CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 134



"Apa yang kau lihat? Cepat kejar mereka!" perintahnya pada Jo. Jhosua segera berlari menuju mobilnya dan bergegas menuju ke tempat Alvaro berdiri.


"Semua ini karenamu! Harusnya kau memilih sekretaris yang biasa-biasa saja." Alvaro menyalahkan Jhosua atas apa yang terjadi. Jo tidak mengatakan apapun, dia fokus mencari keberadaan mobil Andreas diantara puluhan mobil yang berseliweran di jalanan.


"Dimana mereka?" Al memperhatikan setiap jalanan. Putus asa, Al menghubungi nomor Yuna. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya." Alvaro semakin kesal. "Awas saja kau cassanova!" geram Al.


"Kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya Andreas saat mobil mereka memasuki sebuah taman hiburan.


"Kamu tenang saja! Aku yakin tidak akan ada masalah dengannya." jawab Yuna.


"Tapi, setelah ini aku yakin dia akan membunuhku." jawab Andreas. Ayuna tertawa.


"Kamu tenang saja, aku akan menjadi perisaimu." mereka tertawa bersama. Ayuna segera turun, begitu Andreas selesai memarkir mobilnya.


"Aku sudah minta mereka untuk mempersiapkan semua yang kamu inginkan, semoga saja hasil kerja mereka bisa memuaskanmu." Mereka masuk ke taman hiburan yang sudah Andreas booking sebelumnya.


"Bagaimana?" tanya Andreas.


"Hmm, bagus! Aku suka!" Yuna puas dengan hasil yang dia dapatkan. Ayuna sengaja mengerjai Al untuk menyiapkan kejutan ini. Dia meminta Andreas untuk membantu mengatur semuanya. Dan hasilnya sangat memuaskan, taman hiburan itu berubah menjadi begitu romantis, tidak jauh berbeda dengan tempat pertama kali mereka bertemu. Kebetulan disana juga tersedia air mancur, sehingga ini benar-benar tempat yang tepat untuk membuat replika dari Night Paradise.


"Kamu bersiaplah! Aku akan menghubungi Al." Ayuna masuk ke ruangan yang telah disediakan oleh pihak pengelola. Andreas benar-benar sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh Yuna.


"Datanglah ke The Memory Park. Aku ada urusan di rumah sakit, jadi aku meninggalkan Ayuna disana." Andreas mengirim pesan pada Al.


"Drrt ... Drttt ..." ponsel Al bergetar.


"Kurang ajar kau, Cassanova! Beraninya kau meninggalkannya seorang diri di tempat seramai itu. Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu padanya." Alvaro semakin emosi saat membaca pesan Andreas. "Kita ke The Memory Park." perintah Al pada Jhosua yang sedang mengemudi.


"Baik, Tuan!" Jhosua segera mengarahkan mobilnya menuju tempat yang Al sebutkan.


"Bagaimana?" tanya Yuna saat melihat Andreas masuk.


"Cantik! Aku yakin Al akan semakin tergila-gila padamu." Andreas berkata jujur, Ayuna memang sangat cantik. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona.


"Mereka sudah tiba, Tuan." lapor petugas yang diperintahkan oleh Andreas untuk memantau kedatangan Al.


"Kamu sudah siap?" tanyanya, Ayuna mengangguk. "Semoga sukses!" Andreas memberi semangat padanya.


"Makasih ya, kamu sudah membantuku sejauh ini." ucapnya.


"Kenapa sepi sekali?" Al melihat ke sekelilingnya. Taman hiburan itu begitu sepi, tidak banyak kendaraan yang terparkir disana.


"Ayo!!" mereka memasuki taman hiburan itu. Al menunggu Jhosua yang sedang membeli tiket. Petugas itu menyerahkan dua buah tiket pada Jo. Setelah itu mereka segera masuk ke dalam.


"Kenapa sepi sekali? Dimana dia meninggalkan Ayuna?" Al mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuna. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini. "Kenapa dia tidak menjawab teleponnya?" Al terlihat begitu khawatir, apalagi dia tahu kalau Ayuna fobia dengan taman hiburan.


"Saya akan mencari nona Ayuna, Tuan." ucap Jo. Tapi, langkahnya terhenti saat lampu sorot mengarahkan mereka pada sosok wanita yang sedang berdiri di depan air mancur. Wanita itu mengenakan dress berwarna putih, dan tangannya sedang memegang satu bucket bunga.


"Ayuna!" Al sangat terkejut saat melihat Yuna sedang tersenyum kepadanya. Al mendekat, dan terpana melihat penampilan Yuna saat ini. Ayuna menyodorkan bucket bunga yang dia pegang pada Al. "Apa ini?" tanya Al.


"Untukmu!" Al menerimanya. "Terima kasih sudah begitu mencintaiku." ucap Yuna, Alvaro tersenyum.


"Jadi kamu gak marah?" tanya Al, Ayuna menggeleng.


"Kenapa aku harus marah?" tanya Yuna


"Karena masalah Mahen dan juga sekretaris baru itu." Al mengingat pertengkarannya siang tadi dengan Yuna.


"Mana mungkin aku marah. Aku tahu betul siapa dirimu. Kamu tidak akan tergoyahkan dengan wanita seperti itu. Aku sangat percaya padamu. Aku yakin cintamu hanya untukku, karena sebelum kamu tahu bagaimana rupaku, kamu sudah terlebih dahulu mencintaiku." Al tersipu saat mendengar pujian dari Yuna.


"Aku mencintaimu, Alvaro Putra Ivander. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku." Al terkejut saat mendengar Ayuna mengutarakan perasaannya. Al segera memeluknya.


"Aku juga sangat mencintaimu." ucap Al saat Yuna berada dipelukannya. Al tersenyum bahagia, kejutan Yuna benar-benar berhasil membuatnya kaget sekaligus bahagia. Al mencium puncak kepala Yuna, kemudian dahinya.


"Apa kamu lupa?" tanya Yuna.


"Mana mungkin aku melupakannya, di tempat seperti inilah, aku pernah bertemu dengan bocah wanita yang sangat galak. Dia bahkan berani bersikap kasar padaku." Yuma mencubit pinggangnya. "Tapi, anak perempuan itu sangat cantik, aku tidak bisa berhenti untuk terus menatapnya." Ayuna kembali meluk Al.


"Ayo kita kesana!" Yuna mengajak Al berkeliling, sementara Jo sudah tidak tahu dimana keberadaannya.


"Kenapa hanya kita berdua disini?" tanya Al, saat tidak melihat siapapun disana kecuali mereka.


"Aku sengaja menyewa tempat ini untuk kita berdua." ucapnya.


"Benarkah?" tanya Al tidak percaya.


"Iya. Andreas membantuku untuk mempersiapkan semuanya." jawabnya.


"Sepertinya aku harus kembali berterima kasih padanya." Ayuna tertawa kecil.


"Tapi, aku menggunakan ini untuk menyiapkan semua ini." dia memperlihatkan kartu yang pernah Al berikan padanya.


"Wah, sepertinya dia sudah mengajarkanmu untuk menghabiskan uangku." Alvaro tertawa, begitupun dengan Yuna.


"Aku ingin menghapus kenangan buruk kita dahulu, dan mengantinya dengan kenangan baru yang jauh lebih indah." ucap Yuna. Al mengemggam tangannya.


"Aku pastikan tidaka akan ada lagi hal buruk yanh terjadu padamu." janji Al. Mereka terus mengitari taman bermain itu, mengukir kenangan indah berdua. Malam ini benar-benar menjadi malam terbaik untuk mereka.


🍀🍀🍀


"Aku sangat membencinya!" Mahen melemparkan gelas yang ada ditangannya ke dinding.


"Mau sampai kapan lo seperti ini?" tanya Gilang yang saat ini menemaninya.


"Aku tidak tahu, kenapa dia sangat suka merebut apa yang menjadi milikku." Mahen yang sedang dibawah pengaruh alkohol terus saja meracau.


"Ikhlaskan mereka, agar hatimu tenang." Gilang tidak bosan terus menasehatinya.


"Tidak akan pernah! Aku akan merebut apa yang menjadi milikku." sahutnya. "Ayuna, aku sangat mencintaimu! Kembalilah padaku!" Mahen tidak sadarkan diri, Gilang hanya bisa geleng-geleng melihatnya.


"Apa yang membuatmu menjadi serapuh ini?" dia sangat iba melihat kondisi sahabatnya itu. Gilang menyelimuti Mahen yang saat ini tertidur di sofa ruang tamunya.


"Apa aku harus berbicara dengan Al? Tapi apa yang akan kukatakan?" Gilang terlihat mondar-mandir tak karuan di ruang tamunya.


🍀🍀🍀


"Pa ... papa!!" Soraya mencari keberadaan Hans di ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya Hans saat melihat putrinya datang dengan terburu-buru.


"Apa papa sudah tahu ini?" Soraya tampak senang.


"Apa?" Hans tidak tahu apa yang ingin putrinya katakan.


"Mas Candra akan pulang, Pa! Dia baru saja menghubungiku." Soraya begitu riang, wajahnya terlihat sangat bahagia saat tahu suaminya akan pulang.


"Baguslah!" jawab Hans dingin.


"Ayolah, Pa! Apa papa tidak senang, setelah sekian lama akhirnya menantu papa pulang." bujuknya. "Aku akan menghubungi Mahen. Dia pasti senang begitu tahu papanya akan segera pulang." Soraya berjalan keluar dari ruang Hans, menuju kamarnya.


"Akhirnya kau pulang juga. Aku ingin tahu kekacauan apa lagi yang akan kau ciptakan." ucapnya.


~tbc