
"Al, Kenapa kamu menculiknya?" Yuna geram karena Al tidak menjawab pertanyaannya.
"Karena dia penyebab kecelakaanmu." akhirnya Al bersuara.
"Tapi, bukan seperti itu caranya. Kamu harusnya menyerahkan dia ke polisi." ucap Yuna.
"Orang sepertinya tidak akan mendapatkan efek jera jika langsung diserahkan pada polisi. Dengan uang papanya, dia bisa bebas dalam hitungan jam. Jadi, aku harus memberinya hukuman agar tidak lagi berani mengulangi kesalahannya." Ayuna masih tidak percaya Alvaro sanggup melakukan itu.
"Kamu tidak seharusnya melakukan itu." Yuna sangat kesal. "Lalu, dimana tuan James?" tanyanya.
"Aku sudah mengirimnya pulang ke rumahnya." jawab Al.
"Kamu tidak bohong?" Yuna menilik wajah Al.
"Aku berkata yang sebenarnya." Setelah mendengar ucapan Al, Yuna bergegas meninggalkan kantor polisi.
"Mau kemana?" cegah Al.
"Pulang!" Yuna masih kesal.
"Apa kamu marah?" Al mengejar Yuna. "Aku melakukan itu karena aku sangat marah padanya. Bisa-bisanya dia membuatmu terluka parah." Yuna berhenti dan menatap Al.
"Tapi bukan seperti itu caranya. Apa kamu tidak berpikir jauh? Bagaimana jik terjadi sesuatu padanya? Dan, kamu disalahkan atas apa yang menimpanya? Aku tidak mau kamu menjadi penjahat seperi mereka. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Alvaro menyunggingkan senyuman saat mendengar isi hati Yuna. "Kenapa senyum-senyum?" tanyanya.
"Ternyata kamu sekhawatir itu padaku." ucap Al.
"Siapa bilang?" Yuna berkilah.
"Aku bisa lihat di dalam kemarahanmu tersimpan kekhawatiran yang besar untukku." Ayuna terdiam. "Apa kamu sebegitu mencintaiku?" godanya.
"Apa? Siapa? Aku?" Al tertawa melihat Yuna salah tingkah. "Ah, sudahlah! Aku mau pulang." Yuna berjalan mendahuluinya.
"Sayang, Tunggu!!" teriak Al, Yuna berlari ke arahnya dan menutup mulutnya.
"Kamu apaan sih? Malu tau!" Yuna melihat beberapa petugas yang tersenyum melihat ke arah mereka.
"Kenapa harus malu? Aku berhak untuk memanggilmu seperti itu." jawabnya.
"Iya, iya, ayo pulang!" ajak Yuna.
"Ayuna!" panggilnya saat Yuna berjalan menuju mobil Al. Ayuna berbalik dan melihat Al masih berdiri di tempat yang sama. "Aku mencintaimu!!" teriaknya. Terdengar riuh tepuk tangan dari beberapa petugas yang berada di luar. Beberapa dari mereka berteriak dan memberi semangat pada Al. Ayuna kembali berlari ke arah Al dan menarik Al menuju mobilnya. Masih terdengar sorak sorai para petugas, saat mereka masuknke mobil.
"Jalan!" perintah Yuna. Al hanya menatapnya. "Al, Jalan!" ulang Yuna. Al menghidupkan mobilnya dan mulai melajukan kendaraannya. Saat melewati para petugas yang tadi bersorak Al membuka kaca mobilnya.
"Terima Kasih, Pak!" ucapnya. Mereka bersama-sama mengacungkan jempol. Ayuna menutup wajahnya. Kemudian Al melajukan mobilnya meninggalkan kantor polisi.
Mahen mengenggam erat kemudinya saat melihat apa yang terjadi di depannya. Awalnya dia datang untuk memenuhi panggilan polisi sebagai saksi atas kasus Yuna. Tapi, saat dia akan keluar dari mobil, dia melihat Al dan Yuna yang sedang berdebat, Mahen membuka sedikit kaca mobilnya dan terus memperhatikan mereka. Sampai dia mendengar pernyataan cinta Al barusan. Hatinya dipenuhi amarah, dia tidak rela melihat Al memiliki Yuna. Dia masih yakin Al hanya memanfaatkan Yuna untuk kepentingannya sendiri.
🌸🌸🌸
"Kamu dari mana?" tanya Hans saat melihat Soraya baru saja pulang.
"Aku ..." Soraya bingung harus berkata apa.
"Apa kamu menemui Mahen?" tebak Hans, Soraya mengangguk.
"Apa yang putramu katakan?" tanyanya.
"Dia tidak berkata apapun, Pa." Hans terdiam. "Pa, sebaiknya kita beri dia ruang, biarkan dia menata hatinya kembali. Aku yakin dia akan melupakan Yuna. Jika kita memaksanya, aku takut dia akan berbuat nekat." Soraya mencoba meyakinkan Hans untuk tidak memaksa Mahen.
"Bagaimana jika sebaliknya? Apa yang akan kamu lakukan jika dia tidak bisa melepaskan wanita kakaknya?" Hans menatapnya tajam. "Apakah aku harus memisahkan Al dan Yuna demi kebahagiaan putramu?" tanyanya.
"Bukan seperti itu, Pa." jawabnya.
"Lalu? Aku tidak bisa melihat kedua cucuku memperebutkan satu wanita. Salah satu dari mereka harus mengalah. Dan, kamu tahu Al tidak akan pernah menyerah. Jadi, Mahen harus melepaskannya, bagaimanapun caranya." Hans berdiri dan berjalan meninggalkan Yuna.
"Pa, Apakah harus Mahen yang selalu mengalah?" Hans menghentikan langkahnya dan berbalik menatap putrinya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Apa papa selama ini tidak berlebihan? Aku tahu Al sudah tidak mempunyai orangtua, tapi Mahen juga cucu papa. Dia juga mempunyai hak yang sama dengan Al. Papa selalu membedakan mereka, selama ini papa selalu lebih mengutamakan Al." Soraya menangis mengingat perasaan putranya.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu padaku?" tanya Hans.
"Aku berkata yang sebenarnya! Papa hanya peduli pada Al. Mulai dari perusahaan, bahkan untuk urusan hati. Papa hanya memikirkan Al, coba sedikit saja papa memikirkan bagaimana perasaan Mahen?" ucapnya.
"Aku tidak pernah membeda-bedakan mereka. Al dan Mahen sama untukku." jawab Hans.
"Papa bohong!" Soraya berteriak.
"Aku tidak menyangka kalau kau bisa berpikiran seperti ini. Aku pikir kau begitu menyayangi Al seperti putramu sendiri. Ternyata aku salah!"
"Bagaimanapun aku tetap seorang ibu, Pa. Hati ibu mana yang tega melihat putranya terluka." jawabnya.
"Aku rasa itu juga yang saat ini dirasakannya disana. Dia pun pasti tak akan tega melihat putranya terluka." Hans meninggalkan Soraya disana seorang diri. Soraya masih menangis di ruang keluarga.
"Ada apa?" Monika yang baru pulang kaget saat melihat Soraya sedang menangis. Soraya segera menyeka airmatanya, dan pergi begitu saja dari hadapan Monika. "Kenapa dengannya?" Monika bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sebelum dia pulang. "Eh, kamu!" dia menghentikan pelayan yang sedang berjalan di dekatnya. "Itu kenapa Soraya menangis?" tanyanya.
"Maaf, Nyonya, saya tidak tahu!" jawabnya.
"Ya sudah, sana pergi!" pelayan wanita tadi segera pergi ke belakang. "Tuan dan Pembantu sama saja." gerutunya.
🌸🌸🌸
"Tuan, apa anda mau kopi?" tanya Yuna saat melihat Al sibuk memeriksa beberapa dokumen yang ada di meja kerjanya. Al menatap Yuna sekilas kemudian menggeleng. "Kalau begitu saya izin ke cafe di bawah ya!" pamitnya.
"Kenapa tidak suruh OB saja?" tanya Al.
"Mereka sedang istirahat, kasihan kalau diganggu."
"Memang itu tugas mereka." jawabnya.
"Tidak apa-apa, Tuan." Yuna mengedipkan sebelah matanya pada Al, Alvaro tertawa.
" Ya sudah kamu boleh pergi. Minta Jo untuk menghandle mejamu." Ayuna segera memberikan Al hati kecil menggunakan jarinya.
"Apa itu?" tanya Al.
"Apa anda tidak tahu ini?" Yuna kembali memberikan tanda itu padanya. Alvaro menggeleng.
"Ya sudah, kalau begitu anda cari tahu saja di internet." ucapnya lalu keluar dari ruangan Al.
"Apa ini?" Al mencontohkan apa yang Yuna lakukan tadi.
"Jo, kebetulan ada kamu." ucap Yuna saat bertemu Jo di depan pintu ruangan Al.
"Aku mau ke cafe di bawah, kamu nitip meja sebentar ya." ucapnya.
"Baik, Nona." jawabnya.
"Kamu mau coffe?" Yuna menawarinya.
"Tidak, Nona!" setelah mendengar jawaban Jo Yuna bergegas menuju ke cafe yang berada di lantai 1.
"Tuan, ini laporan yang anda minta." Jo memberikan dokumen yang dia pegang pada Al.
"Jo, kamu tahu apa ini?" Al menyilangkan jempolnya ke ibu jarinya.
"Tidak, Tuan." Jhosua memang tidak tahu tanda apa yang dimaksud Al.
"Kamu cari tahu sekarang juga." perintahnya. Jo segera keluar dari ruangan Al dan duduk di meja Yuna.
"4 Americano." pesannya pada pelayan yang ada disana. Sambil menunggu pesanannya, Yuna selesai, Yuna berselancar di media sosial.
"Ini pesanannya, Nona." pelayan tadi memberikan pesanan Yuna. Ayuna mengeluarkan kartu pengenalnya dan membayar pesanannya. Setelah itu Yuna bergegas menuju lantai 15.
"Hi, Mas!" sapa Yuna begitu melihat Gandhi.
"Yuna." Gandhi sedikit berteriak hingga membuat Gina dan Karin menoleh padanya.
"Kalian apa kabar?" tanya Yuna.
"Baik." jawab Karin.
"Tumben lo kesini? Apa ada masalah?" tanya Gina.
"Tidak. Aku mau kasih ini." Yuna meletakkan Americano yang baru dia pesan diatas meja Gina. Gandhi langsung mencomotnya.
"Kamu tahu aja kalau kita sedang butuh ini." ucapnya.
"Haus, Mas?" canda Yuna saat melihat Gandhi meneguk habis minumannya.
"Kamu jangan banyak nanya, suasana disini sedang panas." jawab Gandhi.
"Kenapa?" tanya Yuna.
"Tuan Ma ..."
"Apa ini? Kamu bisa kerja tidak?" belum sempat Gandhi melanjutkan perkataannya, mereka mendengar suara seseorang yang sedang marah di ruangan sebelah. "Mulai besok, kamu tidak peelu masuk lagi!" ucap Mahen.
"Tapi, Tuan ...?" karyawan wanita itu sangat terkejut mengetahui bahwa dia dipecat.
"Saya tidak butuh karyawan sepertimu." setelah melemparkan dokumen yang dia pegang, Mahen segera keluar dari ruangan itu. Tapi, betapa terkejutnya dia saat mendapati Ayuna sedang berdiri di pintu.
"K-kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.
"Saya kebetulan lewat dan mendengar anda sedang marah-marah." jawab Yuna.
"Mereka tidak ada yang becus bekerja." jawabnya.
"Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Mahen lagi.
"Tidak."
"Kalau begitu aku kembali ke ruangan dulu."
"Tuan ..." Yuna mencegahnya. Mahen menoleh padanya. "Bisakah kita bicara sebentar?" Mahen terlihat berpikir.
"Ayo, ke ruanganku." ajaknya, Yuna mengikuti Mahen menuju ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanyanya setelah mereka berada disana. Yuna tampak sedit ragu, dia takut Mahen kesal karena dia ikut campur urusannya. "Yuna?"
"Eh, saya ... Apakah anda harus memecatnya?" tanyanya.
"Jadi, kamu mendengar yang terjadi barusan?" Ayuna mengangguk.
"Dia tidak becus bekerja, jadi untuk apa dipertahankan. Masih banyak yang lebih mampu dibanding dia." jawab Mahen.
"Benar kata Gina, dia bukan seperti Mahen yang aku kenal." batinnya.
"Maafkan saya, tapi menurut saya, anda terlalu keras pada mereka. Sehingga mereka tidak bisa fokus." jawab Yuna.
"Jika mereka ingin bekerja disini, maka mereka harus mempunyai kemampuan. Aku tidak mau membayar mereka secara cuma-cuma." jawabnya ketus. Yuna terdiam sejenak, dia memikirkan apa yang harus dia katakan pada Mahen.
"Kamu sangat berbeda! Kamu tidak seperti Mahen yang aku kenal dulu." ucap Yuna lirih. Mahen menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Mahendra yang aku kenal sangat berbeda. Dia tidak akan mau membuat orang lain terluka." jelasnya.
"Semua orang bisa berubah."
"Lalu, apakah perubahanmu karena aku?" Mahen kembali menatapnya. "Jangan berubah karena aku, jadilah Mahen yang disenangi siapapun, Mahen yang selalu membawa keceriaan kepada siapapun." Yuna berkata jujur, dia ingin Mahen melupakan segalanya, dna kembali seperti semula.
"Bagaimana bisa aku menjadi diriku yang dulu, Sementara kebahagianku telah pergi dariku." jawabnya, Yuna tahu kata itu ditujukan padanya.
"Kamu tidak boleh ..." ucapan Yuna terhenti karena melihat pintu kerja Mahen yang terbuka.
"Sedang apa kamu disini?" Al berdiri di depan pintu ruangan Mahen.
"Al ..." Yuna kaget, dia tidak menyangka kalau Al sampai datang ke ruangan Mahen.
"Ayo, kembali ke ruanganmu!" Al mencengkram tangan Yuna.
"Al ..." Alvaro menatap tajam pada Yuna.
"Lepaskan dia! Jangan berbuat kasar padanya!" ucap Mahen saat melihat Al yang mencengkram eratbYuna.
"Diam, Kau!" teriak Al.
"Al!" Yuna menghentikannya.
"Maaf, Mahen, aku harus kembali." Yuna berpamitan padanya.
"Tapi, Na ..."
"Ayo!!" Alvaro menarik Yuna keluar dari ruangan Mahen. Mahen hanya mampu terpaku melihat Yuna yang dibawa pergi oleh Al.
~tbc