
"Apa yang dia lakukan?" Cleo kembali mendengarkan isi pernyataan Bumi.
"Jadi, apa anda akan bekerjasama dengan perusahaan di Indonesia?" tanya salah satu awak media.
"Tentu saja." jawabnya.
"Apakah sudah ada perusahaan yang anda tuju, Tuan?" tanya media lain.
"Ivander Group!" Bumi tersenyum.
"Kenapa anda ingin bekerjasama dengan mereka? Terlebih lagi saat ini pendiri Ivander Group sedang dirawat. Apa anda tidak takut rugi?" tanya mereka.
"Tuan Hans hanya pendiri. Tapi, yang saat ini menjalankan perusahaan adalah cucunya. Lalu, untuk apa saya takut? Saya bekerjasama dengan CEO Alvaro, bukan tuan Hans Ivander. Ayuna tersenyum mendengar perkataan Bumi.
"Kapan anda akan memulainya?" tanya mereka.
"Kami sudah lama bekerja sama. Bahkan merekalah yang bertanggung jawab atas pembangunan resort saya di Indonesia." kamera kembali merekam aksi Bumi. "Saya sangat senang bekerjasama dengan mereka. Bahkan, setelah bertemu dengan perwakilan dari tuan Alvaro, saya berencana untuk membiarkan mereka menanggani pembangunan cabang terbaru Earth Corp disini." ucapnya.
"Benarkah, Jo?" tanya Yuna.
"Entahlah, Nona. Saya belum mendapat informasi apapun." jawab Jo.
"Maafkan kami! Awalnya kami berpikir anda tidak akan mungkin bisa menanggani masalah ini." ucap salah satu pemegang saham, sementara yang lain mengangguk.
"Tidak apa-apa." jawabnya.
"Dengan berjalan bersama Earth Corp, kami yakin perusahaan tidak akan lagi terganggu dengan informasi mengenai tuan Hans." lanjut mereka. Ayuna sedikit puas. Rapat berakhir begitu masalah dianggap selesai.
"Aku harus bertemu dengannya." ucap Yuna pada Jo.
"Tapi Nona ...." belum sempat Jo mengatakan apapun ponselnya berdering, sementara Yuna sudah lebih dahulu keluar dari ruang rapat.
"Hallo, Tuan." jawab Jo begitu tau Alvaro yang menghubunginya.
"Apa yang terjadi?" tanya Al.
"Tuan sebenarnya ...." Jhosua ragu apakah harus menyampaikan semuanya pada Al.
"Aku sudah tahu." ucapnya. "Kenapa pria itu ikut campur dalam masalahku?" Jhosua tidak tahu harus menjawab apa. "Dia selalu saja mencari kesempatan." gerutu Al.
"Tapi, Tuan, berkat beliau nona Ayuna selamat." ucapnya.
"Apa maksudmu?" Al memang mendengar perihal Bumi yang ingin menjadi partner bisnis dirinya lagi, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi pada Ayuna. Jhosua menceritakan kejadian di ruang rapat.
"Kurang ajar! Berani-beraninya mereka mempertanyakan kinerjaku? Bahkan mereka berani menyudutkan istriku." Al terdengar geram. "Begitu aku pulang, aku akan memberi mereka pelajaran." ancamnya. "Lalu, dimana Ayuna?" tanya Al. Jhosua bingung, haruskah dia memberitahu Al bahwa Yuna saat ini sedang berusaha menemui Bumi. "Dimana istriku?" tanya Al lagi, karena belum mendapatkan jawaban.
"Nona pergi menemui tuan Bumi." jawabnya.
"Lalu, apa yang kau lakukan saat ini? Harusnya kau dampingi dia." bemtak Al.
"Baik, Tuan." Jhosua segera mematikan ponselnya. Dia bergeges menuju ruangan Al untuk mencari keberadaan Yuna.
"Dimana nona?" tanya Jo pada Refa.
"Loh, bukankah nona tadi meeting bersama anda?" Refa terlihat kebingungan. Jhosua bergegas membuka ruangan Yuna, tidak terlihat wanita cantik itu disana. Jhosua berlari menuju lift, dia harus segera menuju Earth Corp.
🍀🍀🍀
Sementara itu, Yuna tiba di tempat yang sudah ditentukan oleh Bumi. Sebelum keluar dari perusahaan, dia terlebih dahulu menghubungi Bumi. Ayuna turun dan membayar taksi menggunakan uang digital. Karena tasnya tertinggal di ruangan. Ayuna masuk dan menemukan pria blesteran itu sedang duduk sambil bermain ponsel.
"Apa kau sudah lama?" tanya Yuna. Bumi mengangkat kepalanya.
"Belum. Duduklah!" Ayuna segera duduk di depan Bumi. "Kau mau pesan apa?" Bumi menawarkan Yuna.
"Tidak perlu. Dimana tuan Kai?" Yuna bertanya karena tidak melihat keberadaan nya.
"Bukankah kau hanya ingin bertemu denganku? Untuk apa aku mengajaknya?" jawabnya acuh. Ayuna menarik napas dalam.
"Apa maksudmu melakukan itu?" Yuna langsung ke topik pembicaraan.
"Aku hanya ingin membantumu." jawabnya.
"Aku bisa menanggani masalahku sendiri." jawab Yuna.
"Aku hanya ingin mempercepat penyelesaian masalahmu. Jadi, kau tidak perlu kerepotan."
"Tapi kau malah menciptakan masalah baru untukku." selanya.
"Apa?" tanya Bumi.
"Earth Corp dan Ivander hanya menjalin kerja sama untuk pembangunan resort milikmu. Kenapa kau malah mengatakan hal lain? Kau membuat aku dalam masalah lainnya." Ayuna terlihat marah.
"Aku memang ingin kalian yang menanggani pembangunan Earth Corp disini." potongnya.
"Tapi harusnya itu kau bahas dengan Alvaro. Dia bahkan belum tahu mengenai ini." Yuna masih saja merasa kesal padanya.
"Apa bedanya? Kau dan dia sama saja." Bumi juga tidak mau mengalah.
"Kau ...." Yuna geram.
"Percuma bicara denganmu." Ayuna berdiri.
"Kau mau kemana?" Bumi berusaha mencegahnya.
"Nggak ada gunanya aku disini. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan." Yuna bergegas meninggalkan meja Bumi.
"Kenapa kepalaku pusing." Ayuna memegang kepalanya.
"Ayuna, Tunggu!!" Bumi mengambil ponselnya dan berusaha mengejar Yuna yang sudah keluar.
"Taksi!!" Yuna berusaha menghentikan taksi yang melintas dihadapannya.
"Yuna, Tunggu dulu!" Bumi berhasil mengejarnya.
"Aku malas berurusan denganmu." jawab Yuna.
"Aku ...." Ayuna merasakan kepalanya semakin pusing, dan tak lama setelahnya Yuna terhuyung. Untung saja Bumi dengan singgap menangkap tubuhnya.
"Ayuna!!! Yuna!! Bangunlah!!" Bumi berusaha menyadarkannya. Karena tidak ada hasil, Bumi dengan sigap mengangkat tubuh Yuna dan membawanya menuju mobil yang terparkir. Setelah meletakkan Yuna di kursi penumpang, Bumi bergegas memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
🍀🍀🍀
"Dimana nona Ayuna?" Jhosua yang baru sampai di hotel tempat Bumi menginap tidak sengaja bertemu dengan Kai yang kebetulan berada di lobby.
"Nona Ayuna tidak ada disini." jawabnya.
"Jangan bohong! Aku yakin beliau pasti sedang bersama tuan Bumi." ucap Jo.
"Mereka tidak bertemu disini." ucap Kai.
"Lalu, dimana?" tanyanya. Kai memberitahu lokasi pertemuan mereka.
Dengan sigap, Jhosua menuju cafe itu. Jhosua membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai disana. Dia mencari ke segala arah, tapi tidak terlihat keberadaan Yuna maupun Bumi.
"Dimana mereka?" Jhosua keluar, dia mencoba menghubungi ponsel Yuna. "Kenapa nona Ayuna tidak menjawab panggilanku?" tak lama ponselnya berdering.
"Hallo, Tuan." ucapnya.
"Bagaimana? Kau sudah menemukan Ayuna?" tanya Al.
"Belum, Tuan. Nona tidak ada di cafe yang Tuan Bumi pesan." lapornya.
"Sialan! Kemana dia membawa istriku?" Alvaro berteriak.
"Saya akan mencarinya, Tuan." jawab Jo.
"Kalau kau masih mau hidup. Segera temukan istriku!" amuknya.
"Baik, Tuan." Jhosua memutar mobilnya. Dia mencoba menyusuri jalanan. "Apa kau membohongiku? Mereka tidak ada disana." ucap Jo pada Kai melalui sambungan telepon.
"Untuk apa aku membohongimu." jawab Kai.
"Hubungi bosmu! Aku harus tahu dimana nona Ayuna." ujar Jo.
"Aku akan mengabarimu." Kai memutus panggilan itu. Dan mencoba menghubungi Bumi.
🍀🍀
"Bagaimana, Dok?" tanya Bumi saat melihat dokter keluar dari tirai Yuna.
"Apa pasien sudah menikah?" tanya Dokter itu.
"Sudah." jawabnya.
"Tidak ada yang mengkhawatirkan. Tapi, kami sudah menghubungi dokter spesialis kandungan." jawabnya.
"Spesialis kandungan?" tanya Bumi.
"Itu beliau datang." Bumi menoleh pada pria blesteran yang berjalan ke arah mereka.
"Dimana pasiennya?" Andreas.
"Di dalam, Dok." Andreas berjalan menuju tirai yang tertutup.
"Ayuna?" Andreas terkejut saat melihat Ayuna yang masih terbaring dan menggunakan oksigen.
"Kenapa dia bisa ada disini?" tanyanya.
"Pasien pingsan di jalan, Dok. " lapor perawat IGD.
"Lalu, siapa yang membawanya kesini?" tanyanya.
"Suaminya, Dok." jawab perawat tadi.
"Al?" Andreas terlihat bingung, karena yang dia tahu Al berada di Jerman.
"Dimana keluarganya?" tanyanya.
"Itu, Dok." perawat itu menunjuk pada Bumi.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Bumi.
"Anda siapa?" tanya Andreas.
"Jawab saja pertanyaanku." ucapnya.
"Saya hanya bisa mengatakan kondisi pasien pada keluarganya. Dan, saya tahu bahwa anda bukan keluarganya. Saya sangat mengenal pasien ini." Andreas tidak berniat sama sekali untuk memberitahunya.
"Dimana aku?" Yuna yang tersadar, melihat ke sekelilingnya.
"Kau ada di rumah sakit." jawab Andreas.
"Apa kau baik-baik saja?" Bumi mendekat pada Yuna. Andreas terlihat bingung.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Andreas.
"Kepalaku sakit dan aku merasa mual." jawab Yuna.
"Sebaiknya kita lakukan USG." ujar Andreas.
"Tapi kenapa?" tanya Yuna.
"Nanti juga kau akan tahu." perawat mendekatkan USG ke arah Andreas. "Anda bisa tunggu diluar." ucapnya pada Bumi. Bumi menatapnya dengan kesal. Setelah Bumi keluar, Andreas mulai memeriksa Yuna. Dia tersenyum saat melihat hasil yang ada di layar minitor.
"Selamat ya! Kau akan menjadi Ibu." Ayuna terkejut, Bumi yang mendengar dari luar juga ikut terkejut.
~tbc