
"Jerman?" Al mengangguk. "Apa aku boleh ikut?" Alvaro menggeleng. "Kenapa?" Ayuna meletakkan garpu dan pisau yang dia pegang. Wajahnya terlihat sedih.
"Aku pergi dengan kakek. Ada masalah dengan perusahaan tante Soraya." ucapnya.
"Kenapa aku nggak boleh ikut? Aku janji nggak akan ganggu kamu." Ayuna berat untuk berpisah dengan Al.
"Sayang, dengarkan aku! Aku juga maunya seperti itu. Tapi, aku membutuhkanmu untuk tetap disini." Ayuna mengangkat wajahnya. "Aku ingin kamu menjalankan perusahaan." Yuna terkejut.
"Tapi, aku nggak tahu apapun mengenai perusahaan." jawabnya.
"Ada Jhosua yang akan membantumu. Aku berharap kamu bisa bertahan sebentar saja. Hanya sampai kami membuat perusahaan itu bangkit lagi. Kasihan karyawan yang mengantungkan hidup disana." Ayuna terdiam. Makan malam yang awalnya romantis berubah menjadi sunyi. Ayuna tidak lagi berselera menyantap makanan yang ada dihadapannya. "Kamu baik-baik saja?" tanya Al.
"Iya." jawabnya lemah.
"Sayang, aku tahu kamu sedih. Tapi, aku juga tidak bisa mengorbankan banyak orang disana." Alvaro menggenggam tangan Yuna.
"Aku tidak mau kamu pergi." jawab Yuna.
"Sebentar saja! Aku janji akan menyelesaikan semua pekerjaan disana secepat mungkin." ucapnya. Ayuna hanya mampu mengangguk lemah. Entah kenapa perasaannya saat ini tidak menentu. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Kapan kamu berangkat?" tanyanya.
"Besok." Ayuna menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa cepat sekali?"
"Keadaan disana sudah benar-benar tidak terkendali. Kamu jangan khawatir, kakek bersamaku. Aku pasti segera pulang." Ayuna kembali mengangguk.
"Kalau begitu kita pulang saja." Ayuna berdiri.
"Tapi, kenapa?" tanya Al.
"Bukankah besok kamu harus berangkat? Aku harus mengemas semua keperluanmu." Al lega, karena akhirnya Yuna bisa mengerti. Mereka pulang, Al tidak akan menyia-nyiakan waktu yang dia punya untuk bersama dengan Yuna.
"Kamu sudah siap?" tanya Hans saat melihat mereka turun.
"Sudah." jawab Al, tangannya masih mengenggam erat Yuna. Mereka memasuki mobil bersama-sama karena Ayuna ikut ke Bandara untuk mengantar Al.
"Aku berangkat ya!" ucapnya saat mereka sudah berada di Bandara sekitar 1/2 jam. Ayuna memeluk Al erat, air matanya mengalir begitu saja. Alvaro mengusap lembut kepalanya.
"Aku akan segera kembali." ucap Al, Yuna mengangguk.
"Kamu tenang saja! Kami akan kemvbali secepat mungkin." hibur Hans.
"Kakek jaga diri, kamu juga." pesan Yuna. Hans mengangguk.
"Kamu juga." ucap Al. "Tolong jaga Ayuna selama aku tidak ada." pesannya pada Jo.
"Baik, Tuan." jawabnya.
Setelah itu Al dan Hans berjalan ke dalam, Ken mengikuti mereka. Mereka harus secepatnya tiba di Jerman. Walaupun berat, tapi Yuna harus tegar.
"Kita pulang sekarang, Nona?" tanya Jo, begitu Al tidak lagi terlihat. Ayuna mengangguk. "Nona mau saya antar pulang atau langsung ke kantor?" tanya Jo lagi.
"Apa ada yang harus kulakukan hari ini?" tanya Yuna.
"Maaf, Nona, tapi tuan berpesan agar saya membantu anda menguasai semua proyek dan juga perusahaan." Jo sesekali menatapnya melalui spion. Ayuna terlihat melamun.
"Apa tidak bisa besok saja? Hari ini aku sangat letih." Jo kembali menatapnya.
"Baiklah, Nona." jawab Jo. Sebenarnya, siang ini mereka ada janji dengan Bumi, tapi melihat kondisi Ayuna saat ini, tidak mungkin baginya untuk menemui mereka.
🍀🍀🍀
"Ada apa?" tanya Bumi saat melihat Kai masuk ke ruangannya.
"Maaf, Tuan. Tapi, meeting dengan Ivander Group di cancel." lapor Kai.
"Apa-apaan mereka?" Bumi terlihat kesal.
"Untuk sementara tuan Alvaro tidak akan bisa menghadiri meeting ataupun memantau perkembangan proyek kita." jawabnya. Bumi menoleh dan menunggu penjelasan selanjutnya dari orang kepercayaannya itu. "Tuan Alvaro berangkat ke Jerman. Tidak tahu kapan kembalinya." jelasnya.
"Apa menurutnya dia bisa mempermainkanku?" Aku memilihnya untuk membangun usahaku, tapi dia pergi untuk tugas lain?" Bumi semakin kesal.
"Selama tuan Alvaro tidak ada, nona Ayuna yang akan menghandle perusahaan dan juga kerjasama kita." matanya berbinar saat mendengar perkataan Kai.
"Ayuna?" tanyanya dengan bibir terangkat.
"Benar, Tuan. Seharusnya nona Ayuna yang akan menghadiri rapat, tapi beliau sedang tidak enak badan." Kai mengatakan sesuai dengan apa yang Jo sampaikan.
"Dia sakit?" tanya Bumi, Kai mengangguk.
"Baiklah. Kamu atur ulang jadwal meeting dengan mereka." perintahnya.
"Baik, Tuan." Kai segera keluar dari ruangannya.
"Jadi, mulai saat ini aku akan selalu bertemu denganmu?" Bumi kembali tersenyum.
🍀🍀🍀
"Nyonya!!" Dea mengetuk-ngetuk pintu kamar Yuna. Sejak dari Bandara tadi, Ayuna belum keluar dari kamar.
"Gimana?" tanya Jo yang baru datang dari kantor. Dea menggeleng. "Dimana kunci cadangan?" tanyanya.
"Sebentar, Tuan, Saya ambilkan dulu." Dea berlari mencari kepala pelayan.
"Nona, ini saya Jhosua!" Jo mencoba mengetuk pintunya lagi. "Nona!!" ulangnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Yuna yang terkejut melihat Jo dan beberapa pelayan berkumpul di depan kamarnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tsnya Jo, wajahnya sangat khawatir.
"Aku ....? Aku baik! Kenapa?" tanyanya.
"Maaf, Nona. Sejak tadi kami mencoba memanggil anda, tapi tidak ada jawaban." jelas Jo.
"Aku sedang di kamar mandi." jawabnya. "De, aku lapar!" ucap Yuna pada Dea. Setelah itu mereka turun dan langsung menuju meja makan.
"Kenapa, Nyonya?" tanya Dea saat melihat Ayuna hanya menatapi makanan yang tersaji di meja.
"Aku nggak mau makan ini." wajahnya mulai cemberut.
"Lalu, apa yang nyonya inginkan?" tanya Dea.
"Aku pengen mie ayam." jawabnya cepat.
"Tapi, butuh waktu lama untuk membuatnya. Apa nyonya mau bersabar?" tanya Dea lagi.
"Aku nggak mau yang dibuat disini. Aku mau mie ayam yang dijual di pinggir jalan." semua orang terkejut mendengarnya.
"Tapi, nona, kalau tuan tahu beliau bisa marah." Dea mencoba menghentikannya.
"Jo ...." Jhosua mendekat.
"Ada apa, Nona?" tanya Jo.
"Aku mau mie ayam." Jo menatap pada Dea.
"Baiklah, Nona, aku akan meminta mereka untuk segera menyiapkannya." Jhosua menoleh pada Dea.
"Aku nggak mau." Ayuna beranjak dari kursinya.
"Nyonya mau kemana?" tanya Dea.
"Mau cari mie ayam gerobak." jawabnya cepat.
"Tuan, bagaimana ini?" Dea terlihat cemas.
"Biar aku saja." Jo berlari menyusul Yuna.
"Nona, tunggu!" Ayuna berhenti dan menoleh padanya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Saya akan mengantar anda." Jo berjalan menuju mobilnya, kemudian mempersilahkannya masuk. Mereka mengitari jalanan disepanjang kompleks.
"Kita kesana saja, Jo." Ayuna menunjuk penjual mie ayam gerobak yang tak jauh dari mereka.
"Nona tunggu saja disini. Biar saya yang kesana." ucap Jo.
"Nggak mau! Aku ikut." Ayuna keluar dari mobil. Jhosua tidak bisa berkata apa-apa.
"Pak, saya pesan mie ayamnya 1 ya!" ucapnya setelah sampai di dekat penjual mie ayam.
"Bungkus atau makan sini, Non?" tanya si Bapak.
"Makan sini." Ayuna langsung duduk di kursi plastik yang tersedia. Jo berdiri di sisinya.
"Kenapa tidak dibungkus saja, Non?" tanyanya.
"Makan mie ayam enaknya makan di tempat. Kalau sudah dibawa pulang rasanya tidak senikmat disini." jawabnya. "Kamu nggak mau?" Jhosua menggeleng saat Yuna menawarkannya.
"Ini, Non." Bapak itu menyerahkan mangkok yang berisi mie ayam.
"Pak, tolong tambahin sambalnya." pinta Yuna. Si Bapak memberikan mangkuk yang berisi sambal. Bukannya menambahkan satu sendok, Ayuna malah memasukkan dua sendok sambal. Mie yang ada di mangkuknya sudah berubah menjadi merah.
"Non, itu kebanyakan. Nanti anda bisa sakit perut." Jhosua mengingatkannya.
"Ah, kamu dari tadi berisik banget sih, Jo!" Ayuna menyantap mie itu tanpa kepedasan sama sekali. Jhosua semakin dibuat heran dengan sikap Yuna. Setelah puas menyantap mie ayam pedas tadi, Ayuna meminta Jo mengantarnya pulang karena dia sudah mengantuk.
🍀🍀🍀
"Kamu yakin Ayuna akan datang?" tanya Bumi pada Kai. Saat ini mereka sudah berada di restoran tempat meeting diadakan.
"Benar, Tuan." jawabnya. Bumi kembali memeriksa berkas yang ada ditangannya.
"Selamat pagi! Maaf kami terlambat!" ucap Yuna begitu sampai dihadapan Bumi.
"Tidak masalah." Yuna sedikit tertegun saat melihat Bumi tersenyum ramah.
"Apa bisa kita mulai?" Yuna ingin segera mempercepat meeting dengannya.
"Kenapa terburu-buru? Aku bahkan belum sarapan." ujarnya.
"Masih banyak yang harus keselesaikan di kantor." jawabnya.
"Tapi aku tidak akan memulai meeting ini sebelum kita sarapan." Ayuna menghela napas, Bumi tersenyum tipis.
"Terserah saja." akhirnya Yuna mengalah. Bumi memanggil pelayan.
"Bukankah tadi beliau sudah sarapan?" Kai menatap Bumi dan Yuna dalam diam.
~tbc