CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 142



"Apa yang kamu lihat?" Alvaro menyadarkan Yuna dari lamunannya.


"Hah? Tidak ada." jawabnya.


"Ayo!" ajak Al, mereka kembali masuk meninggal Jhosua seorang diri bersama dengan awak media.


"Al, aku masih penasaran, kenapa tiba-tiba media tahu tentang ini?" tanya Yuna saat mereka berada di lift.


"Biasalah, pasti ada yang ingin menjatuhkanku." jawabnya.


"Siapa?"


"Aku juga belum tahu, tapi yang pasti mereka berniat melengserkanku dari kursi CEO." pintu lift terbuka, mereka berjalan bersama. Ayuna berhenti di mejanya, sementara Al masuk ke ruangannya.


"Gimana, Na?" tanya Refa saat Yuna sudah duduk.


"Huft! Benar-benar melelahkan." Yuna membuang napas kasar.


"Itu gimana ceritanya? Kok bisa media dapat berita seperti itu?" Refa mulai kepo lagi.


"Entahlah! Aku juga tidak tahu." jawabnya.


"Tapi, awalnya aku percaya loh! Soalnya, tuan Al memang aneh, seperti jaga jarak gitu dengan siapapun yang dia temui." Refa mulai berasumsi lagi.


"Kamu ngomongin saya?" mereka dikagetkan dengan suara Al.


"T-tuan, saya..." Refa bingung harus berkata apa, Ayuna segera berdiri dan menghampiri Al.


"Fa, kamu lanjutin periksa jadwal untuk besok ya." setelah berkata seperti itu, Yuna segera menarik Al untuk kembali masuk ke ruangannya.


"Kamu kenapa bawa aku kesini?" dari nada suaranya, Yuna bisa tahu kalau masih kesal.


"Dari pada kamu disana ntar marah-marah gak jelas." jawabnya.


"Rekan kamu itu harus diberi pelajaran. Berani-beraninya dia mengataiku." omelnya.


"Kenapa harus marah? Dia hanya mengatakan pendapatnya saja." Yuna membela Refa.


"Apa kamu gak marah saat pasanganmu dikatai seperti itu?" Al berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Bukan begitu, Refa tidak mengatakan hal buruk tentangmu. Dia hanya mengatakan apa yang dia lihat selama ini. Jadi dimana letak salahnya?" Al diam. "Sudah ya, jangan marah-marah lagi." Yuna memegang bahu Al.


"Baiklah, aku tidak akan marah. Tapi, dengan satu syarat!"


"Apa?" tanya Yuna.


"Mendekatlah!" Al menarik Yuna hingga duduk dipangkuannya.


"Al, kamu mau apa?" Yuna mendorong tubuh Al yang sedang memeluknya.


"Aku merindukanmu! Sebentar saja!" Yuna mengikuti maunya.


"Apakah ini sangat berat?" tanya Yuna sambil mengelus kepala Al. Alvaro diam, dan, itu sudah cukup untuk mewakili jawaban atas pertanyaannya.


"Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan. Apakah kursi ini begitu mengiurkan? Jika mereka mau, mereka boleh memilikinya." ucapnya pelan.


"Kamu tidak boleh menyerah seperti itu. Kakek memilihmu, karena dia yakin kamu akan memajukan perusahaan ini." Yuna berusaha menghiburnya.


"Entahlah! Aku harap ini adalah peperangan terakhirku." sebenarnya, Al sudah terlalu letih untuk selalu memusuhi Candra maupun Mahen.


"Ya, aku harap juga seperti itu." Yuna kembali mengelus kepala Al. Jo yang berdiri di depan pintu segera menutupnya kembali.


"Kenapa gak jadi masuk?" Refa heran saat melihat Jhosua sejak tadi hanya berdiri di depan pintu, kemudian kembali lagi.


"Jangan biarkan siapapun masuk, sebelum nona Ayuna keluar." perintahnya.


"Tapi, kenapa?" Refa bingung.


"Ikuti saja perkataan saya." melihat Jhosua melotot padanya, Refa hanya bisa mengangguk.


"Memangnya apa yang terjadi di dalam?" Refa sangat penasaran.


🍀🍀🍀


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan dalangnya?" tanya Hans pada sekretaris Ken saat mereka berada di ruang kerjanya.


"Belum, Tuan." jawabnya.


"Tidak mungkin media tahu hal ini. Hanya keluarga dan orang-orang yang kupercaya yang tahu. Apa ada yang sengaja berkhianat dariku?" Hans menatap tajam orang kepercayaannya itu.


"Saya akan mencari tahu, Tuan." jawabnya.


"Kamu usut tuntas! Aku harus mendapatkan siapa dalang dibalik semua ini." perintahnya.


"Baik, Tuan."


"TOK TOK TOK." Soraya membuka pintu ruang kerja Hans.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" Ken segera keluar begitu Soraya masuk. Soraya menatap kepergian Ken.


"Ada apa?" tanya Hans.


"Pa, kenapa bisa ada berita seperti itu?" tanyanya. "Siapa yang melakukannya?"


"Aku belum tahu." jawab Hans.


"Tapi, bagaimana informasi itu bisa diketahui media?" Soraya sangat mengkhawatirkan keadaan Al.


"Lalu, bagaimana dengan Al?"


"Dia baik-baik saja. Untung saja ada Ayuna bersamanya. Jadi, tidak terjadi apapun padanya." Hans menjelaskan yang terjadi saat rapat dengan para pemegang saham.


"Ayuna? Maksud papa?" Soraya semakin tidak mengerti.


"Berkat keberadaan Ayuna, Al bisa sembuh dari penyakitnya." Soraya yang semula bingung, akhirnya mengerti.


"Syukurlah! Aku khawatir Al kenapa-napa." Soraya begitu lega. "Kalau begitu aku kembali kamar dulu." ucapnya.


"Aya ...!" Hans menghentikannya. Soraya terkejut karena sudah lama Hans tidak memanggil nama kecilnya.


"Ada apa, Pa?" dia menoleh pada Hans.


"Bagaimana jika semua masalah ini disebabkan oleh keluarga kita?"


"Maksud papa?"


"Aku memang belum mempunyai bukti apapun, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa jika ternyata pelakunya adalah menantu ataupun cucuku." Soraya terkejut.


"Kenapa papa bisa berkata seperti itu?" Soraya terbawa emosi.


"Kamu pasti tahu jawabannya." ucap Hans. Soraya berbalik dan keluar dari ruangan Hans. Dia memikirkan semua perkataan Hans.


"Itu tidak mungkin." dia mencoba mengelak semua perkataan papanya.


🍀🍀🍀


"Fa, kamu lihat laporan terbaru dari Permata Bank gak?" tanya Yuna.


"Sepertinya masih di Divisi Keuangan deh." jawab Refa. Yuna meraih ponselnya dan menghubungi Gina.


"Hallo." jawab Gina.


"Na, laporan Permata Bank masih dibawah ya?" tanyanya.


"Sebentar!" Gina memeriksa mejanya. "Lo lihat laporan Permata Bank gak?" tanyanya pada Karin.


"Di ruangan tuan Mahen." jawab Karin.


"Di ruangan tuan Mahen, Na." Gina memberitahunya. "Mau gue ambilin?"


"Gak usah, biar aku yang kesana." Yuna memutuskan panggilannya. "Fa, aku ambil ke bawah dulu ya." setelah berkata seperti itu, Yuna segera menuju lift.


"Hi!" sapanya pada ketiga rekannya saatbdia sampai di Divisi Keuangan.


"Hallo, Nona Muda." ledek Gandhi. "Kapan nih undangannya?"


"Ditunggu aja, Mas, ntar lagi nyampai disini." jawab Yuna. Mereka terkejut, antara percaya atau tidak.


"Kamu serius?" tanya Karin.


"Tentu saja, Mbak."


"Wah, bentar lagi jadi Nyonya Alvaro dong." ledek mereka.


"Do'ain aja, ya!! Aku ke ruangan tuan Mahen dulu." Yuna meninggalkan mereka yang saat ini sibuk membahas tentang pernikahan Yuna.


"Aku harus bicara dengannya." batin Yuna saat berada di depan ruangan Al. "TOK TOK TOK."


"Masuk."


"Permisi, Tuan." mendengar suara orang yang dia rindukan, Mahen segera mengangkat kepalanya.


"Yuna!!" ucapmya.


"Maaf, Tuan, saya kesini untuk mengambil laporan Permata Bank terbaru." Yuna tidak berbasa-basi, dia langsung menjelaskan tujuannya datang ke ruangan Mahen.


"Ini." Mahen mengambil dokumen berwarna merah dan memberikannya pada Yuna.


"Terima kasih." Yuna kembali ragu apakah dia harus bertanya pada Mahen atau tidak.


"Ada apa?" tanya Mahen saat melihat Yuna masih berdiri di tempat yang sama.


"Aku ingin menanyakan sesuatu." jawabnya.


"Apa?"


"Apa semua masalah itu karena perbuatanmu?" tanya Yuna, Mahen tidak bereaksi. "Jawab aku, Mahen!"


"Kenapa kamu bisa menuduhku?" jawabnya.


"Aku hanya ingin memastikan saja. Aku harap kamu tidak terlibat dengan insiden hari ini." Yuna menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Aku tidak akan membiarkan sedikitpun celah yang kupunya untuk mendapatkanmu." Mahen terlihat cuek saat mengatakan itu.


"Apa yang kamu katakan? Aku ini sudah bertunangan. Jadi, hentikan semua ini." suara Yuna terdengar keras.


"Tidak, sampai dia melepaskanmu!" jawabnya.


"Apa kamu sudah gila? Aku dan Al akan segera menikah." Yuna semakin tersulut emosi.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Alvaro pun tidak bisa bersamamu." kedua bola mata Yuna membesar, wajahnya begitu merah.


~tbc