CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 51



Haris akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemennya setelah mengantar Risa pulang.


Sedangkan Bram membawa Aberlie ke mansionnya.


Sesampainya dimansion milik Bram mereka memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena mereka merasa badannya sangat lengket.


"Dear, bisa kau bukakan resleting gaunku, tanganku tak bisa menggapainya" ucap Aberlie meminta tolong.


Bram meraih resleting gaun tersebut dan menurunkannya secara perlahan.


(kalo adegan gini gaes author jadi keinget mail pas dateng ada musiknya tetet tetet tetew eah 🤣🤣😅)


Bram menelan salivanya susah saat melihat kulit putih mulus milik Aberlie, tanpa sadar Bram mengecupnya membuat Aberlie terlonjak kaget.


"Dear, please biarkan aku mandi dulu oke, badanku rasa lengket sekali membuatku sangat letih" ucap Aberlie memohon namum Bram malah melingkarkan tangannya kedepan memeluk Aberlie.


Bram menurunkan gaun bagian depan Aberlie sehingga tubuh bagian atas Aberlie terbuka, Aberlie ingin menutupinya namun tangannya terhalang oleh tangan Bram.


Bram mulai mengusap bagian atas yang tak tertutup itu secara lembut membuat Aberlie memejamkan matanya, ia mengecup leher Aberlie bagian samping kiri sehingga menimbulkan warna merah tanda kepemilikan pada kulit putihnya tersebut.


Tiba tiba Aberlie tersadar dari buaian yang diciptakan oleh Bram.


"Dear, kumohon oke, biarkan aku mandi dulu" ucapnya kembali sukses membuat Bram menghentikan aksinya tersebut.


"Aku akan menghentikannya jika kau mau berjanji padaku" ucap Bram sedikit berbisik ditelinga Aberlie membuat Aberlie bergidig geli.


"Apa?" jawab Aberlie dengan suara yang hampir tak terdengan.


"Jangan mengingkarinya setelah ini oke, jadilah milikku seutuhnya malam ini meskipun aku telah mengambil mahkotamu terlebih dahulu sebelum nikah"


"Aku sudah mengatakan jika aku mencintaimu didepan semua orang sewaktu dipelaminan tadi dear, jadi tak mungkin aku menolakmu untuk meminta hakmu padaku"


"Baiklah aku percaya by, kau boleh mandi sekarang"


"Tapi setelah ini kau juga mandi oke biar badanmu segar"


Akhirnya Bram melepaskan Aberlie membiarkannya memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


(Sabar yah Bram jangan buru buru die dah sah jadi milikmu Bram)


Bram merebahkan tubuhnya diatas kasur berukuran king size tersebut, ia menghela nafasnya perlahan.


Mengapa jika didekatnya aku suka kehilangan kendali dan akal sehatku, semua yang ada didirinya membuatku mabuk, gumam Bram.


Didalam kamar mandi Aberlie melihat dirinya dicermin, ia melihat tanda merah dilehernya dan memegangnya seraya bibirnya tersenyum manis.


Setelah selesai mandi Aberlie keluar menggunakan kimono mandi yang sudah tersedia didalam kamar mandi.


Aberlie menghampiri Bram yang sedang tiduran diatas tempat tidur, ia duduk disampung Bram.


"Dear, kamu mandi dulu oke"


"Baiklah baby, sesuai keinginanmu" Bram bangun dan mengecup bibir Aberlie dan langsung menuju kamar mandi.


Aberlie hendak mengenakan pakaian namun ia lupa tak membawa pakaian gantinya, akhirnya ia memilih duduk didepan meja rias menyisir rambutnya seraya menunggu Bram.


Bram keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya menitupi si beo.


Bram berjalan menghampiri Aberlie dan meraih sisir yang digunakan Aberlie kemudian ia menyisir rambut Aberlie pelan.


Setelah selesai Bram menuntun Aberlie menuju dekat tempat tidur mereka, tak lupa Bram mematikan lampunya dan menggantinya dengan menggunakan lampu tidur.


"Apakah kamu siap by?" Bram berbisik ditelinga Aberlie membuat Aberlie geli, Aberlie hanya menganggukan kepalanya pelan, jantungnya berdebar kencang seakan mau copot.


Bram mulai membuka ikatan pada baju mandi yang dikenakan Aberlie, ia mencium bibir Aberlie lembut, lidahnya bermain didalam rongga mulut Aberlie, Aberlie pun membalas ciuman Bram seraya memegang pinggang Bram.


Ciuman bram turun keleher jenjang Aberlie dan ia meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya disana, tangannya mulai meraih buah yang begitu kenyal namun tidak kecil tersebut.


Bram meremasnya perlahan sehingga membuat Aberlie mengeluarkan suara yang begitu indah ditelinga Bram.


Ini kedua kalinya Bram mendengar suara indah itu keluar dari bibir Aberlie, ciuman Bram turun perlahan hingga akhirnya berhenti di sebuah gundukan besar yang berjumblah dua tersebut.


Bram memainkan lidahnya diujung buah tersebut yang masih sedikit kecil, karena memang tubuh Aberlie belum pernah dijamah oleh siapapun selain oleh Bram dan itupun hanya sekali karena keadaan terdesak.


Aberlie meremas rambut Bram pelan ia merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, begitu geli dan nikm*t, pikir Aberlie.


Lidah Bram terus berbain di buah kenyal tersebut, ia menyedo*tnya seperti bayi yang sedang meny**u pada ibunya.


Bergantian Bram memainkan buah kenyal tersebut, membuat Aberlie menggelinjangkan tubuhnya.


Bram membuka kimono mandi Aberlie dan membuangnya kesembarang tempat, Bram menidurkan Aberlie diatas tempat tidur dan mulai mengcup secara perlahan perut Abelie dengan lembut.


Bram membuka kaki Aberlie dan menaikkannya keatas, ia menji**t milik Aberlie perlahan membuat Aberlie menggelinjang dan menggenggam erat selimuta yang ada didekatnya.


Bram bermain dengan daging yang menyerupai kedelai tersebut sehingga membuat Aberlie menggelengkan kepalanya.


"Dear please"


Mendengan kata yang diucapkan Aberlie membuat Bram semakin bersemangat, Bram mulai mengobrak abrik bagian dalam milik Aberlie.


"Bram aku mau"


Aberlie tak bisa menyelesaikan ucapannya.


"Keluarkan baby hm" ucap Bram seraya tangannya meraih buat kenyal tersebut dan memainkan ujungnya.


Tak berapa lama cairan milik Aberlie keluar dari miliknya, Bram menyapu bersih dengan bibirnya.


Bram bangun dan mencium bibir Aberlie lembut, Aberlie mengalungkan tangannya pada leher Bram dan membalas ciuman tersebut.


(Bram author mau tepuk jidat yah Bram, maen sosor sosor bae🤦‍♀️)


"Siap baby?"


"Hmm" Aberlie hanya bisa menganggukan kepalanya, ia sudah tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, rasanya begitu aneh membuatnya ingin terus dan terus.


Bram membuka handuk yang dikenakannya stelah selesai mandi tadi dan melemparnya kesembarang arah.


Bram mengoc*k si beo perlahan dan kemudian mengarahkan si beo pada milik Aberlie.


Masih terasa sempit karena memang ini kali kedua Aberlie dan Bram melakukannya setelah dipantai lalu.


Bram memasukkan si beo secara perlahan membuat Aberlie sedikit meleg*h, ia mendoro perlahan untuk masuk sempurna dan akhirnya si beo pun masuk kedalam sangkarnya.


Bram memompanya secara perlahan taku Aberlie masih merasakan perih karena milik Aberlie masih benar benar sempit, walaupun tidak sesusah waktu pertama.


"Masih sempit by" ucap Bram berbisik diteling Aberlie.


"Bukankah kau tahu bahwa aku hanya sekali melakukannya dan itupun hanya denganmu dipantai" balas Aberlie dan Bram mengecup bibir Aberlie lembut seraya tarus bermain dibawah sana.


"Apakah masih terasa sakit?"


"Mmm sedikit, namun tak sesakit waktu pertama"


"Maaf"


"Kenapa meminta maaf, ini adalah kewajibanku dan hakmu juga, kau berhak memintanya"


Bram terus bermain dibawah sana sedikit lebih kencang, suara merdu Aberlie memenuhi kamar tersebut membuat br tambah bersemangat.


Ia terus memompa dan tangannya memainkan buah kenyal yang bergoyang kesana kemari seakan memanggilnya untuk disentuh.


Lama mereka bergulat sehingga keringat menetes dari badan mereka, tak lama Bram merasakan sesuatu akan menyembur keluar dari si beo.


"Didalam atau diluar baby?"


"Apakah kau tak ingin memiliki keturunan denganku sehingga kau membuangnya diluar?" balas Aberlie dengan pertanyaan.


Mendengar Aberlie berucap seperti itu membuat Bram mempercepat gerakannya sehingga suara merdu Aberlie semakin keras dan indah ditelinga Bram.


Bram sudah tak kuat menahan sesuatu didalam sana dan akhirnya Bram menyemburkan cairan tersebut kedalam rah*m Aberlie.


Setelah seluruh cairan itu tuntas keluar Bram tumbang diatas tubuh Aberlie, Aberlie tersenyum bahagia.


"Makasih by"


"Untuk?"


"Untuk rasa nikm*t yang kau berikan padaku"


Bram bangun dan berpindah disamping Aberlie, ia meraih tubuh Aberlie kedalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, Bram mengecup pucuk kepala Aberlie dan terlelap bersama karena lelah.


*****


Maafkan lah author kalau kurang panas yang kakak soalnya disini lagi dingin😆


Selamat membaca yah kakak semua jangan lupa jejaknya untuk memberi author semangat.


Salam hangat dari author untuk kalian semua😊🤗❤