
"Kenapa selama ini kamu tidak mengatakan apapun?" Hans menatap iba cucu kesayangannya.
"Untuk apa? Tidak ada yang akan berubah jika aku mengatakannya." jawabnya, Ayuna duduk disisi Al dan memegang tangannya.
"Maafkan aku!" ucap Hans. "Kami sengaja merahasiakannya untuk kebaikanmu."
"Sudahlah, aku tidak lagi mempermasalahkannya." jawab Al.
"Tapi, kamu harus tahu siapa ibu kandungmu." menurut Hans ini waktu yang tepat untuk memberitahu Al kebenaran tentang ibu kandungnya.
"Tidak perlu." tolaknya, Hans dan Yuna semakin bingung, kenapa Al menolak untuk mengetahui ibunya.
"Tapi, kenapa?" tanya Hans.
"Al." ucap Yuna.
"Karena aku sudah tahu siapa ibuku." Hans tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.
"Bagaimana ...?"
"Aku tahu makam yang ada di samping papa adalah makam ibuku." Hans melemas, dia tidak menyangka bahwa cucunya bisa mengetahui kebenaran yang selama ini dia tutupi.
"Kamu benar! Dia, ibumu." ucap Hans. "Ibumu meninggal sewaktu melahirkanmu, untuk membesarkanmu aku mencarikan penggantinya. Tapi, aku salah memilih orang." Hans tampak menyesal. "Tapi, bagaimana kamu bisa tahu kalau dia ibumu?" tanya Hans.
"Aku menemukannya di ruang kerja papa. Di sana tersimpan rapi semua kenangan tentang ibuku." Al mengenang semua album dan juga surat yang disimpan dengan baik oleh papanya. Semuanya tentang Shafira, mamanya Al. Dari semua barang-barang itu dia tahu betapa papanya begitu mencintai ibunya. "Aku hanya tidak mengerti mengapa kalian merahasiakan ini dariku?" tanya Al.
"Aku pikir, jika kamu mengetahui semua ini maka kamu akan sangat terpukul, dan menyalahkan papamu atas kematian ibumu." ucap Hans.
"Memangnya apa yang terjadi pada ibuku?" Al memang tahu Syafira adalah ibunya, tapi Al tidak tahu bagaimana ibunya bisa meninggal.
"Mereka bertengkar saat kembali dari Surabaya. Papamu sangat pencemburu, dia marah saat melihat ibumu sedang berbincang dengan teman lelakinya. Sepanjang jalan mereka bertengkar, hingga terjadilah kecelakaan itu. Saat dilarikan ke rumah sakit kondisi ibumu begitu mengkhawatirkan, dokter mengatakan bahwa ibumu kehilangan banyak darah dan mereka harus segera melahirkanmu. Tapi sayang, ibumu tidak bisa diselamatkan." Al menarik napas dalam, Ayuna menguatkannya dengan mengenggam erat tangannya.
"Jadi untuk menutupi kesalahan papa, kalian menyembunyikan semua ini dariku? Kalian takut aku membencinya?" sorot mata Al menunjukkan kemarahan.
"Saat itu aku berpikir ini yang terbaik untukmu." jawab Hans.
"Bagaimana bisa kalian berpikir ini baik untukku? Kalian menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku. Mungkin jika aku tidak tahu, sampai matipun kalian tidak akan mengatakannya padaku." Al menatap tajam padanya.
"Bagaimana aku bisa mengatakan yang sebenarnya, saat kau tahu ibumu adalah Monika. Kami bingung harus mulai mengatakannya darimana." jawabnya, Alvaro membuang wajahnya, dia begitu kecewa dengan sikap keluarga besarnya.
"Maafkan, aku!" Hans kembali meminta maaf padanya. Alvaro tidak menjawab, dia masih marah dengan kebenaran yang baru dia ketahui.
"Papamu menderita hingga maut menjemputnya, dia tidak henti menyalahkan dirinya sendiri untuk yang terjadi pada ibumu." jelasnya. Hans berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Al. Saat ini hanya ada Al dan Yuna.
"Al ...!" panggilnya lembut. Alvaro menoleh padanya. Ayuna membentangkan tangannya dan Al segera memeluknya.
"Aku tidak menyangka kalau papaku sendiri penyebab kematian ibuku." ucap Al. Ayuna mengelus-elus punggung lelaki yang begitu dia kasihi.
"Al, jangan menyalahkan papamu. Aku yakin papamu juga tidak ingin ini terjadi pada ibumu, pasti berat untuknya. Kehilangan orang yang begitu dia cintai karena kesalahannya sendiri. Aku tahu bagaimana perasaannya. Sudah cukup derita yang dia tanggung. Begitupun dengan kakekmu, beliau melakukan ini untuk menjaga hatimu. Walaupun caranya salah, tapi aku tahu dia hanya ingin melindungimu." Yuna mencoba memberi pengertian padanya. Al semakin mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih!" ucapnya.
"Untuk apa?" tanya Yuna.
"Telah menjadi pendampingku! Jika tidak ada dirimu, mungkin aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan." Al sangat bersyukur karena Yuna menjadi miliknya.
"Aku yang bersyukur karena dicintai pria sepertimu." balas Yuna. Al melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yuna. Mereka larut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri.
"Aku sangat mencintaimu!" Al menyingkap rambut yang menutupi wajah Yuna.
"Aku juga mencintaimu!" Yuna memegang tangan Al yang sedang berada wajahnya. Kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu mulai larut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri. Al merangkul pinggang Yuna dan mendekatkan wajahnya pada Yuna. Alvaro mencium lembut dahi Yuna, Ayuna menutup kedua matanya. Mata Al tertuju pada bibir Yuna yang saat ini begitu mengodanya. Dan tanpa aba-aba, Al mulai melekatkan bibirnya pada Ayuna, Alvaro mencium lembut bibir Yuna, Ayuna yang sudah mulai terbiasa, mulai bisa mengikuti ritme yang Al ciptakan. Ayuna menarik kerah jasnya dan membalas apa yang Al lakukan padanya.
"BRAAK!!" aksi mereka terhenti saat mendengar suara pintu yang dibanting. Mereka sama-sama melihat ke arah pintu, tapi tidak lagi terlihat siapapun disana.
"Tunggu, Al!" melihat Al berdiri dan hendak berjalan keluar, Yuna menghentikannya.
"Ada apa?" tanyanya lembut. Ayuna berdiri didepannya.
"Bersihkan ini dulu!" Ayuna membersihkan sisa lipstik yang menempel di bibir Al. "Aku gak mau kamu menjadi bahan omongan orang." ucap Yuna.
"Aku malah senang. Dengan begini, semua orang akan tahu kalau kamu itu milikku." jawab Al.
"Tanpa ini pun, semua orang sudah tahu bahwa aku ini memang milikmu." Ayuna tidak lupa merapikan rambut Al dan juga dirinya. "Kamu disini saja, biar aku yang keluar." ucapnya. Ayuna berjalan keluar dari ruangan Al, Alvaro tersenyum bahagia mengingat ciuman yang mereka lakukan tadi. Dia tidak menyangka Ayuna akan membalasnya.
"Siapa tadi yang datang?" tanya Yuna pada Refa, setelah berada di meja kerjanya.
"Tuan Mahen." jawabnya. Ayuna bisa mengerti kenapa Mahen melakukan hal itu.
"Aku ada urusan dengan tuan Al." jawab Yuna.
"Apa ada masalah? Kenapa tuan Ivander tiba-tiba datang kesini?" Refa begitu penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu, ataupun ikut campur dengan semua yang terjadi pada tuan Al." jawab Yuna ketus.
"Kamu, kenapa sih? Wajar dong aku pengen tahu, secara tuan Al itukan bosku." jawabnya.
"Ada batasan antara karyawan dan atasan." Ayuna mengabaikannya dan memeriksa email yang masuk melalui tabletnya. Refa tampak kesal karena tidak mendapatkan yang dia inginkan. Mereka kembali bekerja, hingga tidak terasa sudah masuk waktu makan siang.
"Mau kemana kamu?" tanya Yuna saat melihat Refa berjalan menuju ruangan Al.
"Sudah jam makan siang, aku mau bertanya tuan Al ingin makan apa." jawabnya.
"Tidak perlu. Tuan Al akan makan diluar." Yuna masih menekan rasa cemburunya.
"Kamu tahu darimana?" tanyanya, tapi Yuna malah berjalan menuju ruangan Al.
"Dasar rese! Bilang aja kalau kamu mau dekatin tuan Al." gerutunya.
"Kamu kenapa?" tanya Al saat melihat wajah putih Yuna memerah.
"Aku kesal lihat sekretaris baru kamu." jawabnya.
"Kenapa lagi dia?" tanya Al.
"Terlihat banget kalau dia ingin mengodamu." jawabnya kesal, Alvaro mendekat dan membelai wajahnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan berpaling padanya atau siapapun." Ayuna tersenyum mendengar perkataan Al.
"Ayo!" ajak Al.
"Kemana?" tanya Yuna.
"Bukankah kamu kesini untuk mengajakku makan siang?" tanya Al, Ayuna kembali tersenyum dan bergegas mendekati Yuna. Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan Al.
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Refa saat mereka melewati mejanya.
"Akukan sudah bilang, tuan Al akan makan diluar." Ayuna yang menjawabnya.
"Lalu, kamu?" Refa bingung karena Yuna berjalan bersama dengan Al.
"Aku? Tentu saja mau makan siang juga."
"Kalau begitu aku ikut." Refa berjalan keluar dan mengekori mereka.
"Mau kemana kamu?" tanya Al, saat melihat Refa hendak masuk ke lift yang sama dengannya.
"Makan siang, Tuan." jawabnya.
"Tempatmu disana, bukan disini!" Al menunjuk lift khusus karyawan.
"Dasar cewek ganjen!" makinya pada Yuna.
"Siapa yang ganjen?" tanya Tari yang sudah berdiri disebelahnya.
"Siapa lagi kalau bukan sekretaris sombong itu." jawabnya.
"Maksud kamu, nona Ayuna?" tanyA Tari.
"Iya, siapa lagi?" Refa masih sangat kesal dengan apa yang terjadi hari ini. Dia sudah sangat bersemanggat, saat tahu dia diterima sebagai sekretaris Al. Tapi apa yang terjadi diluar bayangannya. "Tapi, kenapa kamu memanggilnya nona?" dia bingung kenapa semua orang begitu menghormati Yuna.
"Memangnya kamu tidak tahu siapa itu nona Ayuna?" tanya Tari.
"Sekretaris tuan Al, sama sepertiku." jawabnya.
"Bukan itu saja, nona Ayuna itu juga tunangan tuan Alvaro." ponsel yang dia pegang jatuh begitu saja.
"Apa??" Refa sangat terkejut. "Jangan ngawur kamu." ucapnya tidak percaya.
"Kalau gak percaya, kamu bisa tanya seluruh karyawan disini. Makanya, jadi cewek jangan ganjen." ucap Tari sebelum meninggalkannya.
"Tunangan?" Refa belum lepas dari keterkejutannya.
~tbc