
“Tuan, saya baru mendapat telepon dari tuan besar bahwa nyonya Monika baru saja keluar.” Lapor Jo. Semalaman Al tidak tidur, dia sibuk memeriksa semua rekaman cctv disekitar lokasi penculikan Ayuna.
“Suruh orangmu untuk terus mengikutinya?” ucap Al. Dia segera berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Tidak lama Al keluar sudah dengan pakaian yang berbeda.
“Ayo.” Mereka keluar dari apartemen Al menuju lokasi yang telah dikirimkan oleh orang suruhan Jhosua.
“Hati-hati, Jo! Aku yakin Candra pasti sudah menempatkan orang-orangnya disekitar mama.” Al sangat tahu dengan siapa dia berhadapan. Candra pasti sudah mempertimbangkan segala kemungkinan.
“Papa mau kemana?” Candra terkejut saat dia membuka pintu kamarnya, Mahen sudah berdiri disana.
“Kamu? Kapan datang?” tanyanya.
“Aku baru saja sampai.” Jawab Mahen.
“Papa mau kemana?” tanyanya.
“Papa ada meeting dengan klien. Ada apa?” Candra terlihat terburu-buru.
“Aku ingin meminta bantuan papa untuk menemukan Yuna. Sudah satu hari dia tidak ada kabar. Aku jadi yakin kalau dia memang diculik.” Mahen terlihat khawatir.
“Baiklah, nanti papa akan menyuruh orang untuk mencarinya.” Jawabnya.
“Tapi pa, aku sangat mengkhawatirkannya. Bagaimana jika terjadi hal buruk padanya?” Mahen mencegahnya. Candra menatap Leo yang berdiri di belakang Mahen.
“Saya akan membantu anda, Tuan.” Jawab Leo, Mahen menatapnya tajam.
“Leo akan membantumu. Setelah urusanku selesai, aku akan membantu mencarinya.” Candra bergegas meninggalkan Mahen dan Leo disana.
“Mari, Tuan.” Leo meminta Mahen untuk mengikutinya. Dengan terpaksa Mahen melepaskan Candra.
🍀🍀🍀
“Dimana dia?” tanya Al saat mereka berada di tak jauh dari sebuah rumah mewah.
“Nyonya baru saja masuk ke rumah itu, Tuan.” Jawabnya.
“Rumah siapa itu?” Al bertanya-tanya rumah siapa yang didatangi oleh Monika.
“Tuan Candra baru saja keluar dari hotel, Tuan.” Lapor Jo setelah mendapat info dari orang suruhannya.
“Cari tempat yang baik untuk bersembunyi. Dia akan curiga jika melihat mobil ini disini.” Jo segera membawa mobilnya menjauh dari rumah itu.
Kebetulan tak jauh dari sana ada sebuah bangunan tua, Jo menyembunyikan mobil mereka disana. Jo mengintai apakah mobil Candra sudah tiba atau belum. Setelah menunggu selama setengah jam, mobil yang biasa dikendarai Leo terlihat memasuki rumah itu. Al dan Jo terus memantau dari kejauhan.
“Apa tidak ada yang mencurigaimu?” tanya Candra setelah bertemu dengan Monika.
“Tidak. Semua orang di rumah itu sedang sibuk mencari keberadaannya.” Jawab Monika.
“Baguslah!” Candra berjalan menuju mini bar yang ada di belakangnya. Dia menuang anggur ke dalam dua buah gelas, kemudian memberikannya pada Monika.
“Apa kau yakin akan melenyapkannya?” tanya Monika setelah meminum setengah dari anggur itu.
“Tentu saja.” Jawabnya datar.
“Apa ini tidak terlalu beresiko? Aku yakin Al dan kakek tua itu tidak akan tinggal diam.” Jawabnya.
“Kau tenang saja! Tidak akan ada yang bisa membuktikan kalau itu adalah perbuatanku.” Sambungnya.
“Lalu, putramu? Apa yang akan terjadi padanya?” Monika teringat pada Mahen.
“Cepat atau lambat dia pasti bisa melupakan wanita itu.” Dia sangat yakin kalau Mahen tidak akan berlarut dalam rasa kehilangan.
“Kapan kau laksanakan?”
tanyanya lagi.
“Nanti malam. Aku akan menyuruh Leo untuk menenggelamkannya di lautan. Dengan begitu dia akan menghilang dengan semua bukti yang dia punya.” Candra tertawa, dia yakin idenya ini akan berjalan sempurna. “Setelah itu aku akan melihat penerus Ivander group dirawat di rumah sakit. Aku yakin kematian wanita itu akan membuatnya gila. Dengan begitu akan semakin mudah untukku menguasai kerajaan kakek tua itu.” tertawanya semakin keras saat membayangkan apa yang akan terjadi pada Al dan Hans.
“Kau sangat berbahaya!” Monika ikut tertawa.
“Itu adalah hukuman yang pantas untuknya. Dia telah membuat orangtuaku bangkrut hingga menjadi depresi. Dia juga membuatku harus merasakan hidup di panti asuhan yang menyedihkan itu. Ini adalah pembalasan yang pantas untuk seorang Hans Ivander.” Candra mengenang bagaimana kehidupannya di rumah ini sebelumnya.
Saat itu dia masih remaja, hidup bergelimang harta dengan orangtua yang sukses sebagai pebisnis. Tapi, hidupnya langsung berubah 180° saat Hans mengambil alih semua bisnis mereka. Candra harus kehilangan kedua orangtuanya akibat depresi yang mereka miliki, sehingga dia harus diserahkan ke panti asuhan.
Sejak saat itu dia mulai berencana untuk membalaskan dendamnya pada Hans. Dimulai dengan mendekati Soraya, hingga putri Hans itu tergila-gila padanya. Dengan mudahnya Candra masuk ke dalam keluarga Ivander. Saat istri Alex meninggal, dia menyulap Monika yang dulunya adalah wanita simpanannya untuk menjadi istri pengganti untul Alex. Semua berjalan sesuai rencananya. Kecelakaan Alex, hingga penculikan Al. Tapi, kini semuanya akan terungkap karena Ayuna.
“Pastikan mereka tidak mengetahui apapun.” Ucapnya.
Setelah memberitahu Monika rencana untuk menghilangkan Yuna, Candra keluar terlebih dahulu dari rumah itu. Al dan Jo berlari menuju mobil. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Monika ikut keluar.
“Jangan biarkan dia lolos!” Perintah Al.
“Baguslah! Aku berharap dia bisa menyingkirkan semua keluarga itu. Dengan begitu aku akan menjadi penguasa di istana mereka.” Monika terlihat bahagia. Dia memutar musik dengan volume cukup besar.
Jhosua menambah laju kendaraannya, dan tidak sulit untuknya menghentikan mobil Monika. Monika menginjak rem karena kaget ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.
“Keluar!!” dia lebih terkejut melihat Al berdiri disebelahnya. Al mengedor-gedor kaca mobilnya.
“Al? Kenapa dia bisa disini?” Ucapnya.
“Buka atau aku pecahin kaca ini.” Ancam Al. Monika membuka pintu dan segera keluar.
“Ada apa ini, Al?” tanyanya.
“Kenapa kamu bertanya pada mama?” Monika bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
“Tutup mulutmu! Cepat katakan dimana kalian menyembunyikannya.” Teriak Al.
“Mama gak tahu! Kenapa kamu menuduh mama seperti ini?”
“Bawa dia, Jo!” mendapat perintah dari Al, Jo segera memegang Monika dan membawanya secara paksa ke mobil milik Al.
“Al, apa-apaan ini? Kenapa kamu melakukan ini pada mamamu sendiri?” Monika mencoba melepaskan diri. Tapi tenaga Jo lebih besar darinya. Jo memasukkannya ke kursi belakang, tepat di samping Al.
“Jalan, Jo!” perintahnya, begitu Jo mengunci pintu.
“Al, apa yang kamu lakukan?” Alvaro tidak mengatakan apapun. “Al, kamu mau bawa mama kemana?” Monika bingung saat melihat mobil yang mereka kendarai berada di jalanan yang tidak dia ketahui.
“Al ...!” Monika menyentuh tangan Al.
“Kalau kau masih mau hidup, lebih baik tutup mulutmu!” mata Al membara, seolah bersiap untuk membakarnya. Monika belum pernah melihat Alvaro seperti ini.
Mereka sampai di sebuah gudang tua. Jo menghentikan mobilnya dan membuka kunci. Melihat pintu terbuka, Monika segera membukanya dan mencoba kabur dari mereka. Jhosua yang menyadari itu segera mengejarnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Jo berhasil menangkapnya.
“Lepaskan aku, Jo!” Monika kesakitan saat Jhosua menyeretnya.
“Al, lepaskan mama! Mama mohon! Kamu salah paham!” Monika memohon pada Al.
“Jangan memohon sekarang, tunggu sampai kau membuka mulutmu dan memberitahu padaku dimana Ayuna.” Ancam Al.
“Mama tidak tahu, Al.” Ucapnya.
“Bawa dia, Jo.” Jhosua segera melaksanakan perintah Al. Dia menarik Monika memasuki gudang tua itu. Sesampainya disana, Jo mengikatnya di sebuah kursi.
“Al, apa yang akan kamu lakukan? Aku ini mamamu!” Monika semakin ketakutan. Segala usaha telah dia lakukan untuk membujuk Al, tapi tidak berhasil.
“Kau bukan mamaku!” jawab Al yang sudah duduk di depannya.
“Walaupun aku bukan mama kandungmu, tapi aku yang membesarkanmu.” Jawabnya.
“Tutup mulutmu! Aku tidak peduli kau siapa. Yang aku ingin tahu dimana Ayuna?” tanyanya.
“Aku tidak tahu!” jawabnya.
“Tidak perlu berpura-pura padaku. Aku tahu kau menrencanakan ini dengan bajingan itu.” Al bisa melihat keterkejutan dimatanya.
“Cepat katakan dimana Ayuna?” teriak Al.
“Aku tidak tahu!” jawabnya.
“Jo!” Jhosua mendekat dengan membawa tang ditangannya.
“Al, apa yang akan kau lakukan?” Monika terlihat panik.
“Bukankah kau begitu menyayangi tubuhmu? Bagaimana, jika salah satu kuku indahmu ini menghilang untuk selamanya?” ucap Al.
“Al, tidak! Jo, hentikaaaa ... Aagghhhh!!” Monika berteriak kesakitan saat Jhosua mencabut kuku kakinya.
“Bagaimana? Kau mau bicara atau aku harus melenyapkan bagian tubuhmu yang lain?” Monika menatap Al dengan mata berair.
“Aku tanya sekali lagi, dimana Ayuna?” melihat Monika belum membuka mulutnya, Jhosua kembali bersiap menarik kuku tangannya.
“Jj-jangan, b-baik a-akan ku katakan!” ucapnya terbata.
“A-aku benar-benar tidak tahu, dimana dia menyembunyikan Ayuna.” Monika tidak berani menatap mata Al.
“Jangan bohong!” teriak Al.
“A-aku berkata benar! A-aku hanya tahu bahwa dia akan menghabisi Yuna malam ini.” Al terkejut mendengar informasi yang baru dia dapatkan.
“Apa yang akan dia lakukan pada Yuna? Katakan??” paksa Al.
“Dia akan menenggelamkannya di lautan malam ini.” Monika memberitahu semua rencana Candra. Al mengeram dan menendang kursi yang ada didekatnya.
“Jo, cepat hubungi polisi!” perintahnya. Al menatap Monika tajam. “Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu.” ucap Al sebelum dia pergi dari gudang tua itu. Monika hanya bisa menangis dan menahan rasa nyeri di kakinya.
🍀🍀🍀
“Apa saya bisa bertemu dengan pengurus panti asuhan ini?” tanya Mahen saat dia sampai di panti asuhan Mutiara Bunda.
“Mari saya antar, Tuan.” Ucap karyawan panti padanya.
Setelah sampai disana, Mahen memperkenalkan dirinya. Dia mengatakan kalau dia adalah putra dari Candra. Pengurus panti menerimanya dengan senang hati. Mahen meminta izin untuk melihat-lihat keadaan panti. Dan dia mendapatkan itu, pengurus panti mengantarnya melihat kondisi panti.
“Apa sebelumnya papa saya mempunyai tempat yang sangat spesial baginya selama disini?” tanya Mahen. Karena dia tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan dari panti itu.
“Oh itu, Candra sangat suka bermain di mercusuar yang ada di bibir pantai tak jauh dari sini.” Ucap ibu penjaga panti.
Setelah mendapat informasi mengenai tempat itu, Mahen segera memacu mobilnya menuju ke arah pantai. Sesampainya disana, Mahen menghentikan mobilnya saat melihat dari kejauhan ada beberapa orang yang berjaga disekitar mercusuar itu.
“Apa papa menyekap Yuna disini?” Mahen ragu, tapi keraguannya mendadak hilang saat melihat Leo berjalan ke arah mereka.
"Leo??"
~tbc