CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 83



Setelah petugas pengurus jenazah selesai mengurus jenazah ibunya Veronica mereka membawa peti berisi jenazah sang ibu menuju ambulance.


Di dalam ambulance Veronica tak hentinya menangis dipelukan Aberlie, Aberlie mengusap punggung Veronica untuk menenangkannya.


"Sabar Ve, ikhlaskan kepulangan ibumu kepelukan sang pencipta, ini yang terbaik untuk ibumu agar beliau tak merasakan sakit lagi." Aberlie mengusap lembut rambut Veronica dipelukannya.


Dokter Agam yang melihat Veronica sedih merasa terenyuh dihatinya, ingin sekali ia memeluknya namun tak mungkin, Veronica pasti akan marah jika ia melakukan itu didepan umum.


Setelah selesai dengan acara pemakaman ibunya Veronica Aberlie langsung pulang kemansion tak lupa Aberlie mengabari Bram jika ia sudah pulang terlebih dahulu, Aberlie menceritakan secara singkat pada Bram melalui panggilan telfon tersebut.


Setelah menelfon Bram Aberlie langsung membersihkan diri dan kemudian beristirahat, ia merasakan lelah ditubuhnya.


Aberlie terbangun saat ada yang mengusap kepalanya, ia membuka matanya perlahan dan melihat orang yang ia cintai duduk ditepi kasur disampingnya.


Aberlie tersenyum melihat Bram sudah berganti pakaian dan terlihat segar juga tampan, ia meraih wajah Bram dan mengusapnya lembut.


"Kau sudah pulang dear?" tanya Aberlie.


"Aku sudah pulang dari sejam yang lalu by, aku sudah membawakanmu makan malam pula, aku pùn sudah terlihat tampan, apa kau tak menyadarinya." Bram mengecup ujung kepala sang istri.


"Suamiku selalu tampan dalam keadaan apapun," ucap Aberlie tersenyum.


"Bangunlah, bersihkan dirimu dan setelah itu kita makan malam, aku sudah membawa makanannya kesini untuk kita makan malam berdua," ucap Bram.


"Baiklah aku akan mandi dulu." Aberlie bangun dan menuju kamar mandi.


Sambil menunggu Aberlie selesai mandi Bram mempersiapkan pakaian untuk dikenakan sang istri, tak lama Aberlie keluar dari dalam kamar mandi menggunakan kimono mandinya.


Bram menuntun Aberlie untuk duduk dikursi depan meja rias, ia mengambil hair dryer sam mulai mengeringkan dan menyisir rambut sang istri, setelah rapi Aberlie langsung mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Bram lalu mereka makan malam berdua didalam kamar tanpa ada yang mengganggunya.


"Boleh ku tidur lagi dear?" tanya Aberlie setelah beberapa saat selesai makan.


"Masih sore by," jawab Bram yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Hari ini aku merasa sangat lelah dear, aku ngantuk sekali, biarkan aku tidur lagi yah yah." Aberlie merayu Bram dengan mata genitnya.


"Baiklah, pergilah tidur dulu nanti aku menyusul, masih ada yang harus aku kerjakan lebih dulu," ucap Bram mengusap rambut Aberlie.


Setelah mengecup bibir sang suami Aberlie langsung menuju tempat ridunya dan memeluk guling dengan erat, tak butuh wantu lama Aberlie sudah terlelap masuk kealam mimpinya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya Bram menyusul Aberlie keatas tempat tidur, ia memandangi wajah sang istri sejenak dan tersenyum kemudian ia mengecup ujung kepala sang istri dan ikut menyusul sang istri kealam mimpinya.


***


Satu minggu berlalu Aberlie melihat Veronica datang dengan wajah yang masih sedih, Aberlie dan Ashana menghampirinya dan memeluknya.


"Kamu oke sayang?" tanya Aberlie dan Veronica hanya mengangguk seraya meneteskan air matanya.


"Sudah jangan menangis lagi, ibumu sudah bahagia disisi tuhan, jika kamu belum ingin bekerja gak usah masuk dulu gak apa apa Ve." Aberlie mengusap air mata Veronica yang membasahai pipinya.


"Tidah mba, jika aku berdiam diri dirumah aku malah selalu ingat ibu mba jadi biarkan aku bekerja yah," ucap Veronica menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu sudah makan?" tanya Aberlie dan Veronica menganggukan kepalanya.


"Baiklah mba tinggal dulu yah, jika kamu ingin pulang bilang sama mba nanti mba antar kamu," ucap Aberlie kembali mengusap pipi Veronica.


Aberlie kembali kemeja kasirnya dan melanjutkan mengecek pemasukan cefenya, tak terasa waktu makan siang pun tiba, baru saja Aberlie bangkit dari duduknya ia mendengar suara teriakan yang sedikit menusuk ditelinganya yang sangat ia kenal.


Aberlie menoleh kearah pintu masuk dimana suara itu berasal, ia menepuk jidatnya dikala melihat Risa dan dua orang temannya datang.


Risa dan temannya menghampiri Aberlie dimeja kasir, ia tersenyum manis dan memeluk kakak iparnya tersebut.


"Kakak ipar aku rindu padamu." Risa memeluk Aberlie manja didepan semua orang yang ada didalam cafe tersebut tanpa canggung.


"Kamu ko bisa kemari Ris? siapa yang memberi tahu kamu alamat cafeku, seingatku aku belum pernah memberi tahu dimana cafeku berada," tanya Aberlie membalas pelukan Risa.


"My honey yang memberi tahuku kak, oh iya ini teman dekatku Arumi dan Erika." Risa memperkenalkan kedua temannya.


"Hallo kak salam kenal," ucap mereka menyapa Aberlie.


"Ya salam kenal juga yah, kalian mau minum apa biar aku traktir perdana buat kalian supaya jadi langganan baru," tanya Aberlie.


Disaat Aberlie, Risa dan Erika sibuk memilih menu dibuku menu, Arumi malah sibuk mengajak kenalan salah satu barista, namun barista tersebut mengabaikannya karena memang ia tipe cowo pendiam dan sedikit pemalu.


"Ssttt kamu barista ganteng boleh kenalan gak?" tanya Arumi namun barista tersebut hanya sibuk dengan pekerjaannya dan tak menghiraukan Arumi.


"Ada apa mba, bisa saya bantu?" tanya Rean yang melihat Arumi memanggil Kevin namun tak ditanggapi.


"Barista itu siapa sih namanya ko diem ajah ditanyain?" Arumi balik bertanya.


"Oh itu Kevin mba, dia memang seperti itu pendiam jarang ngomong sama orang, kenapa mba suka yah sama babang ganteng?" Rean balik bertanya seraya membalikan tubuh Kevin dan Arumi langsung mengangguk.


"Vin kasian nih cewe minta kenalan kamu cuekin ajah," goda Rean pada Kevin.


"Kan udah dijawab sama kamu Re," ucap Kevin dengan ekspresi datar.


"Babang ganteng jangan dingin dingin gitu kenapa aku tulus loh ngajak kenalan masa kamu begitu sih sama perempuan," ucap Arumi.


"Maaf mba saya sibuk jika mba tak ingin memesan mending mba jangan ganggu saya yah," jawab Kevin datar namun Arumi bukannya kesal ia malah semakin suka.


"Aku akan memesan apapun yang kamu buat tapi aku ingin kau menemaniku minum dan duduk disana." Arumi menunjuk meja yang berada dipojok hanya untuk dua orang.


"Maaf mba saya tak bisa, kan saya sudah katakan saya sedang bekerja." Kevin menolak ajakan Arumi namun Arumi tak menyerah sampai disitu.


"Kak Aberlie boleh yah aku pinjam babang barista gantengnya buat nemenin aku minum dan ngobrol sebentar disana," ucap Arumi sedikit berteriak pada Aberlie dan menunjukan meja disudut ruangan.


"Boleh ko sayang bawa ajah ini kan jam makan siang," jawab Aberlie memberi angin segar.


"Makasih kak kamu memang pengertian sekali," balas Arumi tersenyum lebar.


"Tuh kan babang ganteng kak Aberlie ajah ngijinin, kalau kamu gak mau nemanin aku, aku bakal tunggu kamu disini sampai kamu pulang dan mengikutimu kerumahmu." Arumi mengancam.


"Lakukan saja apa yang mba suka aku tak pedulu," jawab Kevin.


"Jangan begitulah bro sama cewe pantes kamu ngejomblo terus orang kamu didekati cewe seperti itu," ucap Rean membantu membujuk sahabatnya.


"Waah babang ganteng jomblo toh bwrarti aku punya banyak kesempatan dong, baiklah jika babang ganteng gak mau nemenin aku, aku akan tunggu babang ganteng sampai pulang kerja." Arumi berseru girang.


"Heh Rumi kamu tuh yah kalo dikampus dideketin cowo ajah galak tapi pas ngeliat baristanya kak Aberlie ajah ngegodain terus aneh kamu yah." Erika menepuk jidatnya.


"Cowo cowo kampus gak ada yang secool babang barista ganteng," ucap Arumi membuat Risa, Erika dan Aberlie menggelengkan kepalanya.


*****


Selamat membaca semuanya jangan lupa likenya yah.


Salam hangat dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰