
"Apa tidak bisa ditunda?" saat masuk ke ruangan Al, Yuna melihat Al sedang berbicara di telepon dengan seseorang. "Tapi, aku ada meeting." entah apa yang mereka bicarakan, Ayuna hanya bisa menunggu sampai Al selesai. "Baiklah, biar Yuna yang kesana." Al segera meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ada apa, Al?" tanyanya saat mendengar namanya disebut.
"Gilang minta kita kesana siang ini. Tapi aku ada meeting dengan tuan Brian." Al terlihat berpikir.
"Ya sudah, selesai kamu meeting aja kita kesananya." Yuna memberi saran.
"Gilang gak bisa. Sebelum jam 3 sore ini dia harus ada di bandara, dia ada fashion show di Singapura, dan gak mungkin kita menunda lagi." jelasnya.
"Terus?"
"Gimana kalau kamu yang duluan ke fitting bajunya? Ntar, begitu meeting selesai aku segera menyusul." sarannya.
"Boleh." Ayuna setuju.
"Ntar sebelum meeting aku antar kamu dulu."
"Bolak-balik dong! Gak enak sama tuan Brian kalau kamu telat. Udah kamu berangkat aja, aku bisa naik taksi." Ayuna tahu bahwa butik dan lokasi meeting Al beda arah.
"Tapi aku gak bisa biarin kamu pergi sendiri. Apalagi dalam situasi seperti ini." ucap Al.
"Gimana kalau aku ajak Gina?" ucapnya.
"Baiklah." Al setuju, menurutnya lebih baik jika ada yang menjaga Yuna. "Mau kemana?" tanyanya saat melihat Yuna berjalan keluar.
"Aku mau siapin berkas yang harus kamu bawa." ucapnya.
"Peluk dulu!" Al merentangkan kedua tangannya, Ayuna berjalan menuju Al. "Aku akan sangat merindukanmu!" ucap Al saat Yuna berada dalam dekapannya.
"Kamu ini, kayak kita gak bakal ketemu aja." sahut Yuna.
"Tapi aku gak sanggup jauh darimu." bisik Al ditelinga Yuna.
"Aku gak akan kemana-mana." Ayuna melepaskan pelukannya, dan menatap Al dengan penuh kasih. "Aku keluar dulu." sebelum pergi Yuna mengecup pipi Al.
"Kamu mulai berani menggodaku ya!" ucap Al.
"I love you!" ucap Yuna sebelum menutup pintu. Alvaro tersenyum bahagia, entah kenapa hari ini rasanya dia tidak ingin jauh dari Yuna.
"Kamu kenapa?" tanya Refa saat melihat Yuna yang senyum-senyum sendiri. Ayuna mengabaikannya dan mulai mengambil berkas yang harus Al bawa.
"Ini, tolong kasih ke Jhosua ya!" dia memberikan berkas itu padanya. Tanpa banyak tanya lagi, Refa segera membawanya ke ruangan Jo.
"Halo, Na! Ada apa?" jawab Gina saat melihat panggilan masuk dari Ayuna.
"Kamu bisa temani aku gak makan siang nanti?" tanyanya.
"Kemana?" tanya Gina.
"Temani aku ke butik yah!" Yuna sengaja tidak mengatakan kalau dia akan fitting baju. Mengingat saat ini dia berada di meja kerjanya.
"Tumben gak bareng tuan Al?" ledeknya.
"Dia ada meeting! Jadi, gimana? Kamu bisa?"
"Ok." Gina setuju.
"Kenapa?" tanya Karin saat melihat Gina sudah selesai menelepon.
"Ini, Ayuna minta ditemani ke butik pas siang nanti." jelasnya.
"Wah, butik? Mau belanja ya? Aku ikut dong!" mendengar kata butik membuat mata Karin berbinar.
"Ok." Gina setuju, dia yakin Yuna pasti juga senang kalau Karin bergabung dengan mereka.
"Aku berangkat ya! Kamu perginya dengan sopir perusahaan jangan naik taksi." pesan Al.
"Iya." jawab Yuna.
"Hati-hati! Aku gak mau kamu kenapa-napa. Selesai dari sana, kalian langsung pulang!" ulang Al lagi.
"Iya, iya, tuan muda!" ucapnya, Al mengacak-acak rambutnya sebelum pergi.
"Oh, sweet-nya!" Refa senyum-senyum sendiri melihat kemesaraan mereka.
"Apaan sih?" Yuna berlalu dan memgambil tas dan juga ponselnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Refa yang melihat Yuna bersiap-siap pergi.
"Aku ada janji dengan teman." Yuna bergegas menuju lift.
"Yah, baru aja mau ngajak ke kantin bareng." Refa kembali duduk di kursinya.
"Maaf ya, aku telat!" ucap Yuna saat dia sampai di lobby. "Mbak Karin?" tanyanya.
"Sorry ya gue gak kasih tau lo. Karin minta ikut, memdengar kata butik jiwa belanjanya langsung bangkit." jelas Gina.
"Gak apa-apa! Bagus deh kalau kita perginya ramean." mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Kita ke butik mana, Na? Udah pesan taksi belum?" tanya Karin.
"Nona Ayuna?" belum sempat Yuna menjawab, seorang pria dengan seragam hitam menghampirinya.
"Iya." jawabnya.
"Saya diminta tuan Al untuk mengantar anda." ucap pria itu.
"Baik, Pak!" jawab Yuna, pria itu segera membukakan pintu untuk Yuna.
"Ayo!" ajaknya, Karin duduk di belakang, sementara Gina disamping sopir.
"Kita ke Fairy Butik ya, Pak!" ucapnya saat mereka sudah berada di dalam.
"Baik, Non." sang sopir segera membawa mobil itu meninggalkan Ivander Group.
"Kamu gak salah, Na?" Karin terkejut saat mendengar Yuna menyebutkan nama salah satu butik ternama di kota itu.
"Memangnya kenapa, Mbak?" tanya Yuna.
"Kalau kesana, gajiku tiga bulanpun mungkin gak akan cukup." mendengar itu Gina tertawa lebar.
"Salah lo sendiri, kenapa gak tanya dulu." sela Gina.
"Yah, aku'kan gak tahu! Kirain Yuna mau ke butik biasa-biasa aja." ujar Karin.
"Kamu bisa diam gak?" Karin melampiaskan kekecewaannya pada Gina.
"Udah, kita cuci mata aja!" sarannya. "Emang lo cari baju buat apaan?" tanya Gina.
"Aku mau fitting gaun untuk pernikahan kami." Yuna merasa dia tidak perlu menutupi semua ini dari kedua sahabatnya.
"Hah???" kedua rekannya melonggo karena sangat terkejut.
"Nikah? Kapan?" tanya Gina.
"Dua minggu lagi!" mereka semakin terkejut.
"Kenapa sejak awal kamu gak ngomong ke kita?" tanya Karin.
"Aku gak mau berita pernikahanku buat gempar satu gedung." jelasnya.
"Itu mah udah pasti!" sanggah Gina.
"Akan banyak hati yang tersakiti nantinya." ujar Karin, Gina kembali tertawa.
"Kita sudah sampai, Non." ucap sopir yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Makasih ya pak!" Yuna keluar, begitupun dengan kedua rekannya.
"Wow! Lo, yakin kita ke butik yang benar?" tanya Gina saat melihat bangunan mewah yang ada di depannya.
"Makanya jangan kudet! Masa butik terkenal begini kamu gak tahu? Apalagi kalau kamu lihat owner-nya. Pasti darah mudamu bergelora." Karin gantian membalas Gina.
"Udah, ah! Ayo masuk!" Yuna menggandeng kedua rekannya memasuki butik Gilang.
🍀🍀🍀
"Selamat siang, Nona! Ada yang bisa kami bantu?" baru saja mereka menginjakkan kaki di gedung itu, mereka sudah disambut dengan keramahan dari karyawannya.
"Apakah tuan Gilang ada? Saya sudah ada janji dengannya." ucap Yuna.
"Apa boleh saya tahu nama anda?" tanyanya lagi.
"Saya, Ayuna!"
"Maaf, Nona! Tuan, sudah menunggu anda." sadar dia sedang berbicara dengan siapa, wanita itu segera membawa Yuna menuju ke tempat Gilang berada.
"Wow! Kamu lihat baju-baju itu!" bisik Karin saat mereka melintasi gaun-gaun mewah yang terpajang di sana.
"Lo, benar!" Gina pun ikut terkesima melihatnya.
"Tuan, nona Ayuna sudah ada disini." wanita itu mempersilahkan Ayuna dan yang lain untuk masuk ke ruangan vvip.
"Hi, Na!" sapa Gilang saat melihat Ayuna.
"Hi!" jawab Yuna.
"Siapa ini?" tanya Gilang saat melihat Karin dan Gina.
"Mereka sahabatku!" jawabnya.
"Apakah mereka bridesmaid-mu?" tebak Gilang.
"Iya." mereka kembali terkejut memdemgar jawaban Yuna. Karena sebelumnya, Yuna tidak mengatakan apapun.
"Ok, baiklah! Kita mulai aja ya, Na!" ucapnya. Dan, Gilang segera memerintahkan beberapa karayawannya untuk membantu mereka. Ayuna mencoba terlebih dahulu gaun yang akan dia kenakan. Gaun putih itu melekat begitu indah ditubuhnya.
"Gimana?" tanya Gilang. Ayuna memberitahu padanya apa yang membuatnya tidak nyaman. Gilang mengangguk mengerti. Mereka kembali mencoba baju kedua. Sementara, Karin dan Gina yang sebelumnya tidak tahu apa-apapun kembali mencoba beberapa gaun.
"Halo?" ucap Yuna saat mendengar bunyi ponselnya. Awalnya dia ragu untuk menjawabnya, tapi Mahen terus saja menghubunginya.
"Na, apa kita bisa bertemu?" tanya Mahen saat mendengar suara Yuna.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." jawabnya.
"Tapi, aku sedang di butik Gilang!" Yuna memberitahunya.
"Kebetulan ada restoran tak jauh dari sana, apa kita bisa bertemu disana? 10 menit lagi aku sampai." ujarnya. Yuna terlihat berpikir.
"Baiklah!" akhirnya dia setuju, karena dia juga ingin meluruskan beberapa hal pada Mahen. "Aku harus memberitahu Al." ucapnya. Ayuna mencoba menghubungi nomor Al, tapi tidak ada jawaban. "Ya sudahlah, nanti saja aku beritahu." Ayuna berjalan menuju ruangan Gina dan Karin.
"Udah, Na?" tanya Karin yang melihat kedatangannya. Ayuna mengangguk.
"Apa mereka masih lama?" tanya pada pegawai Gilang. Gilang sendiri sudah terlebih dahulu berpamitan pada Yuna.
"Sekitar setengah jam lagi selesai, Nona." jawabnya.
"Kalian gak apa-apakan kalau aku tinggal disini sebentar?" tanyanya.
"Lo, mau kemana?" tanya Gina.
"Aku mau ke Bally Resto, gak jauh dari sini. Mahen mengajakku untuk bertemu disana." jelasnya.
"Mahen? Mau apa dia?" tanya Gina.
"Entahlah, dia bilang ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Aku tinggal sebentar ya!" ucapnya.
"Mau aku temani?" Karin memawarkan diri, sementara Gina masih sibuk dengan gaun yang melekat di badannya.
"Gak usah, Mbak! Aku cuma sebentar kok!" tolaknya.
"Kamu hati-hati!" pesan mereka padanya, Ayuna mengangguk. Kemudian dia segera berjalan menuju mobil. Mereka segera menuju ke restoran yang Ayuna sebutkan.
"CIITTT!!" baru beberapa meter dari butik Gilang, tiba-tiba mobil Yuna dihadang oleh dua mobil berwarna hitam. Dan beberapa pria berseragam hitam keluar dan mengedor kaca mobil Yuna.
"Keluar!!" teriak mereka, Ayuna terlihat pucat, dia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Al, tapi tidak ada jawaban.
"Nona, di dalam saja! Kunci semua pintu, biar saya yang menemui mereka." ucap sang sopir.
"Jangan pak, nanti bapak terluka!" cegah Yuna.
"Nona hubungi polisi." setelah berkata seperti itu pria itu segera turun, bukannya mendapat perlakuan baik, beliau malah menjadi bulan-bulanan mereka. Tiba-tiba sebuah mobil mendekati mereka dan dua orang pria turun dari sana. Terjadi baku hantam diantara mereka. Ayuna panik, dia tidak mengenal satupun dari mereka. Salah satu dari pria berpakaian hitam mememcahkan kaca mobil dan membuka paksa pintu Yuna.
"Siapa kamu? Toloongg!!" Ayuna berteriak. "Lepaskan aku!!! LEPASSS!!" Ayuna tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Dia membawa paksa Yuna menuju mobil mereka dan segera meninggalkan tempat itu.
~tbc