CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 147



"Al, apa semua akan baik-baik saja?" tanya Yuna saat mereka sudah sampai di apartemen.


"Tidak. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam." jawabnya. "Mulai saat ini kamu harus selalu dalam jangkauanku. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Ayuna bisa melihat raut kekhawatiran di wajah Al.


"Iya." Yuna memeluknya. "Aku mandi dulu." Ayuna melepas pelukannya dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.


"Aghh!!" Al memegang kepalanya. "Berapa lama lagi aku harus bertahan?" gerutu Al.


"Benar-benar hari yang melelahkan." Yuna yang baru keluar dari kamar mandi segera berjalan menuju walk in closet. Dia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Ayuna memilih piyama yang akan dia gunakan. Dan pilihannya jatuh pada piyama satin berwarna maroon. Setelah selesai, dia segera keluar dari sana dan betapa kagetnya dia saat mendapati Al sedang memandanginya.


"Al, apa yang kamu lakukan?" tanya Yuna.


"Melihatmu." jawabnya.


"Sejak kapan kamu disini?"


"Baru saja." bohongnya.


"Benarkah?" Ayuna mulai curiga.


"Iya." Al membelakanginya. Kecurigaan Yuna semakin besar.


"Kamu bohong!" teriak Yuna. Alvaro diam saja, dia berpura-pura tidur. "Al, aku tahu kamu sedang berbohong." Yuna menguncang-guncang tubuh Al. "Sejak kapan kamu disini? Jawab aku!" Ayuna mencubit telingannya.


"Aaww!! Iya ... Iya ..., sejak kamu keluar dari kamar mandi." mendengar itu, Yuna memgambil bantal dan memukuli Al.


"Kamu!! Berani-beraninya kamu melihat sebagian tubuhku?" Ayuna terus saja memukuli Al.


"Aaww!! Apa salahnya? Aku cuma melihat sedikit. Kecuali kalau kamu keluar dari sana tanpa menggunakan apapun. Baru aku menang banyak." mendengar itu, Ayuna kembali memukuli Al. Alvaro menangkap bantal itu dan membuangnya, begitupun dengan bantal satunya. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan, Yuna tidak kehilangan akal. Dia memukuli Al dengan tangannya.


"PLAK, PLAK!!"


"Bisa-bisanya kamu ngomong tanpa dosa begitu." Yuna memukuli tangan dan bahu Al.


"Sudah!" Al mencengkram tangannya, Ayuna melotot padanya.


"Lepasin!!" ucap Yuna.


"Sakit, Sayang!" Al memasang wajah memelas. "Coba kamu lihat ini, merah-merahkan?" Al menunjukkan bekas pukulannya.


"Biarin! Kamu pantas mendapatkannya." Ayuna masih kesal. Karena Al melihat dirinya yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi dada hingga pahanya.


"Salah kamu sendiri, kenapa gak pakai bathrobe?" Al masih memegang tangan Yuna.


"Mana aku tahu kamu ada disini?" belanya.


"Kamu lupa? Aku'kan sudah janji akan selalu melindungimu, itu sebabnya aku disini." jawabnya cepat.


"Alasan saja, sudah sana keluar!" Yuna menarik tangan Al, bukannya berdiri Al malah kembali berbaring.


"Aku mau tidur disini saja." dia menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Al." Yuna mendekat, Al membelakanginya. "Kamu yakin mau tidur disini?" Yuna menoel pipinya.


"Tentu saja! Aku harus menjagamu, dan aku juga sudah tidak punya tenaga untuk berjalan." Ayuna semakin kesal.


"Ya sudah, kamu boleh tidur disini." Al tersenyum puas. "Aku tidur di kamarmu." melihat Ayuna akan pergi, menarik tangan Yuna hingga jatuh di atas tubuhnya.


"Kamu tidak akan kemana-mana." Ayuna bergidik merasakan hembusan napas Al.


"Al, kamu jangan aneh-aneh ya! Kamu akan menyesal jika berbuat macam-macam padaku." Ayuna terus berontak, berusaha untuk melepaskan diri.


"Apa menurutmu aku serendah itu? Jika aku mau, aku bisa melakukan itu pada wanita manapun." Ayuna terdiam mendengar perkataan Al.


"Maaf." Ayuna merasa bersalah.


"Makanya ini itu harus dibersihkan." Al menunjuk dahi Yuna. "Kamu mikirnya kejauhan." ucap Al, wajah Yuna memerah.


"Abisnya, kamu tiba-tiba ada disini." Yuna menunduk.


"Aku hanya ingin bersamamu, aku sangat khawatir." Al menatap Yuna yang masih didalam dekapannya "Aku janji tidak akan melakukan apapun. Jadi, diam dan tidurlah." Ayuna memeluk erat tubuh Al, dan mencoba memejamkan matanya.


"Aku yakin Candra pasti tidak akan tinggal diam. Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawamu." Al terus membelai rambut Yuna, hingga dia tertidur.


"Agghh!" Al kaget saat kaki Yuna berada di atas pahanya. Alvaro menatap gadis yang sedang tidur di sisinya itu. "Dasar bodoh, bisa-bisanya kamu percaya padaku." ucapnya pelan. "Biar bagaimanapun aku ini tetap lelaki." Al memindahkan kaki Yuna dengan perlahan. Kemudian menarik pelan tangannya dari leher Yuna. Setelah berhasil Al memandangi Yuna yang sudah masuk ke alam mimpi.


"Aku bisa gila kalau terus disini." ucapnya saat melihat salah satu kancing piyama Yuna terbuka. Alvaro menarik selimut dan menutupi tubuh Yuna. Setelah mengecup dahi dan bibir Yuna, Al segera keluar dari kamar itu.


"Kamu sudah tahu dia dimana?" Al menghubungi Jhosua, sebelum kembali ke apartemen, Al berpesan untuk mencari tahu keberadaan Candra.


"Dia ada di Emerald Hotel, Tuan." jawab Jo.


"Hotel? Apa yang dia lakukan disana?" tanyanya. "Kenapa kamu diam? Ada apa?" Al curiga karena dia tidak mendapatkan jawaban dari Jo.


"Siapa?" Al penasaran. Jhosua masih bungkam. "Katakan padaku siapa wanita itu?" nada suaranya mulai tinggi, untung saja dia berada di ruang tv jadi Yuna pasti tidak akan mendengarnya.


"Nyonya Monika." jawab Jo.


"Mama?" Al terkejut saat Jo menyebutkan nama yang sangat dia kenal.


"Apa yang dia lakukan disana selarut ini?" Al seolah bertanya pada dirinya sendiri. "Kamu cari tahu hubungan apa yang mereka miliki." Al segera mematikan ponselnya. "Candra dan Mama? Apa yang mereka berdua lakukan? Setahuku mereka tidak sedekat itu. Hubungan apa yang mereka miliki?" Al sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


🍀🍀🍀


"Apa dia sudah pulang?" tanya Hans pada Ken.


"Belum, Tuan." Ken mengerti siapa yang sedang ditanyakan oleh tuannya itu.


"Dimana dia?" tanyanya.


"Emerald Hotel, Tuan."


"Sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi di rumah ini. Kamu sudah dapatkan siapa kaki tangannya?" Ken diam, dia masih menimbang apakah harus memberitahu Hans atau tidak. Hans menoleh padanya, Hans bisa melihat kalau orang kepercayaannya itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. "Siapa?" ulangnya.


"Saya melihat Nyonya Monika juga berada di hotel yang sama, Tuan." ucapnya.


"Sudah kutebak." Hans memang sudah lama menduga hal ini. "Kamu punya buktinya?" tanyanya.


"Saya memang melihat Nyonya Monika berada disana, tapi saya tidak memiliki bukti akurat kalau mereka bertemu." jujurnya. Hans menarik napas dalam.


"Mereka sangat pintar menyembunyikan semua itu. Jika tidak, sudah sejak dulu aku mengungkapkan hubungan mereka." Hans terlihat kecewa. Lagi-lagi dia gagal mendapatkan bukti tentang kedua menantunya itu.


"Kamu awasi mereka. Dan juga jangan lupa untuk menjaga Ayuna. Aku yakin Candra akan melakukan apapun agar kejahatannya tidak terungkap." Hans sudah memberi perintah padanya.


"Baik, Tuan." jawabnya.


"Dimana putriku?" tanyanya.


"Nyonya masih berada di kamarnya." jawab Ken. Hans segera keluar dari kamar pribadinya dan menaiki anak tangga menuju kamar Soraya.


"TOK TOK TOK." setelah mengetuk pintu Ken membukakan untuk Hans dan membiarkan Hans masuk seorang diri. Seperti biasa, dia dengan setia berjaga di depan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Hans begitu melihat putrinya masih berbaring.


"Aku masih merasa sedikit pusing." Soraya mencoba untuk duduk, tapi Hans melarangnya.


"Istirahat saja, aku kesini hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja." Hans duduk disampingnya.


"Pa, apa papa mempercayai Al?" tanyanya.


"Apa kamu tidak bisa mempercayainya?" Hans balik bertanya, dan Soraya menggeleng.


"Bagaimana aku bisa percaya begitu saja. Bisa jadi Yuna salah, saat itu dia masih terlalu kecil." Soraya masih meyakini kalau Candra tidak bersalah


"Saat itu dia memang masih kecil, tapi kejadian seperti itu tentu tidak akan mudah dia lupakan. Aku yakin sampai hari ini dia pasti masih mengingat semuanya. Itu sebabnya aku bisa meyakini ucapannya." Hans bisa melihat mata Soraya yang kembali berkaca-kaca.


"Tapi itu tidak mungkin, Pa. Papa tahu bagaimana mas Candra. Selama ini dia sudah banyak mengalah demi Al." Soraya tidak lagi mampu membendung airmatanya.


"Buka matamu, suamimu tidak sebaik yang kamu pikirkan." Soraya menoleh padanya.


"Papa berkata seperti ini karena dari awal papa memang tidak menyukainya." sanggahnya.


"Aku sudah lama menyelidikinya." bola mata Soraya membesar. "Aku sangat tahu pria seperti apa suamimu itu."


"Apa maksud papa?"


"Dia hanya menginginkan hartamu dan juga tahtaku. Seperti itulah suamimu." jelasnya.


"Itu gak mungkin!" Soraya masih tidak percaya.


"Aku punya buktinya." Hans memang sudah mempunyai bukti apa yang dilakukan Candra, saat dulu memegang Ivander Group. Candra dengan mudahnya memindahkan aset perusahaan ke perusahaan yang baru dia rintis. Soraya menatap tajam pada Hans. "Aku bahkan sangat yakin kalau kecelakaan Alex dan penculikan Al adalah perbuatannya. Soraya kembali menitikkan airmata, dia tidak sanggup lagi mendengar semua ini.


"Aku ingin sendiri." ucapnya pelan.


"Aya, papa mohon buka matamu. Lihatlah, kenyataannya! Papa tidak ingin kamu tertipu dengan wajah lugunya. Sudah cukup kejahatannya selama ini. Jangan biarkan cinta menutup matamu." Setelah berkata seperti itu Hans melangkah keluar dari kamarnya.


"Suruh orang berjaga disini, aku tidak mau putriku kenapa-napa. Dan, putus semua akses dengan pria itu." perintahnya pada Ken.


"Bagaimana dengan tuan Mahen, Tuan?" tanya Ken.


"Aku yang akan memberitahunya." jawab Hans.


~tbc