CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 165



"Istri?" Angela tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Maksudnya?"


"Benar, nona Angela. Ayuna adalah istri sekaligus sekretaris saya." Al akhirnya angkat bicara.


"Oh, begitu!" wajah Angela memerah menahan malu.


"Apa meetingnya sudah bisa kita mulai?" tanya Al.


"Ya, tentu saja." jawabnya.


Meeting mereka berjalan cukup lama. Karena Angela siang ini harus kembali ke singapura. Jadi, banyak yang harus mereka sesuaikan.


"Saya rasa cukup." Angela mengakhiri meeting itu.


"Jika ada yang perlu kami revisi maka anda bisa menghubungi kami." ucap Al sebelum mereka mengakhiri rapat itu.


"Ok." jawabnya. Angela meningglkan ruangan rapat, tapi dia kembali masuk saat anggota lain sudah pada keluar.


"Tuan Al, apa saya bisa bicara dengan istri anda?" dia meminta izin Al. Alvaro menatap Yuna, Ayuna memgangguk.


"Tentu saja." jawabnya. "Aku tunggu di ruangan ya." Ayuna kembali mengangguk. Setelah berpamitan pada Angela, Al keluar dari sana meninggalkan mereka.


"Silahkan duduk, nona!" ucap Yuna sopan. Angela duduk di kursi yang sebelumnya dia duduki. "Ada apa?" tanya Yuna.


"Saya ingin minta maaf atas yang terjadi semalam. Saya berpikir Alvaro belum menikah. Karena dari info yang saya dapat, Al sama sekali belum memiliki pasangan." ucapnya.


"Tidak apa-apa, Nona." Ayuna tersenyum padanya.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Angela.


"Maksudnya?" Ayuna balik bertanya.


"Setelah apa yang saya lakukan semalam, Apa kamu baik-baik saja?" ulangnya.


"Bohong kalau saya bilang saya baik-baik saja. Saat itu, saya marah dan cemburu, melihat wanita lain menyentuh suami saya." Ayuna mengenggam kedua tangannya.


"Saya benar-benar minta maaf!" Angela memegang tangannya.


"Tidak masalah, Nona. Kami sudah menyelesaikan semuanya." Ayuna tersenyum padanya, begitupun sebaliknya.


"Syukurlah! Sebaiknya kamu jaga baik-baik suamimu. Pria sepertinya selalu menjadi incaran para wanita. Bahkan akupun sempat tertarik padanya." ucapnya.


"Yah, anda benar! Tapi, aku sangat yakin padanya. Setelah apa yang kami alami, dia gak akan mungkin berpaling dariku." Angela tersenyum melihat kepercayaan diri Yuna. "Tapi, kata-kata anda juga benar adanya. Saya harus waspada karena pelakor sekarang seperti mike tyson. Jiwa petarungnya tak lekang oleh waktu." Angeka tertawa mendengar komentar Yuna.


"Saya tahu kenapa Alvaro bisa jatuh cinta padamu." ucapnya. "Kalau begitu, senang berkenalan denganmu." Angela mengulurkan tangannya.


"Sama-sama, Nona." jawabnya. Angela meninggalkan Ayuna seorang diri. Ayuna berharap Angela tidak akan berubah pikiran setelah mendengar perkataannya.


"Na!!" panggil Gina "Eh, Nyonya!" ralatnya.


"Kamu dari mana?" tanya Ayuna setelah Gina berdiri di depannya.


"Saya ada sedikit urusan di lantai 5, Nyonya." jawabnya sopan.


"Apaan sih, Kamu?" Yuna mencubit lengannya.


"Aaww!!" teriaknya sedikit kesakitan.


"Lebay!!" mereka tertawa.


"Eh, gimana dengan Jo?" tanya Yuna.


"Jangan ditanya!" jawabnya.


"Maksudnya? Jangan bilang kalian belum jadian." Yuna mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Gina hanya bisa tersenyum.


"Ok, gak perlu ngomong. Dari senyumanmu aku sudah tahu jawabannya." ujarnya.


"Gue benar-benar gak bisa nyimpan rahasia dari lo." jawabnya lagi. "Tapi, tumben banget lo cantik begini ke kantor?" tanya Gina yang sejak tadi memperhatikan Yuna.


"Supaya suamiku gak berpaling ke lain hati." mendengar jawaban Yuna, Gina malah tertawa lagi.


"Baru nyadarkan gimana terkenalnya suami lo di mata wanita?" Yuna mengangguk.


"Lihat aja, kalau ada yang berani godain suamiku. Pasti aku habisi." beberapa karyawan wanita yang tidak sengaja mendengar langsung bergidik ngeri.


🍀🍀🍀


"Sayang!!" Ayuna membuka pintu. Melihat Ayuna di depannya, Al segera memeluknya.


"Kamu dari mana saja?" tanya Al tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku gak kemana-mana." jawab Yuna.


"Kenapa lama sekali?" Al menatap lekat dirinya.


"Setelah ngobrol dengan nona Angela, aku bertemu dengan Gina. Jadinya, ya ngobrol lagi." Yuna tersenyum. Al yang berada sangat dekat dengannya tidak mampu lagi menahan hasrat yang ada di dirinya. Al segera ******* bibir berwarna pink itu. Ayuna yang awalnya terkejut dengan serangan Al yang tiba-tiba, mulai menikmatinya. Al melepasnya dan tersenyum pada Yuna.


"Hari ini kamu cantik banget." Alvaro menyibak rambut yang ada di wajahnya. Ayuna kembali tersenyum, Al kembali melakukan aksinya, kemudian mengangkat Yuna dan membawanya masuk ke ruangan pribadinya.


"Tuan, ini laporan yang anda minta." Refa masuk dan kaget karena tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. "Kemana mereka?" Refa bertanya-tanya. "Apa sudah keluar ya?" Refa meletakkan laporannya diatas meja kerja Al. Lalu, berjalan keluar dari ruangan itu. "Tuan, anda mau kemana?" tanyanya saat melihat Jo ingin masuk ke ruangan Al.


"Saya harus menyerahkan ini pada tuan Al." jawabnya.


"Tapi, beliau tidak ada di dalam." jawabnya.


"Tidak ada?" Jo memiringkan kepalanya.


"Iya, saya baru saja dari sana." Jo terlihat bingung.


"Apa tuan Al pergi dengan nona Ayuna?" tanyanya.


"Saya gak tahu. Sepertinya begitu." Refa kembali ke mejanya.


Jhosua yang masih penasaran membuka pintu ruangan itu. Dan, benar saja tidak ada siapa-siapa disana. Jo masuk dan meletakkan dokumen yang dia bawa di atas meja kerja Al. Saat akan keluar, Jo melihat tas yang Ayuna kenakan berada di sofa. Begitupun dengan ponsel Al.


"Tidak mungkin tuan Al pergi dengan meninggalkan ponselnya disini." ujarnya.


"Al!!" terdengar pekikan Yuna dari ruangan pribadinya, Jo langsung menoleh ke ruangan itu. Jhosua mengerti apa yang terjadi, dia segera keluar dari sana.


"Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan tuan Al, termasuk kamu." ucapnya pada Refa. Jo harus menjaga nama baik Al dan Yuna.


"Tapi, kenapa?" tanya Refa.


"Ikuti saja perintah saya!" Refa langsung mengangguk saat melihat tatapan dingin Jo.


🍀🍀🍀


Alvaro menarik selimut dan menutupi tubuh Yuna yang terbuka. Ayuna tertidur pulas setelah olahraga yang mereka lakukan.


"Aku mencintaimu!" Al mengecup lembut dahinya. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan itu. Al membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat mereka berdua. Setelah selesai, dia segera keluar mengambil bajunya yang telah tersedia di lemari. Al menatap Ayuna yang masih terlelap, kemudian pandangannya tertuju pada pakaian mereka yang berserakan di lantai. Al mengumpul semua itu dan meletakkannya di sofa, kemudian dia keluar dari sana.


"Jo, carikan dress untuk istriku!" ucapnya melalui telepon.


"Baik, Tuan." Jo segera melaksanakan perintah Al tanpa bertanya. Dia segera menghubungi Gilang, dan memintanya untuk segera mengantarkan dress yang cocok untuk Yuna.


Alvaro melihat laporan yang dia minta ada di atas meja kerjanya, dia segera memeriksa semua itu.


"Tuan, itu mau dibawa kemana?" tanya Refa saat melihat Jo menenteng paperbag dari butik ternama.


"Ke dalam." jawab Jo, lalu mengetuk pintu ruangan Al. Refa terkejut melihat Jo mengetuk pintu itu.


"Tuan, bukankah tidak ada siapa-siapa disana?" tanyanya. Jo tidak menganggapinya, dia membuka pintu dengan perlahan. Al melihat Jhosua yang datang.


"Ini yang anda minta, Tuan." Jhosua meletakkan paperbag itu di atas meja kerja Al.


"Sayang?" Yuna terbangun dan mencari keberadaan Al. Tapi hanya ada dia disana. Ayuna melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dia berjalan menuju pintu, dan membukanya perlahan.


"Al, ap kamu ..."


"Sayang!! Jo, tutup matamu!!" teriaknya saat melihat Jhosua sedang memandang ke arah Yuna.


"BRAAAKK!!" Ayuna menutup kuat pintu itu.


"Jooo!!" teriak Al.


~tbc