
"Sialan lo, Al!!" Mahen melempar apa saja yang ada dihadapannya. Ruangannya sudah seperti kapal pecah, kertas-kertas bertaburan di lantai, begitupun dengan perkakas lain yang berada di atas mejanya, saat ini sudah berpindah tempat ke bawah. Mahen masih emosi mengingat pemandangan yang dia saksikan di ruangan Al tadi. Hatinya terbakar melihat adegan ciuman Al dan juga Yuna.
"Kenapa lagi dengan tuan muda kita?" Gandhi dan yang lain yang kebetulan lewat di depan ruangannya mendengar suara teriakan dan benda-benda yang berjatuhan.
"Gak tahu! Bukan urusan kita juga." jawab Gina, Karin mengangguk setuju.
"Gue yakin ini pasti ada kaitannya dengan tuan Al." Gandhi masih penasaran dengan yang terjadi pada atasannya.
"Jangan kepo kalau gak mau kena imbasnya." Karin menasehatinya. Akhirnya mereka sampai di kantin.
"Gue aneh aja, semua orang tahu kalau dia itu dulunya sangat ramah dan bersahabat. Tapi, lihat saja apa yang terjadi padanya saat ini." Gandhi masih saja membahas mengenai Mahen.
"Jika sudah menyangkut hati, semua orang bisa berubah." Gina menimpali.
"Sotoy, lo! Pacar aja gak punya, sok tahu masalah hati." ledek Gandhi. Karin tertawa.
"Siapa bilang gue gak punya pacar?" Gina melototi mereka.
"Emang ada yang mau sama cewek galak kayal lo?" Gandhi masih saja menggodanya.
"Ada." jawabnya.
"Siapa? Satpam kompleks rumah lo?" Gandhi dan Karin kembali menertawakannya. Gina terlihat cemberut karena jadi bahan tertawaan sahabatnya.
"Saya boleh duduk disini?" tawa mereka seketika lenyapnsaat melihat Jhosua berdiri di meja mereka.
"T-tentu saja, Tuan." jawab Gandhi. Jhosua duduk disebelah Gandhi, tepat di depan Gina.
"Kenapa dia ada disini?" Gina sibuk bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Jhosua disana.
"I-ini, tuan, kami hanya tidak percaya kalau teman kami yang galak ini sudah punya pacar." jelas Gandhi, Jo menatap Gina yang saat ini sedang sibuk mengaduk jus jeruknya.
"Kenapa kalian tidak percaya?" tanya Jo.
"Siapa juga yang bakal percaya, Tuan? Mana ada cowok yang mau sama cewek tomboy dan galak kayak dia. Hanya cowok aneh yang mau jadi pacarnya." Gandhi yang bocor lupa dia sedang berhadapan dengan siapa. Gina ingin sekali melemparkan gelas jus yang ada di depannya pada sahabat gemulainya itu.
"Apa kalian ingin tahu siapa kekasihnya?" tanya Jo, mereka berdua melonggo mendengar ucapan Jo. "Kalau mau saya bisa beritahu kalian."
"PRUPP!!" jus yang sedang Yuna minum muncrat begitu saja saat mendengar perkataan Jo.
"T-tuan, anda baik-baik saja?" Gandhi panik saat melihat wajah Jhosua basah karena ulah Gina. Dia segera mengambil tisu dan memberikannya pada Jo. Semua yang berada di kantin terdiam, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tidak apa-apa! Saya baik-baik saja!" Jo membersihkan sisa jus yang menempel diwajahnya. Gina sangat terkejut, dia tidak menyangkan akan melakukan kesalahan seperti itu.
"Lo gimana sih?" Gandhi yang marah padanya.
"Maafkan saya, Tuan!" Gina merasa bersalah.
"Tidak apa-apa!" Jhosua tersenyum tipis padanya. "Apa yang kalian lihat?" Jo menatap tajam pada semua yang berada di kantin. Mereka segera menunduk, tidak mampu menatap mata Jhosua. Biar bagaimanapun, Jo tetaplah salah satu orang yang berpengaruh di Ivander Group. Tidak ada yang berani padanya, apalagi sampai melakukan hal yang seperti Gina lakukan tadi.
"Mati kamu, Na!" bisik Karin padanya, mereka saling senggol.
"Kalau begitu saya duluan." ucap Jo, Mereka bertiga mengangguk. Jhosua berdiri, tapi saat melewati Gina dia segera menunduk.
"Aku akan membalasmu! Jangan harap kamu bisa kabur dariku malam ini." bisiknya ditelinga Gina. Setelah berkata seperti itu, Jhosua segera meninggalkan mereka. Wajah Gina merah seperti buah persik yang matang. Mereka bisa bernapas lega saat melihat Jhosua sudah meninggalkan kantin.
"Apa yang tuan Jo katakan?" tanya Gandhi.
"Bukan apa-apa!" jawabnya.
"Apa dia mengancammu?" tanya Karin, Gina menggeleng.
"Tapi, ada apa dengan wajahmu?" ternyata Gandhi menyadari perubahan yang ada pada Gina. Gina memegang pipinya yang terasa panas.
"Sudah selesaikan? Kalau begitu ayo kita balik! Aku gak mau kena marah tuan Mahen." Gina segera berdiri dan berjalan mendahului mereka.
"Aneh! Ada yang salah dengannya." Gandhi menatapnya dengan penuh tanda tanya.
🍀🍀🍀
"Ayo, cepat!" ucap Yuna pada Al yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Al setelah berada disebelah Yuna.
"Aku belum menyelesaikan berkas untuk meeting nanti." jawabnya.
"Sabar, Sayang!" ucap Al begitu mereka masuki lobby.
"Ih, kamu! Kenapa ngomongnya seperti itu?" Yuna melihat security yang sedang tersenyum ke arah mereka.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mengungkapkan perasaanku didepan semua orang?" tanya Al.
"Al, ayolah! Jangan buat malu!" bisiknya sambil menarik tangan Al. Alvaro kembali tersenyum.
"Panggil 'sayang' dulu!" Al menahan tubuhnya untuk tidak kemana-mana.
"Al ...!!" Yuna menghentakkan kakinya, Alvaro benar-benar tidak mau bekerja sama. Dia masih menunggu kata itu dari mulut Yuna. Ayuna cemberut, dia tidak mungkin memanggil Al seperti itu di kantor.
"Ayo!!" ucap Al.
"Jo, Tunggu!!" bukannya mengikuti kemauan Al, Ayuna malah menghentikan Jhosua yang baru saja keluar dari kantin.
"Ini dia biang keroknya! Bisa-bisanya dia menjadikan wanita itu sekretaris Al!" bukannya menjawab, Ayuna malah menatap tajam padanya. Sadar ada yang salah dengan tatapan Yuna, Jo segera memperhatikan apa yang ada ditubuhnya.
"Kenapa, Nona?" ulangnya.
"Bisa tolong bawakan file mengenai penawaran dari tuan Brian?" ucapnya.
"Baik, nanti saya antar ke meja anda." jawabnya.
"Tapi, sebelumnya tolong kamu belikan aku espersso." ucapnya.
"Espresso?" Jhosua bingung, karena Ayuna tidak pernah memintanya melakukan hal ini. "Baiklah, Nona." setelah berpikir sejenak akhirnya dia setuju. Jhosua segera melakukan perintah darinya.
"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Al.
"Tidak ada! Ayo!" Yuna bergegas menuju lift.
"Itu Yunakan?" tanya Gandhi saat melihat Yuna berbicara dengan Al.
"Iya." jawab Karin.
Dia sudah selesai cuti? Gimana dengan nasib sekretaris baru tuan Al ya?" Gandhi penasaran. "Eh, kenapa lo diam aja?" tanyanya pada Gina yang sejak tadi tidak mengatakan apa-apa.
"Sepertinya masalah mereka sudah selesai." Gina tersenyum melihat Al dan Yuna yang sedang tertawa kecil.
"Yah, ditanyain dia malah senyum-senyum sendiri." Gandhi semakin bingung dengan Gina.
"Kalian tenang aja! Tuan Al pasti sudah meng-handle semuanya." Gina menarik Karin untuk bergegas memasuki lift, membiarkan Gandhi yang masih berada di luar.
"Hey! Tungguin gue!" Gandhi berteriak saat pintu lift sudah tertutup. "Ah, sial!" ucapnya karena tidak berhasil masuk. Sementara didalam Gina cekikikan.
"Kamu jahil banget sih!" ucap Karin.
"Biar aja! Sesekali teman kita itu perlu di kerjai biar gak selalu ikut campur dengan urusan orang." jawabnya.
🍀🍀🍀
"Selamat siang, Tuan!" sapa Refa begitu melihat Al dan Yuna kembali dari makan siang. Al tidak menjawabnya dan langsung menuju ruangan. Sementara Ayuna segera memeriksa persiapan untuk meeting dengan tuan Brian.
"Apa ini untuk meeting nanti?" tanya Refa saat Yuna mulai mempersiapkan beberapa berkas yang berhubungan dengan perusahaan Brian.
"Iya."
"Nona, ini espresso anda!" Jhosua meletakkannya di atas meja. "Dan, ini file yang anda minta tadi."
"Makasih, Jo!" jawabnya.
"Kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu." pamit Jo.
"Tunggu dulu! Aku masih membutuhkanmu." cegah Yuna. Walaupun bingung, tapi Jhosua tetap mematuhi perintahnya tanpa bertanya apapun.
"Ini kamu saja yang melanjutkannya. Tuan Al butuh sore ini." Yuna memberikan beberapa buah dokumen padanya. "Ya sudah sana, kamu tunggu apa lagi?" tanyanya saat melihat Jo belum pergi dari hadapannya.
"Saya harus ke ruangan tuan Al." Jhosua berjalan menuju ruang kerja Al.
"Kenapa diberikan ke asisten Jo semua?" tanya Refa.
"Memangnya kenapa?" Yuna balik bertanya.
"Gimana kalau nanti tuan Al marah?" Refa tidak bisa membayangkan melihat kemarahan Al.
"Tidak akan."
"Ada apa?" tanya Al saat melihat yang masuk adalah Jhosua.
"Tuan, apa anda membutuhkan semua ini sore nanti?" Jhosua memlilih untuk bertanya langsung padanya, karena menurutnya Al pasti tahu kenapa dengan Yuna. Alvaro melihat berkas yang dibawanya.
"Tidak." jawab Al setelah memeriksa semua berkas itu. "Kenapa?"
"Tuan, apa saya melakukan kesalahan?" tanya Jo. Alvaro menghentikan sejenak pekerjaannya dan menatap bingung pada Jhosua.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Nona Ayuna sangat berbeda, ini pertama kalinya saya melihat beliau begitu. Apa nona Ayuna sedang kesal pada saya?" tanyanya, Alvaro mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh asisten pribadinya itu.
"Dia sedang menghukummu!" jawab Al.
"Tapi kenapa?" Jo bingung kenapa Yuna marah padanya.
"Apa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu?" Jhosua menggeleng.
"Tolong beritahu saya, Tuan." pintanya pada Al.
Baiklah! Karena kamu sangat berjasa padaku akan aku beritahu. Dia marah karena kamu mencari sekretaris yang seksi dan ganjen."
"Hah...?" Jhosua terkejut, dan akhirnya dia paham kenapa Yuna mengerjainya. "Pantas saja!" jawabnya pelan.
"Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Daripada aku terus-terusan menjadi pelampiasan kecemburuannya." batinnya.
~tbc