
"Selamat ya!" beberapa tamu mulai menyalami mereka.
"Terima kasih." jawab mereka bergantian.
Saat ini Al dan Yuna sudah berbaur bersama tamu lainnya. Mereka sengaja tidak menggunakan pelaminan, karena ingin terlihat lebih santai dan dekat dengan keluarga dan tamu yang hadir. Siang ini memang dikhususkan untuk keluarga inti saja. Malam harinya baru mereka mengadakan resepsi.
"Akhirnya, kamu nikah juga." Andreas datang menghampiri mereka. "Selamat, Bro!" dia memeluk Al. "Selamat ya, Na!" Andreas merentangkan tangannya, tapi Al segera menepisnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Al.
"Tentu saja mengucapkan selamat pada Ayuna." jawabnya.
"Tapi, tidak perlu memeluknya." Alvaro protes.
"Ayolah, Al! Aku hanya ingin menyampaikan rasa bahagiaku untuk kalian." jawabnya.
"Berani kau menyentuhnya, maka aku pastikan kau tidak akan bisa menggunakan kedua tanganmu lagi." ancamnya.
"Al ..." Yuna menghentikannya.
"Tapi, sayang ...?"
"Hah, akhirnya aku mampu melihat wajah tidak berdayamu." Andreas tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Gilang yang baru saja bergabung. "Selamat, Bro!" dia memeluk Al. "Cantik, selamat ya!" Gilangpun memeluk Ayuna.
"Heyy!! Dia istriku!" bentak Al.
"Hah, sorry, gue lupa. Gue kirain tadi model gue." ucapnya. Mereka menertawai kecemburuan Al, termasuk dengan Yuna.
"Kamu kenapa ikut-ikutan menertawaiku?" bisik Al ditelinganya.
"Abis kamu lucu banget. Mereka itu sahabatmu, masa dicemburui juga." ucapnya.
"Aku tidak suka jika ada yang berani menyentuh milikku." jawabnya pelan.
"Ayolah, Al. Ini pernikahan kita, jangan mengacaukannya dengan kecemburuanmu." jawab Yuna.
"Ho-ho, berani sekali kamu berkata seperti itu pada suamimu?" Al menarik Yuna hingga mendekat padanya. "Jika masih ada yang berani memelukmu, maka aku pastikan, kamu tidak akan bisa kemana-mana sampai bekas tangan mereka hilang dari tubuhmu." Ayuna menelan ludah mendengar ancaman Al.
"Hey, Al! Apa kau tidak bisa menunggu sebentar lagi? Ini masih siang, sabar Bro!" teriak Andreas, saat melihat tangan Al yang memeluk Ayuna. Mereka kembali mencari pusat perhatian semua orang. Ayuna yang tersipu malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di belakang bahu Al.
"Lihatlah, mereka! Aku senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka." ucap oma pada Hans.
"Yah, kau benar! Aku juga senang akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan." jawab Hans.
"Aku harap tidak ada lagi penghalang dalam hubungan mereka." oma Tyas terlihat berdoa.
"Semoga saja. tapi sekalipun ada, aku yakin cinta mereka akan mampu mengalahkan semuanya." Hans menatap kedua cucunya dari kejauhan. Dia merasa kosong karena Mahen tidak ada disana. Dia melihat Soraya yang sudah kembali ceria. Akhirnya dia bisa mengikhlaskan kepergian Mahen.
"Dia jauh lebih tenang bukan?" tanya oma saat tahu arti tatapan Hans.
"Iya, terima kasih! Berkatmu, dia bisa melewati semuanya." Hans menoleh padanya, bibirnya tersenyum.
"Aku tidak melakukan apapun. Kau memiliki putri yang kuat." jawab oma.
"Apa sebaiknya kau tinggal bersama kami saja? Dengan adanya dirimu, rumahku jadi lebih berwarna." memdengar itu oma Tyas tertawa.
"Aku tidak ingin tinggal di kota padat ini. Aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini. Kita yang sudah tua ini, lebih membutuhkan udara segar. Kau juga, sebaiknya kau segera pensiun. Di usiamu sekarang bukan lagi saatnya mengkhawatirkan harta benda, tapi menikmati hidup." oma malah menasehatinya.
"Sepertinya, aku harus membangun rumah disebelah rumahmu." ucap Hans.
"Kau harus membayar mahal untuk tanahku." canda oma, mereka tertawa bersama.
🍀🍀🍀
"Apa acara ini masih lama?" tanya Al saat mereka sedang beristirahat di kamar.
"Masih ada satu lagi." jawab Yuna.
"Agghh, aku ingin ini segera berakhir." Alvaro menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Al, apa kamu bisa membantuku?" Yuna kesulitan membuka kancing kebayanya, karena berada di belakang, sementara Al sudah mengusir para asistennya begitu mereka selesai melepas hiasan di kepala Yuna.
"Ada apa?" Al mendekat padanya.
"Ini, tolong bukain." Ayuna tidak mampu menjangkau kancing yang berada dibagian tengah. Al berdiri di belakang Yuna, tangannya mulai membantu Yuna membuka kancing itu satu persatu.
"Apa maksudmu?" Ayuna gagal paham. Al mendekat dan mencium tekuknya, Ayuna menegang. Al membalikkan tubuh Yuna menghadap ke arahnya.
"Kamu pasti sengajakan?" Al menatap wanita yang telah menjadi istrinya.
"B-bukan, aku memang kesulitan membukanya." Jantung Yuna berdebar tidak karuan. Apalagi melihat Al seolah ingin memakannya.
"Aku tidak percaya. Aku yakin kamu pasti merasakan hal yang sama denganku." Al menarik Yuna ke dalam pelukannya.
"Bukan begitu. Al, lepasin!!" Yuna mendorong tubuh Al.
"Mau kemana?" Al mengukung tubuh Yuna dalam lengannya.
"Al, jangan sekarang!" ucap Yuna.
"Memagnya kenapa? Aku suamimu, jadi aku berhak atas dirimu." Al mencium dahi Yuna.
"Alll, aku mau ke kamar mandi!" Yuna mendorong keras tubuh Al hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Ayuna segera mengangkat kainnya dan berlari ke kamar mandi.
"Dasar!! Apa dia tidak bisa menunggu hingga malam nanti." Ayuna terus saja mengerutu.
"Sayang, cepatan dong!!" baru saja Yuna masuk ke kamar mandi, tapi Al sudah berteriak. "Sayang!!" panggilnya.
"Sebentar!!" jawab Yuna. "Ya ampun, aku lupa bawa baju ganti lagi." Ayuna sudah terlanjur membuka kebayanya. Dia melihat ada bathrobe yang tersedia disana. Langsung saja dia memakainya.
"Apa sih, Al? Apa kamu tidak bisa menunggu hingga ma ..." Ayuna bungkam saat melihat ada Hans dan Tyas disana.
"Menunggu apa?" tanya Hans.
"Ya ampun!!!" Oma terpekik saat melihat Yuna yang memakai bathrobe. "Apa kalian tidak bisa menunggu hingga acara ini selesai?" tanyanya.
"Oma, ini tidak seperti yang oma pikirkan." jawab Yuna.
"Memangnya kenapa? Kami sudah menikah, jadi bukankah itu sah-sah saja?" mata Yuna membesar menatap Al.
"Dasar bocah sedeng! Apa kau mau membuat cucuku pingsan di resepsi kalian?" oma Tyas melempar bantal yang ada disebelahnya ke arah Al.
"Ayolah, Oma!! Apa oma gak mau cepat-cepat menimbang cicit?" Al masih saja menggoda mereka.
"Al, benar! Di usia kita sekarang bermain dengan cicit jauh lebih menyenangkan di banding apapun." Hans mendukung ucapan cucunya.
"Dasar kalian sama saja. Apa kamu baik-baik saja? Apa masih sakit?" oma berdiri dan memegang bahu Yuna.
"Oh tuhan! Apa yang oma bicarakan?" Yuna menutup wajahnya.
"Oma hanya mengkhawatirkanmu. Bagaimana kalau Al tidak sabaran dan tidak bisa bermain lembut. Kamukan tahu dia sudah bertahun-tahun menunggumu." ucap Oma.
"Oma, jangan percaya dia!" Yuna menunjuk Al yang saat ini sedang tersenyum. "Tidak terjadi apapun. Ok?" Yuna berjalan menuju koper miliknya dan segera mengambil baju ganti.
"Bukan tidak, tapi belum." timpal Al.
"Jadi kalian membohongi kami?" oma menatap tajam ke arah Al dan Yuna.
"Bukan Yuna, Oma, tapi dia!" Ayuna kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau!!" oma ingin marah, tapi Al keburu memeluknya.
"Ayolah, Oma! Jangan marah-marah kalau gak mau keriput oma bertambah." Al menghindar saat tangan Tyas akan melayang ke tubuhnya.
"Ternyata kakek dan cucu sama saja."
"Kenapa kau membawa-bawa aku?" Hans yang sejak tadi hanya tertawa sekarang malah kena imbasnya.
"Tutup mulutmu!" bentak oma, Al tertawa saat melihat Hans tidak berkutik di hadapan oma.
"Apa yang kalian tertawakan?" Yuna yang baru saja keluar terlihat bingung ketika mereka sedang tertawa bahagia.
"Tidak, ada! Kamu cantik banget!" Al merangkul Yuna. Dia terus saja menatap Ayuna yang sudah tampak cantik dalam balutan dress berwarna cream.
"Apa perutmu akan kenyang dengan terus menatapnya?" suara Hans menyadarkan Al.
"Al, masalah kita belum selesai. Oma jamin malam ini kau tidak akan mendapatkan apapun. Ayo, Hans!" Alvaro menelan ludah mendengar ancaman Tyas.
~tbc