
"Sayang, besok oma balik ke Malang ya!" Yuna dan Al kaget mendengarnya.
"Pulang? Kenapa cepat sekali, Oma?" tanya Yuna.
"Oma gak tenang meninggalin rumah terlalu lama." alasannya.
"Tapi, Yuna masih kangen oma." Yuna memeluknya.
"Tidak apa-apa, kalau libur kalian bisa pulang, atau oma yang berkunjung kesini lagi." Oma membelai wajah Yuna.
"Kamu bisa tolongin beliin oma ini?" oma Tyas memberikan daftar beberapa barang pada Yuna.
"Sekarang?" tanyanya.
"Iya, tapi di mini market yang ada dibawah saja. Oma perlu hari ini juga." ucapnya.
"Baiklah, aku ke bawah dulu!" Yuna berjalan ke kamarnya dan mengambil dompet beserta ponselnya.
"Aku temani?" tanya Al.
"Gak usah, kamu temani oma aja. Aku cuma ke bawah doang." Yuna segera keluar.
"Kenapa oma buru-buru pulang?" tanya Al.
"Oma ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan." jawabnya.
"Lalu, besok pesawat jam berapa?" tanya Al.
"Jam 10.00wib." Oma menatap Al yang duduk di depannya.
"Ada apa, Oma?" Al sepertinya paham ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Al, tolong kamu jaga Yuna baik-baik. Oma tidak ingin dia terluka." pintanya.
"Oma tidak perlu khawatir! Aku pasti akan selalu jagain dia." Al meyakinkannya.
"Iya, Oma percaya padamu. Tolong, jangan pernah buat dia bersedih. Untuk masalah kakekmu, oma sudah menyelesaikannya. Dia tidak akan pernah lagi menentang hubungan kalian." Al seolah tak percaya, bagaimana mungkin kakeknya bisa menyerah semudah itu.
"Oma, Yakin?" tanya Al.
"Iya." Al masih tidak percaya. "Hans tidak akan pernah menganggu kaian lagi. Bisa dikatakan dia sudah merestui hubungan kalian. Saat ini tinggal bagaimana kamu dan Yuna menjalaninya saja. Oma harap hubungan ini bisa berakhir bahagia." Oma Tyas memperhatikan sikap Al yang sedikit gelisah.
"Kenapa, Al? Kamu seriuskan dengannya?" tanyanya.
"Tentu saja, Oma! Aku hanya menginginkannya, bukan yang lain." jawab Al.
"Baguslah. Oma yakin, sepelik apapun masalah kalian, kamu dan Yuna pasti bisa melaluinya jika bersama. Jangan pernah menyerah pada cintamu." pesannya. Al mengingat baik-baik apa yang dikatakan oma Tyas.
🌸🌸🌸
"Apalagi ya?" Yuna memeriksa kembali daftar belanjaan dari oma. Dia sudah mendapatkan semua barang yang oma inginkan. Ayuna berjalan menuju stand yang menjual berbagai macam makanan ringan. Ayuna mengambil snack kentang kesukaannya.
"Maaf!!" ucap Yuna saat tangannya bersenggolan dengan tangan pembeli lain.
"Kamu?" Ayuna menoleh dan melihat Cantika berada di sebelahnya. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.
"Seperti yang anda lihat, saya sedang berbelanja." Yuna mengangkat sedikit keranjang belanjaannya.
"Bukan begitu, maksudku kamu tinggal disini?" tanyanya, dan Yuna mengangguk. "Oh, aku mengerti. Kamu tinggal bersama Al?" Yuna tidak mempedulikannya, dia memasukkan snack yang dia inginkan ke dalam belanjaannya. "Dimana, Al? Dia tidak ikut denganmu?" Cantika celingak-celinguk mencari keberadaan Alvaro.
"Dia tidak ada disini." jawab Yuna, Cantika kembali menoleh padanya. "Kalau begitu saya duluan."
"Ayuna, Tunggu!" Cantika mencegahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Bisa kita bicara?" Yuna terlihat berpikir, dia bingung apakah harus mengiyakan permintaan rivalnya atau pergi begitu saja. "Sebentar saja." ucapnya.
"Baiklah."
"Kita ke Cofee Shop itu saja." Cantika menunjuk coffee shop yang ada di depan mini market tempat mereka berada saat ini. Ayuna setuju, dia segera menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Setelah itu, mereka berjalan menuju coffe shop yang Cantika maksud.
"Ada apa?" tanya Yuna setelah mereka selesai dengan pesanan masing-masing.
"Sepertinya kamu masih marah padaku." ucap Cantika, dahi Yuna mengerinyit.
"Maksud anda?" tanyanya.
"Ya, aku tahu tempo hari hubungan kita tidak baik. Aku minta maaf atas semua kesalahanku." Ayuna tidak menyangka, Cantika mengucapkan itu padanya. "Aku tahu kamu pasti bingung. Aku sudah menyerah pada Al." Ayuna membelalak. "Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya begitu saja. Tapi, aku berkata jujur!" ucapnya.
"Bukan begitu, aku hanya tidak percaya. Bagaimana anda bisa menyerah begitu mudahnya. Padahal, anda sudah mencintainya sejak lama." ujarnya.
"Aku lelah mengejar cinta Al. Sejak dulu ataupun sekarang dia tidak pernah melihatku. Aku sadar hatinya bukanlah untukku." Cantika menahan bulir air yang akan keluar dari matanya. "Aku juga berhak untuk bahagia bukan?" dia tersenyum, Ayuna mengangguk. "Maaf jika aku sempat berkata kasar padamu." Ayuna sadar bahwa wanita di depannya ini tidaklah jahat, dia hanya mencoba mendapatkan cintanya.
"Tidak apa-apa. Aku juga bersalah padamu." Cantika memegang tangan Yuna.
"Cantika!!" Ayuna mencegahnya yang akan meninggalkan meja mereka.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mengenai cinta di masa kecil Al, bagaimana dia?" tanya Yuna. Cantika kaget karena Yuna membahas itu dengannya.
"Aku tidak tahu, karena aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi, Al selalu membawa gelang milik wanita itu kemanapun." Cantika memberitahu yang dia ketahui pada Yuna.
"Gelang?" tanya Yuna.
"Iya. Dan, karena gelang itulah hubunganku dengannya merenggang. Aku gak sengaja menghilangkan gelang itu. Al sangat marah padaku, hingga hubungan kami menjadi seperti ini." jelasnya. Ayuna berpikir tentang gelang yang Cantika maksud. Karena, selama ini dia belum pernah melihatnya di apartemen Al.
"Aku belum pernah melihatnya." Ayuna berkata jujur.
"Mungkin Al sudah menyimpannya. Biasanya, Al selalu membawanya kemanapun. Dia menyimpannya di dalam kotak perhiasan berwarna tosca, bersama dengan sapu tangan milik wanita itu." Ayuna yakin dia belum pernah melihat kedua barang itu. "Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan. Yang penting saat ini Al sudah menjadi milikmu, bukan?" Cantika sepertinya tahu kekhawatiran Yuna.
"Makasih ya, kamu sudah sangat membantuku." ucapnya tulus.
"Semoga saat kita ketemu lagi, kita bisa menjadi teman." ucapnya sambil tersenyum, kemudian dia segera pergi meninggalkan Yuna yang masih memikirkan semua kata-katanya.
"Gelang dan sapu tangan? Artinya dia begitu mencintai wanita itu, sampai membawa barang-barangnya kemanapun dia pergi." batin Yuna.
"Kemana dia? Kenapa belum juga pulang?" Al mengambil ponselnya dan menghubungi Yuna. "Kenapa dia tidak menjawab ponselnya?" Al mengerutu panjang lebar, tidak berapa lama terdengar pintu terbuka. Dan Ayuna masuk dengan menenteng beberapa paperbag. "Kamu dari mana saja?" tanyanya.
"Mini market." Ayuna meletakkan bawaannya di atas meja. "Dimana, Oma?" tanya Yuna yang tidak melihat oma bersama Al.
"Oma sedang istirahat!" jawabnya. "Kenapa lama sekali?"
"Maaf, tadi disana ramai banget." Yuna berjalan ke dapur dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas. "Aku istirahat dulu ya!" setelah berkata seperti itu Yuna segera menuju kamarnya, meninggalkan Al begitu saja.
"Kenapa dengannya? Padahal, aku mau ngajakin dia jalan, mumpung ini hari libur." Al kesal karena tidak jadi berkencan dengan Yuna.
🌸🌸🌸
"Oma yakin tidak perlu aku antar?" tanya Yuna saat mereka sedang sarapan.
"Tidak apa-apa. Kamu kerja saja, oma ada yang ngantarin ke bandara." jelasnya
"Tidak apa, Oma, biar nanti Jhosua yang mengantar oma dan Yuna kesana." sela Al.
"Sudah, kalian tidak perlu memikirkan oma." oma Tyas meyakinkan mereka kalau dia akan sampai dengan selamat di bandara.
"TIT TIT!!! "Terdengar suara bel.
"Nah, itu dia yang ngantarin oma datang." oma berjalan menuju pintu keluar.
"Masuklah!" Dia mepersilahkan Hans untuk masuk.
"Apa aku telat?" tanyanya.
"Tidak. Aku juga sudah siap. Kau sudah sarapan?" tanya Oma.
"Sudah." jawabnya. "Aku sengaja datang lebih awal, karena takutnya kita kejebak macet." jelasnya.
"Siapa, Oma??" Ayuna heran karena ada Hans disana.
"Siapa lagi kalau bukan calon kakek mertuamu." oma menunjuk Hans yang sedang duduk di sofa. Yuna ragu untuk menyapanya. "Tidak apa-apa, dia sudah oma jinakkan." ucap oma yang seolah tahu apa yang sedang Yuna pikirkan.
"Apa yang kakek lakukan disini?" Al yang baru bergabung bersama mereka dikagetkan dengan kehadiran Hans.
"Kakekmu datang untuk menjemput oma." Al dan Yuna kini mengerti kenapa oma bersikeras tidam mau diantar oleh mereka. "Tunggu sebentar!" ucapnya pada Hans. Tidak berapa lama, oma keluar dengan membawa travel bag dan beberapa paper bag.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Hans setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Oma Tyas mengangguk.
"Oma pulang, ya! Kamu baik-baik disini" dia memeluk Yuna, Ayuna menahan rasa sedihnya.
"Oma, hati-hati ya!" ucapnya.
"Al, oma pulang ya! Tolong jaga Yuna!" dia kembali mengulang pesannya pada Al. Alvaro mengangguk, dia masih mengingat semua pesan oma Tyas sebelumnya. Mereka mengantarkan Hans dan oma sampai ke depan pintu.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Al setelah Hans dan Oma tidak lagi terlihat.
"Sebentar, aku ambil tas dan dompetku dulu." jawab Yuna.
"Oh iya, tolong sekalian ambilkan dokumen merah yang ada di dalam nakas dikamarku." Alvaro lupa membawa berkas perjanjian dengan PT. Dirgantara.
"Ok." Yuna berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas dan ponselnya. Sementara Al memeriksa email yang baru saja masuk dari rekan bisnisnya.
"Dimana ya?" Ayuna membuka laci nakas yang ada di kamar Al. "Nah, ini dia!" Yuna mengambil satu-satunya dokumen berwarna merah yang ada disana. Saat akan menutup kembali nakas itu, mata Yuna terhenti saat melihat sebuah kotak perhiasan berwarna tosca. Ayuna penasaran dan mengambil kotak itu. "Pasti ini yang dimaksud Cantika." ucap Yuna. Ayuna yang penasaran mencoba membuka kotak itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Al yang tiba-tiba datang merampas kotak itu dari tangan Yuna, sebelum Yuna berhasil melihat isinya.
~tbc