
"Kenapa wajahmu terlihat pucat?" tanya Bumi saat mereka tengah sarapan.
"Saya rasa itu bukan urusan anda." Yuna sangat kesal karena sikap Bumi yang saat ini begitu ramah. Bumi hanya menanggapi kekesalan Yuna dengan senyuman.
"Apa kamu mau nambah?" tanya Bumi saat melihat piring Ayuna sudah kosong. Jo dan Kai juga menoleh padanya.
"Tidak. Aku hanya ingin segera menyelesaikan meeting ini." ucapnya.
"Baiklah." Bumi meminta Kai untul memulai meeting mereka. Terjadi sedikit perdebatan, antara Kai maupun Jo. Sementara Bumi tidak mengatakan apapun.
"Kami akan mempertimbangkan kembali permintaan anda." ucap Yuna.
"Berapa lama waktu yang kalian butuhkan?" tanya Bumi.
"Saya rasa tidak akan lama. Saya hanya perlu berbicara dengan suami saya dulu." Yuna mulai menyusun semua perlengkapan mereka. "Jika menurut suami saya itu mungkin, maka Jo akan menghubungi anda." Ayuna berdiri karena merasa pertemuan mereka telah selesai.
"Apa kamu tidak bisa membuat keputusan sendiri?" Bumi tersenyum sinis padanya.
"Maafkan saya, tapi kerja sama ini dimulai antara anda dengan suami saya. Maka saya harus menanyakan pendapatnya terlebih dahulu." Yuna masih mencoba bersikap sopan. Bumi mengangkat kedua bahunya. "Kalau begitu kami permisi." ucap Yuna.
"Kapan kita bisa bertemu?" Ayuna dan Jo menghentikan langkahnya.
"Maksud anda?" tanya Yuna.
"Kita harus sering membahas mengenai perkembangan proyek itu. Saya sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya." lanjutnya.
"Beri saya waktu. Saya harus mempelajari terlebih dahulu." Bumi mengangguk. Setelah itu Yuna beranjak dari sana. Bumi terus menatap Yuna hingga wanita itu tidak lagi terlihat.
"Ayo." Kai segera berdiri dan berjalan disisi Bumi. Kai masih penasaran dengan yang terjadi pada majikannya itu. Tidak biasanya Bumi seperhatian itu pada lawan jenisnya, kecuali adiknya sendiri.
"Apa kamu bisa melihatnya, Jo? Rasanya ingin kubekap saja mulutnya itu." Yuna terus saja mengerutu saat mereka dalam perjalanan menuju kantor. Jhosua hanya menjadi pendengar saja. Menurutnya juga sangat aneh, Bumi yang sebelumnya terlihat dingin seperhatian itu pada Yuna.
"Kita sudah sampai, Nona." Yuna menoleh dan melihat bahwa mereka sudah berada di Ivander Group. Saya Jo ingin membukakan pintu, Yuna sudah terlebih dahulu membukanya.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa karyawan yang melihat kehadirannya. Ayuna hanya tersenyum lalu bergegas menuju lift.
"Jo, apa kamu sudah mendapat kabar dari Al? Sejak tadi aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban." Yuna kembali terlihat kesal.
"Belum, Nona. Mungkin saat ini beliau sedang istirahat." ucap Jo. Mereka segera keluar begitu pintu lift terbuka.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Refa. Ayuna tidak mengatakan apapun, dia terus saja berjalan menuju ruangan Al dengan wajah tertekuk.
"Tuan, ada apa dengan Nyonya Yuna?" tanya Refa.
"Kamu jaga beliau. Jika nyonya memintan sesuatu segera laksanakan." pesan Jo sebelum melangkah ke ruangannya.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Yuna?" Refa juga bingung, karena Yuna tidak biasanya seperti ini.
🍀🍀🍀
"Kenapa Al tidak mengangkat teleponnya?" Yuna kembali mengerutu.
"TOK TOK TOK."
"Nyonya, ini ada beberapa berkas yang baru saja dikirimkan oleh vendor." Refa terdiam.saat melihat Ayuna yang sedang menatapi ponselnya. "Nyonya ....?"
"Apa?" tanya Yuna tanpa menoleh padanya.
"Saya mengantarkan berkas ini." Refa menyodorkan berkas itu.
"Taruh disana saja." ucapnya, Refa meletakkan berkas itu diatas meja.
"Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Refa. Yuna menggelang. Refa berjalan keluar dari ruangan.
"Dimana nona Ayuna?" tanya Jo saat melihat Refa baru keluar dari ruangan Yuna.
"Di dalam. Sejak tadi hanya menatapi ponselnya." lapor Refa. Jhosua segera masuk.
"Apa yang anda lakukan, Nona?" tanya Jo. Sesuai dengan perkataan Refa barusan, Yuna masih saja menatap ponsel miliknya.
"Apa Al sudah menghubungimu?" tanya Yuna.
"Belum. Tapi saya sudah berhasil menghubungi sekretaris Ken." Yuna segera menoleh padanya.
"Apa yang dia katakan?" tanyanya. "Dimana Al? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?"
"Tuan sedang menanggani masalah yang ada disana. Mereka sangat sibuk hingga tidak sempat menghubungi anda." Ayuna terduduk lemas.
"Jadi, dia melupakanku?" raut wajahnya mulai terlihat sedih.
"Bukan seperti itu, Nona. Tuan pasti ingin segera menyelesaikan semua permasalahan yang ada disana, agar beliau segera kembali ke sini." hiburnya.
"Benarkah?" tanyanya.
"Tentu saja. Untuk itu, saya rasa anda juga harus fokus dengan pekerjaan yang ada disini. Bukankah tuan sudah mempercayakan semuanya pada anda? Apa yang akan tuan katakan, saat tahu bahwa anda tidak melakukan apapun?" ujarnya.
"Kamu benar!" jawabnya. "Maafkan aku! Apa yang harus kulakukan?" Jhosua tersenyum, dia akhirnya bisa menyadarkan Yuna.
"Sebaiknya kita periksa berkas yang baru saja masuk." sarannya. Ayuna mengangguk dan mulai memeriksa dengan seksama berkas yang Refa berikan tadi. Sesekali dia bertanya pada Jo apa yang harus dia lakukan. Jhosua dengan sabar membantunya.
"Jo, aku lapar!!" Yuna mengusap-usap perutnya. Jhosua melihat arloji yang ada dipergelangannya sudah pukul 15.00 wib. Karena terlalu bersemangat, mereka sampai melupakan makan siang.
"Aku kau nasi kebuli." Jhosua terkejut.
"Nasi kebuli?" tanyanya.
"Kenapa? Kamu nggak mau beliin?" Yuna kembali terlihat kesal. Entah kenapa, Jhosua merasa mood Yuna sangat cepat berubah. Apalagi jika menyangkut makanan.
"Bukan begitu ...., Saya akan meminta Refa untuk membelinya. Tapi apa anda bisa bersabar? Karena tidak ada restoran di dekat sini yang menjual nasi kebuli." jelasnya.
"Aku akan menunggu." jawabnya cepat.
"Baiklah." Jhosua keluar, dia memerintahkan Refa untuk membeli apa yang Yuna inginkan.
🍀🍀🍀
"Yang benar saja! Masa aku harus pergi sejauh 5 km untuk membeli nasi kebuli?" Refa mengerutu saat berada di dalam lift.
"Siapa yang ingin nasi kebuli?" tanya Gina yang mendengar perkataannya.
"Siapa lagi? Nyonya Ayuna." ucapnya saat tahu siapa yang bertanya.
"Ayuna?" Refa mengangguk.
"Apa kamu tahu restoran yang menjual nasi kebuli di dekat sini?" tanyanya. Gina menggeleng.
"Setau aku restoran itu jaraknya cukup jauh. Apalagi ini jam makan siang, kamu bisa terjebak macet." jelasnya.
"Lalu, aku harus gimana?" Refa mengaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa bingung? Pesan online aja." Refa serasa mendapat angin segar.
"Kamu benar! Aduh, hampir aja aku mati berdiri. Kenapa aku nggak kepikiran ya?" Refa segera mesan nasi yang Yuna inginkan melalui ponselnya.
"Jo ...." Yuna kembali merengek.
"Ada apa, Nona?" tanyanya.
"Aku lapar!" ucapnya.
"Saya akan menghubungi Refa." Ayuna mencegahnya.
"Aku mau makan mie instan aja." Yuna berjalan keluar dari ruangannya.
"Ayuna mau kemana?" tanya Gina yang memang sengaja naik ke lantai 20 untuk menghampiri mereka.
"Kenapa kamu disini?" tanya Jo.
"Aku ingin melihat keadaan Yuna. Apa yang terjadi? Yuna mau kemana?" tanya Gina saat melihat Yuna berjalan menuju pantry.
"Mau cari makan." jawab Jo.
"Makan? Bukankah Refa sedang membelikannya nasi kebuli?"Jo menatap penuh tanya. "Aku bertemu Refa di lift."
"Sepertinya beliau sudah tidak bisa menahan rasa laparnya." jawab Jo.
"Lalu, mau apa Yuna ke pantry?" tanya Gina.
"Kamu akan tahu nanti." jawab Jo saat melihat Yuna keluar dengan memegang sebuah mangkuk.
"Kamu disini?" tanya Yuna saat melihat Gina bersama Jo di depan pintu ruangannya.
"Apa itu?" Gina bisa mencium bumbu mie instan dari mangkuk yang Yuna pegang.
"Mie instan." jawabnya. "Kamu mau?" Gina menggeleng.
"Aku sudah makan." jawab Gina.
"Maaf, Nyonya, saya terlambat!" ucap Refa dengan napas tersengal-sengal.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yuna.
"Saya membawakan pesanan anda." Refa menyodorkannya pada Yuna.
"Apa itu?" tanya Yuna.
"Nasi kebuli? Bukankah tadi anda minta dibelikan ini?" Refa menatap ke arah Jo.
"Oh, iya! Maaf, aku lupa! Tapi, itu buat kamu saja." semua orang tercenggang. Yuna membawa mangkuk berisi mie instannya dengan hati-hati ke dalam ruangannya.
"Tuan, ini bagaimana?" Refa terlihat bingung.
"Kamu makan saja." ucap Jo, dia sendiri juga tidak mengerti apa yang terjadi pada Yuna. Jhosua berjalan menuju ruangannya, sementara Gina mengikuti Yuna masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kamu masih berdiri disana? Bukankah, Nyonya memintamu untuk memakannya?" ucap Jo sebelum membuka pintu ruangannya.
"I-iya." Refa membawa kotak berisi nasi kebuli itu ke mejanya. "Apa yang terjadi pada Yuna? Kenapa sikapnya sangat aneh? Apa semua ini karena tuan Al nggak ada?" Refa terus saja menggerutu sambil memasukkan nasi itu ke mulutnya.
~tbc