CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 116



"Al, lepas!!" Yuna berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Al. "Al ...?" Alvaro tidak mendengarkannya, dia terus saja memegang Yuna hingga mereka sampai ke ruangannya. "Lepas, Al!" Al melepaskannya. "Ada apa denganmu?" Yuna melihat pergelangan tangannya memerah.,


"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kamu lakukan di ruangannya? Bukankah kamu bilang mau ke cafe? Apa kalian janjian?" Alvaro menendang kursi yang ada di depannya, dahinya berkeringat, napasnya naik turun dengan begitu cepat.


"Kamu salah paham, Al." Yuna mendekat dan memegang tangannya yang berkeringat. "Al, lihat aku!" Alvaro memandang kaca besar yang ada di depannya, dimana terlihat langit begitu cerah. Awan putih menari kesana kemari. Seharusnya ini bisa menjadi hari yang menyenangkan untuk semua orang, tapi tidak untuknya. Hatinya berdetak tak karuan, dia seperti baru saja menaiki ratusan anak tangga.


"Al ..." karena tidak mendapatkan jawaban, Yuna berjalan dan berdiri dihadapan Al. Ayuna melihat wajahnya memerah seperti terkena sengatan matahari. Ayuna menyentuh wajah Al dengan kedua tangannya yang dingin. Dia membuat Al menatap padanya."Kamu salah paham! Semua tidak seperti yang kamu pikirkan." ucapnya lembut. "Awalnya aku kesana untuk memberikan minuman pada Gina dan yang lain." Al menatapnya, napasnya sudah mulai sedikit beraturan.


"Lalu, kenapa kamu bisa bersama dengannya?" sudut bibir Yuna tertarik ke atas.


"Saat berada disana, aku mendengar Mahen sedang memarahi salah satu karyawan. Bahkan, dia sampai melemparkan dokumen yang dia pegang dan memecatnya." mata Al membesar. Ayuna beringsut, tapi Al mencegahnya. Alvaro meletakkan tangannya di pinggang Yuna.


"Lalu?" tanyanya.


"Seperti yang kamu lihat, kami berbicara. Aku memberitahunya bahwa dia tidak seharusnya seperti itu."


"Dan, apa tanggapannya?" Yuna menggeleng.


"Dia tidak mengatakan apapun. Mahen bukan seperti dia yang dulu, dia seperti orang lain bagiku." jawab Yuna.


"Dia memang orang asing untukmu." selanya.


"Bukan begitu, Al! Aku hanya merasa Mahen kini sangat berbeda."


"Sudahlah, tidak perlu membahasnya. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat tahu kamu sedang bersama dengannya?" Ayuna menjauhkan tangan Al dari pinggangnya, tapi bukannya berhenti Al malah menarik Yuna ke pelukannya.


"Al, apa yang kamu lakukan?" Yuna gelisah tapi Al terlihat begitu santai.


"Dadaku terus bergemuruh, kepalaku sangat sakit." Al menyandarkan kepalanya di bahu Yuna. "Aku sangat takut kalau kamu akan berpaling dariku." Al membenamkan kepalanya di leher Yuna. Seketika Ayuna menegang. Ayuna dapat merasakan hembusan napas Al.


"Al ..."


"Sebentar saja!" ucapnya, Al semakin mengeratkan pelukannya. Ayunapun membalas pelukan Al. "Jangan lakukan itu lagi! Jangan menemuinya tanpa izin dariku."


"Baiklah." Yuna membelai lembut kepala Al.


"Tuan, saya ..." Ayuna mendorong tubuh Al, sementara Jo kembali menutup pintu, dia mengurungkan niatnya untuk masuk setelah melihat adegan mereka.


"Kamu sih!!" omel Yuna.


"Kenapa aku? Kamu juga menikmatinya." gida Al.


"Ah, sudahlah! Aku keluar dulu." Yuna meninggalkan Al, Alvaro masih bisa mencium wangi parfum yang Yuna pakai di lehernya.


"Maafkan saya, Nona!" ucap Jo saat melihat Yuna keluar. Ayuna tidak menjawab dan langsung pergi menuju mejanya.


"Apa dia marah karena aku menganggu mereka?" Jo masih menatap Yuna.


"Jangan terus melihatku, Jo." ucap Yuna tanpa melihatnya.


"Maaf." Jo tersenyum kemudian masuk ke ruangan Al.


"Kenapa kamu selalu menjadi penganggu?" tanya Al begitu Jo berdiri di depannya.


"Maaf, Tuan."


"Sebaiknya kamu segera menjadikan Gina kekasihmu, agar kamu tidak terus-terusan mengangguku." Al mengambil dokumen yang disodorkan olehnya.


"Saya dan Gina hanya berteman, Tuan." jawabnya.


"Siapa yang ingin kamu bohongi?" Al terus memeriksa dokumen itu.


"Bagaimana dengan yang saya minta tadi? Kamu sudah menemukan apa artinya?" Jo menggeleng.


"Saya akan cari tahu lagi, Tuan." Jo segera keluar dari ruangan Al.


"Sebenarnya apa ini?" Al masih penasaran dengan tanda yang Yuna berikan padanya tadi. Dia terus menatap tangannya yang sedikit bersilang.


🌸🌸🌸


"Hi, apa aku menganggumu?" tanyanya.


"Masuklah!" oma membuka lebar pintu membiarkan Hans masuk. Mereka berjalan menuju ruang tamu. "Al sedang di kantor." ucapnya.


"Aku kesini bukan untuk menemuinya, tapi untuk menemuimu." Hans duduk di sofa begitupun dengan oma Tyas.


"Apa kau tidak bosan disini terus?" Hans menatap ke sekeliling ruangan itu.


"Tidak." jawab oma.


"Bagaimana kalau kita keluar? Udara segar mungkin akan membuat suasana hatimu menjadi lebih baik." oma berpikir sejanak.


"Tunggu sebentar!" oma berjalan menuju kamarnya. Oma Tyas berganti pakaian dan mengambil tasnya. Setelah selesai bersiap diapun kembali menemui Hans.


"Ayo!" ajaknya. Hans berdiri dan mengikuti oma keluar dari apartemen Al.


"Kita mau kemana?" tanya oma begitu mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apakah kamu tidak mau menemuinya?" tanyanya.


"Tentu saja." Dia memang ingin sekali menemui Bima. Mereka pergi menuju makam Bima. Sesampainya disana, oma Tyas menaburkan bunga yang sebelumnya dia beli pada pedagang yang berjualan di luar pemakaman.


"Apa kabarmu?" oma membersihkan nisannya. Terlihat raut kesedihan yang dia rasakan saat melihat makam Bima, sahabat sekaligus orang yang pernah mengisi hatinya.


"Dia terus mengingatmu hingga ajal menjemputnya." ucap Hans.


"Aku tidak tahu kenapa dia begitu keras kepala." jawab oma. "Dia selalu lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri."


"Semuanya salahku! Jika aku tidak memaksanya untuk meninggalkanmu, mungkin saat ini, kalian sudah bahagia menua bersama." Hans menyesali keegoisannya dulu.


"Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali." Oma Tyas sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya, semua ketidakadilan itu sudah tuhan gantikan dengan kehadiran dion dan juga Yuna.


Hans menatap makam kakaknya dengan mata berair, dia kembali teringat bagaimana jahatnya dia dulu, saat mengancam akan mengakhiri hidupnya jika tidak bisa memiliki oma tyas.


"Hans ..."


"Apa?" tanyanya.


"Hentikan semua ini! Jangan lagi ikut campur dengan masalah mereka. Aku benar-benar tidak ingin cucuku menderita. Aku sangat senang melihat dia bersama Al. Al begitu mencintainya, aku bisa tenang jika menitipkan cucuku padanya." Hans memegang bahunya.


"Baiklah. Aku tidak akan lagi ikut campur urusan mereka." Oma Tyas sangat lega saat mendengar perkataannya.


"Terima kasih." ucapnya.


"Tapi, Tasya, ada sesuatu yang ingin aku ketahui." oma menunggu apa yang ingin ditanyakannya.


"Dimana putramu?" Hans berpura-pura tidak tabu.


"Dia sudah lama meninggal." Oma Tyas menceritakan kejadian pahit yang menimpa anak dan menantunya. Hingga bagaimana dia membesarkan Yuna seorang diri." Hans mendengarkan dengan seksama.


"Apa kau membenci anak itu?" tanya Hans.


"Tidak. Aku tidak pernah menyalahkannya atas kepergian putraku. Bagaimana aku bisa menyalahkannya karena hidup dan mati itu berada ditangan illahi." Hans bernapas lega mendengar jawabannya. "Aku hanya kecewa kenapa dia ataupun keluarganya tidak ada yang datang untuk menemui cucuku."


"Bagaimana dia bisa menemui cucumu, kalau semua aksesnya ditutup rapat." jawab Hans.


"Apa maksudmu?" Oma menoleh padanya.


"Anak itu adalah Al, cucuku!" oma terduduk pada rumput yang ada dibelakangnya. Dia begitu kaget mendengar kabar yang dikatakan oleh Hans. Hans mencoba menahannya, tapi oma menolaknya.


"Dia, Al?" oma masih belum yakin.


"Iya." oma menghela napas panjang.


~tbc