
"Hey,Kamu!!" Mahen menghentikan Gandhi yang sedang lewat di depan ruangannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Gandhi begitu berada di depan Mahen.
"Ikut saya!" mereka masuknke ruangan Mahen, mata Gandhi membelalak saat melihat ruangan yang sudah seperti kapal pecah.
"Bersihkan semua ini!" perintahnya, Gandhi terkejut.
"Hah? Semuanya, Tuan?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa? Gak mau?" Mahen menatap tajam padanya.
"B-baik, Tuan!" Gandhi segera memungut kertas-kertas yang berserakan di dekat kakinya. Setelah memberi perintah Mahen meninggalkannya sendiri disana.
"Mimpi apa gue semalam? Kapan kelarnya ini?" Gandhi terus saja mengerutu.
"Mana si Gandhi?" tanya Gina karena belum melihat Gandhi datang.
"Mungkin lagi ke toilet." jawab Karin.
"Gina, kamu ikut saya!" Mahen tiba-tiba datang mengagetkannya.
"Baik, Tuan." jawab Gina.
"Dan, kamu! Pergi ke ruangan saya bantuin temanmu menyusun kembali berkas-berkas yang ada disana." perintahnya pada Karin.
"Tuan, kita mau kemana?" Gina memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Ruangan CEO." jawabnya. Gina mengikutinya tanpa bertanya apapun lagi.
"Apa Alvaro ada?" tanyanya begitu mereka sampai di meja Yuna.
"Beliau ada di dalam, Tuan." Yuna bersikap formal padanya. Tanpa banyal bicara seperti sebelumnya, Mahen segera masuk ke ruangan Al.
"Ada apa?" tanya Al begitu melihat yang datang adalah Mahen dan Gina.
"Aku membutuhkan tanda tanganmu untuk ini." Mahen memberikan kertas yang ada ditangannya.
"Apa ini?" tanya Al setelah membaca kertas- kertas itu. Isinya tentang pengeluaran untuk proyek baru mereka.
"Kau bisa membaca apa yang tertulis disana." Al melirik padanya, kemudian Alvaro membaca semua rincian yang ada dikertas itu. Setelah yakin tidak ada yang salah, Alvaro segera membubuhkan tanda tangannya disana.
"Ayo!!" Mahen mengajak Gina keluar dari sana.
"Lalu, apa gunanya gue ikut?" batin Gina.
"Na, gue duluan ya!!" Gina berpamitan padanya.
"Ok." ucap Yuna, sementara Refa hanya melihat kedekatan mereka. Mahen pergi tanpa berkata apapun pada Yuna.
"Tumben ini tuan Muda tidak deketin Yuna dulu? Biasanya godian si Yuna mulu." Gina mencuri pandang pada pria berlesung pipi yang ada di depannya.
"Tuan Mahen dan Tuan Al gak jauh beda ya. Orangnya dingin banget, gak ada ramah-ramahnya. Padahal kalau dilihat dari wajahnya friendly banget." ucap Refa setelah Mahen masuk le dalam lift.
"Jangan menilai seseorang dari tampangnya. Tuan Mahen bukan seperti yang kamu pikirkan." jawabnya.
"Yah, aku hanya mengatakan apa yang kulihat." Refa berjalan menuju pantry.
"Al, apakah semuanya baik-baik saja?" setelah Refa pergi, Ayuna mendatangi Al.
"Baik. Memangnya kenapa?" tanya Al.
"Tidak. Aku pikir tadi terjadi sesuatu." ucapnya.
"Ada apa ini? Kenapa denganmu?" Alvaro membuatnya duduk di pangkuannya.
"Sebenarnya tadi Mahen ada disini, sewaktu kita ..." Yuna malu untuk mengatakannya.
"Sewaktu kita apa?" Al menggodanya.
"I-itu ...!" Yuna tidak berani menjawabnya.
"Sewaktu kita begini!" Al mencium Yuna sekilas.
"Al ...!!" teriaknya. Alvaro tertawa keras.
"Jadi dia melihat kita sedang berciuman?" tanya Al.
"Mungkin, karena aku melihat Mahen berjalan menuju lift." jelasnya.
"Baguslah!" jawab Al. "Dengan begitu dia akan semakin yakin kalau hubungan kita ini nyata, bukan karena aku memanfaatkanmu." Alvaro menoel hidungnya.
"Kamu tidak seharusnya begitu, gimanapun juga Mahen tetap adikmu. Aku ingin kalian bisa akur seperti saudara lainnya." ucap Yuna.
"Aku rasa akan sangat sulit mengabulkan keinginanmu itu. Karena kamu tahu apa yang menjadi pemicu hancurnya hubungan kami." jawab Al.
"Jadi kamu menyalahkanku?" Ayuna tidak terima saat Al mengatakan dialah penyebab mereka tidak akur.
"Bukan seperti itu! Maksudku ..."
"Ah, aku gak mau dengar apapun lagi darimu." Yuna kesal dan segera berdiri.
"Kamu salah paham! Maksudku, karena kami mencintai wanita yang sama, jadi akan sulit untuk membuat hubungan baik. Kecuali jika dia sudah move on darimu." Al menjelaskan maksudnya.
"Itu sama saja! Tetap saja aku yang menjadi sumber masalah kalian." Yuna berjalan menuju pintu. "Sebentar lagi jadwal meeting dengan tuan Brian." setelah mengatakan itu Yuna segera keluar.
"Agghh, salah lagi!" Al mengusap kasar wajahnya.
🍀🍀🍀
"Dari mana saja kau?" tanya Hans saat melihat Monika datang dengan menentang beberapa paper bag dari brand ternama lagi.
"Aku baru saja selesai arisan." jawabnya.
"Aku ingin bicara denganmu." ucap Hans, Monika segera menduduki sofa yang ada di seberang Hans.
"Apa yang ingin papa bicarakan?" tanyanya.
"Sepertinya, perkataan Al kemarin sama sekali tidak membebanimu." ucap Hans.
"Kenapa aku harus merasa terbebani? Apa yang dia katakan memang benar. Bukankah bagus jika dia sudah tahu semua kenyataan ini." Monika begitu santai menanggapi berita sebesar itu.
"Apa yang ada di kepalamu?" Hans marah begitu tahu apa yang dia pikirkan. "Kau pikir, kenapa aku masih mempertahankanmu di rumah ini? Alasannya cuma satu, Al, cucuku! Dan sekarang Alvaro sudah tahu semuanya. Jadi, jika kau tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk cucuku, maka jangan harap aku akan tetap membiarkanmu menjadi bagian dari keluargaku." Monika kaget saat mendengar ancaman Hans. Setelah mengatakan itu Hans meninggalkannya seorang diri di ruang keluarga.
"Sial!!" makinya. Dia mengambil belanjaannya dan bergegas menuju kamarnya. Monika segera mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kau harus melakukan sesuatu." ucapnya saat orang yang dia hubungi menjawab panggilannya.
"Ada apa?"
"Si tua bangka Hans ingin mencoretku dari daftar keluarga Ivander." lapornya.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Alvaro sudah tahu bahwa aku bukan ibunya, jadi si tua Hans mengancamku untum menjadi ibu yang baik, jika tidak dia akan menggeluarkanku dari sini." ucapnya.
"Dasar bodoh! Bagaimana kau bisa ketahuan?" Dia sangat marah mendengar kabar yang Monika sampaikan.
"Aku tidak tahu! Akupun terkejut saat Al bilang dia tahu kalau aku bukan ibunya." jelasnya. "Pokoknya kau harus selesaikan semua seperti janjimu, aku tidak mau hidup miskin lagi atau aku akan bongkar semua yang telah kau lakukan." ancamnya pada pria di telepon itu.
"Kau tenang saja! Aku akan segera menyelesaikan semua ini." jawabnya, kemudian telepon itu terputus.
"Aku harus menemui Al dan berpura-pura menyesali semuanya. Hanya dia senjata yang kupunya saat ini. Lagi pula wanita itu sudah meninggalkannya, jadi ini kesempatanku." Monika belum tahu bahwa Al dan Yuna sudah kembali bersatu. Dia terlalu sibuk menghambur-hamburkan uang sehingga tidak memantau semua yang terjadi pada Al.
🍀🍀🍀
"Kami akan segera mempersiapkan seperti yang anda inginkan." ucap Al pada rekan bisnisnya.
"Baiklah, senang bekerja sama dengan anda, Tuan Al." mereka berjabat tangan, setelah itu rombongan Brian terlebuh dahulu meninggalkan restoran tempat mereka mengadakan meeting.
"Apa setelah ini masih ada jadwal?" tanya Al.
"Tidak ada." jawab Yuna.
"Kalau begitu kita pulang saja." ucapnya. "Ayo!!" ajaknya pada Yuna.
"Kamu duluan saja, aku ada sedikit urusan." tolak Yuna.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Al.
"Aku ada janji dengan teman." jawab Yuna.
"Siapa?" Al menatapnya.
"TIN TIN TIN." sebuah mobil mewah yang sangat Al kenal berhenti tepat di depan mereka.
"Hi, Al!!" sapa Andreas.
"Mau apa dia disini?" gerutu Al. "Ada apa?" tanya Al.
"Eits, santai bro! Aku kesini untuk menjemput tuan putri." Andreas bersandar di pintu mobilnya.
"Terserah saja!" Al malas menanggapinya.
"Kalau begitu aku duluan." ucap Yuna.
"T-tunggu dulu!! Ini apa maksudnya?" Al terkejut karena Ayuna sudah berjalan ke sisi mobil.
"Kau!! Mau kau bawa kemana calon istriku?" teriak Al saat melihat Yuna membuka pintu mobil.
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku kesini untuk menjemput tuan putri." ucap Andreas.
"Iya, tapi kenapa Ayuna?" Al tampak bingung.
"Al, aku ada sedikit urusan dengannya. Jadi, lebih baik kalian pulang duluan. Dan jangan coba-coba mengikutiku atau aku tidak akan pulang ke apartemenmu lagi." ucap Yuna. "Ayo!!" Ayuna masuk ke mobil Andreas.
"Bye, Bro!!" Andreas melambai padanya sebelum masuk ke mobilnya.
"Ayuna, Tunggu!!" Al berusaha mengejar mobil Andreas yang sudah meninggalkan area restoran tempat mereka berada.
"Cassanova, sialaann!!!" teriak Al.