CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 178



"Apa yang dia lakukan disini?" Yuna menatap tajam pada Bumi yang kali ini penampilannya terlihat berbeda. Biasa saat bertemu dengan Yuna, Bumi hanya menggunakan pakaian casual, kali ini dia terlihat lebih formal dengan setelan jas yang ada di badannya.


"Kamu sudah datang?" suara Al menyadarkan Yuna. "Kemarilah!" Yuna mendekat pada Al. Sementara Valerie terus saja memperhatikan Yuna. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Yuna mengenal dengan Alvaro.


"Ini, Ayuna!" Al memperkenalkan Ayuna pada semua yang ada di ruangan itu. "Apa meetingnya sudah bisa kita mulai, Tuan Bumi?" sebenarnya sejak Yuna masuk Al kesal karena Bumi terus saja menatap istrinya itu. Dan, Yuna juga sepertinya mengenal Bumi.


"Tentu saja!" Bumi memulai meeting itu. Dia menyampaikan seperti yang sudah Kai katakan sebelumnya. Terjadi sedikit perdebatan, baik dari Alvaro maupun Valerie. Ayuna terlihat menyimak apa yang mereka bahas. Sesekali Bumi mencuri pandang padanya. Semua itu tak luput dari pandangan Al maupun Valerie. Valerie yang memang sudah tahu bahwa Bumi menyukai Yuna terlihat santai saja. Dia malah sibuk mencuri pandang pada Al. Akhirnya kesepakatan didapat. Alvaro tetap melanjutkan keinginan Bumi dengan tambahan waktu. Karena mereka harus mendesign ulang.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi!" ucap Al begitu rapat itu selesai.


"Ini sudah jam makan siang. Apa tidak sebaiknya kita makan siang bersama?" Bumi menahannya. "Bagaimana nona Valerie?" tanyanya.


"Saya nggak masalah." jawab Valerie.


"Bagaimana tuan Alvaro?" tanyanya. "Ini pertemuan pertama kita, akan lebih baik jika kita saling mengenal." Al melirik Yuna. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia setuju untuk tetap tinggal sampai jam makan siang. Kai bertugas untuk mengatur ruang makan mereka.


"Bukankah asisten anda sebelumnya adalah seorang pria, Tuan?" Bumi memulai percakapan begitu makanan mereka terhidang.


"Iya." jawabnya.


"Lalu, dimana dia?" tanyanya lagi.


"Dia sedang ada urusan pribadi." jawab Al.


"Na, kamu nggak pernah bilang kalau kamu kerja di Ivander Group?" tanya Valerie. Berhubung meja mereka berbentuk bundar, jadi Ayuna duduk bersebelahan dengan Valerie, sementara Al dengan Bumi.


"Kamu nggak nanya." jawab Yuna.


"Kalau tahu kamu itu orang kepercayaan tuan Al, aku pasti akan meminta bantuanmu." ujarnya.


"Bantuan apa?" tanya Yuna.


"Apa kalian saling kenal?" tanya Al saat melihat kedekatan Yuna dan Valerie.


"Jadi, Ayuna ini adalah sabahat saya." sebelum Yuna berbicara Valerie sudah lebih dulu menjawabnya.


"Benarkah?" Al menatap.Yuna. Ayuna memgangguk. "Kenapa aku nggak tahu kamu punya teman seperti ini?" Yuna terdiam.


"Saya juga nggak tahu kalau dia adalah asisten anda?" potong Bumi. Alvaro menatap ke arahnya.


"Apa anda mengenalnya?" tanya Al. Dia ingin memastikan lagi.


"Tentu saja." Bumi tersenyum penuh arti.


"Wah, aku sangat terkejut. Aku tidak tahu kalau kamu mengenal mereka berdua." Al menatap istrinya dengan penuh tanya.


"Saya juga tidak tahu kalau anda adalah CEO Earth Corp. Saya kira anda ...." Yuna terdiam, dia tidak mungkin melanjutkan perkataannya.


"Kamu kira aku ini hanya orang menyebalkan, yang selalu menganggumu?" Alvaro semakin terkejut. "Hubungan kami tidak sebaik itu." Bumi seolah tahu apa yang ada dipikiran Al. "Asistenmu ini sangat galak." Alvaro tersenyum, sementara Bumi tertawa melihat wajah Yuna yang terlihat kesal.


"Ayuna ini bukanlah asistenku, tapi dia ...."


"Tuan Al, apa setelah ini anda rencana?" sebelum Al melanjutkan perkataannya,Valerie sudah keburu memotongnya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Apa kita bisa melanjutkan pembahasan mengenai kelanjutan proyek ini?" Yuna mengerinyitkan dahinya.


"Bukankah semuanya sudah jelas? Anda hanya perlu mengikuti instruksi yang diberikan oleh tuan Bumi." jawabnya.


"Tapi saya ...."


"Apa ada masalah nona Valerie?" Bumi menyela percakapan mereka. Saat Valerie menoleh, dia mendapatkan tatapan seolah mengintimidasinya. "Jika perusahaan anda tidak sanggup memenuhi keinginan saya, anda bisa mundur." Valerie menelan ludah. Dia tidak mungkin melepaskan proyek besar seperti ini. Bisa-bisa ayahnya akan marah besar.


"T-tidak tuan. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu." bohongnya. Padahal, sebenarnya dia ingin lebih lama dengan Al. Apalagi ada Yuna, dia sangat yakin Yuna akan membantunya kalau dia mengatakan yang sebenarnya pada Yuna.


"Nanti kita bicara." Valerie tersenyum merasa mendapatkan kesempatan emas. Terlihat Kai membisikkan sesuatu pada Bumi.


"Saya rasa cukup sampai disini. Jika ada sesuatu saya akan menghubungi anda." Bumi berdiri dan berpamitan pada Al dan yang lain. "Aku rasa kita akan sering bertemu." ucapnya saat berada di dekat Yuna. Ayuna tidak menghiraukannya. Al mengemggam erat tangannya. Bumi dan Kai meninggalkan mereka.


"Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?" Al bertanya pada Valerie. Dia ingin segera pergi dari sana. Al sudah tidak sabar untuk mengetahui hubungan Yuna dan Bumi yang sebenarnya.


"Saya ingin tahu apakah anda ada rencana untuk ke Lombok lagi?" tanyanya.


"Kenapa?" tanya Al.


"Jika anda ingin kesana, ada baiknya kita pergi bersama. Dengan begitu akan mudahkan kita untuk saling berkomunikasi jika ada kendala." Ayuna penasaran apa yang sebenarnya diinginkan oleh Valerie.


"Kenapa saya harus pergi dengan anda? Jika ada kendala, anda bisa menghubungi asisten saya." jawab Al.


"Tapi tuan, saya lebih nyaman jika berbicara langsung pada anda." Dahi Al kembali mengerinyit.


"Maaf, Nona, tapi anda bisa menghubungi asisten saya. Jika tidak ada yang ingin anda tanyakan terkait proyek itu, saya rasa cukup sampai disini." Alvaro berdiri, begitupun dengan Ayuna.


"Na, apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Valerie. Ayuna menatap pada Al.


"Aku tunggu di mobil." Ayuna merasakan sikap Al padanya sangat dingin.


"Ada apa?" tanya Yuna begitu Al pergi.


"Kenapa kamu nggak bilang sih kalau kerja di Ivander Group?" Valerie kembali menanyakan hal yang sama.


"Kamu nggak nanya." jawaban Yuna tetap sama.


"Na, kamu bantuin aku dong!" Valerie memegang tangannya.


"Bantu apa?" tanya Yuna.


"Apa kamu bisa membantuku untuk dekat dengan tuan Al?" Ayuna terkejut.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Kamu ingat percakapan kita kemarin?" Ayuna mengangguk.


"Pria itu tuan Al, bosmu!" Ayuna semakin kaget. Dia tidak menyangka pria yang dibicarakan oleh Valerie kemarin adalah suaminya sendiri.


"Kamu bercanda?" tanya Yuna, Valerie menggeleng.


"Aku serius, Na! Sejak pertama kali bertemu dengannya aku langsung jatuh cinta. Kamu tahu? Cinta pada pandangan pertama. Tatapannya membuat jantungku berdebar nggak karuan." Valerie tersipu malu. Ayuna bingung, apakah dia harus jujur padanya. Kalau Valerie tahu, Yuna yakin dia pasti akan syok.


"Apa kamu nggak tahu apa-apa mengenai tuan Al?" Valerie menatapnya.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Sebelum kamu menyukainya, apa kamu nggak mencari tahu terlebih dahulu dia siapa?" Valerie menggeleng. Yuna menarik napas dalam. Ponselnya sejak tadi berdering. Dia tahi itu pasti Alvaro.


"Aku tidak bisa membantumu." jawabnya.


"Tapi, kenapa? Kamu itukan temanku. Apa kamu tega melihatku jomblo terus?" Valerie merengek padanya.


"Lupakan semua itu. Sampai kapanpun, kamu nggak akan bisa dapatin tuan Al." matanya membesar.


"Apa maksudmu?" tanyanya. "Apa kamu nggak suka jika aku dekat dengan atasnmu?" Valerie terlihat kesal.


"Tentu saja! Aku bahkan tidak akan mengizinkan bayanganmu atau wanita manapun menyentuh suamiku." Ayuna merapatkan giginya.


"Tuan Al sudah menikah!" Valerie terpaku.


"M-menikah?" ulangnya. "Kamu nge-prank aku ya?" rasanya saat ini Yuna ingin menjedutkan kepala Valerie ke tembok. Dia masih saja keras kepala jika berkaitan dengan pria.


"Buat apa aku mengerjaimu? Aku mengatakan yang sesungguhnya." ucapnya. Ponselnya kembali berdering.


"Terus gimana denganku? Gimana dengan hatiku?" Valerie mulai kembali merengek. Ayuna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.


"Move on! Masih banyak pria lain." jawabnya.


"Siapa?" Valerie duduk berpangku tangan.


"Itu ada si manusia menyebalkan, Bumi Arkana." candanya.


"Hufftt!! Dia tidak akan menyukaiku." jawabnya pelan.


"Ya, kamu usaha dong!" Yuna mendorongnya.


"Di hatinya sudah ada wanita." jawabnya lagi.


"Oh ya ....?" Yuna sedikit terkejut, karena Valerie tahu banyak tentang Bumi.


"Sial banget sih nasibku?" ponsel Yuna kembali berdering. Ini sudah ketiga kalinya.


"Aku harus kembali ke kantor!" ucap Yuna.


"Terus tuan Al gimana?" dia masih saja membahas Al.


"Jangan jadi pelakor, atau kamu akan menyesal nantinya." Yuna mengingatkan. "Udah, kejar aja si Bumi." Ayuna tertawa kecil.


"Gimana aku bisa mengejarnya, kalau dia sendiri mengejarmu?" seketika tawa Yuna menghilang.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Dasar nggak peka! Dia itu menyukaimu." Yuna terkejut mendengar perkataannya.


"Kamu jangan bercanda?" tanya Yuna.


"Ngapain aku bohong? Dia sendiri yang bilang waktu kita di restoran." Ayuna tidak dapat berkata apa-apa lagi.


~tbc