CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 146



"Kamu yakin?" tanya Al.


"Aku sangat yakin." jawabnya. "Saat berada di mobil itu, aku sempat melihatnya." wajah Al benar-benar berubah memerah.


"Jo ...!"


"Iya, Tuan." Jhosua yang mengerti segera membelokkan kepala mobilnya.


"Kamu hubungi tuan Kenan katakan kalau meeting ditunda." perintah Al melalui ponsel pada Refa. Setelah mendapat jawaban Al segera menutup ponselnya.


"Al, kita mau kemana?" tanya Yuna.


"Menemui dalang penculikan itu." rahang Al mengeras. Butuh setengah jam perjalanan untuk mereka sampai di rumah keluarga Ivander. Jhosua segera menghentikan mobilnya begitu sampai di depan pintu utama. Alvaro segera turun dan bergegas membuka pintu.


"CANDRAAA?? Dimana kau??" teriakan Al mengagetkan seisi rumah.


"Al, apa yang terjadi?" Soraya datang tergesa-gesa saat mendengar nama suaminya disebut.


"Ada apa Al?" tanya Hans yang juga baru sampai, Al melihat Monika sedang berdiri di anak tangga.


"Dimana dia?" tanya Al.


"Al, tenangkan dirimu." Ayuna mencoba menghentikannya.


"Siapa yang kau cari? Dan kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?" tanya Hans.


"Aku mencari menantu kakek!" jawab Al dengam mata yang membara.


"Mas Candra tidak ada di rumah, dia sedang ada urusan di luar kota." Soraya yang menjawabnya. "Sebenarnya ada apa, Al?" tanyanya. Alvaro menatap tajam pada tantenya itu.


"Tante jangan membohongiku! Katakan dimana dia?" Alvaro kembali berteriak, Soraya sangat terkejut.


"Alvarooo!!" teriak Hans, Al menoleh padanya. "Jaga bicaramu! Apa yang dikatakan tantemu itu benar, Candra tadi berpamitan untuk mengurus beberapa pekerjaannya diluar kota." Hans membantu putrinya untuk menjelaskan pada Al yang sedang dikuasai amarah.


"Al, sudah! Tenangkan dirimu." Ayuna membujuknya. "Duduklah!" ucapnya, Al mengikuti permintaannya. Jhosua tidak mampu berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di belakang sofa Al dan Yuna. Hans dan Sorayapun ikut duduk, tapi tidak dengan Monika. Dia masih berdiri ditempatnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hans saat melihat emosi cucunya sudah mulai berkurang.


"Aku sudah tahu siapa dalang dibalik penculikan itu." Hans dan Soraya saling tatap.


"Maksudmu?" tanya Hans.


"Iya, Ayuna baru saja mengingat salah satu dari pelaku penculikan itu." jawabnya.


"Benarkah?" Hans bertanya pada Yuna. Ayuna mengangguk.


"Siapa? Apa aku mengenalnya?" tanyanya lagi.


"Tentu saja, bahkan kakek sangat mengenalnya." Alvaro yang menjawabnya.


"Siapa?" tanya Hans.


"Leo, asisten menantu kakek!" Hans terkejut, begitupun dengan Soraya. Monika hampir jatuh saat mendengar nama Leo disebut, semua orang menoleh padanya.


"Maaf." ucapnya, dia berjalan turun dan duduk bersama mereka. Dia tidak mungkin kembali ke kamar, karena itu akan membuat semua orang curiga. Alvaro menatap tajam ke arahnya.


"Al, kamu jangan sembarangan bicara. Tidak mungkin Leo melakukan hal itu. Untuk apa?" Soraya tidak mempercayai perkataan Al.


"Tapi, memang itulah kenyataannya. Seharusnya yang tante tanyakan siapa dalangnya. Aku yakin ada seseorang yang memerintahkannya untuk melakukan itu. Dan, aku rasa kalian tahu siapa orangnya." jelas Al.


"Kamu jangan asal tuduh, Mas Candra tidak mungkin melakukan itu." Soraya mati-matian membela suaminya. "Kamu tahu seperti apa pamanmu, dia tidak akan mungkin menyakitimu."


"Aku punya saksi tante. Terserah tante mau percaya atau tidak." Alvaro bersikap dingin padanya.


"Pa, jelaskan padanya, Mas Candra tidak mungkin melakukan hal itu. Dia begitu menyayangi Al. Aku tidak suka jika Al menuduhnya tanpa bukti." Soraya meminta bantuan pada Hans. Hans tidak mengatakan apapun, dia hanya mampu menatap iba pada putrinya.


"Bukti apa lagi yang tante inginkan?" tanya Al. "Ayuna adalah saksi dari kejadian itu. Dia sangat yakin kalau salah satu pelakunya adalah orang kepercayaan suami tante." Soraya menoleh pada Ayuna. Dia berdiri dan berjalan menuju ke arah Yuna.


"Yuna, katakan! Katakan, kalau ini hanya salah pahamkan? Kamu pasti keliru! Mas Candra tidak mungkin melakukan itu." Soraya menguncang-guncang bahu Yuna.


"Aku sangat yakin, tante." Ayuna berkata jujur, Soraya menggeleng tidak percaya.


"Kamu pasti bohong! Kalian pasti sengaja ingin menjatuhkan suamiku. Kamu pasti bohonggg!!!"


"Tante!! Tante!!" Ayuna menangkap tubuh Soraya yang jatuh terkulai. "Tante, bangun!" Yuna menepuk-nepuk wajahnya.


"Kalian ikut aku!" Hans berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya, Ayuna menatap Al, dan Alvaro mengangguk. Mereka mengikuti Hans menuju ke ruang kerja.


"Jelaskan padaku, bagaimana kamu mengingatnya?" tanya Hans begitu mereka bertiga sudah berada di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ayuna menatap Al yang duduk disebelahnya. Ayuna mengangguk pelan.


"Awalnya aku juga tidak mengingat apapun." Ayuna mulai menjelaskan. "Tapi, saat pertama bertemu dengan asisten tuan Candra, aku melihat tato naga yang ada dipergelangan tangannya. Saat itu aku hanya merasa familiar dengan tato itu. Aku berusaha mengingat dimana aku pernah melihatnya tapi selalu gagal. Hingga tadi, aku kembali memimpikan kejadian itu, disanalah aku ingat kalau tato itu sama dengan pelaku yang ada di mobil itu." Hans mendengarkan dengan seksama.


"Apa kamu yakin?" tanya Hans.


"Iya, Kakek, aku sangat yakin. Aku melihat dengan jelas tato naga itu, saat dia memerintahkan anak buahnya untuk membekapku." Ayuna menjelaskan lagi.


"Sebenarnya, aku sudah lama curiga padanya." jawaban Hans membuat mereka terkejut. "Tapi, aku tidak punya bukti atauapun saksi. Itu sebabnya aku tidak bisa melakukan apa-apa." ucapnya lagi.


"Apa itu sebabnya kakek mengirimnya ke luar negeri?" tanya Al.


"Iya. Aku tidak ingin ketentraman dikeluarga ini hancur karena perbuatannya. Aku harus memikirkan tantemu, dan juga Mahen. Terlebih lagi aku tidak ingin dia menyakitimu lagi." Hans menoleh pada Al.


"Kenapa kakek tidak memberitahuku?" Al menyesali sikapnya selama ini pada Hans.


"Mengingat emosimu, aku tidak bisa." Alvaro sadar, jika Hans memberitahunya mungkin saat ini keluarga ini tidak akan utuh seperti ini.


"Kenapa kakek bisa mencurigainya?" Al penasaran tentang hal itu.


"Sejak papamu meninggal, aku memintanya untul meng-handle perusahaan dan beberapa asetku. Tapi, sikapnya mulai berubah saat dia tahu bahwa kau akan menjadi penerusku. Dia menentang keras dengan berbagai alasan." Hans menjelaskan semua yang dia ketahui pada Al. "Hingga terjadilah peristiwa itu. Kecurigaanku padanya semakin kuat."


"Lalu, apa lagi yang kita tunggu. Kita harus segera melaporkan masalah ini ke polisi." Al berdiri.


"Tunggu dulu, Al!" Hans mencegahnya.


"Apa maksud kakek?" Al bingung.


"Jangan terburu-buru, kita tunggu sampai kondisi tantemu membaik." bujuknya.


"Apa yang kakek katakan? Ini tidak adil untuk Yuna." Al kembali emosi. "Apa kakek tidak memikirkan seperti apa perasaannya? Akhirnya, setelah bertahun-tahun dia mengetahui siapa yang menyebabkan orangtuanya meninggal. Jadi, kita harus segera menyeretnya ke penjara." Al bisa melihat kalau Ayuna mulai berkaca-kaca.


"Tapi, kesaksian Yuna saja tidak akan cukup." ucap Hans, Al semakin tidak mengerti.


"Maksud kakek?"


"Dia pasti akan berkilah, kalau Leo melakukan itu bukan atas perintahnya. Apalagi, kamu sangat tahu kesetiaan Leo padanya. Akan percuma jika kamu melaporkannya saat ini." Al mencerna semua perkataan Hans.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Aku tidak akan membiarkannya hidup bebas. Tidak setelah apa yang dia lakukan pada Ayuna." Al mengepalkan tangannya, Ayuna yang melihat itu segera memegang tangannya.


"Kita harus mencari cara agar semua kejahatannya terbongkar, aku yakin saat ini dia pasti sudah tahu semua ini." ucap Hans.


"Yah, aku yakin tante Soraya pasti sudah memberitahunya." ucap Al pelan.


"Tantemu tidak akan sanggup melakukan itu. Dia begitu mencintai bajingan itu." Hans tahu betul kalau Soraya pasti akan menyimpan semua permasalahan ini dari Candra maupun Mahen.


"Lalu?"


"Dinding di rumah ini bisa berbicara." Al dan Yuna menoleh padanya. "Aku masih mencari tahu siapa kaki tangannya." ucapan Hans membuat mereka terkejut.


"Jadi, ada mata-mata disini?" tanya Al dan Hans mengangguk.


"Aku sudah bilang, kalau aku sudah lama mencurigainya. Jadi, aku menyuruh Ken untuk mengawasi semua gerak-geriknya." jelasnya.


"Lalu, apa kakek sudah tahu siapa orangnya?" tanya Al lagi.


"Belum. Tapi, aku mencurigai satu orang di rumah ini." jawabnya.


"Siapa?" Al sangat penasaran.


"Nanti, jika aku sudah mendapatkan buktinya, maka aku akan memberitahumu." Al terlihat kecewa, tapi dia tidak bisa memaksa Hans.


"Sekarang, kalian pulanglah. Dan, mulai saat ini jaga Yuna baik-baik. Aku yakin, jika dia sudah mengetahui semua ini, maka Ayuna akan menjadi ancaman untuknya." Hans mengingatkan Al.


"Aku tahu." Alvaro mengenggam tangan Yuna. "Aku akan selalu melindunginya!" Ayuna tersenyum mendengar itu.


"Bahaya! Alvaro sudah tahu semua. Gadis itu tahu bahwa Leo adalah pelakunya." Candra baru saja membaca pesan yang dikirimkan Monika padanya.


"Alvaro ...!?" geramnya.


~tbc