CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 138



"Na, Ayuna!!" Refa mengagetkannya.


"Hah? Ada apa?" tanyanya.


"Aku yang harusnya tanya, kamu kenapa?"


"Aku ... Tidak, aku tidak apa-apa." Ayuna segera masuk ke ruangan Al.


"Aneh banget!" Refa kembali ke meja mereka.


"Tuan, ini berkas terbaru dari tuan Brian." Yuna meletakkannya di depan Al. Alvaro memeriksa dokumen itu.


"Ada apa?" Al melihat Yuna sejak tadi melamun.


"Tidak. Apa pria tadi papanya Mahen?" tanyanya lagi.


"Iya." jawab Al.


"Kalau begitu, siapa pria yang bersamanya?" Al menghentikan kegiatannya dan menoleh padanya.


"Dia Leo, asisten pribadinya." jawab Al. "Kenapa kamu bertanya tentangnya?" Al menatapnya.


"T-tidak. Aku hanya merasa pernah melihatnya." jawab Yuna tidak yakin.


"Benarkah? Dimana?" Ayuna mengeleng.


"Entahlah, aku lupa!"


"Ini. Minta rekanmu untuk memberikannya pada Jo." Al memberikan kembali berkas itu padanya. Ayuna mengambilnya dan segera berjalan keluar.


"Sayang." panggil Al, Ayuna menoleh.


"Jangan lupa setelah ini kita akan keluar." Al mengingatkannya.


"Iya." Yuna tersenyum padanya, lalu kembali menutup pintu ruangan Al.


"Apa itu dia?" tanya Candra saat mereka berada di dalam lift.


"Sepertinya benar, Tuan." jawab Leo.


"Apa dia mengenalimu?" tanyanya.


"Saya tidak yakin, tapi sepertinya tidak."


"Kamu terus awasi dia. Pastikan apakah dia mengenalmu atau tidak. Aku tidak mau dia menjadi masalah untukku." perintahnya.


"Baik, Tuan."


"TING." pintu lift terbuka, mereka segera keluar dari sana dan berjalan menuju ruangan Mahen.


"TOK TOK TOK." Leo mengetuk pintu ruangan Mahen. Setelah mendapat perintah untuk masuk, mereka segera masuk ke ruangannya.


"Papa! Apa yang papa lakukan disini?" dia segera berdiri saat tahu yang datang adalah papanya.


"Papa ingin berbicara denganmu." Candra duduk di sofa yang ada disana, begitupun dengan Mahen.


"Apa yang ingin papa bicarakan?" tanyanya.


"Jelaskan padaku, apa benar yang papa dengar semalam?" Mahen sudah menebak apa yang ingin diketahui Candra.


"Iya, semuanya seperti yang papa dengar." jawabnya.


"Tapi kenapa harus dia? Apa tidak ada wanita lain?" Mahen menarik napas panjang.


"Aku hanya menginginkannya." jawabnya.


"Apa yang membuatmu begitu menginginkannya. Papa yakin diluaran sana, banyak yang mendambakanmu menjadi pasangan mereka." jelasnya.


"Aku tidak peduli. Yang aku inginkan hanya Ayuna." Mahen kembali bersikap keras kepala.


"Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu?" Mahen diam, dia tahu bahwa Ayuna hanya menganggapnya teman.


"Jika bukan karena Al, aku pasti sudah mendapatkannya." Mahen menahan kecemburuannya.


"Kamu tahu siapa dia?" Mahen mengangguk.


"Dia itu wanita yang bersama dengan Al sewaktu penculikan itu terjadi." Candra menatap tajam padanya. "Tapi, aku tidak peduli." lanjutnya.


"Tapi, Mahen ..."


"Kalau papa kesini untuk menyuruhku mundur seperti yang lainnya, lebih baik papa pulang." usirnya.


"Papa tidak akan memintamu untuk mundur." jawabnya membawa angin segar untuk Mahen.


"Lalu?"


"Jika kamu ingin mendapatkannya, maka kamu harus mengalahkan Al." Mahen terkejut mendengarnya.


"Selama ini yang menjadi penghalangmu adalah Al. Jadi, jika kamu bisa mengalahkannya, maka wanita itu pasti akan meninggalkan Al dan lari kepelukanmu." Candra meracuni pikirannya dengan ide kotornya.


"Pap tidak menentangku?"


"Untuk apa? Kamu adalah putraku, jadi sudah sepantasnya papa mendukungmu." Mahen tersenyum bahagia. "Jadi, kamu harus kuat. Ambil kembali apa yang menjadi milikmu. Perusahaan ini juga milikmu, kamu sangat pantas untuk menjadi CEO disini." Candra memprovokasi putranya sendiri untuk melawan Al.


"Tapi, bagaimana caranya?" Mahen terlihat berpikir.


"Ada satu cara untuk menjatuhkannya. Papa yakin dengan begitu, dia akan hancur dengan sendirinya." ucapnya.


"Apa?" Mahen mulai terpengaruh.


"Katakan pada dunia mengenai penyakit yang dia idap. Dengan begitu, para pemegang saham dan investor tidak akan ada yang percaya dan mau bekerja sama dengannya." Candra mengatakan rencana buruknya pada Mahen. Mahen menatapnya seolah tidak mengerti.


"Tapi, pa ..." Mahen ragu.


"Itu adalah satu-satunya cara terbaik. Papa yakin dengan begitu wanita itu akan meninggalkannya."


"Tapi, Ayuna bukan wanita matre." Mahen tidak setuju Candra mengatakan Ayuna seperti itu.


"Papa tahu. Tapi, dimana-mana wanita membutuhkan dukungan baik moril maupun financial. Kamu pikir kenapa dia bertahan bersama Al? Jika Al jatuh, tidak akan ada tempat untuknya bersandar lagi." Candra terus saja meracuni pikiran putranya.


"Aku akan memikirkannya." jawabnya. Setelah berbincang cukup lama dengan Mahen, Candra meninggalkan Ivander Group.


"Cari tahu lebih lanjut tentang wanita itu." perintahnya pada Leo yang sedang mengemudi.


"Baik, Tuan." Leo melihatnya melalui spion.


🍀🍀🍀


"Kita mau kemana, Al?" Yuna terus bertanya tujuan mereka.


"Nanti juga kamu tahu."


"Jawaban apa itu?" Ayuna tidak puas.


"Kamu duduk manis saja, dan ikuti aku." Ayuna cemberut karena Al masih enggan memberitahunya kemana mereka akan pergi. Mobil Al menembus jalanan ibukota yang masih berkutat dengan kemacetan. Hingga sampailah mereka ditempat yang tidak lagi asing untuk Yuna.


"Kenapa kita ke butiknya Gilang?" tanyanya.


"Kamu akan tahu saat di dalam nanti." Al mengenggam tangannya dan mereka berjalan bersama memasuki butik milik Gilang.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga." Gilang sudah menyambut mereka.


"Apa kami terlambat?" tanyanya.


"Tidak juga, aku tahu bagaimana sibuknya tuan Alvaro." Gilang mengajak mereka ke ruangannya.


"Nah, Nona muda, gaun seperti apa yang kamu inginkan?" Gilang bertanya pada Yuna, Ayuna menatap Al. Dia belum mengerti dengan apa yang terjadi.


"Gaun? Untuk apa?" tanyanya.


"Apa ini Al? Apa kamu belum mengatakan apapun padanya?" tanya Gilang.


"Belum."


"Ya ampun, Al! Kalau begitu, aku akan memberi kalian waktu. Jelaskan dulu padanya, aku tidak mungkin melakukannya tanpa persetujuan darinya." Setelah berkata seperti itu, Gilang meninggalkan mereka di ruangannya.


"Ada apa, Al? Jelaskan padaku!" tuntut Yuna.


"Begini, aku ingin meresmikan hubungan kita. Jadi, aku memintanya untuk membuatkan gaun untukmu." jelasnya.


"Al, gimana kamu bisa mengambil keputusan sebesar ini sendiri?" Yuna terlihat kesal.


"Tapi, bukankah kamu mencintaiku? Lalu, apa salahnya jika kita segera meresmikan hubungan ini?" tanya Al.


"Tidak ada yang salah, Al. Tapi, caramu salah. Harusnya kamu bertanya dulu padaku apakah aku setuju atau tidak." ucapnya. Al bersimpuh dan memegang tangan Yuna.


"Karena aku yakin kamu akan setuju, makanya aku membuat suprise seperti ini." ucapnya lembut. "Kamu tidak akan menolakku kan?" Yuna menatap pria yang saat ini menunggu jawabannya.


"Aku memang tidak akan menolakmu, tapi apa tidak bisa kamu melakukannya seperti pasangan lainnya? Pertunangan kita karena perjanjian, Apa pernikahan juga karena paksaan?" tanyanya.


"Aku tidak bisa seperti orang lain. Beginilah aku! Jika kamu ingin aku memperlakukanmu seperti seorang ratu, maka menikahlah denganku, jadilah halal bagiku. Aku akan mewarnai hidupmu dengan kebahagiaan. Akan kuperlihatkan sisiku yang belum kamu ketahui." Al melihat genangan air dipelupuk mata Yuna. Alvaro mengeluarkan cincin yang sejak tadi tersimpan rapi di kantong jasnya.


"So, will you marry me?" Al setia menunggu jawaban Yuna.


"Tentu saja, aku mau!" Yuna memeluknya erat. Airmata bahagianya tumpah saat Al memasangkan cincin itu dijari manisnya.


"Aku janji akan menjadikanmu satu-satunya ratu dihidupku. Akan ku ganti kepahitan yang telah kutorehkan dengan cinta dan kebahagiaan." ucap Al bersungguh-sungguh.


"Aku percaya padamu." bisiknya lembut ditelinga Al.


~tbc