
"Apa yang kau katakan?" oma masih syok dengan kabar yang dia dengar.
"Maafkan, Aku! Tapi, kamu harus mengetahui semua ini. Aku tidak ingin ada kebohongan diantara kita." Hans menatap rumput yang ada di makam kakaknya Bima.
"Jelaskan padaku." pinta oma Tyas.
"Ayo, aku akan menjelaskan semuanya padamu." Hans membantunya berdiri. Mereka kembali berjalan menuju mobil. Oma Tyas sudah tidak sabar menunggu semua penjelasan dari sahabatnya itu. Hanya membutuhkan waktu 10 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah taman, Hans membawa omabTyas duduk di bangku yang dilindungi oleh pohon besar.
"Setelah tragedi penculikan itu Al dirawat di rumah sakit selama 1 minggu. Setelah sadar dia langsung menanyakan anak perempuan yang bersamanya. Saat itu, aku hanya fokus pada kesembuhan cucuku. Aku hanya tahu bahwa anak perempuan yang bersamanya selamat dan sudah bersama dengan keluarganya. Aku tidak tahu bahwa kejadian itu merenggut nyawa kedua orangtuanya." Hans tahu mungkin semua ini akan membuat Tyas kembali membencinya. Tapi, dia harus mengatakan semua ini.
"Lalu, bagaimana dengan Al?" tanya oma.
"Dia berusaha keras untuk mencari cucumu. Dia bahkan tidak peduli dengan kakinya yang saat itu tidak bisa berjalan. Sampai akhirnya mamanya berinisatif mengatakan bahwa anak perempuan yang bersamanya telah meninggal."
"PLAK." oma Tyas menampar wajah Hans.
"Apa yang kalian katakan? Bagaimana bisa kalian berbohong dengan mengatakan hal buruk tentang cucuku?" Oma kembali tersulut emosi.
"Maafkan aku." Hans menyesal perbuatannya.
"Kalian benar-benar keterlaluan." ucapnya dengan wajah memerah.
"Cuma itu cara satu-satunya untuk menghentikan Al. Dia benar-benar tidak mau menyerah untuk mencari Ayuna." jawab Hans.
"Lalu, apakah berhasil?" tanya Oma.
"Tidak. Dia bukanlah bocah kecil yang bisa di bohongi. Dia tahu bahwa kami semua membohonginya. Karena itu, aku dihukum dengan terpisah darinya hingga sekarang." oma Tyas mulai terlihat tenang, nafasnya kembali teratur, tidak lagi kemarahan yang terlihat padanya melainkan rasa iba melihat lelaki paruh baya di depannya.
"Pantas saja dia tinggal sendiri di apartemen." oma kembali teringat bagaimana dia meminta Yuna untuk lebih memperhatikan Al.
"Aku benar-benar menyesalinya! Jika saja aku membantunya untuk mencari Ayuna, mungkin saja saat ini keluargaku tidak akan tercerai-berai." oma menyandarkan tubuhnya pada bangku yang mereka duduki.
"Semua sudah terjadi, kau tidak bisa mengulang semuanya. Terus, bagaimana dengan para penculiknya? Kalian sudah menangkap mereka?" Hans menggeleng.
"Hingga kini mereka belum ditemukan. Alvaro tidak mengenali mereka. Harapan satu-satuku adalah Yuna. Apakah dia pernah bercerita padamu mengenai kejadian itu?" Oma Tyas menghela napas panjang.
"Dia tidak pernah mau membahas kejadian itu." jawabnya. "Ayuna selalu bungkam saat aku mencoba bertanya padanya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada orangtuanya." jelasnya.
"Tasya, apa aku bisa meminta bantuanmu?"
"Apa?"
"Tolong rahasiakan ini dari Ayuna." pinta Hans. "Kau pernah bilang kita tidak perlu ikut campur urusan mereka." oma Tyas tahu apa yang dikhawatirkan oleh Hans.
"Aku tidak akan mengatakan apapun padanya." oma menatap langit biru, untung saja pohon yang melindungi mereka sangat rindang sehingga teriknya matahari tidak sampai membakar kulit mereka. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara tawa dari beberapa anak-anak yang berlarian kesana-kemari.
🌸🌸🌸
"Ada apa kamu mengajakku bertemu?" tanya Gina begitu sampai di Star Cafe. Karena perintah dari Al, Jhosua harus bertanya pada Gina.
"Aku butuh bantuanmu." jawabnya.
"Apa?"
"Ini." Jo menyilangkan jempol dan ibu jarinya. Gina merasakan wajahnya memerah, dan jantungnya berdegup kencang. "Kamu tahu apa ini?" tanya Jo. Gina mengangguk pelan. "Apa?"
"H-hm, Itu ..." Gina mengigit bibir bawahnya, dia ragu untuk mengatakannya pada Jo.
"Apa?" desak Jhosua.
"A-aku ... aku mencintaimu!" air yang diminum Jhosua muncrat saat mendengar jawaban Gina.
"Kamu baik-baik saja?" Gina mengambil tisu dan membantu mengelap jas Jhosua yang basah. Jantung Jo seakan berhenti, butiran keringat membasahi pelipisnya saat Gina berdiri begitu dekat dengannya. Jo bisa mencium aroma shampo dari rambut Yuna yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.
"A-aku saja." Jo mengambil tisu yang ada ditangan Gina, tangannya gemetar dan terasa begitu dingin. Dengan cepat dia menyeka jasnya yang basah. "Kenapa kamu tiba-tiba menyatakan perasaanmu padaku?" tanya Jo.
"Aku?" Gina menunjuk dirinya. "Bukankah kamu yang lebih dulu menyatakan cinta padaku." ucapnya.
"Hah? Kapan?" Jo bingung, karena dia tidak pernah menyatakan perasaan pada Gina.
"Bukankah barusan kamu menyatakannya melalui ini." Gina mengulang apa yang dilakukan Jo sebelumnya. Jhosua semakin bingung.
"Memangnya apa artinya ini?" Jo kembali membuat hati kecil menggunakan tangannya.
"Aku mencintaimu." jawab Gina. Jhosua mulai paham, dia tertawa keras. "Kenapa ketawa?" tanya Gina.
"Jadi maksudmu ini artinya aku mencintaimu?" Gina mengangguk. "Aneh-aneh saja, bagaimana mungkin tanda seperti ini memiliki makna sebegitu besarnya." Jo masih saja tertawa.
"Apalagi itu?" Jo semakin bingung dengan istilah yang Gina sebutkan.
"Para penggemar drama Korea." jelasnya, Jo manggut-manggut. "Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku?"
"Tuan Al memintaku untuk mencari tahu arti dari tanda itu." jelasnya.
"Ini pasti kerjaannya Yuna." tebaknya.
"Yah, kamu benar." Gina tertawa, dia membayangkan bagaimana bingungnya Al menebak apa yang Yuna lakukan.
"Kamu juga harus tahu ini." Gina melungkungkan kedua tanganya di kepalanya.
"Apa itu?" Jo menopang dagunya.
"Ini artinya aku sangat mencintaimu." Jo tidak henti tersenyum melihat Gina yang menerangkan semuanya padanya. "Biar nanti saat Yuna berulah lagi, kamu tidak akan dibuat pusing oleh tuan Al." jelasnya, mereka berdua tertawa karena sama-sama mengingat kejadian memalukan tadi. Dan semua itu karena kepolosan Alvaro.
🌸🌸🌸
"Kamu sudah tahu artinya?" tanya Al saat mereka hanya berdua di ruangan Al. Ayuna baru saja keluar setelah menyerahkan beberapa dokumen yang Al minta.
"Aku mencintaimu, Tuan." Al menjatuhkan semua dokumen yang dia pegang, dia berjalan mundur menjauh dari Jo.
"Sebaiknya kamu menjauh dariku. Pergi temui Andreas!" ucapnya.
"Kenapa, Tuan?" Jo semakin bingung melihat perubahan sikap Al yang tiba-tiba.
"Minta dia untuk membawamu ke psikater yang hebat. Ini akibatnya jika kamu kelamaan jomblo." ucapnya. Jo mengerinyitkan dahinya.
"Kenapa saya harus ke psikiater? Tidak ada yang salah dalam diri saya." Jo tidak terima dirinya disuruh memeriksakan kejiwaannya.
"Apanya yang tidak salah? Jelas-jelas kamu mengalami penyimpangan seksual. Bagaimana bisa kamu menyatakan cinta padaku?" Al kembali ke meja kerjanya.
"Tuan, anda salah paham!" Jo mendekat padanya, dia mencoba meluruskan kesalahpahaman Al.
"Stop!! Jangan mendekat!! teriak Al.
"Tuan, saya tidak menyatakan cinta pada anda." ucap Jo. "Ini artinya aku mencintaimu." Jo kembali membuat hati kecil menggunakan tangannya. Al menatapnya tajam.
"Jadi maksudmu, tanda yang Yuna buat artinya aku mencintaimu?" Jhosua menggangguk. "Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Gina, Tuan. Dia bilang itu tanda yang biasa dilakukan anak muda saat ini. Dan anda juga bisa melakukan seperti ini untuk menyatakan perasaan anda." Jo menirukan gerakan Gina dengan melengkungkan tangan diatas kepalanya.
"Apa itu?"
"Aku sangat mencintaimu!" Al mengerti.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke ruanganmu." ucapnya. Jo berjalan menuju pintu keluar. "Apakah kamu melakukannya didepan Gina?"
"Iya, Tuan." Al tertawa keras, hingga terdengar ke meja Yuna. Ayuna menoleh ke ruangan Al. Dia bingung apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Aku bisa membayangkan apa yang terjadi diantara kalian." ledek Al. Jo hanya bisa tersenyum malu.
"Ada apa, Jo?" tanya Yuna begitu melihat Jhosua keluar dari ruangan Al.
"Tidak ada apa-apa, Nona." jawabnya kemudian bergegas menuju ruangannya. Yuna semakin bingung, dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Ayuna berdiri dan meninggalkan mejanya.
"Tuan, kenapa dengan Jhosua?" tanya Yuna begitu dia sampai di depan Al.
"Jo? Kenapa dengannya?" tanya Al.
"Saya baru saja melihatnya keluar dari ruangan anda dengan wajah yang seperti kepiting rebus." Alvaro terbahak mendengar penuturan Yuna. "Ada apa dengan mereka?" batin Yuna.
"Semua ini karenamu." jawab Al.
"Maksudnya?" Yuna sangat bingung.
"Tidak ada." jawab Al, Ayuna kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Dia bergegas menuju pintu, tapi Al mencegahnya.
"Sayang ...!" panggil Al. Yuna menoleh padanya dengan wajah cemberut.
"Aku mencintaimu!" Alvaro menirukan Jo dengan melengkungkan kedua tanganya di kepalanya.
"Oh, so sweet!" teriak Yuna, dia tidak menyangka CEO-nya yang galak bisa melakukan hal seunyu itu.
~tbc