CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 108



"Ini kamar, Oma." Al mengantarkan oma Tyas menuju kamar tamu. Apartemen yang luas membuat Al memiliki beberapa kamar.


"Terima kasih." Oma tersenyum.


"Oma istirahat saja, aku harus balik ke kantor, masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan." Al pamit padanya.


"Oma, gak apa-apakan kalau Yuna tinggal?" tanya Yuna.


"Kamu disini saja, temani oma. Biar aku sendiri yang ke kantor." sela Al.


"Tapi, nanti kamu ..."


"Sudah Al, gak apa-apa. Biar dia kembali bekerja. Oma juga mau istirahat." ucapnya.


"Kamu tenang saja, ada Jo yang akan menghandle semua tugasmu hari ini." Yuna mengangguk. "Aku pergi ya!" setelah berpamitan Al segera keluar. Masih ada beberapa berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.


"Beruntung kamu mendapatkannya." ucap Oma saat Yuna membantunya memasukkan barang-barang oma ke lemari. "Oma sangat menyukainya, oma bisa melihat kalau dia begitu mencintaimu." lanjut oma.


"Masa sih, Oma?" Ayuna tidak yakin kalau cinta Al sebesar itu padanya.


"Apa kamu gak bisa lihat? Bagaimana sikap dan perhatiannya padamu?" tutur Oma.


"Entahlah, Oma, terkadang Yuna ragu, apakah dia benar-benar tulus mencintai Yuna?" Ayuna terlihat murung, apalagi dia teringat dengan ucapan Mahen tempo hari.


"Sayang, jika dibanding Angga, Al jauh lebih baik dan jauh lebih memperhatikanmu." ujar Oma.


"Tapi, terkadang dia terlalu lebay oma." Yuna mengingat sikap Al yang terlalu posesif.


"Itu karena dia mencintaimu, jika tidak dia tidak akan peduli sama sekali padamu." Yuna terlihat mangut-mangut mendengar penjelasan oma.


"Lupakan soal Al, Kenapa oma tiba-tiba datang kesini?" Ayuna ingin memastikan apakah oma mendengar semua perkataan Monika kemarin.


"Oma, bosan di rumah. Makanya oma mutusin buat liburan ke sini. Biar makin dekat denganmu." Ayuna segera merangkulnya.


"Yuna juga kangen banget sama Oma." mereka berbagi cerita dan tertawa bersama.


"Sayang, apakah kalian tidak ingin meresmikan pertunangan kalian?" tanyanya.


"Maksud, Oma?"


"Setahu oma, hubungan pertunangan kalian hanya diantara kalian berdua sajakan?" tanya Oma, Ayuna mengangguk. "Kalian hanya mengumumkan kepada publik tentang hubungan kalian, tapi oma belum pernah menghadiri peresmian hubungan kalian ini. Oma juga belum pernah bertemu dengan keluarga Al." Yuna terkejut.


"Kenapa Oma tiba-tiba ingin bertemu dengan keluarga Al?" Yuna menelisik wajah Oma. "Apa oma mendengar pembicaraanku kemarin?" Yuna sibuk menduga-duga.


"Sayang, kenapa malah melamun?" oma menyadarkannya. "Kapan oma bisa ketemu dengan keluarga Al?"


"Hmm, nanti Yuna bicarakan dengan Al dulu ya." Oma memperhatikan Yuna yang terlihat bingung.


"Apa yang kamu sembunyikan, Nak?" batinnya. "Baiklah, nanti kamu tanya pada Al." oma setuju.


"Sekarang oma istirahat dulu, seharian di perjalanan oma pasti letih. Yuna keluar dulu ya." Ayuna berusaha menghindari oma, agar beliau tidak bertanya lebih jauh.


"Baiklah." jawabnya.


"Aku harus membicarakan ini dengan Al." Yuna memgambil ponselnya dan menghubungi Al.


"Ada apa, Sayang? Baru saja aku pergi kamu sudah kangen." Al menggoda Yuna di sela kesibukannya.


"Al, ini gawat!" jawab Yuna.


"Gawat kenapa?" tanya Al.


"Barusan oma nanyain kapan kita akan meresmikan pertunangan kita." jelas Yuna.


"Lalu?"


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada oma." Ayuna melihat ke arah pintu kamarnya, dia takut oma mendengar pembicaraannya dengan Al.


"Katakan saja, kalau kita akan mengikuti kemauan beliau." jawab Al.


"Bagaimana bisa aku mengatakan begitu?" Yuna bingung.


"Sudahlah, kamu tidak perlu khawatir. Setelah aku pulang kita bicarakan ini lagi dengan oma." Ayuna hanya bisa berharap kalau nanti oma tidak akan terkejut mengetahui semuanya.


"Baiklah." Yuna menutup teleponnya begitu saja.


🌸🌸🌸


"Kamu sedang apa?" oma tiba-tiba sudah ada di dapur saat Yuna sedang sibuk berkutat dengan berbagai masakannya.


"Yuna lagi masak buat makan malam oma."


"Hmm, wangi! Pasti enak ini." ucap oma saat melihat sup daging dan cah kangkung yang Yuna buat.


"Oma bisa aja buat Yuna senang." Ayuna tertawa.


"Memangnya Al mau makan begini?" tanya Oma.


"Hmm, pastilah oma." Yuna sangat yakin, karena selama dia tinggal bersama Al, apapun yang dia masak Al tidak pernah menolaknya.


"Tapi dimana Al? Oma belum lihat dia."


"Sebentar lagi juga pulang." Dan benar saja, baru saja Yuna berkata seperti itu Al sudah berdiri di depan mereka.


"Pada ngomongin apaan?" tanyanya.


"Kamu itu dibiasakan kalau pulang ucap salam dulu." ujar Oma.


"Maaf, Oma. Assalamu'alaikum." ucapnya, Ayuna hanya tersenyum saat melihat Alvaro begitu nurut sama oma Tyas.


"Wa'alaikumusalam." jawab Oma.


"Masak apa ini? Oma yang masak?" Al melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.


"Hmm, kalau dia yang masak mah, sudah pasti enak oma." puji Al.


"Ya pastilah, siapa dulu gurunya!" oma Tyas tersenyum dan menunjuk pada dirinya.


"Sudah, sudah, nanti saja dilanjut ngobrolnya. Kamu mandi dulu gih." sela Yuna.


"Aku ke kamar dulu, Oma." Al meninggalkan mereka berdua disana.


"Kalian tidak punya asisten?" tanya oma yang sudah duduk di kursi.


"Ada oma, tapi bibinya datang hanya di pagi hari." jawab Yuna.


"Jadi, tiap hari kamu yang masak begini?"


"Gak juga oma, kalau Yuna ada waktu luang aja. Al lebih sering ngajak makan diluar."


"Kamu gak boleh begitu, jangan dibiasain makan diluar. Nanti, jika kamu sudah menjadi seorang istri, kalau bisa suami itu harus makan dari tangan kita, jangan dibiarkan makan diluar. Karena masakan yang dibuat oleh istri jauh lebih nikmat jika dibanding dengan makanan di restoran atau dimanapun. Apalagi jika dibuatnya dengan cinta, suami makin sayang, allah juga semakin berkah. Rumah tangga kalian nantikan akan tetap terjaga." Ayuna mendengarkan dengan seksama semua pituah oma.


"Tapi, Yuna kan belum nikah oma." ucapnya.


"Itu sebabnya oma beritahu, biar kamu bisa belajar dari sekarang." Oma mengelus tangan Yuna.


"Iya, Oma."


"Pada ngomongin apaan?" tanya Al yang baru datang, Alvaro terlihat lebih segar.


"Ini oma ..."


"Gak ngomongin apa-apa, iyakan oma?" Yuna menggeleng, meminta oma untuk tidak mengatakannya pada Al.


"Kenapa?" tanya Al saat melihat mereka berbicara dengan isyarat.


"Gak, ini Yuna malu kalau oma ceritain ke kamu."


"Omaaa!!" Al menatap Yuna.


"Malu kenapa?" tanyanya.


"Sudah, kita makan saja, nanti makanannya keburu dingin." Ayuna mengalihkan pembicaraan, oma tertawa kecil melihat cucunya yang salah tingkah. Al hanya bisa menatapnya.


"Gimana kerjaan kamu?" Oma bertanya pada Al.


"Yah, begitulah oma, tidak ada hentinya. Banyak yang harus diselesaikan." jawab Al.


"Memangnya kamu disana sebagai apa?"


"Al adalah CEO perusahaan oma." Yuna yang menjawabnya.


"Wow! Oma gak nyangka ternyata kamu CEO. Oma kira hanya karyawan biasa." Yuna tersenyum, tapi Al merasa keberatan.


"Oma, susah payah loh dia bekerja hingga sampai ke posisinya saat ini, masa oma malah meledeknya seperti itu." Al senang karena Yuna membelanya di depan oma.


"Bukan begitu, kamukan belum pernah cerita ke oma, jadi oma hanya berasumsi sendiri. Maaf ya!" ucap Oma lembut.


"Tidak apa-apa, Oma." Al senang dengan adanya oma Tyas disana. Rumahnya terasa jauh lebih hidup, dan Al juga merasa sedang bersama keluarga. Sangat berbanding dengan keluarga besarnya. Mereka selalu sibuk, sekalipun bertemu yang mereka bahas hanya uang, tahta, dan bisnis.


"Oh iya, Al, kapan kalian akan meresmikan pertunangan kalian?" Yuna keselek nasi yang dia makan. Al memberinya segelas air mineral.


"Hati-hati." ucap Al lembut.


"Buat apa peresmian oma?" tanya Al. "Semua orangkan sudah tahu kalau kami ini sudah bertunangan."


"Benar, tapi apakah menurutmu oma tidak perlu mengenal keluargamu?" tanya Oma. "Karena cuma dia yang oma punya, jadi oma harus memastikan Yuna mendapatkan keluarga yang bisa menerimanya." Yuna menatap Al. Dia tidak tahu apa yang akan Al katakan pada oma.


"Iya, tentu saja! Aku pasti akan mengenalkan oma pada kakekku." jawab Al.


"Kakek?"


"Iya, Oma." jawab Al.


"Kenapa kakek? Dimana orangtuamu?" tanya Oma.


"Papaku sudah lama meninggal oma." jawab Al. "Dan, mamaku, sebenarnya beliau tidak menyetujui hubungan kami." Ayuna kaget mendengar jawaban Al, kemudian dia menantap pada Oma yang juga terkejut.


"Jika keluargamu tidak setuju, bagaimana bisa kalian tetap bertunangan?" kali ini oma benar-benar sangat serius.


"Oma, jangan khawatir, apapun yang terjadi aku tetap akan menikahi Yuna." mata Yuna berkaca-kaca saat menatap Al.


"Tidak bisa begitu." jawab Oma, membuat mereka terkejut.


"Tapi, oma ..." sela Yuna. Oma Tyas memintanya untum diam. Al masih menunggu apa yang akan oma Tyas katakan.


"Oma harus bertemu dengan keluargamu, atau kakekmu." ucapnya. "Oh, iya siapa nama kakekmu?"


"Hans Ivander." ucap Al. Mendengar nama itu, Oma Tyas terdiam.


"Hans Ivander?" Oma meyakinkan lagi ucapan Al.


"Benar, Oma." jawab Al. "Kenapa, Oma?" tanyanya saat melihat oma terkejut.


"Ah, tidak, oma seperti pernah mendengar nama itu." oma berkilah.


"Pastilah oma penah dengar, secara kakek Al pengusaha ternama." ucap Yuna.


"Iya, mungkin kamu benar." Oma Tyas menatap piring yang ada di depannya.


"Ternyata benar itu kamu, Hans." batin Oma.


~tbc