
"Apa aku bilang, pasti berhasilkan?" Andreas memecah kesunyian diantara mereka. Alvaro melepaskan pelukannya.
"Jadi ini rencanamu?" tanya Yuna.
"Tentu saja. Al mana mungkin bisa memikirkan rencana se-briliant ini." Al melemparkan bantal sofa yang ada disampingnya.
"Kamu tahu dari mana aku disini?" tanya Yuna.
"Tentu saja dari dokter bodoh ini." ledek Al.
"Hey! Jaga ucapanmu! Berkat kebodohanku ini akhirnya kalian bisa bersatu kembali. Seharusnyan kamu berterima kasih padaku, karena aku adalah pahlawanmu." Andreas membusungkan dadanya, Yuna tertawa kecil begitupun dengan Jo.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Al.
"Porsche Taycan milikmu!" jawabnya tanpa rasa bersalah. Kali ini bukan lagi bantal yang melayang, tapi botol air mineral yang ada diatas meja.
"Kau selalu saja mencari kesempatan." ucap Al.
"Aku telah membantumu terhindar dari kehancuran, aku rasa itu belum sebanding dengan apa yang kau dapatkan." Andreas mengedipkan sebelah matanya pada Yuna.
"Kau ..." teriak Al.
"Ok, ok!" Andreas mengangkat kedua tangannya saat melihat gelas yang ada ditangan Al.
"Ayo, kita pulang!" ajak Al pada Yuna. Ayuna mengangguk setuju.
"Dre, makasih banyak ya untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku." ucap Yuna.
"Itulah gunanya teman, bukan?" ucapnya.
"Iya, bagiku kamu bahkan lebih dari teman. Oh, ya dimana Cleo?" Yuna melihat kesana-kemari mencari keberadaan dokter cantik yang sudah menemaninya.
"Dia sudah pergi!" jawab Andreas.
"Padahal aku ingin berterima kasih karena sudah menemaniku."
"Siapa Cleo?" tanya Al.
"Itu dia ..."
"Bukan siapa-siapa! Gak penting!" Andreas memotong pembicaraan Yuna. Ayuna menatap bingung ke arahnya.
"Tolong sampaikan terima kasihku padanya." ucap Yuna. Andreas mengangguk.
"Ayo!" Al membantu Yuna berdiri.
"Jo, kamu serahin kuncinya ke dia." perintah Al.
"Kamu serius?" teriak Andreas.
"Apa menurutmu aku bercanda?" tanyanya.
"Yey!!" Andreas melompat-lompat kesenangan, seperti anak kecil yang baru saja dapat mainan baru.
"Kau tidak bisa menarik ucapanmu lagi. Aku sudah memilikinya. Sampai matipun tidak akan pernah ku kembalikan."Al hanya mengangkat sebelah tangannya menanggapi teriakan Andreas.
"Dia sangat senang!" ucap Yuna saat mereka memasuki lift.
"Tentu saja dia senang!" jawab Al.
"Memangnya berapa harga mobil yang dia maksud?" tanya Yuna.
"Kamu tidak perlu tahu." jawab Al, Ayuna mundur selangkah dan bertanya pada Jhosua.
"Apa???" teriak Yuna begitu tahu harga mobil yang kini menjadi milik Andreas.
"Kamu bercanda?" tanya Yuna pada Jo.
"Tidak, Nona. saya berkata yang sebenarnya." jawabnya.
"Al, apa serius? Yakin mau nyerahin itu mobil ke Andreas." tanya Yuna.
"Sudahlah, biarkan saja. Itu tidak ada apa-apanya jika dibanding kamu." ucap Al.
"Iya, tapi ..."
"Ayo, naik." Al menyuruhnya untuk masuk ke mobil.
"Dasar dokter tengil, bisa-bisanya dia menukarku dengan mobil mewahmu." Ayuna masih mengerutu, Al hanya tersenyum, tidak sedikitpun dia melepaskan genggamannya.
🍀🍀🍀
"Apa papa sudah bicara dengan Al?" tanya Soraya.
"Belum." jawab Hans.
"Aku masih penasaran, sejak kapan Al tahu semua ini?" Soraya begitu gusar.
"Dimana dia?" tanya Hans, Soraya menggeleng.
"Besok aku akan bicara dengannya." ucap Hans. Monika yang mendengar pembicaraan mereka segera kembali menaiki anak tangga.
"Sial! Dari mana dia tahu? Pantas saja dia sangat kasar padaku, kalau tahu begini aku juga tidak akan berpura-pura baik padanya." Monika yang emosi mulai melemparkan barang-barang yang ada disekitarnya. "Dasar anak kurang ajar! Padahal, selama ini aku yang selalu mengurusnya hingga dia berhasil menjadi CEO seperti sekarang, tapi ini balasan yang dia beri padaku. Dan, semua ini karena wanita sialan itu." Monika kembali melemparkan vas bunga yang ada disebelahnya.
"Drrtt, drrtt,drrttt." terdengar getar ponselnya.
"Hallo." jawabnya saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Kenapa dengan suaramu?" tanya suara pria yang ada di seberang.
"Dia sudah tahu kalau aku bukanlah ibunya."
"Lalu, apa yang dia lakukan?"
"Dia masih sibuk mencari wanita itu. Cepatlah kau kembali, aku sudah tidak bisa menanganinya. Aku yakin, cepat atau lambat aku akan didepak dari rumah ini. Kamu harus menyiapkan semuanya untukku." ucapnya.
"Kau tenang saja! Aku akan pastikan kau mendapatkan yang kau mau." jawabnya.
"Sebelumnya kau harus menyingkirkan wanita itu. Dia adalah sumber masalah untuk kita." jawabnya.
"Kau tenang saja! Aku akan melenyapkannya." sambungan telepon mereka segera terputus, saat Monika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanyanya saat melihat Soraya berdiri di depannya.
"Boleh aku masuk?" tanya Soraya.
"Masuklah!"
"Kenapa dengan kamarmu?" tanyanya saat melihat kamar Monika berantakan.
"Ada apa kau kemari?" Monika mengabaikan pertanyaan adik iparnya itu.
"Aku hanya khawatir padamu. Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Apa menurutmu, aku baik-baik saja?" suara Monika kembali tinggi.
"Mbak, kamu jangan marah! Kita yang salah, karena merahasiakan semua ini dari Al." ucapnya.
"Tapi, dia tidak pantas mengatakan hal buruk tentangku. Aku memang tidak melahirkannya, tapi aku yang membesarkannya. Harusnya dia berterima kasih padaku. Berkat aku dia bisa menjadi seperti sekarang." Monika terus saja mengomel.
"Mbak, kamu harus mengerti Al. Dia begitu karena panik Ayuna tiba-tiba menghilang." jelas Soraya. "Tapi, ini juga karena kesalahanmu. Kenapa kamu harus menemui Yuna dan membongkar semua rahasia Al padanya?" tanya Soraya.
"Dia pantas tahu yang sebenarnya." jawabnya.
"Tapi itu bukan urusanmu, Mbak. Al bisa menyelesaikan sendiri masalahnya."
"Sudahlah! Aku tidak ingin membahas wanita itu." dia menghentikan Soraya untuk bertanya lebih jauh. Soraya terdiam dan berjalan menuju pintu.
"Mbak, apa kau melakukan ini demi kebaikan Al atau untuk dirimu sendiri?" tanyanya sebelum keluar. Monika tidak berkata apapun, akhirnya Soraya memilih untuk meninggalkannya seorang diri.
🍀🍀🍀
"Apa ini, Al?" begitu sampai apartemen, mata Yuna disuguhkan dengan barang-barang yang berserakan di ruang tamu.
"Biarkan saja, nanti aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya." jawabnya.
"Tapi kenapa bisa berantakan begini?" tanyanya.
"Siapa lagi kalau bukan si dokter tengilmu itu." Ayuna tersenyum, Al mendekat dan kembali memeluk Yuna.
"Banyak yang harus kita bicarakan." ucap Yuna di dalam pelukan Al.
"Iya." Al mencium puncak kepala Yuna. Mereka duduk disofa.
"Jadi, apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Yuna.
"Belum."
"Jadi sampai saat ini kamu belum menemukan mereka?" ulangnya, Alvaro menggeleng.
"Kita tidak punya saksi. Dan, aku juga tidak mengenali mereka. Apa kamu mengingat sesuatu?" Al balik bertanya padanya. Ayuna berpikir sesaat, memorinya mengulang kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Aku juga tidak ingat apapun." jawabnya.
"Sangat tidak mungkin menemukan mereka." jawab Al.
"Sudahlah, lupakan saja!" ucap Yuna. "Yang penting saat ini kita baik-baik saja."
"Tidak semudah itu. Aku harus menemukan mereka, aku harus tahu siapa yang ingin melenyapkanku. Dan juga, aku harus tahu siapa yang telah membunuh kedua orangtuamu." Ayuna menetap Al, dia menyandarkan kepalanya di bahu Al.
"Jika kita beruntung, aku yakin kita akan menemukan mereka." ucapnya.
"Harus." jawab Al.
~tbc