
"Aku lega akhirnya semua acara berjalan lancar." Yuna berbaring di tempat tidur. Mereka baru saja pulang dari acara Jo dan Gina.
"Apa kau bahagia?" tanya Al.
"Tentu saja." Yuna tersenyum.
"Sepertinya aku harus membuka biro jodoh." ucap Al.
"Biro jodoh? Buat apaan?" Yuna bangun dari tidurnya.
"Karena istriku ini ahli dalam menjodohkan orang. Setelah ini, siapa lagi yang akan kamu jodohkan?" Ayuna terbahak mendengar gurauannya.
"Mau kemana?" tanya Al saat Yuna kembali berdiri.
"Aku lapar!!" Yuna memegang perutnya.
"Bukankah tadi kamu sudah makan banyak?" Alvaro terlihat bingung.
"Benarkah?" Yuna memiringkan sedikit kepalanya.
"Sate, bakso, bahkan cake. Apa perutmu masih muat untuk makan lagi?" tanyanya.
"Aku rasa masih ada tempat disisi lainnya." Yuna memegang perut bagian kirinya. Kemudian dia berjalan menuju pintu. Alvaro hanya bisa tersenyum melihat kelakuan istrinya.
"Dimana Al?" tanya Hans saat melihat Yuna sedang makan ice cream.
"Dia ada di kamar." jawab Yuna. "Biar aku panggilkan."
"Tidak usah." Hans melarangnya berdiri. "Besok saja aku bicara dengannya." Hans tahu ini sudah mulai larut. "Kenapa kamu malam-malam begini makan es?" tanya Hans.
"Oh, ini, kebetulan tadi aku melihat ice cream saat membuka kulkas." jawab Yuna.
"Jangan kebanyakan, nanti kamu bisa sakit." Yuna mengangguk. Hans berlalu menuju kamarnya.
"Kenapa wajah kakek serius begitu?" Ayuna terlihat bingung.
🍀🍀🍀
"Pagi, Kek!" sapa Al saat melihat Hans sudah berada di ruang makan.
"Mana Ayuna?" tanya Hans karena tidak melihat keberadaan Yuna disana.
"Dia masih tidur, mungkin kecapekan." Al duduk di sebelah Hans.
"Al, apa kamu sudah tahu masalah yang terjadi di perusahaan yang ada di Jerman?" Alvaro berhenti mengoles roti yang ada di tangannya.
"Perusahaan siapa yang kakel maksud?" Al berpikir bahwa perusahaan mereka baik-baik saja.
"Candra." Alvaro menatap Hans.
"Lalu?" tanyanya.
"Apa kamu tidak berniat membantu perusahaan itu?" tanya Hans.
"Untuk apa?" Alvaro terlihat enggan berhubungan dengan Candra lagi.
"Perusahaan itu sebenarnya milik tantemu. Candra hanya menjalankannya." Al yang baru tahu semua itu hanya bisa terdiam.
"Kalau begitu minta tante saja buat mengurusnya." ujarnya.
"Aya sudah tidak mau tahu dengan semua itu. Dia tidak ingin lagi terkait dengan Candra." jawab Hans.
"Kalau begitu ya sudah. Biarkan saja perusahaan itu hancur." ucapnya.
"Apa seperti ini aku mengajarimu berbisnis? Kau tidak peduli dengan nasib ratusan karyawan disana? Apa yang akan terjadi pada mereka dan keluarganya?" Alvaro kembali terdiam.
"Aku tahu kau tidak ingin berhubungan dengan Candra. Tapi, kita tidak bisa egois. Kita juga harus memikirkan nasib orang-orang yang mengantungkan hidupnya pada perusahaan itu." jelasnya.
"Aku akan memikirkannya." jawab Al.
"Aku akan ikut denganmu. Kita akan menyelesaikan masalah itu bersama." ujar Hans. Soraya sudah menyerahkan semua itu pada Hans. Sekalipun mereka tidak ingin menyelamatkan perusahaan itu, dia tidak keberatan sama sekali.
"Kau harus membicarakan ini dengan Yuna. Jika, kita pergi maka Yuna dan Jo yang akan menghandle perusahaan disini untuk sementara." Al terlihat gusar mendengar ucapannya.
"Tapi, kenapa Ayuna harus tinggal? Dia bisa ikut dengan kita." jawab Al.
"Selama kita pergi, kita tidak bisa membiarkan kursimu kosong. Satu-satunya orang yang bisa kita percaya adalah Yuna. Kau tenang saja, ada Jhosua yang akan membantunya. Apalagi saat ini kau sedang bekerja sama dengan proyek milik tuan Smith." Al membenarkan ucapan Hans. "Kabari aku secepatnya mengenai keputusanmu. Hans beranjak dari kursinya.
"Sayang, kenapa kamu nggak bangunin aku?" Ayuna bergabung dengannya saat Hans pergi.
"Kamu masih tidur." jawabnya.
"Kamu sudah sarapan?" Ayuna duduk di sebelah Al. Alvaro mengangguk.
"Aku berangkat ya!" Alvaro mengecup kepalanya, kemudian juga beranjak dari ruang makan. Ayuna terdiam sendirian.
"Kenapa dengannya?" Yuna bingung, karena Al terlihat sedang banyak pikiran. Dia bahkan tidak menunggu Yuna selesai sarapan.
"Loh, Nyonya, kenapa belum dimakan?" tanya Dea saat melihat roti Yuna masih utuh.
"Aneh banget, biasanya suka sarapan pagi dengan jus." Dea membersihkan piring dan gelas kotor di atas meja.
"Kenapa?" tanya pelayan lain.
"Nyonya, minta mulai besok sarapannya susu coklat. Biasanya dia hanya mau jus." ucap Dea.
"Bosan kali." jawabnya.
"Yah, mungkin juga." Dea melanjutkan pekerjaanya.
🍀🍀🍀
"Ada apa, Tuan?" Jhosua memberanikan diri bertanya. Karena sejak tadi Al terlihat melamun.
"Jo, apa aku bisa mempercayakan Ayuna padamu?" tanya Al.
"Maksud anda?" Jo tidak mengerti.
"Ada masalah dengan perusahaan tante Soraya yang di Jerman. Kakek memintaku untul membantunya." Jo mulai mengerti. "Perusaahan itu sudah hampir bangkrut. Aku harus memulai lagi dari awal. Aku nggak tahu sampai kapan kami di sana." Alvaro benar-benar gundah. Dia nggak bisa membayangkan berjauhan dengan Yuna.
"Jika anda pergi, bagaimana dengan disini?" tanya Jo.
"Kamu dan Ayuna yang harus menghandle perusahaan. Kakek ingin agar kamu yang membantu Yuna." jawabnya.
"Baik, Tuan. Saya mengerti!" jawab Jo.
"Jo, aku membutuhkan bantuanmu." Al mengatakan pada Jo mengenai apa yabg dia harus lakukan.
"Saya mengerti." Jhosua segera keluar dari ruangan Al. Bukannya kembali ke ruangannya, dia malah berjalan menuju lift.
"Ada apa?" tanya Gina saat Jo memintanya untuk bertemu di Star Cafe.
"Aku membutuhkan bantuanmu." Jo menceritakan apa yang Alvatro katakan. Kemudian dia menjelaskan pada Gina rencana Al malam ini untuk Yuna. Gina tersenyum mengerti.
"Kita akan lalukan yang terbaik." ucap Gina. Setelah itu mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.
🍀🍀🍀
"Kenapa Al belum pulang juga?" sudah setengah jam Yuna mondar-mandir di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Hans.
"Aku sedang menunggu Al, Kek. Dia tadi menghubungiku agar bersiap, karena ada makan malam dengan rekan bisnisnya. Tapi, sudah setengah jam Al belum datang juga." jawab Yuna.
"Mungkin lagi terjebak macet." jawab Hans. Ayuna tetap saja khawatir. Ayuna berlari keluar saat mendengar suara pintu mobil dibuka.
"Al ...." dia bingung karena yang datang hanya Jhosua, sementara Al tidak terlihat. "Dimana Al?" tanyanya.
"Tuan langsung menuju ke acara, saya diminta untuk menjemput anda." Yuna segera masuk ke mobil yang dikendarai Jo.
"Acara apa sih, Jo? Kenapa aku harus ikut?" Yuna penasaran.
"Saya tidak tahu, Nyonya." ucapnya.
"Kenapa kamu memanggilku seperti itu? Aku jadi aneh mendengarnya." Yuna menatap jalanan yang sudah diterangi oleh lampu-lampu yang beraneka ragam.
"Kalau begitu saya akan memanggil anda seperti biasa." Jo bisa melihat melalui spion yuna mengangguk. Tidak ada lagi pembicaraan, Jo fokus mengendarai mobilnya.
"Kita sudah sampai, Nona." ucap Jo saat mereka berhenti di sebuah hotel bintang 5. Karena tidak mendengar suara pintu terbuka, Jo segera menoleh dan melihat Ayuna yang sudah tertidur. "Nona, kita sudah sampai." Jo kembali membangunkannya.
"Hah? Sudah sampainya?" Yuna terbangun dan melihat mereka berada di sebuah hotel mewah. "Apa acaranya disini?" tanya Yuna.
"Benar, Nona." Jo keluar dan membukakan pintu untuknya. Ayuna keluar dan segera disambut oleh dua orang karyawan hotel.
"Silahkan, Nyonya." ucap mereka. Yuna menoleh pada Jo, pria itu mengangguk. Kemudian dia mengikuti mereka. Saat ini mereka berada di lantai 4 hotel. Saat sampai disana, tampak sebuah restoran dengan pemandangan kota Jakarta yang bisa dinikmati melalui kaca-kaca berukuran besar.
"Kenapa tidak ada siapapun?" Yuna menoleh kesana-kemari, tapi tidak tampak satu pengunjungpun. Mau bertanya pada Jhosua, tapi pria itu tidak ikut dengannya. Mereka terus berjalan, hingga langkah Yuna terhenti saat melihat Al sedang berdiri dengan sebuket mawar putih ditangannya.
"Apa-apaan ini, Al?" tanya Yuna begitu sampai di depan Al.
"Aku menyiapkan semua ini untukmu." Ayuna menerima buket bunga itu.
"Tapi, dalam rangka apa?" Yuna tersenyum bahagia, mereka duduk berhadapan. Pelayan mulai menghidangkan makanan yang telah mereka siapkan.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu." Al mengenggam tangannya. Ayuna kembali tersenyum. Dia nggak menyangka Al mengajaknya dinner romantis seperti ini. Alunan musik yang keluar dari tuts-tuts piano, membuat mereka semakin larut.
"Apa kita sudah boleh makan?" Ayuna sudah tidak sabar mencicipi beef steak yang ada dihadapannya.
"Tentu saja." jawab Al. Mereka mulai makan.
"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Al menatapnya lekat.
"Apa?" tanya Yuna sambil terus mengambil potongam steak dari piringnya.
"Aku harus ke Jerman." seketika Ayuna menghentikan tangannya yang akan kembali memasukan potongan daging itu ke mulutnya.
~tbc