CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 143



"Aku tidak menyangka kamu benar-benar berbeda dari Mahen yang aku kenal dulu." Yuna menggelengkan kepalanya.


"Aku seperti ini karenamu." jawab Mahen.


"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Seharusnya kamu bisa melupakanku." ucapnya.


"Aku tidak akan pernah melakukan itu." Mahen berdiri dan mendekat pada Yuna.


"Kamu benar-benar sudah tidak waras." Yuna berusaha menghindar darinya, Mahen mencengkram tangan Yuna. "Mau apa kamu? Lepas!!" Ayuna berontak, tapi Mahen semakin kuat mencengkramnya.


"Aku tidak peduli pada apapun. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu. Sekalipun harus menghancurkan Al." Mahen benar-benar terobsesi dengannya.


"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, cinta tidak bisa dipaksakan. Aku hanya mencintai Al." Ayuna berhasi melepaskan tangannya dari cengkraman Mahen. "Dan harus kamu harus ingat, sekuat apapun kamu berusaha untuk memisahkan kami, ataupun menjatuhkan Al, aku akan tetap berdiri disisinya." setelah mengatakan itu, Ayuna segera keluar dari ruangannya. Ayuna masih bisa mendengar suara barang yang berjatuhan dari ruangan Mahen.


"Ada apa?" saat melihat Yuna keluar dengan wajah yang memerah, Gina menghampirinya.


"Tidak ada apa-apa." bohongnya.


"Jangan bohong! Gue bisa melihat dari wajahmu." sela Gina.


"Aku sangat kesal padanya." Yuna menoleh ke ruangan Mahen. Gina mengerti apa yang mungkin terjadi disana.


"Tapi, lo baik-baik aja kan? Dia gak melakukan sesuatu ke lo?" Yuna menggeleng.


"Syukurlah! Gue takut dia nekat berbuat sesuatu untuk dapatin lo." ucap Gina.


"Gue ke atas dulu ya!" Yuna berpamitan setelah merasa lebih tenang.


"Hati-hati ya!" ucapnya, sebelum pergi Gina menyempatkan melihat ke ruangan Mahen.


Ayuna memikirkan kembali semua perkataan Mahen. Dia benar-benar tidak menyangka Mahen bisa berbuat hal seperti itu. Dia memegang pergelangan tangannya yang memerah.


"Apa benar aku mengubahnya menjadi seperti itu?" lamunnya.


"TING." pintu lift terbuka dan Ayuna kaget saat melihat Jhosua berdiri di depannya.


"Ada apa, Nona?" tanya Jo saat melihat keterkejutan di wajah Yuna.


"A-aku tidak apa-apa." jawabnya.


"Apa anda tidak ingin keluar?" melihat Yuna masih tidak beranjak dari lift membuat Jhosua semakin penasaran.


"Ah, iya." Yuna segera keluar dan bergegas menuju meja kerjanya.


"Ada apa dengannya?" Jo menekan tombol 2 dan pintu lift tertutup.


"Na, kamu dari mana saja?" Refa yang melihat Yuna baru tiba segera menghampirinya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tuan Al dari tadi cariin kamu." Refa tampak khawatir.


"Terus kamu bilang apa?"


"Aku bilang kamu lagi ke Divisi Keuangan ngambil dokumen." ucapnya.


"Aku ke ruangan tuan Al dulu." Yuna menyerahkan laporan itu ke tangan Refa. Setelah mengetuk pintu, diapun segera masuk.


"Al ..." ucapnya saat melihat Alvaro menatap tajam padanya.


"Darimana saja kamu?" tanya Al dingin.


"Aku baru saja dari lantain15." jawabnya.


"Kenapa kamu harus pergi kesana sendiri?" Suara Al meninggi


"Aku ingin bertemu dengannya, dan menanyakan apakah semua yang terjadi karena perbuatannya." Yuna berkata jujur, Al berdiri dan memegang kedua bahunya.


"Kenapa kamu begitu ceroboh? Aku sudah bilang dia itu berbahaya. Kenapa kamu tidak bisa mendengarkanku?" Al marah.


"Aku tidak berpikir kesana. Aku hanya ingin tahu apa benar dia pelakunya." jawab Yuna.


"Dia tidak mengatakan secara langsung kalau dia pelakunya, tapi dari sikapnya aku yakin kalau dia adalah dalang dibalik semua ini." Al mengalihkan matanya ke arah kaca besar yang berada di belakangnya.


"Jangan pernah pergi sendiri menemuinya lagi." Alvaro memperingatkannya. Ayuna mengangguk.


"Apa kamu baik-baik saja?" Al tersadar kalau sejak tadi dia terlalu emosi padanya.


"Ya, aku baik-baik saja." Yuna menarik lengan bajunya untuk menutupi tangannya yang memerah.


"Benarkah?"


"Iya." Alvaro memeluknya.


🍀🍀🍀


"Tuan, kita sudah sampai." Leo menghentikan mobilnya di depan rumah utama.


"Kamu ikuti terus mereka. Aku ingin kamu memberi bocah sombong itu sedikit pelajaran. Berani-beraninya dia melawanku." perintahnya.


"Baik, Tuan." Candra segera keluar dan Leo membawa mobilnya lagi keluar dari perumahan itu.


"Sayang!" sapanya pada sang istri yang sedang duduk di sofa kamar mereka. Soraya tidak mengatakan apapun. "Kamu kenapa?" Candra mendekat dan memeluknya.


"Apa yang terjadi hari ini ada kaitannya dengan kamu?" Candra melepaskan pelukannya dan menatap dalam sang istri.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" ucapnya.


"Aku hanya ingin tahu. Karena rahasia ini hanya kita yang memgetahuinya." dia menatap curiga pada sang suami.


"Sayang, aku ini suamimu. Kita menikah sudah puluhan tahun, apa kamu tidak bisa mengenali seperti apa aku?" Candra meraih tangannya, kemudian mengecupnya.


"Aku hanya tidak ingin kamu terlibat masalah lagi dengan papa dan Al." dia begitu mengkhawatirkannya.


"Kamu tenang saja! Aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu pada keponakanku sendiri." dia berusaha meyakinkannya. "Kamu percaya pada aku kan?" Candra mengelus wajahnya.


"Iya. Tentu saja aku mempercayaimu." Soraya mendekap erat suami yang sudah lama tidak dia temui. Candra melepaskan tangan sang istri.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku mandi dulu." Candra mengecup dahinya dan segera berjalan menuju kamar mandi. Soraya terlihat kecewa dengan sikap sang suami, selama ini dia menahan semua hasrat yang sering menganggunya. Tapi, saat sang suami berada di depan matanya, Candra selalu menghindar. Dia begitu sibuk dengan pekerjaan dan ponselnya.


"Dasar tua bangka! Berani-beraninya dia menghasut istriku." Candra menekan nomor Leo.


"Beri dia pelajaran malam ini juga." setelah memberi perintah seperti itu, Candra langsung memutusnya. "Akan kuberi sebuah kejutan kecil untuk tua bangka itu. Dia pikir dia bisa berbuat seenaknya padaku." Candra tersenyum sinis, kemudian melepas semua pakaiannya dan menguyur tubuhnya dengan air yang ada di shower.


🍀🍀🍀


"Ayo!" Ayuna membuka pintu mobil milik Al. Mereka masuk dan Al kemudian mengendarai mobilnya keluar dari Ivander Group. "Kita makan diluar saja ya." ucapnya. Ayuna mengangguk.


"Kamu kenapa?" tanya Al, karena sejak tadi Ayuna lebih banyak diam. " Aku perhatikan kamu sering melamun."


"Aku tidak apa-apa." bohongnya. Padahal sejak tadi dia terus memikirkan perkataan Mahen.


"Jika ada sesuatu yang menganggumu, katakan padaku!" Al mengenggam tangannya.


"Aku hanya sedikit letih." ucapnya.


"Kamu yakin?" Yuna mengangguk.


"Ya sudah, kita take away aja." Al membatalkan niatnya untuk mengajak Yuna makan di restoran. Mobil Al memasuki area parkir yang ada di restoran yang dia tuju.


"Kamu tunggu disini, istirahat saja! Setelah memesannya, aku akan segera keluar." ucapnya pada Yuna.


"Baiklah!" Ayuna menurut, Al membuka pintu mobil dan berjalan menuju lobby restoran yang jaraknya tidak begitu jauh. Ayuna memperhatikan Al dari dalam mobil. Tak sengaja dia melihat ada dua orang pria yang mendekati Al menggunakan sepeda motor dan helm. Pria di belakang membawa sebuah kayu balok kayu.


"Al, awas!!!" teriak Yuna dari dalam mobil, mendengar teriakan Yuna, Al berbalik dan melihat sebuah kayu melayang ke arahnya. Alvaro menangkis pukulan itu menggunakan tangannya.


"Tolong!!!" teriak Yuna yang sudah berdiri di depan mobil mereka. Mendengar teriakan Yuna, mereka segera kabur dan menyempatkan memukul Al yang sedang memegangi tangannya.


~tbc