CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 3



ВАВ 2


Saat Antonio akan meninggalkan kamar Manda, saat itu juga dirinya mendengar seruan lembut yang keluar dari mulut kecil Manda, "Kalian jahat. Kenapa kalian meninggalkanku? Hiks... mama... papa ... Kak


Dean ... jangan tinggalkan aku ... Hiks ... kenapa tidak ada yang menyayangiku... Hiks ...."


Seketika tubuh Antonio membeku mendengarnya. Tangisan lirih yang keluar dari bibir Manda seolah menyadarkannya tentang rasa syukur atas apa yang dia punya sekarang. Namun, Antonio bukanlah tipe pria yang bisa mengekspresikan emosinya. Dia hanya menatap Manda yang masih tertidur itu, lalu meninggalkan Manda sendiri dan balik ke kamarnya.


Setelah kembali ke kamarnya, seperti biasa rutinitas Antonio adalah mandi dan berendam untuk membuat tubuhnya rileks kembali. Setelah itu, Antonio


13| CEO Bucin - Missecha


pun berdiam di kamarnya sambil menunggu jam makan malam. Sementara di sisi lain, Manda masih tertidur pulas sampai mendekati waktu jam makan malam.


Antonio lebih dulu turun ke bawah. Langkah


kakinya membawa Antonio langsung menuju ruang makan, tetapi dia tidak menemukan sosok sang istri.


Hanya bibi yang bekerja di sana sedang menghidangkan makanan di atas meja makan.


"Malam, Den," sapa sang bibi


"Malam. Apa ini Bibi yang masak?"


"lyah, Den. Non Manda belum turun dari tadi. Bib udah bolak-balik panggil, tapi nggak diiawab, Den." balas sang bibi.


Apa dia masih tidur? Benar-benar seperti kebo


gadis itu, batin Antonio


"Ya, sudah. Biarkan saja, Bi."


"Baik, Den. Bibi tinggal ke belakang dulu, Den."


"Terima kasih, Bi."


Meskipun perut Antonio terasa lapar, dia sepert a


tidak berselera makan malam itu. Apalagi makan hanya seorang diri. Hubungan mereka memang tidak seperti


14| CEO Bucin-Missecha


suami istri pada umumnya, tetapi tanpa sadar kehadiran Manda di sisi Antonio sudah membuat banyak perubahan di hidup Antonio.


"Hooamm ..."Manda meregangkan tubuhnya.


Tanpa sadar bulir-bulir air mata mengalir turur membasahi pipi. Belum hilang bekas mata sembab akibat mimpinya, kini mata Manda seolah kran air yang tidak pernah kering untuk meneteskan air mata.


"Kenapa aku harus menangis? Ya, ampun Manda, jangan cengeng," ucapnya menyemangati diri sendiri.


Sementara Antonio menghabiskan 30 menit waktu makannya hanya dengan menatap piring yang ada


di hadapan. Hati kecil Antonio mengharapkan Manda


untuk turun


"Dia pasti sudah selesai makan. Aku haus sekali.


Mana air habis lagi." Manda bergumam ketika melihat ceret di atas meja yang kosong. "Sudah jam seperti ini, dia pasti sudah selesai. Jadi, aku turun saja.


151 CEO Bucin- Missecha


Manda pun melangkahkan kaki menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat Antonio masih duduk di bangku kebesaran. Manda tidak bisa menghindar lagi karena Antonio juga sudah melihatnya.


Astaga! Kenapa dia masih di sini, batin Manda.


Turun juga kamu, kan? batin Antonio


"M-malam," ucap Manda kikuk.


"Hm, aku kira kamu akan bangun besok pagi,"


sindir Antonio cuek


"Oh, maaf. Aku .. aku cuma mau ambil ain


minum," jawab Manda. Dengan cepat Manda melewati belakang Antonio dan segera membuka kulkas untuk mengisi ceretnya yang kosong. Setelah itu dia langsung bergegas pergi.


"Mau ke mana? Sekak Antonio


"Aku udah selesai. Mau balik ke kamar."


"Duduk dan cepat makan!" perintah Antonio


"Aku nggak lapar. Jadi, kamu makan aja. Permisi."


"Amanda Wiradijaya, berhenti aku bilang!"


16| CEO Bucin - Missecha