CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 194



"Ada apa, Tuan?" Carrel yang mendengar suara ribut bergegas berlari menuju ruangan Al. Carrel terkejut melihat barang-barang ruangan itu sudah bertebaran di lantai. Alvaro diam, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Jhosua.


"Hallo, Tuan." jawab Jo begitu tau bahwa Al menghubunginya.


"Apa saja yang kau lakukan? Apa kau tidak bisa menjaga istriku dengan baik?" Al berteriak.


"Apa maksud anda, Tuan?" tanya Jo yang belum paham dengan apa yang terjadi.


"Aku menyuruhmu untuk menjaga istriku, tapi kau malah membiarkan pria itu mendekatinya. Apa kau sudah bosan hidup?" bentaknya.


"Maafkan saya, Tuan." Jhosua tau apa yang dimaksud oleh Al.


"Mulai saat ini, jangan pernah biarkan dia mendekati istriku, bahkan bayangannya sekalipun." setelah mengatakan itu, Alvaro menutup ponselnya.


"Ada apa, Jo?" tanya Yuna yang berada di kursi belakang. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah.


"Tidak ada apa-apa, Nona." Jhosua menutupi semuanya dari Yuna.


"Dia bisa menghubungimu. Tapi, dia bahkan tidak punya waktu menghubungiku." Ayuna terlihat sedih, dia mengelus-elus perutnya yang masih rata. Jhosua tidak tahu bagaimana menghibur Yuna. Dia hanya bisa memperhatikan Yuna melalui spion.


"Berhenti, Joo!!" Jhosua refleks menginjak rem.


"Ada apa, Nona?" Jo terlihat panik.


"Aku mau itu." Yuna menunjuk buah mangga yang ada di depan rumah orang.


"Mangga?" tanya Jo, Yuna mengangguk.


"Baiklah, Nona, nanti kita mampir di supermarket." ucap Jo.


"Siapa bilang aku mau beli mangga disana?"


"Lalu?" Jhosua menoleh ke belakang.


"Aku mau yang itu." Yuna kembali menunjuk ke pohon mangga tadi.


"Tapi Nona, itu punya orang." jawab Jo.


"Kamu bisa beli ke mereka." jawabnya, Jhosua tertegun. "Ayolah, Jo!" Yuna mulai merengek padanya.


"Baiklah, saya akan bertanya pada yang punya. Anda tunggu disini saja." setelah mengatakan itu, Jo segera keluar dan memanggil pemilik rumah. Ayuna melihat Jo sedang berbicara dengan pemilik rumah.Tak lama Jhosua kembali dan mengetuk kaca mobil.


"Gimana, Jo?" Yuna terlihat antusias.


"Boleh, Nona. Saya akan mencari orang untuk mengambilkannya." Jhosua mengambil ponselnya.


"Tapi aku mau kamu yang mengambilnya, Jo." mata Jhosua membesar.


"Saya?" dia menunjuk dirinya, Yuna mengangguk. Dengan berat hati Jhosua mengikuti kemauan Yuna. Dia membuka jas da sepatunya, kemudian pria itu berjalan menuju pohon mangga tadi. Ayuna keluar dari mobil, dia menyapa pemilik pohon mangga.


"Aku mau yang itu." Yuna menunjuk buah mangga yang berada di puncak.


"Tapi itu masih muda, Non." jawab Jo dari atas. "Yang ini saja ya!" Jo menunjuk buah mangga yang sudah menguning. Yuna menggeleng.


"Gak mau, aku maunya yang itu." Yuna tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah, Tuan, diikuti saja. Wanita hamil memang seperti itu." ibu itu tersenyum melihat ke arah Yuna.


"Hamil?" ucap Jo pelan. Jhosua mengalah, dia menaiki dahan yang lebih tinggi untuk sampai di buah yang Yuna inginkan. Begitu memdapatkannya, Jo segera turun dengan dua mangga muda di tangannya. "Ini, Nona." Jo menyerahkannya pada Yuna.


"Makasih, Jo." Yuna terlihat sangat senang. "Makasih banyak, Bu." ucap Yuna pada yang punya mangga.


"Sama-sama. Semoga bayinya suka ya!" ibu tadi kembali tersenyum. Jhosua melonggo, dia terlihat bingung. Saat Jo memberinya uang, ibu itu menolak. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka kembali ke mobil. Jo menatap Yuna melalui spion, tampak wanita itu mengenggam erat buah mangga tadi.


"Nona, apa yang dikatakan ibu tadi ...." Ayuna menoleh, Jo tidak melanjutkan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Yuna.


"H-hm, tidak, Nona." ucapnya.


🍀🍀🍀


"Bagaimana?" Bumi berbicara di telepon dengan Angela.


"Belum ada jawaban, Tuan." jawabnya.


"Dasar keras kepala. Apa susahnya menerima bantuanku." gerutu Bumi.


"Sepertinya dia tidak menyukai anda." sela Angela.


"Aku tahu." jawab Bumi. "Tunggu hingga besok, aku mau lihat seberapa tangguh dirinya." Angela mengerti perintah Bumi.


"Dasar sombong, padahal aku tulus ingin membantunya." ucap Bumi setelah memutus sambungan telepon dengan Angela. "Kapan kita ke Lombok?" tanya Bumi.


"Besok pagi, Tuan." jawab Kai.


"Ayuna?" tanyanya.


"Saya belum mendapat kabar. Tapi, saya yakin nona Ayuna pasti akan berada disana." Kai terlihat yakin dengan ucapannya.


"Apa dia akan baik-baik saja? Dia sedang hamil muda, apakah itu tidak akan membahayakan bayinya?" Bumi terlihat khawatir.


"Kamu pastikan lagi, jika dia berangkat minta untuk pergi bersama kita saja." pesannya.


"Baik, Tuan." jawab Kai.


"Besok pagi saya akan menjemput anda, Nona." ucap Jo begitu Ayuna keluar.


"Baiklah." Ayuna mengerti. "Makasih, Jo." Yuna mengangkat mangga tadi. Jhosua mengangguk, setelah Ayuna masuk dia bergegas pergi dari kediaman Ivander.


"De, tolong buatin aku rujak ya." Ayuna menyerahkan mangga tadi pada Dea.


"Mangga muda, Nyonya?" tanya Dea.


"Iya." jawabnya.


"Apa anda ingin buah lain untuk temannya?" tanya Dea.


"Hmm, tidak." setelah mengatakan itu, Yuna segera berjalan menuju kamarnya yang saat ini berada di bawah.


Setelah selesai mandi, Yuna bergegas ke bawah dia sudah tidak sabar untuk menciba buah mangga tadi. Tampak Dea sudah meletakkannya di atas meja makan.


"Silahkan, Nyonya." ujar Dea saat Ayuna sampai di dekatnya.


"Makasih." Yuna mulai menusuk mangga tadi dan memasukkannya ke mulut. Dea yang melihat itu menyipitkan matanya seolah menahan rasa asam.


"Hmm, ini enak banget!" Ayuna kembali memasukkan potongan mangga lagi ke mulutnya. Dea hanya bisa menahan air liurnya. "De, bisa tolong bantu aku berkemas?" tanya Yuna setelah dia selesai menyantap mangga muda itu.


"Memangnya Nyonya mau kemana?" tanya Dea.


"Aku ada pekerjaan di Lombok." Yuna berjalan menuju kamarnya, diikuti dengan Dea.


🍀🍀🍀


"Ada apa Al?" tanya Hans saat melihat cucu kesayangannya murung.


"Tidak, Kek." jawabnya.


"Apa kau merindukan Yuna?" tebak Hans, Al tidak mengatakan apapun. "Jika kau merindukannya, pulanglah!" Alvaro menoleh pada Hans.


"Itu tidak mungkin. Bagaimana dengan kakek dan juga perusahaan ini?" tanya Al.


"Kau tenang saja. Aku sudah jauh lebih baik. Ada Ken dan juga Soraya disini." ujar Hans.


"Lalu, perusahaan?" tanyanya.


"Aku akan meminta Ken untuk menghandle-nya."


"Sebenarnya ada yang ingin berinvestasi di perusahaan itu." Hans menatap Al, Alvaro mendekat padanya.


"Benarkah? Siapa?" tanya Hans.


"Earth Corp." jawabnya pelan.


"Earth Corp? Lalu, kau sudah menyetujuinya?" Hans terlihat bersemangat. Alvaro menggeleng. "Kenapa?" Hans masih bingung.


"Entahlah, Kek. Aku merasa dia melakukan ini karena menginginkan sesuatu dariku." ucapnya.


"Apa maksudmu?" Hans yang belum mengetahui mengenai Bumi terlihat bingung.


"Aku merasa dia ingin menyombongkan diri di depanku. Dia seolah ingin merendahkanku." Al mengutarakan isi hatinya.


"Aku tidak mengerti maksudmu." jawab Hans.


"Dia menyukai istriku. Aku sangat yakin, dia melakukan ini untuk membanggakan dirinya. Dia pasti ingin terlihat hebat di depan Ayuna." Hans terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iti tidak mungkin. Tuan Bumi tidak akan pernah melakukan hal serendah itu." Hans sangat tahu seperti apa Bumi. Dia tidak akan mau melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu.


"Dia sendiri yang mengatakannya padaku." Hans terkejut bukan main. "Aku harus apa, Kek? Apakah kita terima saja bantuannya?" tanya Al. Hans terdiam, dia juga bingung harus apa.


"Pulanglah!" ucap Hans. Al kembali menoleh padanya. "Utamakan istrimu. Jika kau disini, kita tidak pernah tau apa yang akan dilakukannya." Alvaro memegang tangan Hans.


"Perusahaan?" tanyanya lagi.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku dan papa yang akan mengurusnya." Alvaro menoleh pada Soraya yang sudah ada di belakangnya. Hans mengangguk, Al kemudian memeluknya.


"Terima kasih, Kek." ucapnya.


"Kenapa kau ada disini?" Yuna kaget saat sampai di pesawat, Bumi sudah duduk di kursi sebelahnya.


"Karena tujuan kita sama." jawabnya santai.


"Tapi kau bisa duduk di kursi lain." ujar Yuna.


"Mana ku tahu, aku dapatnya disini." Bumi terlihat acuh. Dengan kesal Yuna duduk disebelahnya, sementara Jo duduk di kursi belakang bersama Kai.


"Aku rasa perjalanan kali ini akan menyenangkan." ucap Bumi.


"Kalau ada dirimu, itu malah menjadi malapetaka." jawab Yuna. Bumi tertawa, Pesawat yang membawa mereka segera lepas landas.


#tbc