CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 137



"Dimana papa?" begitu pulang kerja, Mahen segera menuju rumah utama.


"Papamu disini." sebelum pelayan menjawab pertanyaannya, Candra sudah lebih dahulu menyela.


"Pa." Mereka berpelukan.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Aku baik. Kenapa papa tidak memberitahuku kalau akan pulang?" mereka menuju sofa.


"Papamu sengaja kasih suprise untukmu." Soraya yang menjawabnya. "Ayo, kita makan dulu." ajaknya.


"Aku mandi dulu." Mahen meninggalkan mereka menuju kamarnya.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." ucap Candra.


"Kamu terlalu sibuk sih."


"Yah, kamu benar! Aku tidak bisa meninggalkan perusahaanku disana." jawabnya. "Dimana papa?" Dia menanyakan Hans.


"Papa ada di ruang kerjanya." jawab Soraya. "Nah, itu papa datang." Hans berjalan menuju mereka.


"Ayo, kita makan!" ucapnya.


"Sebentar pa, kita tunggu Mahen." sela Soraya.


"Dimana dia?" tanya Hans.


"Itu." semua melihat ke arah anak tangga.


"Maaf, aku telat." Monika juga ikut bergabung bersama mereka. Mereka makan malam bersama.


"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Hans pada Candra.


"Baik." jawabnya.


"Baguslah!"


"Papa dengar kamu sekarang bekerja bersama Al?" Candra bertanya pada putranya.


"Iya." jawabnya.


"Lalu, cafemu gimana?" tanyanya.


"Aku memantaunya setelah pulang kerja." jawabnya.


"Itu bagus! Memang sudah seharusnya kamu berjalan bersama Al." Candra melirik pada Hans yang sedang asyik makan.


"Aku dengar Al sudah bertunangan, benarkah?" tanyanya.


"Iya." Soraya yang menjawab pertanyaannya.


"Lalu, dimana mereka?"


"Mereka tinggal di apartemen." jawab Monika.


"Siapa tunangannya? Dari keluarga mana?" semua orang diam.


"Kau pasti mengenalnya." Hans yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara.


"Maksud papa?" tanyanya.


"Aku yakin kau pasti tahu maksudku." Hans menatapnya tajam.


"Aku tidak mengerti apa yang papa katakan." ujarnya.


"Berapa lama papa disini?" Mahen memecah ketegangan diantara mereka.


"Mungkin seminggu." jawabnya.


"Cepat sekali mas? Tinggallah lebih lama." pinta Soraya.


"Tergantung berapa berapa lama aku bisa menyelesaikan pekerjaanku disini." Candra memegang tangan istrinya.


"Kalian ini pasangan yang aneh, kenapa kamu tidak ikut mas Candra saja?" Monika yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya ikut menyela.


"Aku tidak bisa ninggalin papa sendirian." Soraya menatap penuh kasih satu-satunya orangtua yang dia miliki.


"Kamu pergi saja, aku bisa jagain papa." Candra menatap tajam padanya.


"Tidak, Mbak, aku dan mas Candra sudah sepakat untuk selalu menemani papa." tolaknya, Hans tidak mengatakan apapun.


"Terserah kalian saja." Monika kembali dengan sikap cueknya.


"Dan kamu, Mahen? Kapan kamu akan menyusul Al?" tanya Candra.


"Entahlah!" jawabnya.


"Kenapa? Apa sampai saat ini kamu masih belum menemukan wanita yang pantas untukmu?" Soraya was-was, dia takut Mahen akan mengatakan sesuatu. Mahen menatap pada Hans.


"Sudah." jawabnya. Semua mata tertuju padanya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Bawa dan perkenalkan dia pada kami." pintanya, Mahen menatap Hans.


"Apa jika aku membawanya, maka keluarga ini akan setuju?" tanyanya.


"Kami harus melihat dulu, seperti apa wanita pilihanmu itu." jawabnya.


"Kenapa? Apa yang ingin papa ketahui darinya?"


"Kamu bawa dulu, perkenalkan padaku. Setelah itu, papa baru bisa memutuskan apakah dia pantas untukmu atau tidak."


"Semua orang di keluarga ini tahu seperti apa dia. Bahkan, mereka tahu dia sangat layak untuk menjadi bagian dari keluarga Ivander." Hans masih menatapnya. begitupun dengan Mahen.


"Papa semakin penasaran, bawalah dia untuk bertemu denganku besok." ujarnya. Soraya semakin gelisah, dia tidak henti menoleh pada Hans dan Mahen.


"Sayangnya, aku tidak bisa." Candra bisa melihat kesedihan di mata putranya.


"Kenapa?" dia bingung.


"Dia tidak bisa kumiliki." Candra semakin bingung.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak bisa memilikinya?"


"Dia sudah menjadi milik orang lain." Soraya bersyukur saat mendengar jawaban Mahen.


"Kalau begitu kenapa kamu harus menyerah? Jika memang dia pantas, maka perjuangkan dia." tanpa tahu siapa wanita yang dia maksud, Candra malah mendorongnya untul merebut Yuna.


"Apa papa bisa membantuku?" tanyanya.


"Tentu saja!"


"Kalau begitu, bawakan dia dari Al."


"Mahendraaa!!" teriak Hans yang sejak tadi mencoba menahan emosinya. Semua terkejut, termasuk Candra. "Jaga ucapanmu!" ancamnya. Sorot matanya terlihat sangat tajam, terlihat kemarahan disana.


"Apa maksudnya ini?" Candra benar-benar bingung.


"Putramu ini mencintai wanita kakaknya." jawab Hans. Mahen meletakkan kasar sendok yang ada ditangannya.


"Cucu kesayangan kakek yang merebutnya dariku."


"Tidak ada yang merebutnya, mereka saling mencintai." bantah Hans.


"Kakek selalu saja membelanya." Mahen meninggalkan meja makan.


"Mahen!!" panggil Candra.


"Sayang, tunggu!!" Soraya mengejarnya. "Mahen, tunggu!!" dia mencengkram tangannya.


"Apa lagi, Ma?" tanyanya.


"Sayang, kenapa kamu bersikap begitu?" ucapnya.


"Sudahlah, aku malas disini. Semua orang sama saja, tidak ada satupun yang mendukungku." Mahen meninggalkan rumah utama. Soraya masih terpaku ditempatnya memandang mobil Mahen yang sudah menjauh.


"Aku duluan." Monika meninggalkan meja makan dan naik ke kamarnya.


"Ada apa ini?" tanya Candra, saat ini hanya ada dirinya dan Hans.


"Bukankah kau sudah tahu?" Hans balik bertanya.


"Jadi maksud papa, putraku mencintai wanita itu?" ulangnya.


"Iya. Wanita yang dulu bersama Al saat penculikan itu terjadi." Candra menatapnya mencari kejujuran dari kata-kata Hans.


"Tapi, bagaimana bisa?" dia masih tidak mempercayainya.


"Aku sudah merestui hubungan Al, jadi tugasmu untuk meyakinkan Mahen bahwa Ayuna bukan miliknya. Jangan ganggu mereka, sudah cukup luka yang mereka dapatkan." Hans berdiri dan meninggalkannya.


🍀🍀🍀


"Siang nanti kosongkan jadwalku." perintahnya pada Yuna.


"Kenapa? Memangnya kamu mau kemana?" tanyanya.


"Aku ada urusan, dan kamu harus ikut denganku." ucapnya.


"Memangnya kita mau kemana?"


"Nanti juga kamu tahu."


"Tuan, diluar ada tuan Candra yang ingin bertemu dengan anda." ucap Refa yang saat ini sudah berada di depan mereka.


"Mau apa dia?" Al bertanya pada dirinya sendiri. "Suruh dia masuk."


"Baik, Tuan." Refa kembali ke luar.


"Siapa Al?" tanya Yuna.


"Papa Mahen." pintu terbuka setelah Al menjawab pertanyaan Yuna. Terlihat, dua orang pria bersetelan jas berjalan menuju mereka.


"Apa kabarmu?" tanya Candra padanya.


"Seperti yang anda lihat." Ayuna bisa melihat sikap Al tidak bersahabat dengannya, Ayuna menoleh pada pria itu.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan." Yuna berjalan keluar dari ruangan Al. Candra terus saja memperhatikannya, begitupun dengan asistennya.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Al setelah Yuna keluar.


"Kenapa kamu masih sekasar itu? Aku kesini untuk menemui Mahen." ucapnya.


"Anda salah ruangan jika ingin bertemu dengannya."


"Aku tahu. Tapi, tidak ada salahnya jika aku ingin menemui keponakanku, bukan?" mereka saling pandang, hanya mereka berdua yang tahu apa arti dari tatapan mereka.


"Tidak perlu basa-basi, katakan saja apa yang anda inginkan." Al sangat paham sifat Candra.


"Aku dengar kamu sudah bertunangan. Lalu, dimana wanita itu?" tanyanya.


"Kenapa anda sangat penasaran dengan wanitaku?" Al balik bertanya.


"Aku hanya ingin tahu, wanita seperti apa yang sudah membuat kedua penerus Ivander menjadi musuh." Candra terlihat begitu angkuh.


"Tidak perlu berpura-pura, aku yakin anda pasti sudah tahu seperti apa dia." Al pun tidak mau kalah. Dia sangat yakin kalau Candra adalah dalang di balik penculikannya. Candra tersenyum sinis saat mendengar perkataannya.


"Lalu, dimana dia?" Candra menatap ke arah Yuna dan Refa melalui kaca ruangan Al, Alvaro menyadari itu.


"Anda tidak perlu tahu. Jika tidak ada yang ingin anda katakan, lebih baik anda keluar." Al mengusirnya.


"Kamu masih saja sama." ucapnya menanggapi pengusiran Al. "Ayo." ajaknya pada asistennya.


"Aku antar ini ke tuan Al dulu." Yuna membawa beberapa dokumen penting yang baru mereka dapatkan dari rekan bisnis Al.


"BRUKK!!" dokumen yang ada ditangan Yuna berserakan, saat dia tidak sengaja menabrak asisten Candra.


"Maafkan saya, Tuan." Yuna berjongkok dan memunggut dokumen-dokumen itu.


"Ini." Asisten Candra memberikan dokumen yang ada didekatnya pada Yuna.


"Terima ka ..." Ayuna terpaku saat melihat tato naga yang ada di pergelangan tangannya.


"Ayo." ajak Candra padanya, Ayuna mengambil dokumen itu dari tangannya. Mereka berjalan menuju lift. Ayuna masih menatap pria itu.


"Sepertinya aku pernah melihat tato itu. Tapi, dimana?" batin Yuna.


~tbc