
"Ternyata dia masih hidup? Itu artinya Al berhasil menemukannya. Pantas saja Al bersikeras ingin bersama dengannya." Monika mondar-mandir di kamarnya. "Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi." geramnya.
"Hallo." Monika mengambil ponselny dan menghubungi seseorang.
"Ada apa?" tanya seseorang yang dia hubungi.
"Kita dalam masalah." jawabnya.
"Apa?"
"Anak perempuan yang bersama Al sewaktu penculikan terjadi ada disini." Monika menelepon seseorang untuk memberi tahu kehadiran Yuna. "Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Apa dia mengatakan sesuatu tentang penculikan itu?"
"Tidak. Aku tidak tahu apakah dia mengetahui tentang Al atau bukan. Setahuku hanya Al yang mengenalinya." jawabnya.
"Jauhkan dia dari Al! Kita tidak pernah tahu apa yang diketahui gadis itu. Jangan sampai dia menjadi ancaman buat kita." perintahnya.
"Aku akan menyingkirkannya dari kehidupan Al." setelah memberikan informasi mengenai Ayuna pada orang itu, Monika menutup kembali ponselnya.
"Aku harus mencaritahu dulu, Apakah dia mengenali Al atau tidak." dia kembali menghubungi seseorang.
"Aku ingin bertemu!" ucapnya, saat orang yang dia hubungi mengangkat telponnya. "Taman Kota jam 17.00 wib." setelah mengatakan itu Monika kembali menutup teleponnya. Tapi dia masih terus mondar-mandir tidak karuan.
"Apa aku beritahu mas Candra mengenai Mahen?" di kamarnya Soraya tampak berpikir keras. Dia tidak lagi bisa membantu putranya. Karena keputusan Hans sudah bulat. Soraya berharap agar suaminya bisa membantunya mengendalikan Mahen. "Coba saja kalau mas Candra disini, pasti aku tidak akan kebingungan seperti ini. Soraya mencoba menghubungi nomor suaminya, tapi tidak bisa tersambung. "Sepertinya dia sedang sibuk." dia meletakkan ponselnya diatas nakas. "Lebih baik aku menemui Mahen, dia harus tahu semua ini." dia berjalan mejunu walk in closet, bersiap-siap untuk menemui putranya.
"Kalian mau kemana?" melihat putri dan menantunya akan keluar, Hans menghentikan mereka.
"Aku akan bertemu dengan Mahen, Pa." jawab Soraya, Hans menatap ke arah Monika.
"Aku ada janji dengan teman." jawabnya. Hans tidak lagi bertanya apapun, mereka segera keluar dari rumah, menaiki mobil masing-masing.
"Taman Kota." perintah Monika pada supirnya. Mobil Monika pergi ke arah yang berlawanan dengan Soraya.
"Semoga saja Mahen sudah pulang." ucapnya saat melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 16.30 wib. Soraya mencoba menghubungi ponsel Mahen, tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, dan Mahen mengangkat telpon darinya.
"Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Kamu dimana, Nak?" tanya Soraya begitu memdengar suara Mahen.
"Aku di kantor."
"Ada yang ingin mama bicarakan, kamu tunggu disana ya. 10 menit lagi mama sampai." ucapnya.
"Baiklah."
"Pak, kita ke Ivander Group ya!" Soraya mengubah tujuannya pada si supir.
"Baik, Nyonya." Sopir itu segera mengarahkan mobilnya menuju Ivander Group sesuai dengan perintahnya.
πππ
"Ayo, kita pulang!" ajak Al pada Yuna. Ayuna mengangguk, dia membereskan mejanya dan tidak lupa mematikan komputer miliknya. Setelah itu dia meriah tas dan juga ponselnya. Mereka berjalan bersama menuju lift.
"Kita langsung pulang atau mau dinner dulu?" tanya Al padanya.
"Take away, gimana? Aku letih banget."
"Boleh, mau makan apa?" Al setuju dengan idenya.
"Hmm, Ayam Krispi saja." Yuna menyebutkan makanan cepat saji yang menjadi kegemarannya.
"Junk food itu gak baik untuk kesehatan. Kita pesan di restoran biasa saja." tolak Al.
"Bosan." rengeknya, Alvaro mengacak-acak rambut Yuna.
"Ih,, Al!" teriaknya saat Al keluar begitu saja dari lift. Ayuna mengejarnya sambil merapikan rambutnya. Alvaro tertawa melihat wajah Yuna cemberut. Tapi, tawanya seketika berhenti saat melihat Soraya berada di depannya.
"Al!" sapa Soraya padanya.
"Ada apa tante kemari?" tanya Al, Yuna menatap padanya.
"Tante ada perlu dengan Mahen. Kamu apa kabar?" Soraya masih sempat menanyakan kabar keponakannya itu.
"Baik." jawab Al dingin.
"Kabar kamu bagaimana, sayang?" Soraya beralih pada Yuna yang berdiri di sebelah Al.
"Aku juga baik, Tante." Yuna tersenyum padanya.
"Tante, sendiri gimana?" tanya Yuna.
"Yah, seperti yang kamu lihat, tante baik-baik saja." jawabnya.
"Mama." obrolan mereka terhenti saat memdengar suara Mahen dari belakang. Mahen mendekat pada mereka. "Mama sudah lama menunggu?" tanyanya.
"Belum, mama baru saja sampai." Soraya memeluknya.
"Kamu sudah mau pulang, Na?" Mahen bertanya pada Yuna.
"Iya." Yuna melirik sekilas pada Al yang berubah menjadi dingin sejak kedatangan Mahen.
"Gimana kalau kita dinner bareng?" Mahen menawarkan Al dan Yuna untuk bergabung bersama mereka. Soraya menatap putranya, seolah ingin mengatakan bahwa itu tidak perlu.
"Tidak perlu, kami sudah ada janji." Alvaro terlebih dahulu menolak idenya. "Kami duluan!" Al menarik tangan Yuna.
"Maaf, Tante, Mahen, kita duluan ya!" Ayuna menyempatkan diri berpamitan pada mereka.
"Kalian hati-hati." pesan Soraya.
"Al pelan-pelan dong, nanti aku jatuh nih." Yuna memprotes Al yang menarik tangannya sehingga dia kesusahan untuk menyamakan langkahnya dengan Al. Alvaro berhenti dan melepaskan pegangannya.
"Ih, apaan sih? Aku bisa jalan sendiri." Yuna buru-buru meninggalkan Al, sebelum Alvaro berbuat nekat yang akan mempermalukan dirinya.
"Yuna, tunggu!" teriak Al. "Sayang!!" ulangnya membuat beberapa karyawan yang ada disana menoleh padanya, Termasuk Soraya dan Mahen. Mahen mengepalkan tangannya melihat sikap Al pada Yuna.
"Ayo, Nak!" Soraya seolah tahu apa yang dirasakan putranya saat ini, segera mengajak Mahen keluar menuju mobilnya. Mobil Al lebih dahulu meninggalkan Ivander Group. Mereka menuju ke Star Cafe.
"Apa yang ingin mama katakan?" tanya Mahen begitu pelayan yang mengantarkan pesanan mereka pergi.
"Makanlah dulu!" ucapnya, Mahen mengikuti perintahnya.
"Sebenarnya, mama mau beritahu kamu bahwa kakekmu sudah merestui hubungan Al dan Yuna." Mahen menghentikan makannya.
"Kapan?" tanyanya.
"Mama baru saja tahu, dan keputusan beliau sudah bulat." rahang Mahen mengeras, dan terlihat kemarahan di matanya.
"Mama rasa sebaiknya kamu menghentikan semuanya, Nak. Jangan menyakiti dirimu terlalu dalam." Soraya memegang tangannya. Mahen menarik tangannya dari Soraya.
"Aku tidak bisa berhenti lagi." ucapnya, Soraya kaget.
"Tapi, Nak ..."
"Ma, selama ini aku belum pernah jatuh cinta sedalam ini pada seorang wanita. Entah kenapa, dengannya aku merasa seperti memiliki ketertarikan yang begitu besar." Mahen menjelaskan apa yang dia rasakan untuk Yuna. "Aku tidak akan sanggup jika dia menjadi milik orang lain."
"Tapi, Sayang, kamu tidak bisa memaksakan perasaanmu pada Yuna." Soraya tidak menyerah untuk meyakinkannya. Mahen terdiam.
"Aku pasti bisa meyakinkannya!" sebenarnya Mahen ragu, tapi dia tetap harus bisa mendapatkan Yuna.
"Aku akan bicara pada kakek." ucapnya.
"Sayang, mama minta tolong akhiri semua ini." pintanya. "Mama tidak mau kalau keluarga kita sampai hancur hanya karena seorang wanita." ucapnya.
"Seharusnya mama mengatakan itu pada Al. Dia yang harus melepaskan Yuna. Bagaimanapun caranya aku pasti akan mendapatkannya."
"Cukup, Mahen!!" teriaknya. "Mama tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri." ucapnya.
"Aku tidak akan hancur! Alvaro yang akan hancur, bukan aku." Mahen berdiri dan meniggalkan Soraya begitu saja. Soraya jatuh terduduk di kursinya.
"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini?" Soraya menangis melihat perubahan putra semata wayangnya. "Dulu, kamu adalah putraku yang paling membanggakan." dia tidak bisa membendung airmatanya.
πΈπΈπΈ
"Ayo, makan! Tadi katanya lapar!" Al membangunkan Yuna yang tertidur di sofa.
"Nanti saja, aku ngantuk!" tolaknya.
"Aku tidak mau kamu sakit. Ayo, makan!" Al menarik tangan Yuna agar dia bangun.
"5 menit lagi!" Ayuna kembali berbaring dan menutup matanya. Al duduk di sofa yang sama dengan Yuna. Dia terus menatap wajah Yuna, Alvaro tersenyum. Dia menemukan cara ampuh yangl akan membuat Yuna segera bangun.
"Sayang, bangun dong!" Al menyentuh bahu Yuna.
"Sebentar, Al!" Yuna menepis tangan Al. Alvaro tidak kehabisan akal, dia berbaring di sofa yang sama dengan Yuna dan memeluk Ayuna dari belakang. Sofa itu semakin terasa sempit untuk mereka berdua.
"Aagghh!!" Yuna mendorong Al hingga jatuh ke lantai.
"Aaww!!" Al memegang bokongnya yang terasa sakit. "Kamu tega banget, sih?" Al berpura-pura kesakitan.
"Hah? Sakit ya?" Yuna ikut duduk di lantai dan mulai khawatir melihat Al meringis. "Mana yang sakit?"
"Ini." Al menunjuk bokongnya.
"Agh, kamu apaan sih?" Yuna kembali mendorongnya.
"Kamu gimana sih? Bukannya bantuin malah nyakitin lagi." ucap Al.
"Abis kamu nyebelin!" Yuna berdiri dan meninggalkan Al.
"Kamu mau kemana?" teriak Al.
"Kamar." jawab Yuna.
"Jangan tidur lagi! Kita makan dulu!" Al kembali berteriak.
Yuna berjalan menuju kamarnya, sesampainya disana Ayuna kembali berbaring.
"Perutku sakit banget!" Ayuna memegang perutnya.
"Ayuna, cepat keluar!" baru saja dia akan terlelap, Al kembali mengedor pintu kamarnya. Karena tidak ada jawaban darinya, Al membuka pintu kamar Yuna yang kebetulan tidak di kunci.
"Kenala tidur lagi? Ayo, bangun!" Al menguncang tubuh Yuna.
"Jangan berisik, kamu keluar saja!" suara Yuna terdengar parau.
"Kamu kenapa?" Al membuka selimut Yuna, dan melihat Ayuna yang sedang meringkuk sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa?" Al khawatir melihat kondisi Yuna, keringat bercucuran di dahinya. "Tunggu disini, aku hubungi Andreas dulu." Al bangkit dari tempat tidur, tapi Yuna mencengkram tangannya.
"Tidak perlu." ucap Yuna pelan.
"Tidak perlu gimana? Lihatlah kondisimu saat ini." Ayuna menarik ujung baju Al saat dia akan keluar.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya kram perut biasa." jawab Yuna.
"Biar Andreas saja yang menentukan kamu kenapa." Al tidak mau mendengarkannya, dia berjalan keluar untuk mengambil ponselnya.
"Aku hanya mau datang bulan." Al terpaku saat mendengar penjelasan Yuna. "Jadi, aku tidak butuh dokter!" Ayuna menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
~tbc