CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 72



Sementara dikediaman Riska tengah menangis dipelukan Richard, tak lama dua orang pria bertubuh besar mengenakan masker dan topi datang membawa Aliva yang masih tak sadarkan diri.


Riska dan Richard langsung menghampiri kedua pria tersebut dan menopang tubuh Aliva, Richard besyukur tak ada yang serius hanya bengkak diwajah saja akibat tamparan mungkin fikir Richard.


Richard tak tahu jika Aliva telah diberi obat untuk merusak organ reproduksinya agar tak bisa memiliki keturunan.


"Jaga putri kalian, jangan sampai dia mencelakai nyonya muda kami kembali, atau akibatnya akan lebih fatal" ucap salah satu pria bertubuh besar tersebut.


"Baik, baik, saya akan menasehatinya, terimakasih sudah mengantarkan putri saya dengan selamat" ucap Richard.


Kedua pria tersebut pergi meninggalkan kediaman Wijaya, Richard langsung membawa tubuh Aliva kekamarnya diikuti oleh Riska, setelah Richard meletakan tubuh Aliva diatas tempat tidur Riska membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


"Mulai sekarang kau nasehati Aliva baik baik, jangan kau racuni lagi fikirannya untuk merebut tuan muda dari Aberlie jika tak ingin kehilangan Aliva, kau bicarakan pelan pelan padanya tentang kondisi tuan muda kedua dan pernikahan antara dia dengannya, biat Aliva menerima pernikahan ini maka hidup kita dan putri kita akan aman" ucap Richard pada Riska.


"Baik pah, aku akan membicarakannya nanti, aku akan membuatnya mengerti dan menerima pernikahan ini" ucap Riska.


***


Pagi hari menjelang Bram masih setia duduk dikursi samping brangkar Aberlie, ia tertidur sambil duduk dan menggenggam tangan Aberlie.


Bram terbangun saat ia merasakan jari tangan Aberlie yang sedikit bergerak, ia menoleh kewajah Aberlie yang tengah berusaha untuk membuka matanya, bibir Bram tersenyum melihatnya.


"By, kamu bangun" ucap Bram tersenyum seraya meneteskan air matanya.


"Kepalaku sakit dear" ucap Aberlie dengan suara lirih.


"Sebentar aku panggilkan dokter yah by" ucap Bram seraya berdiri dan pergi memanggil dokter.


Bram datang bersama dengan dokter yang menangani Aberlie, dokter tersebut memeriksa keadaan Aberlie.


"Syukurlah nyonya muda baik baik saja, tak perlu khawatir mungkin obat biusnya menghilang jadi nyonya muda merasakan nyeri, biar saya beri obat untuk meredakan rasa nyerinya" ucap dokter tersebut.


Setelah selesai memeriksa keadaan Aberlie sang dokter pergi meninggalkan mereka.


"Makasih yah by sudah berjuang untukku, aku sangat takut sekali" ucap Bram yang duduk kembali dan memegang tangan Aberlie.


"Dear kenapa perutku sakit?" tanya Aberlie meringis.


"Kamu habis melakukan operasi pengangkatan janin juga by, kamu tengah mengandung buah cinta kita saat kecelakaan, namun tuhan lebih menyayanginya dan mengambilnya kembali, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dan calon anak kita yah by" ucap Bram sambil meneteskan air matanya.


"Jangan menyalahkan dirimu dear, aku sudah baik baik saja, aku tak mengetahui jika ia telah hadir dalam perutku, makasih yah kamu udah menjagaku" ucap Aberlie ikut meneteskan air mata.


Hatinya sebenarnya sakit dan sedih mendengar ia kehilangan buah cintanya dengan Bram, namun ia tak boleh egois, jika Aberlie ikut rapuh seperti Bram, Bram akan semakin rapuh, jadi ia bersikap sedikit tegar.


Tak lama Fatma dan Harun datang, mereka bahagia melihat cucunya sudah bangun.


"Bram bersihkan dirimu dulu kemudian kamu sarapan biar nenek yang menjaga Aberlie" ucap Fatma mendekat pada Bram.


"Sebentar lagi nek, aku masih ingin bersamanya" rengek Bram tak ingin melepaskan tangan Aberlie.


"Dear, pergilah mandi dan sarapan atau aku akan marah" ucap Aberlie.


Bram masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri setelah mengambil baju ganti yang dibawa Fatma, setelah selesai mandi dan sudah terlihat segar dan tampan kembali Bram sarapan dikursi samping Aberlie.


Bram tak ingin jauh jauh dari Aberlie, Fatma menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya tersebut.


"Mah aku pergi kekantor dulu yah, Haris bilang ada meeting yang harus dihadiri langsung oleh Bram, namun tak mungkin Bram mau meninggalkan Aberlie jadi papah yang akan pergi menghadiri meeting tersebut" ucap Harun berpamitan pada Fatma.


"Baik pah, langsung kembali setelah semua urusan dikantor selesai hm, jangan keluyuran kemanapun" ucap Fatma.


"Memang aku mau ngeluyur kemana sih mah, aku tahu jika istri manja papah ini tak bisa jauh jauh dari papah tak mungkin kan papah bisa lama berjauhan dari mamah" ucap Harun memeluk Fatma didepan Bram dan Aberlie, dan merekapun hanya menggelengkan kepala mereka melihat kemesraan pasangan old tersebut.


"Ya sudah sana pergi, pulang bawakan bolu susu tiramisu yah pah" ucap Fatma melepas pelukan Harun.


"Baiklah, papah pergi dulu, Bram, Aberlie kakek pergi" ucap Harun seraya meninggalkan kamar rawat Aberlie.


Satu minggu berlalu Aberlie sudah sedikit membaik, ia sudah bisa berjalan sendiri meski masih harus dituntun oleh Bram.


Begitupula dengan Aliva, ia sudah tak histeris seperti pertama ia siuman dari pingsannya karena efek obat yang diberikan padanya.


"Sayang, sekarang kamu sudah pulih, wajahmu sudah tidak bengkak lagi, kamu juga sudah sedikit tenang, mamah tak akan menanyaka apa yang terjadi sebenarnya karena mamah tak ingin kau mengingatnya" ucap Riska mengusap kepala Aliva.


"Mamah ingin membicarakan sesuatu padamu sayang" lanjut Fatma.


"Apa mah?"


"Kamu jangan mengganggu kehidupan Aberlie lagi yah sayang, biarkan mereka, mamah sangat takut saat nyonya besar mengatakan akan mengakhirimu jika kau mambuat Aberlie celaka lagi" ucap Riska terdiam sejenak, ia melihat wajah Aliva dengan penuh sesal karena ia telah mengajak dan mengajari putrinya untuk berbuat jahat pada Aberlie.


Riska sadar setelah mendengar ucapan Fatma yang akan mengakhiri Aliva, ia takut jika ia benar benar kehilangan putrinya, ia akan menerima keputusan apapun yang diberikan Fatma padanya, mulai saat ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak mengganggu kehidupan Aberlie lagi karena ia takut akan kehilangan putri satu satunya.


"Nyonya besar memintamu untuk menikah dengan Aron setelah pernikahan Haris dan Risa, mungkin karena kecelakaan yang kau buat pada Aberlie sementara acara pernikahan Haris dan Risa ditunda sampai Aberlie benar benar pulih, mamah harap kamu menerima pernikahan ini sayang, mamah tahu Aron saat ini sudah tak sempurna, ia telah kehilangan satu tangannya, namun mamah yakin kalian pasti akan bahagia jika kalian saling mencintai dan tak lagi mengganggu Aberlie dan Bram, mamah mohon padamu sayang" ucap Riska memohon.


"Baiklah mah, aku akan menerima pernikahan ini dan tak akan mengganggu kehidupan kakak lagi, aku janji mah" ucap Aliva dengan wajah menyesalnya.


"Ya sudah sekarang kamu bersiap kita akan mengunjungi Aron dirumah tuan Surya" ucap Riska mengusap kepala Aliva.


"Baiklah mah" Aliva beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.


Tak lama Aliva sudah siap, ia menuju ruang keluarga dimana Riska sudah menunggu.


"Ayu mah, aku sudah siap, kita mampir ketoko buah dulu yah mah" ucap Aliva.


Merekapun pergi menuju kediaman Surya namun mereka akan mampir terlebih dahulu ketoko buah.


*****


Selamat membaca yah semua jangan lupa likenya😊


Salam hangatku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰