
"Makanlah, Nak!" oma meletakkan nampan yang dia bawa di nakas Soraya. Sudah dua hari sejak kepergian Mahen. Awalnya oma Tyas ingin segera kembali ke Malang, tapi Hans memintanya untuk tetap tinggal sampai hari pernikahan Al dan Yuna. Mereka sengaja tidak mengubah tanggal pernikahan mereka karena Al merasa 10 hari sudah cukup untuk masa berduka bagi mereka.
Soraya masih tidak beranjak dari pembaringannya. Sudah dua hari juga dia berdiam diri di kamarnya. Dia masih sangat berduka atas kepergian Mahen.
"Nak, kamu tidak boleh terus seperti ini. Kasihan putramu." oma Tyas berusaha menasehatinya. Soraya menatapnya dengan mata sayu dan sembab.
"Lalu aku harus apa tante? Satu-satunya alasanku untuk hidup sudah tiada." jawabnya.
"Sayang, kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Apakah keluarga ini tidak ada artinya untukmu? Gimana dengan papamu? Dia masih ada hingga saat ini karenamu. Aku dan papamu sudah lebih dahulu mengalaminya. Jadi, kami tahu seperti apa perasaanmu saat ini." Soraya menoleh padanya. "Ayo, di makan ya!" oma Tyas mengambil nampan tadi dan menyuapkan nasi itu padanya. Soraya membuka mulutnya dan mengunyah nasi itu dengan perlahan.
Sekarang Hans bisa bernapas lega. Sejak tadi dia terus memperhatikan mereka. Akhirnya berkat bujukan Tyas putrinya mau makan.
"Ayo, Ken, kita harus menemui seseorang." dia berjalan menuju pintu keluar
Mereka sampai di kantor polisi, tempat Candra di tahan untuk saat ini. Karena kasusnya masih dalam tahap penyelidikan. Setelah melalui berbagai prosedur akhirnya Hans melihat menantunya itu datang dengan memakai baju tahanan. Dirinya terlihat tidak terurus, bahkan tatapannya terlihat kosong.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Hans. Candra diam saja, dia bahkan tidak menatap Hans yang duduk di depannya. "Aku kesini bukan untuk mendengar alasanmu melakukan semua itu. Aku hanya ingin agar kau bercerai dari putriku." Candra memgangkat kepalanya.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Candra.
"Menurutmu? Apa kau pikir dia akan baik-baik saja setelah kehilangan putranya?" raut wajah Candra kembali murung saat ada yang mengatakan tentang putranya. "Besok pengacaraku akan datang untuk mengurus berkas perceraian kalian." Hans berdiri bersiap untuk meninggalkannya.
"Apa kau pikir semua ini kesalahanku?" pertanyaannya mencegah Hans. "Kau yang bersalah untuk apa yang terjadi. Kau yang membuatku menjadi yatim piatu. Kau yang membutku melakukan ini." Candra mengeluarkan semua yang dia pendam selama ini.
"Dari awal aku sudah tahu siapa dirimu. Bukan aku yang menyebabkan mereka meninggal. Mereka tiada karena pilihan mereka sendiri. Jika saja mereka mau bertahan dan melalui semua cobaan itu, aku rasa kau tidak akan menjadi seperti ini." tubuh Candra bergoyang, Hans benar tidak seharusnya dia menyalahkan Hans atas kesalahan yang diperbuat kedua orangtuanya. Mereka bangkrut karena gaya hidup mereka yang mewah dan suka berfoya-foya. Tapi dia malah menyalahkan Hans untuk semua yang terjadi.
🍀🍀🍀
"Kita mau kemana, Al?" tanya Yuna.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat " Al mengenggam tangannya. Ayuna juga sudah dua hari ini masih terlihat sedih. Al tahu dia pasti masih merasa bersalah atas kepergian Mahen. Mobil Al memasuki taman hiburan terbesar yang ada di kota itu.
"Kenapa kita kesini?" tanyanya.
"Nanti juga kamu akan tahu." Al mengajaknya turun. Mereka berjalan kesana dengan tangan yang saling bertautan.
"Selamat malam, Tuan." ucap karyawan yang bertugas di taman hiburan itu.
"Semuanya sudah siap?" tanya Al.
"Sudah, Tuan." jawabnya. Lalu mengajak mereka masuk ke dalam.
"Apa yang kamu lakukan?" mendengar pembicaraan mereka, Ayuna tahu kalau Al mempersiapkan sesuatu di dalam sana. Alvaro hanya tersenyum, tanpa mengatakan apapun. Ayuna mendengar riuh tepuk tangan saat mereka sampai di lokasi permainan. Ayuna dibuat terkejut karena sahabatnya ada disana, begitupun dengan karyawan lainnya.
"Apa ini, Al? Kenapa semua ada disini?" Ayuna menoleh padanya.
"Mereka semua ingin menghiburmu." jawab Al.
"Tuan Al berkata benar. Kami ingin kembali melihat senyuman di wajahmu." ucap Gina. Ayuna tersenyum dan memeluknya.
"Kalian bisa bermain sepuasnya!" teriak Al, semua orang yang berada disana bersorak bahagia. Mereka mulai menyerbu area permainan itu. Ayuna kembali menatap Alvaro.
"Tapi, kenapa disini?" tanyanya.
"Ayo, Na!" ajak Gina, dia mengangguk dan mengikuti kedua rekannya untuk menikmati wahana yang ada disana.
"Ide saya briliant -kan ,Tuan?" ini memang ide Jo. Al yang resah melihat Ayuna yang selalu murung, akhirnya memberikan saran ini.
"Yah, kau benar!" ucapnya saat melihat Ayuna yang tertawa bersama kedua sahabatnya.
"Al, kenapa masih disana? Ayo, kemari!" teriak Yuna saat mereka sedang berada di atas komedi putar.
"Ayo, Jo! Jangan biarkan wanita kita menunggu lama." mendengar perkataan Al, Jhosua terkejut. Mereka bergabung dengan Yuna, Gina dan Karin.
Ayuna seperti melupakan semua kesedihannya. Dia mencoba segala wahana yang ada disana. Alvaro senang karena usahanya berhasil untuk membuat Ayuna kembali tertawa.
"Kamu gak capek?" tanya Al saat mereka sedang duduk di taman. Sesekali Ayuna menyapa rekan kerjanya yang kebetulan lewat disekitar mereka.
"Gak. Aku malah senang banget. Udah lama aku gak main seperti ini." ucapnya sambil tertawa.
"Aku senang melihatmu seperti ini. Dengan begitu pernikahan kita akan diisi dengan kebahagiaan. Bukan wajah sedihmu." Al mengenggam tangannya.
"Makasih ya, kamu udah buat aku kembali ceria." Ayuna menatap lekat mata wanita yang begitu dia cintai.
"Apa tidak ada balasannya untukku?" godanya.
"Balasan?" Ayuna tidak mengerti.
"Apa kamu gak mau memelukku? Atau menciumku juga boleh." Al mencondongkan tubuhnya ke arah Yuna.
"Apaan sih Al? Malu tahu!" Yuna mendorongnya agar menjauh. Tapi, Alvaro malah menariknya ke dalam pelukannya.
"Al ..." Yuna kembali meronta, dia malu menjadi tontonan oleh karyawan yang lain.
"Aku mencintaimu! Ayuna, aku sangat mencintaimuuuu!!!" teriak Al, memdengar CEO mereka menyatakan perasaan pada Ayuna. Semua yang ada disana bertepuk tangan memberi selamat. Bahkan beberapa dari mereka ada yang tidak segan meminta Al untuk mencium Ayuna. Yuna yang malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Al.
"Aku juga sangat mencintaimu!" ucap Yuna seperti berbisik.
Semua orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Alvaro dan Ayuna yang diselenggarakan beberapa hari lagi. Sementara Al dan Yuna sudah lebih dahulu berada di puncak. Mereka sengaja memilih tempat itu karena konsep pernikahan yang mereka inginkan berada disana. Ayuna sudah sibuk dengan segala persiapan, sementara Al masih berkutik dengan beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Al, jalan yuk!" ajak Yuna.
"Sebentar lagi, Sayang! Aku harus mengirimkan ini pada Jo." ucapanya tanpa beralih dari depan laptopnya.
"Dari tadi sebentar mulu. Aku bosan nih." jawabnya.
"Iya, sebentar!" Ayuna yang sedang kesal meninggalkan Al disana seorang diri.
"Lebih baik aku jalan-jalan sendiri aja." Ayuna keluar dari kamar Al, dan mulai mengitari hotel tempat mereka menginap.
Suasana disana begitu sejuk dan asri. Apalagi hutan-hutan pinus yang ada di belakang hotel membuat suasana semakin menyejukkan. Ayuna tersenyum dan mulai menepaki jalan setapak itu.
"Ayo, kita pergi!" Al mencari keberadaan Yuna. "Dimana dia?" tanyanya.