
"Kamu serius?" oma masih tidak bisa percaya dengan perkataan Yuna.
"Benar, Oma, Tante Monika adalah mama Al." Oma tidak melihat kebohongan di mata Yuna.
"Oma tidak menyangka, bagaimana wanita seperti itu bisa menjadi ibunya Al?"
"Oma, setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda. Kita tidak bisa meminta untuk terlahir dari rahim siapakan, oma?" Oma Tyas mengangguk.
"Oma hanya merasa iba melihat Al dikelilingi orang-orang seperti mereka. Oma yakin dia pasti merasa kesepian." Yuna terdiam, dia teringat dengan perkataan Al bahwa dia sudah lama hidup sendiri, terpisah dari keluarganya.
"Iya, oma benar!" ucapnya.
"Kamu harus selalu berada disisinya. Entah kenapa oma merasa sangat tenang membiarkanmu bersamanya." oma mengambil minuman yang telah mereka pesan. Setelah bertengkar dengan Monika, mereka berdua pergi menuju restoran yang tidak jauh dari tempat mereka sebelumnya.
"Iya, oma." Ayuna setuju dengan oma Tyas. Dia juga merasa sangat nyaman saat bersama Al. Walaupun terkadang Al menyebalkan, tapi tetap saja bersamanya membuat hari Yuna berwarna.
"Oma, gimana kalau setelah ini kita nonton?" ajak Yuna.
"Oma mau pulang saja! Oma letih banget."
"Baiklah." Ayuna segera memesan taksi untuk mengantar mereka pulang. Oma memang terlihat sangat lelah. Ayuna mengingat kembali pertemuannya dengan Monika.
"Kenapa tante Monika begitu membenciku? Apakah aku mampu untuk terus mempertahankan hubungan ini?" Yuna menatap jalanan, Oma Tyas melihat cucu kesayangannya itu.
"Pasti berat untukmu, menjalani hubungan dengan penolakan dari keluarganya." dia merasa iba melihat nasib cucunya. "Aku harus bertindak."
"Sayang, kenapa dengan kepalanmu?" oma melihat ada bekas luka di kepala bagian belakang Yuna. Ayuna meraba kepalanya dan menatap oma.
"I-ini, beberapa hari yang lalu Yuna mengalami kecelakaan oma."
"Apa? Kapan?" oma kaget mendengar kabar itu.
"Ayuna sudah baik-baik saja, Oma." Yuna menenangkannya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun pada oma?"
"Maafin Yuna, Oma, Yuna tidak ingin oma khawatir." Yuna merangkul oma Tyas.
"Tapi, kamu benaran tidak apa-apa?" Yuna bisa tahu bahwa oma sangat mengkhawatirkannya.
"Benar, Oma." Yuna tersenyum, oma mengelus kepalanya.
"Syukurlah! Oma tidak mau ada hal buruk yang menimpa dirimu." ucapnya.
🌸🌸🌸
"Menyebalkan!" Monika melempar tas branded-nya begitu saja.
"Ada apa?" tanya Soraya yang sedang duduk di sofa.
"Aku baru saja bertemu dengan wanita kurang ajar itu." Monika mengeram menahan kesal.
"Siapa yang mbak maksud?" Soraya menutup majalah yang sedang dia baca.
"Siapa lagi kalau bukan wanita penggoda itu." ucapnya.
"Siapa?" tanya Soraya lagi karena dia tidak tahu siapa yang Monika maksud.
"Ayuna." jawabnya ketus.
"Kamu apaan sih, Mbak?" Soraya tidak suka Monika berkata buruk seperti itu.
"Aku berkata benar. Sejak dia hadir dihidup Al, semuanya menjadi rumit. Al semakin menjauhkan diri dari kita. Dia sudah tidak peduli lagi padaku." ucapnya.
"Tapi itu bukan kesalahan Yuna, Mbak. Sebelum Yuna ada, Al juga sudah lebih dahulu menjauh dari kita." jawab Soraya keberatan. "Dan, kita semua tahu apa penyebabnya." Soraya menatap tajam padanya.
"Tapi tetap saja, Aku tidak menyukai wanita itu. Apalagi sekarang, neneknya sedang bersama mereka. Akan semakin banyak orang-orang kelas rendah yang menumpang hidup dengan putraku. Mereka sudah seperti parasit dalam kehidupan Al." Monika terus saja mengatakan hal buruk tentang Yuna.
"Tutup mulutmu!" bentak Hans yang sejak tadi mendengarnya. Hans berjalan mendekati mereka.
"Kenapa papa marah padaku?" Monika keberatan karena Hans membentaknya. "Aku tidak salah, mereka memang seperti parasit."
"Sekali lagi aku mendengarmu mengatakan hal itu, ku pastikan kau tidak akan mendapatkan fasilitas apapun lagi dariku." ancamnya. Monika dan Soraya tercengang, mereka tidak menyangka reaksi Hans akan seperti ini.
"Kenapa papa malah menyalahkan aku? Jangan bilang kalau saat ini papa mendukung mereka?" Monika bertanya dengan wajah yang memerah menahan emosi. Soraya tidak mengatakan apapun, dia juga bingung kenapa papanya tiba-tiba berubah seperti ini.
"Aku belum memutuskan untuk memdukung siapapun. Sejauh ini, aku hanya berusaha untuk menjaga keutuhan keluargaku." jawabnya.
"Pokoknya aku tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka." Monika meninggalkan mereka di ruang keluarga.
"Entah, kenapa aku bisa memilihnya untuk menjadi ibu untuk cucuku." Hans menatap Monika yang saat ini sudah berada di anak tangga.
"Pa ...!" Soraya menghentikan Hans.
"Keserakahannya akan menghancurkan semuanya." Hans terlihat menyesali sesuatu.
"Sudahlah, Pa! Papa kan tahu seperti apa mbak Monika." Soraya menenangkannya. "Papa mau teh? Aku buatin ya!"
"Tidak perlu, aku baru saja minum." tolaknya.
"Oh, iya, papa dari mana?" tanya Soraya yang melihat Hans dari luar.
"Aku bertemu dengan Al." jawabnya.
"Oh, ya?" Soraya terlihat senang. "Lalu, bagaimana? Apakah semuanya baik-baika saja?" Hans tidak berkata apapun. Soraya yakin bahwa terjadi sesuatu disana.
"Dia tidak menjawab teleponku." jawab Soraya. "Tapi, kemarin Gilang menghubungiku dan mengatakan kalau Mahen bersama dengannya." jelasnya.
"Kamu temui dia. Jika tidak aku yang akan memaksanya untuk pulang. Cukup satu cucuku yang keluar dari rumah ini, aku tidak ingin Mahen juga pergi meninggalkan kita." setelah berkata seperti itu Hans berdiri.
"Papa mau ke kamar?" tanya Soraya.
"Iya."
"Biar aku bantu!" Soraya ikut berdiri dan memegang tangannya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Hans menolaknya dan meninggalkan Soraya disana. Soraya menatap iba punggung lelaki yang dulu selalu menggendongnya. Soraya mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Mahen. Tapi tetap sama, Mahen tidak menjawab panggilannya. Soraya tidak kehabisan ide, dia mencari kontak Gilang dan menghubungi Gilang. Dan dari Gilang dia mendapatkan jawaban dimana keberadaan Mahen.
🌸🌸🌸
"Kalian kemana saja?" tanya Al yang telah bergabung dengan mereka di meja makan.
"Tidak ada, kita hanya jalan ke Royal Mall." jawab Yuna.
"Bagaimana, Oma? Apa oma sudah puas jalan-jalannya?" tanya Al padanya.
"Kita bukan jalan-jalan, tapi shopping." jawab Oma. "Baru sehari oma disini tapi oma sudah ngehabisin uang kamu." ucapnya, Al tertawa.
"Tidak masalah, oma boleh menghabiskan semuanya. Nanti aku cari lagi yang banyak biar bisa bahagiain kalian." oma terharu mendengar ucapan Al. Dia sangat bahagia Yuna mendapatkan lelaki seperti Al.
"Oma senang kamu yang menjadi calon Yuna." mendengar oma berkata seperti itu, Al memegang tangan oma Tyas. "Oma bisa tenang meninggalkan Yuna bersamamu." oma tersenyum.
"Oma tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaganya." Al berjanji padanya, dan menatap Yuna yang duduk disebelahnya. Oma mengangguk mengerti.
"Ayo, dimakan! Nanti pada dingin." Yuna mencairkan suasana. Mereka melanjutkan kembali makan malamnya. Ayuna dan oma tidak mengatakan apapun mengenai pertemuannya dengan Monika. Bagi mereka Al tidak perlu tahu, karena mereka tidak ingin membuat Al sedih dan terluka. Mereka berbicara hangat, mengenai apa saja yang mereka lalukan hari ini.
🌸🌸🌸
"Oma, kita pergi dulu!"Al dan Yuna berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Kalian hati-hati ya!" pesannya.
"Baik, Oma." jawab Yuna. "Assamu'alaikum."
"Wa'alaikumusalam." jawabnya. Mereka segera keluar dan menuju lift. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Al membiarkan Yuna kembali bekerja. Itupun karena ada andil oma di dalamnya. Oma memaksa Al untuk mengizinkannya masuk.
"Kamu yakin oma tidak akan bosan?" tanya Al saat mereka dalam perjalanan menunu kantor.
"Yakin!" jawabnya.
"Oma sendirian loh di apartemen." Alvaro ragu apakah oma Tyas akan nyaman ditinggal sendirian disana.
"Oma yang memaksaku untuk masuk. Katanya, hari ini oma mau bertemu dengan temannya." jelas Yuna. Al meliriknya dan akhirnya tidak lagi membahas masalah itu. Mereka sampai di Ivander Group. Setelah memarkir mobilnya, mereka berjalan bersama memasuki lobby. Seperti biasa setiap karyawan menyapa hamya Yuna yang menjawab.
"Nona, ini jadwal tuan Al hari ini." Jo memberikan tablet yang dia pegang pada Yuna. "Dan berkas-berkas yang telah selesai sudah saya simpan disini." Jo menunjuk lemari yang ada di belakang Yuna. "Ini kuncinya."
"Terima kasih, Jo. Kamu jadi susah payah menghandle pekerjaanku." ucap Yuna.
"Tidak apa-apa." jawabnya.
"Nanti, aku traktir makan siang ya." Jhosua tersenyum.
"Kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu." pamit Jo, Ayuna mengangguk.
"Wah, padat banget jadwalnya hari ini." Yuna mulai mencari dan melengkapi dokumen yang mereka perlukan saat meeting nanti.
"Dimana Tuan Al?" tiba-tiba Ayuna dikagetkan dengan kehadiran Tuan James yang terlihat berantakan.
"Maaf, Tuan, apakah anda sudah ada janji sebelumnya?" Ayuna ingat Al tidak ada janji temu dengan James.
"Diam kau! Dimana Al?" bentaknya.
"Tapi, Tuan ...!"
"Alvarooo!! Dimana kau?" belum sempat Yuna bertanya tuam James sudah kembali berteriak dan membuka pintu ruangan Al.
"Tuan, anda tidak boleh masuk begitu saja." Yuna yang berusaha menghentikannya malah didorong oleh James. Ayuna jatuh tersungkur di depan Al.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya setelah membantu Yuna berdiri. "Jameeesss!!" teriak Al. Al berlari menuju James dan melayangkan tinjunya pada wajah James.
"Al, Hentikan!" Yuna menahan tangan Al agar tidak kembali memukul James. James mengusap kasar mulutnya yang terluka karena pukulan Al.
"Dimana putriku?" tanyanya.
"Kenapa kau mencari putrimu disini?" Al balik bertanya.
"Alvaroo!! Aku tahu kau menculik putriku." James tidak dapat mengendalikan emosinya. "Dimana putriku?" teriaknya lagi. Jhosua terlihat berdiri di pintu masuk bersama dua orang security.
"Aku tidak tahu dimana putrimu." jawab Al. "Jika putrimu hilang seharusnya kau ke kantor polisi bukan datang kepadaku."
"Aku tahu kau yang menculiknya, aku tidak akan memaafkanmu, jika terjadi sesuatu pada putriku." James yang emosi berusaha mencengkram jas Al, tapi usahanya digagalkan oleh Jo.
"Bawa dia!" Al memerintahkan Jo untuk membawanya keluar. Jhosua menarik James keluar secara paksa.
"Alvaro, kembalikan putriku! Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada putriku." James meronta dan terus berteriak. "Alvaroooo!!"
~tbc