CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 169



"Aku berangkat ya!" Al mencium dahi Yuna.


"Hati-hati." ucapnya. Ayuna mengantar Al hingga ke mobil. Setelah mobil Al tak terlihat lagi, Yuna kembali ke dalam.


"Aku harus apa?" Ayuna bingung. Ini adalah hari pertamanya di rumah. Dia berjalan menuju taman belakang. "Tante lagi apa?" tanya Yuna saat melihat Soraya sedang sibuk di taman.


"Seperti yang kamu lihat, bunga-bungaini sudah mulai tidak terurus." Ayuna mendekat dan melihat daun-daun yang sudah mulai mengering. "Ini hari pertamanmu di rumah, bukan?" tanya Soraya saat melihat Ayuna ikut mencabuti rumput yang ada di depannya.


"Iya, Tan." jawabnya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.


"Entahlah! Aku juga bingung harus ngapain." Yuna terus mencabuti rumput-rumput itu.


"Sudah, nanti tanganmu kotor." Soraya melarangnya. Ayuna berdiri dan membersihkan tangannya.


"Kalau gitu aku ke kamar dulu, Tan." Soraya mengangguk. Saat ini hanya mereka yang ada di rumah, Hans dan Tyas pagi sekali sudah berangkat ke Bandara. Tyas ingin melihat rumahnya, sementara Hans ingin menikmati suasana kota Malang.


Sesampainya di kamar, Yuna segera bertukar pakaian. Sebelumnya dia sudah mendapatkan izin dari Al untuk mengunjungi panti asuhan yang tak jauh dari kompleks perumahan mereka.


"Kamu mau kemana?" tanya Soraya saat melihat Yuna sudah rapi.


"Aku keluar dulu ya, Tan. Mau ke panti asuhan Kasih Ibu." ucapnya.


"Hati-hati ya! Perginya diantar sopir aja." pesannya.


"Baik, Tan." Yuna segera keluar.


"Bagaimana?" Alvaro yang baru sampai di kantor mulai memeriksa berkas yang trlah dipersiapkan Jhosua.


"Saya sudah mengirimkan pada mereka, Tuan." jawab Jo.


"Apa hasilnya?" tanya Al lagi.


"Mereka setuju." Al akhirnya bernapas lega.


"Baiklah! Segera kamu urus persiapannya. Minta mereka untuk mempercepat pembangunan resort itu." perintah Al.


"Baik, Tuan." jawab Jo.


🍀🍀🍀


"Pak, kita mampir ke Mall dulu ya." ucapnya pada sopir.


"Baik, Nyonya." jawabnya. Mobil sedan putih itu berhenti di depan pintu masuk Royal Mall, Yuna segera keluar.


"Sebaiknya aku cari keperluan untuk anak-anak dulu." Yuna menaiki lift menuju lantai 3.


Dia masuk kesalah satu toko pakaian anak. Ayuna memasukkan apa saja yang dia rasa perlu. Mulai dari baju bayi, baju anak perempuan dan laki-laki. Serta keperluan lainnya. Kemarin dia sudah sempat mencari info terkait jumlah anak yang ada di panti asuhan itu. Dirasa cukup, Ayuna berjalan ke kasir dan membayar semuanya.


"Harusnya aku minta pak Galuh untuk menemaniku ke dalam." ucapnya saat melihat tentengannya. Ayuna turun ke lantai satu, dia mengambil troli dan memasukkan semua belanjaannya. Ayuna mulai mencari kebutuhan harian. Untuk kali ini dia tidak memikirkan besarnya pengeluaran. Troli itu penuh dengan kebutuhan pokok dan juga mainan anak-anak. Ayuna mendorongnya menuju kasir.


"BRUK." seseorang menabraknya, sebagian barang yang ada di troli itu berhamburan keluar.


"Ups, maaf!" ucap pria yang menabraknya. Ayuna memungut barang-barang yang berjatuhan, sementara pria itu tidak peduli dan malah memotong antriannya.


"Hey! Apa kamu nggak pernah diajari sopan santun?" ucap Yuna pada pria yang berdiri di depan trolinya. Pria itu menoleh.


"Kamu bicara padaku?" tanyanya.


"Tentu saja! Kamu sudah menjatuhkan barang-barangku, dan sekarang kamu malah menyerobot antrianku." Ayuna sangat kesal. Pria tadi membuka kacamatanya dan menatap Yuna dengan seksama.


"Kau wanita itukan?" dia menunjuk Yuna menggunakan kacamatanya.


"Oh, pantas saja! Kau memang pria yang tidak bertanggung jawab." Ayuna ingat siapa pria itu.


"Hoho, Nona, tolong jaga ucapanmu." ucapnya.


"Kenapa? Kau memang pria brengsek dan tidak bertanggung jawab. Kemarin kau hampir menabrak temanku, dan sekarang kau mencari masalah lagi denganku." Yuna terlihat kesal.


"Aku? Kau yang selalu mencari masalah denganku." pria itu tidak mau kalah.


"Hah, sudahlah! Minggir!" Yuna mendorong trolinya ke depan.


"Hey! itu tempatku!" teriaknya, saat Yuna berada di tempatnya.


"Aku yang duluan disini. Kalau kau mau silahkan ngantri di belakang." Yuna maju saat antrian di depan sudah berkurang.


"Kau!!" pria tadi terlihat kesal.


"Pak, saya sudah di depan." Setelah selesai membayar semuanya. Ayuna segera menuju pintu keluar. Ayuna menunggu pak Galuh, tak lama mobil sedan putih itu berhenti di depannya. Pak Galuh membantu memasukkan semua barang belanjaannya ke bagasi.


"Hey! lihatin apaan sih?" tanya Cleo pada pria tadi.


"Manusia paling menyebalkan." jawab pria itu.


"Itu ...!" Cleo mengikuti arah pandangannya.


"Loh, itu' kan Ayuna!" jawabnya.


"Kamu kenal?" tanyanya.


"Dia itu temannya Andreas, Mas. Kenapa? Mas Bumi naksir?" tanyanya lagi.


"Naksir? Mana mungkin aku tertarik sama wanita model begitu. Kasar dan galak, gak ada lembutnya." ucapnya.


"Awas, loh! Nanti kejilat ludah sendiri." ledeknya lagi.


"Kamu ini ya!!" Bumi melingkarkan lengannya di leher Cleo.


"Apaan sih, Mas? Nanti dikirain kita ini pacaran." Cleo mencubit pinggangnya.


"Biar aja!" Bumi semakin mengeratkan tangannya.


"Nanti suamiku marah!" ucapnya.


"Bodo amat sama bule brengsek itu." mereka tertawa bersama.


"Langsung ke panti asuhan Kasih Ibu ya, Pak." ucap Yuna setelah mereka masuk. Galuh mengiyakan perintahnya. Mobil itu berjalan keluar, meninggalkan Royal Mall.


Sesampainya disana, Ayuna melihat banyaknya anak yang sedang bermain. Ada yang berlarian kesana kemari, membersihkan halaman dan juga bermain boneka di teras panti. Ayuna masuk, dan Galuh membawakan barang-barangnya.


"Selamat siang! Apa ibu pantinya ada?" tanya Yuna pada anak perempuan yang sedang membersihkan halaman.


"Ada, Tante." jawabnya setelah menghentikan kegiatannya.


"Apa kamu bisa tolong antar tante ke ruangan bu Panti?" pintanya, anak itu mengangguk. Mereka berjalan menyusuri lorong Panti, hingga sampailah mereka di sebuah ruangan yang berada di ujung lorong.


"TOK TOK TOK." anak itu mengetuk pintu.


"Ada apa, Ima?" tanya wanita paruh baya yang membukakan pintu.


"Maaf, Bu, ada tamu yang mau ketemu dengan ibu." ucapnya sambil menunjuk Yuna. Wanita itu menatap Yuna dengan ramah.


"Saya Ayuna, Bu. Yang kemarin menghubungi ibu melalui telepon." Ayuan memperkenalkan diri.


"Oh, iya, mari masuk, Nyonya." wanita itu mempersilahkan Yuna duduk. Pak Galuh meletakkan barang-barang yang dia bawa di dekat Yuna. Setelah itu dia permisi, kembali ke mobil.


"Jadi, kedatangan saya kemari untuk memberikan ini untuk anak-anak disini." Yuna mengangkat barang-barang itu ke atas meja.


"Wah, terima kasih banyak, Nyonya." jawabnya sambil tersenyum bahagia.


"Semoga ini dapat berguna untuk mereka ya, Bu." ujarnya.


"Sekali lagi, terima kasih. Kami sangat senang mendapatkan bantuan dari anda." jawabnya.


"Apa saya boleh melihat-lihat kondisi panti?" tanya Yuna pada Ibu Walni, pengurus panti.


"Tentu saja! Mari, saya antar untuk berkeliling." mereka berjalan keluar. Ayuna ditemani oleh bu Walni mulai melihat kondisi panti.


Sesekali mereka bercengkrama dengan anak-anak disana. Ayuna merasa sangat senang, apa lagi saat melihat anak-anak itu sedang bermain dan tertawa seperti tanpa beban. Melihat mereka membuat Ayuna teringat dengan kedua orangtuanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Ini ada sedikit rezeki dari saya untuk kebutuhan pendidikan anak-anak." Yuna menyerahkan amplop berwarna putih padanya.


"Sekali lagi, terima kasih, Nyonya." ucap Walni. Wanita itu mengantarkan Yuna keluar.


"Saya pulang dulu, Bu." Ayuna berpamitan pada pengurus panti dan juga anak-anak yang ikut mengantarnya ke depan.


"Hati-hati, Tante." pesan mereka sambil melambaikan tangan. Ayuna tersenyum sebelum masuk ke mobil.


"Apa yang dia lakukan disini?" Bumi yang hendak masuk ke panti, menghentikan niatnya saat melihat Ayuna bersama dengan ibu panti.


"Selamat siang!" ucapnya setelah mobil Yuna keluar dari pagar.


"Siang, Tuan Bumi!" jawab Walni.


"Maaf ya saya baru sempat kemari. Oh iya, siapa wanita tadi?" tanyanya.


"Oh, beliau adalah salah satu donatur disini,Tuan." jawabnya.


"Benarkah?" Bumi seakan tidak percaya.


"Apa iya, wanita galak itu punya hati seperti malaikat?" Bumi terlihat ragu.


"Mari, Tuan." bu Walni mengajaknya untuk masuk. Bumi mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam.


~tbc