CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 127



"Ada apa, Al? Apa yang terjadi pada Yuna?" oma Tyas bingung melihat sikap Al yang sejak tadi lebih banyak diam.


"Oma, benarkah Yuna tidak disini?" tanyanya lagi.


"Ayuna tidak ada kesini. Tapi, kenapa sejak tadi kamu bertanya tentang Yuna?" Oma Tyas yang tidak tahu apa-apa menjadi bingung.


"Ayuna kabur, Oma." Oma membelalak.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Yuna marah padaku, dia membenciku." jawab Al.


"Tapi, kenapa?" Oma masih tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka.


Al menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Yuna.


"Sebenarnya Oma sudah tau." Al kaget.


"Kakekmu yang cerita ke Oma." sepertinya Oma Tyas tahu apa yang ada dipikiran Al.


"Ini yang Oma khawatirkan, seharusnya, sejak awal kamu jujur padanya." ucap Oma.


"Aku takut, Oma! Aku takut dia membenciku." Al sangat gusar.


"Al, semarah apapun dia oma yakin dia tidak akan membencimu, karena yang oma tahu dia sangat mencintaimu. Beri dia waktu, Oma yakin setelah tenang dia akan kembali padamu." Oma Tyas menenangkannya.


"Dia menyalahkan atas kepergian kedua orangtuanya." Oma menarik napas dalam.


"Ayuna menyalahkan dirinya atas kematian kedua orangtuanya. Dia berjuang sangat keras untuk bisa bertahan hingga saat ini. Dia berpikir kalau saja dia tidak menolongmu, mungkin kedua orangtuanya masih hidup. Tapi, itu hanya rasa kecewanya padamu. Saat itu dia berharap kamu ada, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih pada kedua orangtuanya karena telah berusaha untuk menyelamatkan kalian." Oma Tyas menjelaskan pada Al, apa yang Yuna rasakan padanya.


"Aku tahu, Oma. Aku salah!" Al menatap sepatunya. "Kalau saja saat itu aku paksakan untuk menemuinya mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini." Al menyesal kenapa dia tidak bersikeras menemukan Yuna.


"Oma paham apa yang terjadi padamu. Bagaimana mungkin anak sekecilmu, mampu melawan para penguasa." Oma Tyas menepuk bahu Al.


"Kamu harus sabar! Ini cukup berat untuknya. Kamu harus jelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi, karena itu bukan salahmu." Mata Al berkaca-kaca saat mendengar ucapan oma Tyas.


"Maafkan aku, Oma! Karenaku, oma harus kehilangan anak dan menantu Oma." Al memegang tangan Oma. Dia merasa sangat menyesal untuk apa yang telah terjadi.


"Oma sudah bilang, itu bukan salahmu. Kalian hanya korban, para penculik itu yang seharusnya meminta maaf." Oma selalu emosi tiap kali mendengar apa yang terjadi pada mereka.


"Terima kasih, Oma." Alvaro mencium tangan Oma. "Kalau begitu aku pulang dulu, aku harus mencari Yuna lagi." Alvaro berdiri.


"Kamu mau kemana?" tanya Oma saat melihat Al sudah bersiap untuk pergi.


"Aku harus kembali ke Jakarta. Aku yakin Yuna masih ada disana." jawabnya.


"Kamu tidak akan kemana-mana." cegah Oma.


"Tapi, Oma ..." Al ingin membantah tapi Oma Tyas mengenhentikannya.


"Ini sudah larut, istirahatlah disini!" ucap Oma setelah melihat jam di dinding menunjukkan pukul 21.45 wita.


"Aku tidak punya banyak waktu, Oma. Jika kamu terlambat, Ayuna bisa pergi selamanya dari sisiku." tolak Al.


"Selama aku masih hidup, Dia tidak akan kemana-mana." jawabnya. "Ayo, sekarang istirahat." Oma Tyas mengajak Al menuju kamar tamu. Alvaro mengikuti perintah Oma, tapi hati dan pikirannya masih saja sama bersama Yuna.


🍀🍀🍀


"Kamu sudah makan?" tanya Andreas yang baru pulang dari rumah sakit. Begitu jam prakteknya selesai, Andreas segera pulang ke apartemennya. Tapi, saat sampai dia mendapati Yuna sedang duduk di dalam kegelapan.


"Aku belum lapar!" Andreas melihat Yuna yang sedang melamun.


"Mau sampai kapan kamu menghindarinya?" tanya Andreas.


"Aku tidak tahu." jawabnya lemah.


"Yuna, semua masalah dapat dibicarakan baik-baik." Andreas mencoba menasehatinya.


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi." jawabnya. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai secara bersamaan." ucap Yuna, Andreas terdiam dan menatap Yuna.


"Tapi, itukan bukan kesalahan Al?" ucapnya Andreas.


"Aku tahu, tapi harusnya dia datang untuk menemuiku, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih pada kedua orangtuaku.


"Gimana bisa anak sekecil dia melawan kakek dan mamanya?" Ayuna menatap tajam padanya. "Sebenarnya dia berusaha mencarimu, bahkan disaat kondisinya belum baik, Al masih bersikeras untuk pergi mencarimu." Ayuna snagat terkejut mendengar itu penuturan Andreas.


"Kalau Al tahu bahwa aku yang membawa Yuna, aku yakin dia akan membunuhku." Andreas bergidik. "Aku harus membuatnya kembali pada Al." ucapnya.


"Aku harus apa?" Ayuna sangat bingung, dia kembali ke kamar yang telah disediakan oleh Andreas.


🍀🍀🍀


Paginya, setelah berpamitan pada Oma Tyas, Al segera berangkat menuju bandara. Dia tidak ingin membuang-buang waktu. Dia ingin segera menemukan Yuna dan menjelaskan semua yang terjadi.


"Gimana, Jo?" Al segera menghubungi Jhosua begitu sampai di Jakarta.


"Saya belum menumukan nona Ayuna Tuan." jawabnya.


"Kamu telusurin lagi semua jalanan yang ada di dekat apartemen. Kalau perlu periksa semua cctv yang ada di sana." perintahnya.


"Baik, Tuan." jawab Jo.


Begitu sampai Ibukota, Alvaro segera mencari keberadaan Yuna. Dia mendatangi Cafe dan tempat yang biasa mereka datangi, tapi hasilnya nihil. Ayuna tidak ada disana.


"Kemana lagi aku harus mencarimu." ucapnya pada dirinya sendiri. Lama Al berputar di jalanan Ibu kota, tapi Ayuna tidak terlihat saa sekali. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke apartemen dengan tangan kosong.


"Tolong, kamu jaga dia!" Andreas memberi perintah pada seorang wanita cantik yang baru saja datang ke apartemennya. "Aku ada praktek sore." lanjutnya. Wanita itu mengangguk tanda mengerti. Setelah menitipkan Yuna padanya, Andreas segera keluar dari apartemennya.


"Siapa dia? Kenapa dia begitu peduli padanya?" tanyanya.


"Kamu siapa?" Ayuna kaget karena melihat seorang wanita menggunakan koas putih dan celana dasar berwarna hitam sedang berdiri di belakangnya. "Dimana Andreas?" tanyanya.


"Dia ada praktek sore." dari nada suaranya, Yuna tahu bahwa wanita itu tidak menyukainya.


"Lalu, siapa kamu?" tanya Yuna lagi.


"Aku Cleo.!" ucapnya.


"Aku Ayuna!" Yuna memperkenalkan dirinya. Tapi, wanita itu bersikap sangat dingin padanya. "Aku akan menjagamu dari ruang tamu." jawabnya, lalu meninggalkan Yuna di kamarnya.


🍀🍀🍀


"Jo, apa Yuna sudah ketemu?" tanya Gina saat melihat Jhosua berjalan seorang diri di lobby.


"Belum." jawabnya.


"Lalu, dimana tuan Al?" Gina sejak pagi tadi belum melihat atasannya itu.


"Mungkin di apartemennya." Jo sangat yakin Al sudah berada disana.


"Apa kamu sudah berhasil menghubunginya?" tanya Jo, Gina menggeleng.


"Nomornya tidak bisa dihubungi."


"Tolong kamu hubungi dia terus, kalau sudah tersambung segera beritahu aku." Gina mengiyakan ucapan Jo, setelah itu Jhosua berpamitan menuju mobilnya. Sesampainya di apartemen Al, Jo segera mengetuk pintu, tapi sudah 10 menit Al tidak juga membukanya. Jo menghubungi ponsel Al, tapi tetap tidak ada jawaban. Karena penasaran Jhosua membuka pintu apartemen Al. Dia melihat sekeliling ruangan sangat gelap, Jo mencari skalar dan menghidupkan lampu. Tidak terlihat Al dimanapun, Jo berjalan menuju kamar Al, tapi tetap saja Alvaro tidak ada disana. Hanya kamar Yuna yang belum dia lihat, Jo membuka pintu, dan menghidupkan lampu. Benar saja, Alvaro sedang berbaring disana.


"Tuan, bangun!" Jo mencoba membangunkannya.


"Yuna ...!" panggilnya dalam tidurnya.


"Tuan ..." Jo membangunkannya kembali dan betapa kagetnya dia karena tubuh Al sangat panas. Jhosua segera menghubungi Andreas.


"Apa yang terjadi padanya?" Andreas datang setelah 30 menit. " Untung saja praktekku sudah selesai, kenapa tidak kau bawa ke rumah sakit saja?" tanyanya sambil memeriksa tekanan darah Al.


"Kau tahu apa yang terjadi jika tuan Al disentuh orang lain." jawab Jo. "Bagaimana kondisinya?"


"Dia hanya kelelahan. Apa dia tidak makan sejak kemarin?" tanya Andreas.


"Aku tidak tahu, sejak kemarin beliau sangat sibuk. Pagi tadi saja beliau baru pulang dari Malang." Andreas terkejut.


"Kenapa dia harus pergi ke Malang? Kenapa dia tidak mencari Ayuna disini saja?" tanya Andreas.


"Dari mana kau tahu kalau tuan Al mencari nona Ayuna? Aku tidak pernah mengatakan kalau tuan Al sedang mencarinya." Andreas tercekat, sementara Jo menatapnya tajam.


"Mati aku!"


~tbc