CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 119



"Al, aku hanya ..."


"Ayo, berangkat!" Al menyimpan kembali kotak itu ke dalam nakasnya. Ayuna mengikutinya keluar dari kamar. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.


"Apa dia sudah melihatnya?" batin Al.


"Apa dia marah? " Yuna bingung dengan perubahan sikap Al yang hanya diam sejak mereka keluar dari apartemen.


"Al, mengenai kotak perhiasan tadi, aku ..."


"Apa kamu sudah melihatnya?" tanyanya tanpa menatap Yuna.


"Belum." jawab Yuna, Al bernapas lega, dia sangat takut jika Yuna melihat isi kotak itu. "Milik siapa itu?" Al tercekat mendengar pertanyaannya.


"Bukan siapa-siapa." jawabnya.


"Ayo." ucapnya saat mereka sudah sampai di perusahaan. Mereka berjalan bersama memasuki Ivander Group. Al segera menuju ruangannya, Ayuna menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.


"Yuna, Al ada?" tanya Mahen saat berada di depannya.


"Kenapa dia harus merahasiakannya dariku? Jika dia benar-benar sudah melupakan masalalunya kenapa dia tidak terbuka padaku?" Ayuna terus saja melamun saat dia berada di mejanya.


"Ayuna." panggilnya lagi.


"Hah? Apa?" tanya Yuna saat tersadar.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.


"Ada apa?" Yuna tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa Al ada?" ulangnya.


"Ada."


"Aku masuk ya! Kamu jangan melamun terus nanti kesambet." candanya.


"Apaan sih!" Yuna hanya tersenyum tipis.


"Ini laporan yang kamu minta." Mahen menyerahkan dokumen itu pada Al. Alvaro memeriksanya.


"Ada apa dengan Divisimu?" tanya Al, Mahen duduk di kursi yang ada di depannya.


"Memangnya kenapa?" bukannya menjelaskan Mahen malah bertanya balik padanya.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi disana. Kenapa kau bisa bertindak seperti itu?" Al mempertanyakan sikap Mahen yang semena-mena terhadap bawahannya.


"Aku tidak membutuhkan orang-orang yang tidak bisa bekerja dibawah pimpinanku." Mahen memutar-mutar pena yang ada ditangannya.


"Tapi kau tidak bisa memecat mereka sesuka hatimu. Semua ada SOP-nya, bagaimana jika mereka melapor ke serikat pekerja?" tanya Al.


"Itu adalah tugasmu untuk menyelesaikannya." rahang Al mengeras mendengar jawaban yang Mahen berikan.


"Kau yang membuat masalah, jadi kau juga yang harus bertanggung jawab." nada suara Al mulai meninggi.


"Tapi kau yang CEO disini, jadi masalah sekecil apapun itu menjadi tanggung jawabmu. Jika kau tidak mampu, maka kau bisa mundur dari kursi itu." Mahen meninggalkannya begitu saja.


"MAHENDRA!!" teriak Al, tapi Mahen sudah terlebih dahulu keluar dari ruangannya.


"Apa yang terjadi?" Ayuna yang mendengar teriakan Al bertanya pada Mahen yang ada di dekatnya.


"Biasalah! CEO kita lagi kumat." jawabnya ngasal.


"Mahen ..." Ayuna menghentikannya.


"Aku ke ruanganku dulu." Mahen berjalan menuju lift, sementara Yuna segera menuju ruangan Al.


"Ada apa ini?" Yuna kaget saat melihat ruangan Al berantakan. Alvaro tidak menjawab pertanyaannya. Yuna mulai mengumpulkan semua dokumen yang berserakan di lantai.


"Biarkan saja!" ujar Al.


"Tapi, ini berantakan." Yuna tetap melanjutkan memunguti kertas-kertas itu.


"AKU BILANG BIARKAN SAJA!" Ayuna kaget karena Al tiba-tiba berteriak padanya. Ayuna meletakkan kertas yang telah dia kumpul di meja kerja Al, kemudian memilih keluar dari sana.


"Yuna ..." Al yang tersadar berusaha mencegahnya. Tapi, Ayuna tidak mendengarkannya dan segera kembali ke mejanya. Alvaro mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa dengannya? Kenapa dia berteriak padaku?" mata Yuna berkaca-kaca, karena ini pertama kalinya Al berteriak padanya, dan itupun untuk alasan yang tidak dia ketahui.


"Nona, apakah tuan di dalam?" tanya Jhosua yang baru datang.


"Dia ada didalam." jawab Yuna. Ayuna berpura-pura sedang memeriksa file yang ada di komputernya. Jhosua berjalan menuju ruangan Al. Saat masuk dia melihat ruangan Alvaro berantakan.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya pada Al yang sedang berpangku tangan di meja kerjanya. Jo memunguti kertas yang berserakan itu. Sesekali dia melirik pada Al yang masih belum merubah posisi duduknya. Setelah selesai, Jo menyusun kembali kertas-kertas itu sesuai dengan urutannya.


"Kamu pantau terus Mahen. Aku yakin dia merencanakan sesuatu." perintahnya.


"Apa yang terjadi, Tuan?" tanyanya. Al menceritakan apa yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Mahen. Jhosua mengerti kenapa ruangan Al menjadi seperti itu.


"Saya akan terus memantaunya, Tuan. Dan ini laporan yang anda minta mengenai aktifitas tuan Mahen ." Al menerimanya.


"Bukankah ini ...?" Al kaget setelah melihat laporan yang Jo berikan padanya. Karena menurut laporan itu, Al mengetahui bahwa Mahen selalu berada di setiap tempat yang Ayuna datangi.


"Apa sekarang dia menjadi Stalker?" tanya Al. "Apa yang dia inginkan?"


"Saya rasa anda sudah tahu jawabannya, Tuan." jawab Jo, Al menatap tajam padanya. "Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"


"Awasi dia terus." perintahnya.


"Baik, Tuan." Jo keluar dari ruangan Al.


"Dia pasti marah." Al melihat Yuna dari kaca ruangannya. "Aku harus melakukan sesuatu untuk meredakan kemarahannya." Al kemudian memikirkan cara untuk membuat Yuna tidak lagi marah.


🌸🌸🌸


"Maaf, Tante, tapi aku tidak lagi ingin mendapatkan cintanya Al." ucap Cantika pada Monika. Saat ini mereka sedang bertemu di salah satu restoran di Royal Mall.


"Tapi, kenapa? Bukankah kamu sangat mencintainya?" Monika tidak percaya kalau Cantika akan menyerah begitu saja.


"Kamu harus usaha lagi. Tante yakin kamu pasti bisa miliki Al." Monika terus mendorongnya untuk tidak menyerah.


"Kurang usaha apalagi,Tan? Bertahun-tahun aku mencoba, tapi Al tetap saja sama." selanya.


"Sayang, kamu jangan putus asa. Tante yakin sekali kamu pasti bisa. Tante pasti akan bantu kamu untuk bisa menjadi istrinya Al." Monika terus saja memaksanya.


"Maaf, Tan, tapi keputusanku sudah bulat." Cantika tidak lagi goyah dengan rayuan Monika. "Kenapa tante tidak restui saja hubungan Al dan Yuna? Menurutku, Ayuna itu wanita yang baik. Terlebih lagi Al mencintainya." Cantika memberikan pandangannya tentang Yuna.


"Tidak akan pernah! Wanita rendahan sepertinya tidak pantas menjadi bagian keluarga Ivander." Cantika tersenyum sinis, dia bisa melihat keangkuhan Monika.


"Kalau begitu aku duluan, Tan." Cantika tidak ingin berlama-lama dengannya.


"Cantika, tunggu!" cegahnya. "Kamu tidak perlu berusaha, biar tante yang mengatur agar Al bisa menjadi milikmu." Monika masih belum menyerah untuk meyakinkannya. Karena menurutnya, Cantika wanita yang pantas untuk Al, dia berasal dari keluarga kaya. Ayahnya adalah teman bisnis Hans, seorang pengusaha property dan ibunya memiliki perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Cantika tersenyum tipis.


"Maaf, Tan, tapi aku sudah tidak lagi tertarik untuk menggunakan cara-cara murahan untuk mendapatkan Al." Cantika seperti tahu apa yang dipikirkan olehnya. "Aku permisi!" dia meninggalkan Monika begitu saja.


"Aaagghh, sombong sekali dia!" Monika sangat kesal.


"Aku tidak menyangka di zaman seperti ini masih saja ada orang yang seperti itu." Cantika masih teringat dengan pertemuaannya barusan dengan Monika.


"Andreas!!" tiba-tiba matanya teralihkan oleh sosok Andreas yang sedang berjalan dengan seorang wanita. "Dengan siapa dia?" Cantika memperhatikan wanita yang bersama Andreas. Andreas dan wanita itu memasuki salah satu toko perhiasan ternama. Cantika menghampiri mereka. "Dre!" panggilnya. Andreas menoleh dan dia sangat terkejut saat melihat Cantika berada di belakangnya.


"Cantika!!" ucapnya, wanita yang bersamanya juga menoleh padanya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Cantika.


"Hmm, aku sedang menemainya memilih cincin." jawabnya, Cantika melihat cincin yang ada di etalese.


"Siapa ini?" Cantika menanyakan tentang wanita yang ada disebelahnya.


"I-ini, dia temanku." Wanita yang bersama Andreas menoleh padanya. "Kamu sedang apa disini?" tanyanya.


"Aku baru saja bertemu dengan tante Monika." jawab Cantika. Andreas menatap tajam padanya.


"Kamu pilih dulu." ucap Andreas pada wanita itu. "Kita harus bicara." Andreas mengajak Cantika keluar dari toko perhiasan itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Cantika, Andreas menoleh ke belakang, menatap wanita yang bersamanya. Kemudian dia mengajak Cantika duduk di kursi yang ada di depan toko perhiasan itu.


"Apa yang tante Monika inginkan darimu?" tanyanya.


"Seperti biasa, dia ingin aku tidak menyerah pada Al." jawabnya.


"Dan jawabanmu?" Andreas penasaran.


"Aku sudah menyerah, Dre!" jawabnya. Andreas terlihat terkejut, karena dia tidak menyangka Cantika akan menyerah begitu mudahnya. "Seperti katamu, aku berhak untuk bahagia." lanjutnya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanyanya.


"Besok aku akan kembali ke Paris." Andreas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Paris?" tanyanya.


"Iya, aku akan melanjutkan karir modelku disana." Andreas hanya bisa tersenyum tipis.


"Aku sudah selesai!" ucap wanita yang datang bersamanya.


"Maafkan aku, Cantika, tapi aku harus kembali ke rumah sakit." ucapnya. "Apa besok aku boleh mengantarmu ke bandara?" tanya Andreas.


"Tentu saja."


"Kalau begitu nanti, aku akan menghubungimu." Setelah berkata seperti itu, Andreas berpamitan pada Cantika.


"Siapa wanita itu? Kenapa Andre tidak mengenalkannya padaku?" Cantika masih terus memperhatikan mereka dari kejauhan.


🌸🌸🌸


"Ini laporan yang baru saja dikirimkan oleh PT. Dirgantara, Tuan." Yuna meletakkan laporan yang dia bawa di meja Al.


"Yuna, tunggu!" Al mencegah Yuna yang akan keluar dari ruangannya.


"Ada apa, Tuan?"


"Ternyata dia masih marah." batin Al.


"Aku minta maaf!" ucapnya.


"Untuk apa?" Yuna masih bersikap ketus.


"Maaf, karena sudah membentakmu." Al berdiri dan mendekat padanya. Al memegang tangan Yuna, tapi Ayuna menolaknya.


"Aku benar-benar tidak bermaksud begitu. Aku terbawa emosi karena Mahen ..."


"Tidak perlu melibatkan Mahen untuk semua masalah kita." sela Yuna.


"Tapi, aku berkata benar. Tadi aku dan Mahen bertengkar." jelasnya.


"Lalu? Kamu melampiaskan kekesalanmu padaku?" Yuna mulai emosi.


"Bukan begitu! Kamu dengarkan dulu penjelasanku."


"Sudah cukup, Al. Masalahnya adalah kamu tidak bisa mengendalikan emosimu." Yuna memilih keluar dari ruangan Al. Bukan kembali ke mejanya, Ayuna berjalan menuju lift.


"Selalu saja seperti itu. Dia dan emosinya benar-benar menyebalkan." Ayuna terus saja mengerutu, hingga pintu liftnya terbuka.


"BRUK." Yuna menabrak seseorang saat dia keluar dari lift.


"Maaf, maaf!" ucapnya.


"Melamun ya?" Ayuna sangat mengenal si pemilik suara.


"Mahen..?" Yuna melihat Mahen sedang berdiri dihadapannya.


~tbc