
"Malam, semua!!" Ayuna menyapa Hans dan Oma.
"Hi, pengantin baru!" Soraya yang sedang berada di tangga menyapa mereka.
"Hi, Tan!" jawab Yuna. Alvaro tidak mengatakan apapun. Dia segera bergabung dengan Hans dan Tyas.
"Gimana, Al?" tanya Tyas.
"Aku kapok ngerjain oma lagi!" Al mengatupkan tangannya. Oma dan Hans tertawa.
"Makanya orangtua jangan dikerjai." jawab Hans.
"Aku hanya bercanda, Kek. Aku pikir kalian benar-benar membawa dia dariku." Al melirik Yuna yang duduk di sebelahnya.
"Mereka tidak sekejam itu. Apalagi mereka sudah ngebet banget pengen dengar tangisan bayi di rumah ini." Soraya berjalan ke arah mereka.
"Kamu dengar sayang?" wajah Yuna merona. "Kalian tenang saja, kami akan selalu berusaha agar tangisan itu segera hadir di antara kita." sahut Al.
"Sebelum tangisan itu hadir, tangisan istrimu yang akan menggema di rumah ini." jawab Oma.
"Apa maksud, Oma?" semua menoleh padanya.
"Lihatlah wajahnya! Apa kau membuatnya terjaga sepanjang malam?" semua kembali menoleh tapi kali ini pada Ayuna. Ayuna memang terlihat sedikit pucat.
"Namanya juga pengantin baru, Tan." sela Soraya.
"Ayo, Sayang! Kamu istirahatlah!" ajak Oma. Ayuna menatap Al.
"Pergilah!" jawabnya. Ayuna berdiri dan menerima uluran tangan oma.
"Pergilah ke kamarmu! Oma akan buatin jamu supaya tubuhmu fit lagi." ucapnya lembut.
"Makasih, Oma." ucapnya.
"Oma, aku menyayangimu!" Al sedikit berteriak saat melihat oma berjalan ke dapur.
"Hans, suruh cucumu itu untuk menutup mulutnya." balas Tyas. Alvaro terbahak.
"Bagaimana disana?" tanya Hans.
"Baik." jawabnya.
"Aku juga harus beristirahat. Besok ada rapat yang harus kuhadiri." Al berdiri.
"Al, jangan buat istrimu begadang lagi." ledek Soraya.
"Bukankah kalian ingin segera mempunyai cucu? Jadi, aku harus berusaha ekstra keras untuk mengabulkan keinginan kalian." setelah mengatakan itu dia segera berlari ke kamarnya yang berada dilantai 2.
"Dia terlihat bahagia." ucap Hans.
"Ya, papa benar!" sahut Soraya.
"Sayang...!?" Al terdiam saat melihat Ayuna yang sedang tertidur pulas. Dia berjalan perlahan mendekatinya.
"Selamat tidur!" Al membelai lembut kepalanya, kemudian mengecup pipinya. Alvaro berlalu ke kamar mandi.
"TOK TOK TOK." oma mengetuk pintu kamar mereka. Al yang baru dari walk in closet segera membuka pintu.
"Oma?" dia melihat Tyas yang berdiri sambil memegang nampan. "Ayo, masuk!" Al membuka lebar pintu kamarnya.
"Dia tertidur?" tanya oma, lalu meletakkan segelas jamu di atas nakas.
"Iya." jawab Al.
"Al, saat ini kamu sudah menjadi suaminya. Tolong jaga dia! Jangan pernah kamu sakiti, ataupun menyia-nyiakan cucuku." ucap Oma.
"Oma tenang aja! Aku janji akan membuatnya bahagia." Al memegang tangan Tyas.
"Terima kasih! Oma percaya padamu!" oma memukul pelan wajahnya, setelah itu dia berlalu keluar dari sana.
🍀🍀🍀
"Al, bangun!" Yuna mengoyang-goyangkan tubuh Al.
"5 menit lagi." ucapnya dengan mata tertutup.
"Ayo, Al! Kita sudah telat!" Al membuka matanya, dan mendapati Ayuna berdiri di sisinya. Al menarik tangannya hingga Yuna jatuh di atas dada bidang itu.
"Aku merindukanmu!" Al menenggelamkan kepalanya di leher Yuna.
"Al, hentikan!" Yuna berusaha menyelamatkan diri dari suaminya itu. "Sana mandi!"ucapnya.
"Mandi berdua ya!" Al belum beranjak dari tempat tidur.
"Aku sudah mandi, sudah sana buruan mandi." Ayuna berjalan menuju meja riasnya. "Kyaaa!! Al apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Ayuna meronta dalam gendongan Al.
"Tidak!!" Al terus membawanya menuju kamar mandi.
"Al, Berhenti!!! Alll!!" teriakan Yuna hilang bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar mandi.
"Dimana mereka? Kenapa belum juga turun?" tanya Hans. Sudah 15 menit mereka menunggu pengantin baru itu, tapi sampai saat ini belum terlihat batang hidung keduanya.
"Papa kayak gak pernah muda saja. Sudahlah, kita sarapan duluan saja." ucap Soraya.
"Tapi, kamu mau segera punya cicit?" timpal Tyas.
"Aku memang menginginkannya, tapi pagi ini Al ada meeting penting." dia ingat tentang jadwal yang di katakan Jo sebelumnya.
"Kau ini! Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak ikut campur dalam dunia bisnis lagi." ujar Tyas.
"Sebentar lagi juga mereka pasti keluar. Kita lanjutkan sarapan saja." ujar Soraya, Mereka sarapan tanpa Al dan Yuna. "Nah, itu mereka!" mereka menoleh pada pasangan itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Hans.
"Kakek kayak gak pernah jadi oengantin baru saja." ledek Al.
"Udah, sarapan dulu!" ucap Tyas.
"Kita langsung jalan saja, Oma. Udah telat nih!" tolak Al.
"Ya sudah, kalian hati-hati." ucap Oma sebelum mereka meninggalkan ruang makan.
🍀🍀🍀
"Tuh, telatkan!" ujar Yuna saat mereka dalam perjalanan menuju Ivander Group.
"Udah gak apa-apa." Al mengenggam tangannya.
"Tapi, kamu ada meeting pentingkan?" Ayuna menoleh padanya.
"Kamu tenang saja! Jo sudah bilang kalau meeting di undur sampai makan siang." jelas Al.
"Kenapa baru kasih tahu sekarang?" Ayuna cemberut.
"Memangnya kalau aku beritahu dari awal kamu mau melakukannya lebih lama?" godanya.
"Akukan bisa sarapan dulu." ucapnya.
"Kita sarapan di kantor saja." Al memberhentikan mobilnya di depan lobby. Mereka segera keluar dan disambut dengan sapaan beberapa karyawan.
"Pagi, Tuan dan Nyonya." Refa yang melihat mereka segera menyambutnya.
"Pagi, Fa!" Yuna segera duduk.
"Gimana pengantin baru?" Refa menggodanya.
"Apanya?" tanya Yuna.
"Aduh, Nyonya. Kenapa sih pagi-pagi udah sewot? Kurang jatah ya?" ledeknya.
"Bukan kurang, tapi kebanyakan." jawabnya. Refa terbahak.
"Pantesan itu mata sayu begitu. Eh, mau kemana?" tanya Refa saat melihat Yuna malah berdiri.
"Cari sarapan, lapar!" Yuna memegang perutnya. Bukannya kasihan, Refa malah kembali menertawakannya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Al yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.
"Maaf, Tuan!" Refa menunduk takut diamuk oleh Al. "Dimana istriku?" tanyanya.
"Hah?" mendengar Al berkata seperti itu, Refa malah bengong.
"Hey! Apa kamu tuli? Dimana istriku?" tanya Al lagi.
"A-ayu ..., eh maksud saya nyonya Yuna sedang pergi membeli sarapan." ucapnya terbata saat melihat dahi Al berkerut.
"Kenapa bukan kamu yang pergi? Kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri?" omelnya.
"S-saya ..."
"Cari istriku sekarang!" perintahnya, Refa segera berlari menuju lift.
"Aduh, itu CEO galak, udah nikah bukannya berubah malah semakin galak." gerutunya saat berada di dalam lift.
"Hi, pengantin baru!" sapa Karin saat melihat Ayuna ada di depan lift.
"Hi, Mbak!" balasnya sambil tersenyum.
"Mau kemana?" tanya Karin.
"Ini, abis beli sarapan." Ayuna mengangkat paperbag yang dia pegang. Mereka masuk saat pintu lift terbuka.
"Kenapa kamu gak suruh orang saja? Secara kamu sekarangkan pemilik perusahaan ini." ujar Karin.
"Apaan sih, Mbak? Aku masih Ayuna yang sama, sekretaris CEO." jawabnya.
"Kamu ini pinter banget berkilah. Udah jelas-jelas disini kamu juga bosnya." mereka berdua tertawa. "Na, ada yang ingin aku tanyakan." Yuna menoleh padanya, Karin terlihat serius.
"Ini tentang Gina. Apa kamu tahu kalau Gina dan Asisten Jo ada ..."
"TING." pintu lift terbuka, tampak Jhosua berdiri disana.
"Nyonya?" panggil Jo.
"Eh, ada apa Jo?" Ayuna melirik pada Karin.
"Tuan Al sejak tadi mencari anda." ucapnya.
"Aku hanya ke bawah beli sarapan." jawabnya.
"Tapi, suami anda membuat heboh satu lantai." lapor Jo.
"Maksud kamu?"
"Anda akan tahu saat tiba disana." ucapnya.
~tbc