk mendapatkan mereka berdua sudah tertutup rapat." Refa tertawa kecil.


"Kamu naksir mereka?" tanyanya. Refa mengangguk.


"Kalau begitu berusahalah untuk mendapatkan hati Mahen." karena asyik ngobrol mereka sampai tidak menyadari kehadiran Al. "Curi hatinya, buat dia menjadi milikmu. Kalau bisa singkirkan satu nama wanita dari hidupnya." lanjutnya.


"Al ...!" Yuna menghentikannya, Refa terlihat bingung.


"Refa, jangan dengarkan tuan Al. Dia hanya bercanda." Yuna menarik Al masuk ke ruangannya. "Apa sih Al?" tanya.


"Kenapa? Aku hanya memotivasinya untuk mendapatkan sepupuku." jawabnya.


"Lalu, apa kamu ingin mempublikasikan ke dunia kalau kalian mencintai wanita yang sama?" tanyanya.


"Aku hanya ingin membuatnya melupakanmu. Jika ada wanita lain yang mengalihkannya, mungkin dia tidak akan pernah mengharapakanmu lagi." jawab Al.


"Al, kamu tidak perlu ikut campur dengan masalah pribadinya." sela Yuna.


"Selama dirimu masih ada dihatinya, maka sudah tugasku untuk membuatnya melepaskanmu." jawab Al.


"Tapi, Al ..."


"Tidak ada tapi-tapi. Kali ini, biarkan aku yang mengurusnya dengan caraku." tegas Al.


~tbc