CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 175



"Sayang!!" Al mengedor-gedor pintu kamar, karena Yuna menguncinya dari dalam. "Sayang, buka dong! Kita harus bicara. Kamu salah paham." teriaknya dari luar. "Sayang, Ayolah!" pintanya.


"CKLEK!" kunci terbuka, Al segera membuka pintu dan melihat Yuna sedang berdiri di depan meja rias.


"Sayang! Semua nggak seperti yang kamu pikirkan." Alvaro memeluknya dari belakang.


"Lepasin!" Yuna menjauhkan tangan Al dari perutnya. Tapi Al kembali memeluknya.


"Kamu salah paham. Wanita itu adalah vendor baru di proyek kita. Kamu tahu sendirikan masalah yang terjadi kemarin?" Ayuna menatapnya dari kaca yang ada didepannya. "Namanya Valerie, aku juga baru bertemu dia hari ini. Disana juga ada Jo dan Kai serta staff lainnya." Alvaro menjelaskan dengan panjang lebar.


"Lalu, kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke Lombok?" sorot mata Yuna begitu tajam.


"Maafkan aku! Itu salahku, karena terburu-buru aku sampai lupa mengabarimu. Saat aku selesai, ponselku mati dan aku terpaksa membeli charger karena aku lupa membawanya." Ayuna berbalik dan menatap Al lekat.


"Benarkah?" tanyanya pelan. Al mengangguk. "Aku pikir kamu mempunyai wanita lain." sekarang gantian Yuna yang menundukkan kepalanya.


"Apa? Maksudnya?" Al terlihat bingung.


"Lupakan saja!" Yuna berusaha menghindar.


"Tunggu! Kamu pikir aku ke sana bersama wanita lain?" Al mencengkram pergelangan tangannya. Yuna kembali mengangguk. "Ya ampun, Sayang! Apa yang kamu pikirkan?" Al mendekat dan berdiri begitu dekat dengannya.


"Maaf!" Yuna mengangkat kepalanya, matanya langsung terkunci oleh Al.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" bukannya marah, Al malah bertanya dengan lembut.


"Awalnya aku tidak berpikiran sejauh itu, tapi saat mendengar wanita itu mengajakmu makan bareng, aku jadi khilaf." jelasnya.


"Kamu ini! Gimana mungkin kamu bisa berpikir seburuk itu tentang suamimu sendiri?" Alvaro tertawa kecil.


"Maafkan aku!" Yuna memeluknya. "Aku takut kalau kamu tertarik pada wanita lain." mendengar kejujuran istrinya, Al begitu bahagia. Dari sikap Yuna, Al bisa tahu kalau dia juga sangat mencintainya.


"Itu tidak akan terjadi." tegasnya. "Dalam hidupku hanya ada satu wanita, dan itu adalah dirimu." Al mengelus punggung Yuna.


"Karena itu aku merasa khawatir. Aku takut kamu bosan dan mulai mencari yang lebih dariku." selanya.


"Aku bosan?" Al tertawa. "Mana mungkin aku bosan dengan istri sepertimu. Kamu itu adalah anugerah terbesar dalam hidupku." Ayuna tersenyum malu, Alvaro mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju ranjang mereka.


"Aku sangat merindukanmu!" bisik Al ditelinga Yuna.


"Aku juga!"


🍀🍀🍀


"Ini laporan yang anda minta, Tuan." Kai menyerahkan map berwarna biru itu pada Bumi.


"Bagaimana kondisi disana?" tanya Bumi sambil memeriksa laporan yang dia bawa.


"Semua berjalan lancar, Tuan." jawabnya. "Tuan Alvaro bergerak cepat, saya rasa sebelum deadline, mereka akan berhasil mengerjakannya." lapor Kai.


"Baguslah! Ternyata dia memang sehebat yang aku dengar." ucapnya.


"Apa kau sudah menemukan yang aku minta?" tanyanya lagi, Kai tahu apa yang ingin Bumi ketahui.


"Mereka tidak ada hubungan apapun." Bumi menoleh padanya.


"Kau yakin?" tanyanya lagi.


"Yakin, Tuan! Nona Ayuna tidak pernah berhubungan dengan dokter Casanno. Mereka hanya berteman baik." jawabnya.


"Teman? Apa menurutmu pertemanan antara pria dan wanita itu benar ada?" Bumi tidak mempercayai itu.


"Tapi, memang seperti itulah kenyataannya, Tuan. Kebetulan dokter Casanno adalah sahabat tuan Alvaro." Bumi terlihat paham setelah Kai menjelaskan hubungan antara Yuna dan Andreas.


"Baguslah, tidak ada hubungan apapun diantar mereka. Aku tidak ingin menghancurkan orang yang tidak bersalah." jawabnya.


Bumi begitu menyayangi adik sepupunya itu. Jadi, saat tahu bahwa Andreas menikah dengan Cleo, dia mulai menggali informasi mengenai Andreas. Dia tidak akan membiarkan Andreas atau siapapun, menyakiti sang adik. Terlebih, saat dia melihat Yuna dan Andreas berbincang di lobby Giant Hospital.


"Pantau terus si Casanova, aku sangat yakin ada yang dia coba sembunyikan." Kai mengerti dengan perintah yang dia dapat.


🍀🍀🍀


"Kamu kenapa kesini?" Gina menoleh ke arah pintu rumahnya.


"Aku merindukanmu!" jawab Jo dengan sedikit berteriak.


"Apa yang kau lakukan?" Gina membekap Jhosua dengan tangan kirinya. Dia takut jika orangtanya mengetahui kehadiran Jo.


"Ayo, kita bicara!" ucap Jo.


"Ini sudah terlalu malam. Besok saja!" Gina menolak.


"Tapi aku ingin sekarang." Jhosua memaksa. "Baiklah, kalau kamu nggak mau. Maka aku akan membangunan seisi kompleks." ancamnya. Gina masih tidak mempedulikannya. "Giii ...." Jhosua mulai berteriak.


"Kita mau kemana?" tanya Gina saat mereka berada di jalalan ibukota yang masih terlihat ramai.


"Apartemenku." jawab Jo.


"Ngapain kesana? Aku nggak mau! Kita pulang saja." Gina menolak.


"Aku lapar! Seharian aku menemani tuan Al yang sedang galau. Bahkan kami tidak sempat dari siang." Gina menoleh padanya.


"Apa kamu baru sampai?" Jhosua mengangguk. "Dan, kamu langsung menemuiku?" dia kembali menganggukan kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa menemuiku besok." Gina seolah tidak percaya dengan hal bodoh yang dilakukan oleh kekasihnya itu.


"Aku merindukanmu." wajah Gina bersemu. "Melihat tuan Al seperti orang yang kehilangan akal karena tidak bisa menghubungi Yuna, membuatku memikirkanmu." jelasnya.


"Kita kesana saja." Gina menunjuk cafe yang masih buka.


"Kita mau apa kesini?" tanya Jo setelah dia memarkir mobilnya.


"Bukankah kamu lapar?" Gina membuka seatbelt-nya.


"Iya, tapi aku mau makan di apartemen saja." jawab Jo.


"Kejauhan. Kamu bisa makan disini. Setalah itu, antar aku pulang." Gina keluar.


"Padahal aku ingin berduaan saja dengannya." Jo mengikuti Gina yang sudah masuk lebih dulu.


"Gimana dengam masalah disana?" tanya Gina saat Jo menyantap hidangannya.


"Sudah membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." jawabnya.


"Lalu, siapa wanita yang bersama tuan Al?" Gina begitu penasaran dengan wanita yang sudah membuat Yuna uring-uringan.


"Valerie?" Jo seolah bertanya.


"Jadi, namanya Valerie." lanjut Gina. "Apa dia pergi bersama kalian?"


"Dia itu vendor baru yang akan menanggani proyek Earth Corp." jawabnya. "Apa Ayuna mengatakan sesuatu?" tanyanya.


"Dia cemburu melihat mendengar wanita itu berbicara pada Al." Jo sudah menebaknya.


"Tapi tuan Al sama sekali nggak ada hubungan dengannya kecuali masalah kerjaan." jelas Jo. "Tapi, kalau aku lihat, nona Valerie sepertinya memiliki ketertarikan pada tuan Al." sambungnya.


"Maksud kamu?" Jhosua menceritakan apa yang terjadi di Bandara padanya. Gina terlihat geram.


"Dasar ya, pelakor itu dimana-mana selalu ada." ucapnya.


"Kenapa kamu yang marah? Kamu tenang saja, tuan Al tidak akan tergoda dengan wanita seperti itu." ucap Jo yakin. "Sudah, Ayo, aku antar pulang!" Gina melihat piring Jo yang sudah kosong. Dia kemudian berdiri dan berjalan di sisi Jo.


"Tuan Jhosua!" Jo menoleh dan melihat Valerie berdiri di belakangnya. Gina melihat wanita berkulit putih dengan rambut sedikit bergelombang sedang tersenyum pada Jo. "Ternyata dunia ini benaran sempit ya. Apa yang anda lakukan disini?" tanya Valerie setelah dia berada di depan mereka.


"Makan." Gina menoleh padanya, karena Jo bersikap sangat dingin.


"Oh, ya? Tahu begitu tadi aku bisa bergabung denganmu." dia kembali memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi. "Dimana tuan Al?" Jhosua sudah tahu apa yang ingin dia tanyakan.


"Maafkan saya, nona Valerie. Sepertinya anda tidak mendengarkan perkataan saya kemarin." Gina segera sadar siapa wanita yang berada dihadapannya.


"Aku hanya bertanya. Apa yang salah dengan itu?" jawabnya. "Kaliankan satu paket, jadi wajar aku menanyakan tuan Al." ucapnya tanpa rasa malu.


"Anda ...."


"Sayang, ayo kita pulang!" Gina memotong ucapan Jo. "Anda mencari tuan Al?" Gina bertanya pada Valerie, wanita itu mengangguk.


"Apa kau mengenalnya?" tanyanya.


"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal beliau. Tapi, saya rasa anda yang tidak mengenal beliau." jawab Gina.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku mengenalnya. Secara kami rekan bisnis." Valerie tidak mengerti apa yang Gina ingin sampaikan.


"Jika anda mengenalnya, pasti anda tidak akan menanyakan beliau malam-malam begini." ucap Gina.


"Kenapa tidak?"


"Karena mungkin saat ini, dia sedang bermesraan dengan istri yang dia cintai." Valerie terkejut.


"Istri ....!?"


"Ayo, sayang!" Gina menarik Jo keluar dari cafe itu.


"Jadi, Alvaro sudah menikah?" Valerie seolah bertanya pada dirinya sendiri.


~tbc