
"Kenapa Yuna gak angkat teleponnya?" ujar Mahen. Sudah 30 menit dia menunggu Yuna di restoran tempat mereka janjian. Tapi, sampai detik ini dia belum juga datang.
"Bagaimana? Apa dia tidak jadi datang?" tanya Candra.
"Aku tidak tahu, Pa! Dia gak angkat telponnya." ujarnya.
"Mungkin Al tidak mengizinkannya." jawab Candra. "Sudahlah, lain kali kita atur lagi pertemuannya. Papa ada meeting sore ini." ucap Candra setelah melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Baiklah!" setelah kepergian Candra, Mahen masih menunggu di kursinya, matanya sesekali melihat ke arah pintu, berharap Yuna datang menemuinya.
"Kamu kemana, Na?" ujarnya pelan.
"Bagaimana?" tanya Candra begitu dia sampai di mobil.
"Dia sudah berada ditempat yang aman, Tuan." lapornya.
"Bagus! Jangan tinggalkan jejak apapun." perintahnya.
"Baik, Tuan." Leo segera mengendarai mobilnya meninggalkan restoran itu.
"Ayuna kemana ya? Katanya cuma 30 menit, ini udah hampir satu jam loh!" ujar Gina yang sejak tadi mondar-mandir.
"Iya, kamu benar! Jam istirahat sudah berakhir, aku takut ntar tuan Mahen bakal ngamuk." timpal Karin.
"Mana mungkin dia marah, kan dia juga lagi bareng Yuna." jawab Gina.
"Oh, iya!" Karin tertawa kecil. "Coba kamu telepon lagi, tanyain masih lama gak? Kalau masih kita balik duluan aja." saran Karin. Gina kembali memanggil nomor Yuna, tapi tetap saja nomornya tidak bisa dihubungi.
"Gak aktif!" jawab Gina. "Udah, kirim chat aja, bilang kita balik ke kantor duluan. Nanti juga pasti dia baca." Gina setuju, dia mengirim pesan pada Yuna. Setelah itu, mereka segera memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan butik Gilang.
"Apa yang terjadi?" tanya Hans saat melihat Ken yang terburu-buru memaauki ruang kerjanya.
"Mereka berhasil membawa nona Ayuna, Tuan." lapornya, Hans terkejut.
"Apa yang dilakukan anak buahmu?" Hans sangat marah.
"Mereka berhasil dilumpuhkan, Tuan." Ken menunduk. Dia merasa gagal dalam tugasnya untuk menjaga Yuna.
"Brengsek!" maki Hans. "Dimana Al?" tanyanya.
"Tuan Muda masih meeting dengan tuan Brian, tuan." lapornya.
"Hubungi, Jhosua!" perintahnya. Jhosua merasakan ponselnya bergetar, tapi saat ini Tuan Brian sedang berpamitan pada Al dan dirinya. Setelah semua selesai, Brian segera meninggalkan hotel itu. Alvaro segera memeriksa ponselnya dan melihat 10 panggilan tak terjawab dari Yuna. Dan beberapa dari Hans.
"Kenapa Ayuna memghubungiku sebnayak ini?" dia segera menekan nomor Yuna, tapi ponselnya tidak aktif.
"Halo!" Al menoleh pada Jhosua saat mendengarnya berbicara di telepon.
"Kamu kemana saja? Kenapa baru menjawab teleponmu?" Jo kaget karena Hans terdengar marah.
"Saya baru selesai meeting dengan tuan Al, Tuan." jawab Jo.
"Dimana, Al? Kenapa sejak tadi nomornya sibuk?" tanyanya, Jhosua menoleh pada Al.
"Beliau disini, Tuan!" Jo memberikan ponselnya pada Al, Alvaro melihat Hans yang menghubunginya.
"Ada apa kakek menghubungiku?" tanya Al.
"Ayuna diculik! Kemana saja kau?" ucapnya, Alvaro terkejut.
"Apa maksud kakek?" teriak Al.
"Ayuna diculik! Orang-orangku sudah berusaha menghalanginya, tapi mereka kalah jumlah." Hans menjelaskan apa yang terjadi.
"Tapi, bagaimana bisa? Sopirku tadi mengantarnya ke butik Gilang." jawab Al.
"Sopirmu terluka parah, dan sedang mendapat perawatan di rumah sakit. Sekarang yang paling penting adalah Ayuna." Alvaro bergegas keluar dan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Jhosua yang belum tahu apa yang terjadi, menunggu perintah Al.
"Kita ke butik Gilang!" ucapnya, Jo segera melajukan mobilnya menuju butik Gilang.
"Apa Gina bisa dihubungi?" Al baru ingat kalau Ayuna pergi dengannya.
"Ayuna diculik, tapi aku tidak tahu apakah mereka juga membawanya atau tidak." Jhosua tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia segera menghubungi nomor Gina.
"Itu bukannya, Tuan Mahen?" tunjuk Karin saat melihat Mahen yang baru tiba. Wajahnya terlihat muram, Mahen segera menuju ke ruang kerjanya.
"Ada apa dengan wajahnya?" ucap Gina.
"Ayuna gimana? Udah pulang belum ya?" tanya Karin. Gina melihat ponselnya bergetar, dan nama Jo tertera disana.
"Halo!" jawab Gina.
"Kamu dimana?" tanya Jo.
"Kantor?" Jo menatap Al melalui spion. "Lalu, nona Ayuna?" tanyanya.
"Ayuna?" Gina bingung, kenapa Jhosua malah menanyakan Ayuna padanya."Aku tidak tahu, mungkin dia udah pulang. Soalnya, tadi dia ninggalin aku dan Karin di butik." jelasnya.
"Nona Ayuna ninggalin kalian?" mendengar itu, Al segera meraih pinsel Jhosua.
"Apa yang terjadi? Ayuna kemana?" wajah Gina segera pucat saat mendengar suara Al. "Katakan padaku, Ayuna kemana?" teriak Al saat tidak mendapatkan jawaban dari Gina.
"Tadi, Ayuna pamit sebentar untuk bertemu tuan Mahen di Bally Resto, Tuan. Katanya hanya 30 menit, tapi ..."
"Dimana Mahen?" potong Al.
"Tuan Mahen baru saja kembali, Tuan!" Gina menatap ponselnya yang sudah tidak ada lagi panggilan masuk dari Jo.
"Kembali ke kantor!" wajah Al memerah, dan rahangnya mengeras, matanya terlihat membara.
"Kenapa?" tanya Karin.
"Aku gak tahu, tiba-tiba saja tuan Al memotong pembicaraanku dengan Jo. Dia cariin Ayuna." jelasnya.
"Loh, memangnya Ayuna belum pulang?" Gina menggeleng tidak tahu.
"Coba hubungi lagi! Kok perasaanku jadi gak enak." ucap Karin. Gina kembali menghubungi nomor Yuna, tapi masih gak bisa.
"Gak aktif." ucapnya.
"Ada apa?" tanya Gandhi yang melihat kepanikan di wajah kedua rekannya.
"Yuna gak bisa dihubungi." jawab Karin, kemudian dia menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Ya udah, sana tanya ke tuan Mahen aja." sarannya.
"Aku mana berani!" jawab Karin, Gandhi menatap Gina.
"Apalagi gue!" ujarnya.
🍀🍀🍀
"Kenapa dia tidak datang? Apakah Al melarangnya? Apa memang sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?" Mahen masih kepikiran tentang Ayuna. Dia mencoba menghubungi nomor Yuna, tapi masih tidak aktif. "Kenapa nomornya masih gak aktif? Apa Al sengaja mematikannya." Mahen masih sibuk dengan pikirannya.
"Eh, itu tuan Al!" semua orang yang berada di Divisi Keuangan segera berdiri saat melihat kedatangan Al dan Jo.
"Kenapa wajah tuan Al menakutkan begitu?" bisik Karin pada Gina.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"batin Gina. Al tidak menoleh sedikitpun pada mereka, dia segera menuju ruangan Mahen. Sesampainya disana, dia membuka pintu ruangan Mahen dengan keras. Mahen yang berada disana terkejut melihat kedatangan Al dan Jhosua.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya saat melihat Al masuk tanpa izin.
"Dimana Ayuna?" tanya Al saat berdiri di depannya.
"Ayuna? Apa maksudmu?" Mahen bingung, kenapa Al menanyakan Yuna padanya.
"Jangan pura-pura! Cepat katakan dimana Ayuna?" Al yang marah menarik kerah baju Mahen.
"Aku tidak tahu! Kenapa kau menanyakan Ayuna padaku?"
"BRUK." Al melayangkan tinjunya ke wajah Mahen. Mahen terhuyung ke belakang, dia tidak tinggal diam. Mahen membalas tinju Al, mereka saling balas. Jhosua berusaha melerai mereka, kegaduhan itu terdengar keluar. Tapi karyawan lain tidak ada yang berani mendekat.
"Cepat katakan dimana, Ayuna?" Al memcoba memukul Mahen lagi.
"Aku benar-benar tidak tahu Ayuna dimana." Mahen memegang sudut bibirnya yang terluka.
"Aku tahu Ayuna menemuimu." jawab Al.
"Aku memang mengajak Yuna bertemu, tapi dia tidak datang. Aku menunggunya hingga satu jam disana." Mahen menjelaskan semuanya pada Al.
"Kau pasti bohong! Aku yakin kau pasti terlibat dengan papamu." Mahen terkejut saat Al membawa-bawa papanya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau membawa-bawa papaku?" tanyanya.
"Aku yakin papamu adalah dalang penculikkan Ayuna. Sama seperti yang dia lakukan 10 tahun yang lalu." ucapan Al membuat Mahen kembali terkejut.
"Penculikan? Ayuna diculik?" Al bisa melihat keterkejutan diwajah Mahen.
"Kau tidak bisa menuduh orang sembarangan. Papaku tidak mungkin melakukan itu. Lagipula dia baru mengenal Yuna, buat apa dia melaukan itu?" Mahen membela Candra, dia sama sekali tidak mempercayai ucapan Al.
"Karena Ayuna adalah saksi utama dari penculikan yang terjadi 10 tahun yang lalu." Mahen menatapnya tajam. "Dan, Ayuna sudah mengakui kalau dia melihat Leo berada bersama penculik itu." Mahen seperti tersambar petir, dia tidak ingin mempercayai ucapan Al. "Kalau Ayuna sampai kenapa-napa, aku tidak akan mengampunimu dan juga papamu." Al meninggalkan Mahen yang masih syok.
~tbc