CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 176



"Kamu yakin nggak mau ikut ke kantor?" tanya Al saat mereka sedang sarapan.


"Nggaklah, ntar aku malah gangguin kamu kerja." Yuna memberikan roti yang ada ditangannya pada Al.


"Yakin? Nanti ngambek lagi." Al mengigit roti itu sambil terus mengoda sang istri.


"Apaan sih kamu!" jawabnya. "Aku ada rencana mau ke ketemuan sama teman." Al menoleh.


"Siapa?" tanya Al.


"Teman kuliah dulu. Kebetulan dia sekarang kerja disini." jelasnya.


"Cewek apa cowok?" tanya Al.


"Cewek." Al mengangguk dan memberi izin padanya.


"Oh, iya, aku baru ingat. Sayang, apa kamu nggak bisa kasih izin Jo untuk cuti?" tanya Yuna.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Al.


"Memangnya kamu nggak tahu kalau Jo ada rencana untuk menikah?" Alvaro tersedak roti yang sedang dia telan. Yuna memberinya segelas air.


"Menikah?" Al terkejut dengan kabar yang Yuna sampaikan.


"Iya. Karena kamu rencana pernikahannya hampir saja dibatalkan." jawabnya.


"Kenapa salahku?" Al masih belum mengerti.


"Gimana dia mau nikah kalau buat lamaran aja dia nggak bisa. Kamu buat dia sibuk terus sih. Dia bahkan nggak bisa nemuin orangtua Gina. Padahal Jo sudah lama melamar Gina." Alvaro manggut-manggut.


"Jadi, mereka akan menikah?" tanya Al lagi.


"Harusnya kamu sebagai sahabatnya bantuin dia. Bukan malah nyuruh dia buat kerja mulu." omel Yuna.


"Aku rasa dia pasti membutuhkan bantuan kita." jawab Al. "Jhosua sudah tidak punya siapa-siapa lagi." lanjutnya saat seperti mengetahui arti tatapan Yuna.


"Benarkah? Lalu, apa Jo akan menemui orangtua Gina seorang diri?" Ayuna merasa iba pada pria itu.


"Dia nggak akan sendiri. Aku akan memberitahu kakek. Biar gimanapun juga kakek sudah menganggap Jo sebagai cucunya juga." Ayuna terlihat lega.


"Syukurlah!" jawabnya.


"Ya sudah, Aku berangkat ya!" seperti biasa Al selalu mencium dahi Yuna.


"Kamu hati-hati." Al mengangguk.


"Aku harus bersiap, Naomi pasti menungguku." Yuna bergegas ke kamarnya.


"Tuan, ini berkas yang anda minta." Jo memberikan berkas itu padanya. "Ada apa, Tuan?" tanyanya saat melihat Alvaro menatap tajam ke arahnya.


"Apa selamanya kau tidak akan memberitahuku?" tanya Al.


"Apa maksud anda?" Jhosua belum mengerti apa yang ingin dikatakan Al.


"Apa kau hanya menganggapku sebagai bosmu saja?" Jhosua semakin bingung. "Apa hanya aku yang menganggapmu sebagai sahabat?" lanjutnya.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya tidak mengerti apa yang anda maksud." jawab Jo.


"Aku bertanya mengenai pernikahanmu." Jhosua terkejut. "Apa kau tidak akan memberitahuku?"


"S-saya ...." Jhosua masih terkejut. Dia bingung darimana Al tahu mengenai ini.


"Jo, kita sudah lama bersahabat. Apa kau tidak bisa membagi masalahmu denganku? Apa kau pikir aku tidak akan mengizinkanmu menikah?" tanya Al.


"Bukan begitu. Saya hanya tidak ingin menganggu fokus anda pada proyek Earth Corp." Jo mengerti gimana sibuknya Al dengan proyek ini. Saat ini dia tidak mungkin mengajukan cuti.


"Masa depanmu juga penting." timpal Al. "Mulai besok kau bisa cuti." ucapnya.


"Tapi, Tuan ...." selanya.


"Kau tenang saja, selama kamu cuti aku bisa menanggani semuanya." ucapnya.


"Terima kasih, Tuan." jawab Jo.


🍀🍀🍀


"Dimana dia?" Ayuna mencari keberadaan temannya, Naomi. "Sepertinya itu deh." Yuna berjalan menuju ke meja seorang wanita berambut panjang dan sedikit bergelombang.


"Naomi!" sapa Yuna. Wanita itu berbalik dan tersenyum padanya.


"Ayuna!!" mereka berpelukan.


"Lama banget ya kita nggak ketemu." ucap Yuna. Dia segera duduk di sofa yang ada didekat Naomi. "Kamu apa kabar?" tanyanya.


"Baik. Kamu?"


"Aku juga baik." jawab Yuna.


"Sejak kapan kamu pindah ke Jakarta? Bukannya kamu udah betah ya di Sydney?" tanya Yuna setelah pesanan datang.


"Aku sih memang betah. Tapi, kamu tahu sendiri gimana papa. Dia selalu saja memaksaku untuk pulang." jelasnya.


"Kamu sendiri gimana? Udah nikah sama Angga?" Naomi adalah sahabat Yuna semenjak duduk di bangku SMA. Jadi, dia cukup tahu mengenai hubungan Yuna dan Angga.


"Aku memang udah nikah, tapi bukan sama Angga." jawabnya.


"Apa? Kok bisa?" dia terlihat kaget.


"Yah, bisa. Namanya juga jodoh. Itukan rahasia tuhan." ucapnya. "Kamu sendiri?" Yuna balik bertanya.


"Belum. Aku belum nemu yang cocok." ucapnya.


"Kamu sih, dari dulu kebanyakan milih. Mentang-mentang banyak yang naksir." ledeknya.


"Bukan begitu, Na. Tapi, saat ini ada satu pria yang membuatku berdebar-debar." jawab Naomi.


"Oh, ya? Siapa?" tanya Yuna.


"Percuma saja aku bilang, kamu juga nggak akan tahu." ucapnya.


"Katakan padaku, seperti apa dia?" tanya Yuna.


"Pastinya tampan, dia seorang pengusaha muda. Aku baru bertemu dengannya, tapi entah kenapa aku begitu tertarik padanya." wanita yang Yuna panggil Naomi itu senyum-senyum sendiri.


"Kamu baru mengenalnya?" Yuna sedikit terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Ya." Naomi mengangguk.


"Gimana bisa kamu langsung jatuh hati. Padahal, belum tahu seperti apa orang itu." Ayuna tidak percaya dengan sifat sahabatnya itu.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu sudah tahu banyak tentangnya? Maksudku, apa dia sudah menikah? Atau sudah mempunyai kekasih?" Yuna mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Naomi menggeleng.


"Ya ampun, Naomi. Kamu sama sekali tidak berubah. Apa bertahun-tahun hidup di luar negeri tidak memberimu pengalaman mengenai lelaki?" Ayuna geleng-geleng.


"Aku sangat yakin dia masih sendiri, Na." dia terlihat yakin.


"Dari mana kamu tahu? Apa kamu sudah menyelidikinya?" Naomi terdiam.


"Siapa namanya? Aku akan membantumu." Naomi tersenyum lebar.


"Benarkah?" Yuna mengangguk.


"Namanya ...."


"Wah, kita bertemu lagi!" mereka menoleh saat seorang pria berdiri di depan meja mereka. Wajah Yuna langsung berubah dingin.


"Kamu mau apa?" tanya Yuna saat melihat Bumi.


"Eits! Jangan marah-marah begitu, Nona. Aku hanya ingin menyapamu." jawab Bumi.


"Aku sudah menikah." sanggah Yuna.


"Yah, terserahlah! Apa aku boleh bergabung?" Ayuna segera melotot.


"Tidak!"


"Ya." mata Yuna membesar saat mendengar Naomi mengizinkannya untuk bergabung bersama mereka. Bumi segera duduk disebelah Yuna. Ayuna menghindar dan memilih bergeser ke sebelah Naomi.


"Kenapa kamu mengizinkannya?" tanya Yuna.


"Aku nggak mungkin bisa nolak cowok setampan ini." bisik Naomi.


"Kamu nggak pernah berubah." ucap Yuna.


Dari dulu Naomi memang selalu seperti ini. Setiap kali melihat pria tampan, hatinya langsung meleleh. Naomi terkenal ramah dengan setiap pria. Sehingga, tidak terhitung berapa banyak pria yang sudah berkencan dengannya.


"Apa kalian akan terus mengabaikanku?" tanya Bumi, karena sejak tadi melihat mereka berbisik.


"Memangnya kamu siapa?" ketus Yuna.


"Na, kamu kok ngomongnya begitu." Naomi menghentikannya. "Maafkan temanku. Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Aku Naomi, sahabat Yuna." Naomi mengulurkan tangannya.


"Bumi." ucap Bumi setelah menjabat tangannya.


"Apa kalian berteman?" tanya Naomi.


"Tidak." jawab Yuna.


"Ya." ucap Bumi.


"Mana yang benar?" tanyanya lagi.


"Aku nggak kenal dia." ucap Yuna.


"Aku sangat mengenalmu." balas Bumi.


"Kau ...."


"Ah, sudah, sudah." Naomi melerai mereka.


"Jadi, tuan Bumi, apa pekerjaanmu?" tanya Naomi, Yuan meminum jus miliknya.


"Aku tidak mempunyai pekerjaan." Naomi terlejut, sementara Yuna seolah tidak peduli.


"Benarkah? Kalau begitu kamu bisa bekerja denganku. Aaww!!" Naomi kesakitan saat Ayuna memukul lengannya. "Apa yang kamu lakukan?" ucapnya.


"Kamu itu, gimana mungkin kamu meminta orang yang baru kamu kenal untuk bekerja denganmu? Gimana kalau dia itu orang jahat?" marahnya.


"Nggak mungkin cowok setampan dia penjahat." belanya.


"Kamu nggak bisa nilai orang dari tampangnya saja. Zaman sekarang banyak penjahat yang berwajah malaikat." sela Yuna. Mereka berdua sibuk beradu argumen.


"Hey! Nona! Orang yang kalian bicarakan disini." Bumi menunjuk dirinya. Mereka sibuk berdebat tentang dirinya di depan matanya.


"Maafkan, temanku ini. Dia memang sedikit takut jika berhadapan dengan orang baru." Ayuna terlihat kesal dengan Naomi yang selalu menyalahkannya.


"Tidak apa-apa. Aku sangat mengenal dirinya. Walaupun dia jutek, tapi hatinya sangat baik." Bumi memuji Yuna.


"Sudahlah, aku mau pulang." Ayuna bersiir dan meriah tasnya.


"Loh, kok pulang?" Naomi terkejut.


"Aku sudah janji mau mampir ke tempat suamiku." jawabnya.


"Aku antar?" tanya Naomi.


"Tidak perlu. Aku sama sopir." Yuna berdiri dan memeluk Naomi.


"Apa kau tidak akan berpamitan padaku?" Bumi mencegahnya.


"Buat apa? Kau bukan siapa-siapaku." Ayuna berjalan meninggalkan meja mereka. Bumi masih saja memperhatikannya dan Naomi menyadari itu.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Naomi.


"Tentu saja." jawab Bumi.


"Tapi, dia sudah menikah." ucapnya.


"Aku tahu itu. Tapi, tidak ada yang salah dengan menyukai seseorang yang sudah menikah. Aku hanya menyukainya, bukan ingin memilikinya." jelasnya. Naomi terkejut, dia tidak menyangka Bumi akan seterus terang itu mengenai perasaannya.


"Oh, iya, gimana dengan tawaranku tadi?" Naomi mengalihkan pembicaraan.


"Maaf, tapi aku tidal tertarik." tolaknya.


"Kenapa tidak?" tanyanya. "Aku akan memberimu posisi yang pantas." bujuknya.


"Memangnya perusahaan apa yang kau miliki?" tanya Bumi.


"Tano Construction." ucapnya.


"Sekali lagi, maafkan aku! Tapi, aku tidak tertarik. Permisi!" Bumi berjalan meninggalkan Naomi.


"Tano Construction ...." Bumi tersenyum penuh arti saat sampai di dalam mobilnya.


~tbc